Sang Pangeran

Sang Pangeran
152. Memory Card.


__ADS_3

Di rumah Kia.


“Tangan Kia pegel Bang!” tutur Kia mengeluh sambil mengibas- ibaskan tangan dan cemberut. 


Aslan yang baru selesai mandi dan hendak sholat dzuhur malah senyam- senyum mendengarnya.


“Iya maaf! Berbakti ke suami jangan ngeluh, diniati senengin Abang dong, kan jadi nanti dapat pahala!” ucap Aslan sambil meletakan handuk dan berjalan menuju ke tempat sholat. 


“Hemm!” Kia hanya berdehem sambil memijat tanganya. 


Setelah beberapa waktu berlalu, Aslan selesai sholat. Aslan mendekat ke Kia. 


“Sini Abang pijitin, mana yang pegel?” ucap Aslan menarik tangan Kia. 


Kia diam dan nurut. 


“Senyum jangan cemberut!” tutur Aslan lagi ke Kia. 


“Iya"


"Yang ikhlas!"


"Iya, ini Kia berjuang lho Bang, biar Kia nggak jijik lagi!” ceplos Kia. 


“Emang sebelumnya kamu jijik?” tanya Aslan tersinggung.


“Huum!” jawab Kia mengangguk polos. 


“Pletak!” Aslan menyentil kepala Kia. 


“Uuh, sakit, Bang!” jawab Kia mengusap kepalanya


“Sama suami nggak boleh jijik! Nggak ada ini nggak ada Ipang! ” ucap Aslan. 


“Hiiish!" jawab Kia mendesis dan manyun.


“Kamu sekarang istri Abang, nggak usah malu atau takut! Apalagi jijik masa sama suami jijik? Perasaan Abang rajin bebersih!" jawab Aslan lagi.


"Iya nggak!"


"Maaf kalau dulu abang sakitin kamu!” tutur Aslan serius.


“Jangan bahas masalalu Abang, Kia malu, Kia jijik lagi kalau ingat masalalu!” jawab Kia tidak suka.


“Tapi kita ada di posisi sekarang tidak terlepas dari masalu Sayang. Itu bagian dari hidup kita, tidak bisa dipisahkan!” tutur Aslan menasehati Kia. 


“Iya tapi itu aib, Bang! Itu dosa, tidak perlu diingat- ingat. Kia trauma kalau ingat itu! Dosa itu dikubur!” tutur Kia memberitahu. 


Kali ini Kia memang memberitahu dengan jujur. Meski sekarang Kia sudah membuka diri, menerima perlakuan Aslan, bahkan Kia juga menikmati pemberian Aslan, tapi jika mengingat malam itu Kia jijik. Kia sempat trauma lama. Yang Kia ingat malam itu adalah rasa sakit dan penyesalan. 


“Ya... ya.. oke. Abang minta maaf. Kalau begitu kita mulai dari awal! Lupakan masalalu, dan ingat! Abang sekarang suamimu! Kamu perempuan dewasa, Abang juga laki- laki dewasa. Abang butuh kamu, dan kamu juga butuh Abang kan?” tutur Aslan panjang menjelaskan.


Kia mengangguk, Kia juga nggak bodo- bodo amat. Kia sadar sekarang butuh suaminya makanya nurut, hanya saja Kia pernah trauma. 


“Iya!” jawab Kia mengangguk.


“Ya udah janji, nggak boleh jijik lho! Nggak boleh takut, nggak boleh ngehindar! Dosa lho kalau ngehindar!” tegur Aslan lagi. 

__ADS_1


“Iya, perasaan semenjak nikah, Kia nggak pernah ngehindar deh!” jawab Kia membela diri.


“Pernah!” sanggah Aslan. 


“Kapan?” 


“Yang pas abis akad!” jawab Aslan tidak terima karena saat itu Aslan dibuat kesal. 


“Oh!” jawab Kia hanya beroh ria, menyadari perbuatanya, yang dikatakan Aslan benar.


“Kaan!” 


“Bang, Kia bukan mau dosa. Perjanjian Kia dan Abang sebelum nikah sah, Abang nggak boleh nuntut! Kia nggak dosa lah, Kia juga ikutin Abang!” bantah Kia lagi, mereka malah tawar menawar. Aslan pun terskak mat, karena memang awalnya Aslan menyetujui kesepakatan itu. 


“Tapi kan kalau kamu mau dan kita sama- sama suka, perjanjian itu batal nggak masalah, nggak ada hukumanya, kita juga nggak dosa kok, orang kita udah nikah!” sanggah Aslan lagi.


“Hmmm, ngeles aja terus. Kia nggak salah titik. Abang yang salah!” 


“Oke, Abang salah, kamu benar, tapi emang kamu mau kalau Abang melampiaskan ke orang lain? Kamu mau pilih mana? Pertahanin janji kamu atau Abang sama yang lain?” jawab Aslan mengeluarkan senjata ancamanya. 


“Ya jangan enak aja! Abang udah buka- buka Kia, udah ada Ipang juga. Kia potong nanti itu!” jawab Kia galak. 


Aslan jadi ketawa dan reflek menutupi pusakanya. 


“Jangan lah!” 


“Ya udah setia! Sabar! Abang cinta nggak sih sama Kia?” bentak Kia. 


“Tapi janji lho ya, kalau udah bersih nggak ngindar lagi ya!” pinta Aslan. 


“Nunggu bersih!” sanggah Aslan. 


“Sah!” 


“Bersih!” 


“Iih Abang!!” bentak Kia kesal dan cemberut, suaminya benar- benar menyebalkan. 


Mereka berdua malah bertengkar tidak penting. Untung nggak ada yang denger dan di rumah hanya berdua.


“Iya iya!” jawab Aslan mengangguk. 


“Lagian kan kita bentar lagi sah Bang, nggak usah lah buru-buru!” ucap Kia lagi. 


“Ya nanti Abang percepat nikahnya!” jawab Aslan tidak sabar. 


“Sesuai prosedur aja Bang!” jawab Kia. 


“Udah Abang tentuin kok!” jawab Aslan lagi.


“Hah? Kapan?” tanya Kia bengong.


Kia yang mau nikah malah Kia belum tahu kapan nikahnya. 


“Satu hari setelah Ipang pulang, abis itu kita resepsi dan bulan madu, kita terbang ke pulau D beserta rombongan!” jawab Aslan enteng. 


“Nggak ada seminggu lagi dong Bang!” jawab Kia. 

__ADS_1


“Iyalah, ngapain lama- lama!"


Kia langsung menelan ludahnya, seneng sih, Kia llama menstruasi Kia kan biasa lebih dari 7 hari. 


“Kenapa diam?” tanya Aslan. 


Kia kemudian tersenyum puas. 


"Ya berarti bener nunggu bersih. Kita nikah sah kayaknya Kia belum bersih deh!" jawab Kia nyengir.


"Ck. lama amat siih!"


"Ya terserah lah!"


"Diobatin biar cepet!"


"Yeee!" Ejek Kia melet.


Ejekan Kia pun membuat Aslan gemas. Aslan maju dan hendak mencium dan menghamburkan rambut Kia. Karena kegelian Kia menghindar, saat Kia menghindar, Aslan semakin ingin menerkam Kia. Tanpa sengaja mereka kalung Kia terseret dan Liontinya lepas.


Liontinya jatuh kelantai dan menggelinding. Aslan pun mengakhiri seranganya ke Kia. Mereka berdua fokus ke liontin, dan Liontinya terbuka sedikit.


Kia bangun dan mengambilnya.


"Bisa dibuka Bang!" tutur Kia.


"Buka aja, paling foto!" jawab Aslan


"Bukan foto Bang!" jawab Kia memeriksa.


Aslan menoleh, Kia mendekat dan menyerahkan Liontin itu ke Aslan. Aslan mencoba membukanya. Ternyata benar di dalam. liontin itu ada isinya.


"Apa ini?" tanya Kia.


Aslan memegangnya dengan baik, dan meneliti dengan seksama.


"Ini memory card!" jawab Aslan menatap serius ke Kia.


Mereka saling pandang. Jantung Asalan Kia dan Aslan sama-sama berdetak lebih kencang. Kenapa Bu Andini menyimpan memory car di dalam liontin.


"Pasti ada rahasia besar yang Ibu mertua simpan Abang!" tutur Kia serius.


Aslan tidak menjawab. Aslan langsung bangun dan mengambil I_padnya. Aslan mencoba memasukan memory card itu agar bisa terbaca dan terungkap apa isinya?


Ternyata I_padnya lowbat.


"Chargernya mana sayang?" tanya Aslan panik.


"Lah, ya Kia nggak tau! Kan Abang yang make!" jawab Kia membela diri, kan Kia nggak beresin barang-barang Aslan


"Cariin!" perintah Aslan.


Kia pun mengobrak abrik tas Aslan tapi adanya charger ponsel mereka bukan Charger I-pad.


"Nggak ada Bang!" ucap Kia lirih.


 

__ADS_1


__ADS_2