Sang Pangeran

Sang Pangeran
192. Paul GILA


__ADS_3

Semua terdiam, luka Alena pun semakin menganga melihat wajah yang selama ini menjadi tumpuan kasih sayangnya, seketika menghilang dan kini terlihat menjadi wajah yang begitu mengerika. 


“Alena look at Mommy!” bentak Paulina tidak berperasaan. 


Alena yang hatinya patah dan sedang tergores dengan sayatan yang masih berbau amis dengan darah yang mengalir tapi tak terlihat, diam dan mematung. Alena kehilangan arah dan tak mengerti lagi. kecewanya Alena tak terukur. 


Jika anak lain akan menangis jika mainanya hilang dan jengkel karena kalah dalam bermain kelereng, kecewanya Alena karena dia tidak mengerti siapa yang bisa dia percaya. Alena tidak mengerti kepada siapa Alena bisa berpulang dan mempunyai teman. 


Kalau saja Alena tau caranya mengakhiri hidup, pastilah akan Alena lakukan. Sayangnya Alena seorang anak yang tentu saja pengetahuanya masih terbatas. Yang dia tahu dadanya begitu sesak, rasanya ingin mengeluarkan sesak itu semuanya. Dia hanya ingin berteria dan memberitahu dunia, bahwa hatinya sangat sakit. 


“Alena!” teriak Paulina lagi semakin menggeores luka Alena. 


“Kamu tidak dengar, Mommy? Apa yang kamu lakukan? Hah!” omel Paulina jengkel, kado- kado mahal yang Paulina belikan untuk Alena dia hancurkan begitu saja. 


Alena meringkung di pojokan kamarnya. Tangisnya berhenti, seakan jika tadi air mata Alena seperti lautan yang tak terbatas, Alena ingin keluarkan dan habiskan air mata sekuatnya tapi tak ada ujungnya. Kini air mata Alena seperti sumber air di gunung sahara yang dilanda kekeringan bertahun- tahun. Menyurut, kering tak bersisa. 


Alena ingin mengungkap marah dan rasa berontaknya. Rasa sayang, kepatuhan dan kekagumanya hilang. Kepala Alena dipenuhi tanda tanya dan kemarahan.


Melihat putrinya bersikap aneh dan berbeda Paulina semakin kesal. 


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Paulina ke asisten rumah tangganya. 


“Saya tidak tahu Nyonya!” jawab Asisten rumah tangga Paulina. 


“Siapa yang mengantar dia pulang?” tanya Paulina lagi, karena semalam dia dilapori Alena pulang bersama Daddynya. 


“Tuan Aslan, Nyonya!” jawab Asisten rumah tangga Paul. 


“Pergilah, kalian kerjakan tugas kalian!” ucap Paulina ingin menyelesaiakn masalahnya sendiri dengan anaknya. 


Paulina melihat kamar anaknya yang berantakan. Paulina sebenarnya mengerti kalau anaknya sedang marah, karena dia juga akan melakukan hal yang sama. Paulina akan menghancurkan segala apa yang ada di depanya jika merasa kesal dan marah. 


Paulin kemudian mendekati Alena dan menanyai dari dekat. 

__ADS_1


“Kamu berani sama Mommy? Kamu mau melawan Mommy? Huh! jawab Mommy!” bentak Paulina menatap Alena dari dekat dan mengangkat wajah Alena sangat dekat. 


Paul sendiri sudah cukup putus asa dengan keadaan dirinya. Meski tak diungkapkan, penangkapan ayahnya dan tekanan sosial terhadapnya menekanya. Paulina bisa membohongi banyak penggemarnya dengan membuat cerita dan menarik simpati akan dirinya, tapi batin Paulina tetap terluka. 


Paulina juga ingin mengobati kehausan batinya yang dilanda masalah. Seharusnya Paulina bertaubat dan membersihkan hatinya, menimba air dari sumur ilmu yang jernih dan murni. Sayangnya cara Paulina menghibur dirinya, justru terjebak dalam sumur amis yang penuh dengan bangkai. Paulina justru terjebak dalam lingkaran penuh api. 


“Who is he, Mom?” ucap Alena meloloskan suara polosnya. 


“What are say? Dia siapa yang kamu maksud?” tanya Paulina. 


“He is my Daddy, isn’t it?” tanya Alena tiba lagi apa adanya mengeluarkan apa yang memenuhi dadanya dan membuatnya tak bisa bernafas. 


“Apa yang kamu bilang? You’re Daddy is Daddy Aslan!” jawab Paulina. 


“No!” jawab Alena membentak membuat Paulina melotot tak percaya, Alena membantah dan menjawabnya. 


“Alena know Mom, Daddy Aslan bukan Daddy Alena! Mommy is cheat. Mommy bohong!” jawab Alena lagi. 


Plak 


“Moommy!” lirih Alena memegang pipinya. 


“Berani kamu sama Mommy, hah?” pekik Paulina kesal. 


“Mommy jahat! Mommy jahat, pantas saja Ayah Aslan pergi, Mommy jahat!” jawab Alena semakin berani. 


Plak 


Paulina semakin termaka emosi. Nyatanya dikatai kasar oleh anaknya sendiri lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan sanjungan dan simpati dari ribuan orang yang tak kasat mata tak mampu membuatnya puas dan bahagia. 


Karena Paulina menampar dengan emosi Alena sampai mengeluarkan darah. Alena yang masih kecil tak melawan dan hanya memendam kesakitanya. Bahkan mulutnya terkunci dan membiarkan darah itu terkumpul di mulutnya. 


“Kamu anak Mommy, siapa yang mengajarimu berkata begitu? Mommy hukum kamu, karena kamu berani melawan Mommy!” omel Paulina lagi. 

__ADS_1


Paulina melihat ke sekeliling. 


“Siapa yang mengajari dan menyuruhmu melakukan ini? bilang Sorry ke Mommy!” bentak Paulina lagi. 


Karena Alena kesakitan, Alena tidak bisa bicara. 


“Jawab Mommy!” bentak Paul lagi. 


Alena tetap tidak menjawab. 


Akhirnya Paul semakin marah, sebagai ibu, dan sedang dalam emosi, Paulina merasa berhak memarahinya. Paulina kemudian menyeret Alena. 


“Nakal, kamu ya sekarang? Berani lawan Mommy! Mommy hukum kamu!” ucap Paul malah mau menghukum Alena. Paulina bahkan menyeret Alena tanpa ampun. Dan Alena tidak melawan hanya menangis. 


Paul jadi ingat perkataan, ibunya. Jika tidak hamil Alena. Aslan tidak akan membencinya, hidup Paulina tak akan sekacau sekarang. Bukan kasian dan merasa bersalah, Paulina seketika tambah marah apalagi melihat bentuk Alena yang memberontak. 


Paulina menyeret Alena sedikit menangkatnya dan melemparnya ke kamar mandi. 


“Mommy hukum kamu! Biar kamu tau. Jangan lawan Mommy! Anak sialan!” umpat Paulina di luar kendali. 


“Euuugh!” karena sudah tak mampu membendungnya, Alena memuntahkan apa yang ada di mulutnya yang ternyata darah. Alena meringis kesakitan, Alena juga terpelanting dan jantuh ke lantai yang basah sehingga membuatnya pusing. 


Alena menangis ingin minta tolong dan minta ampun, sayangny Paul malah pergi dengan marah dan mengunci pintunya. 


Saat berjalan menjauhi kamar mandinya, Paulina sendiri menangis dan meringis. Dirinya diambang kesadaran antara sadar dan tidak sadar terhadap apa yang dia lakukan. Dia menyanyangi Alena, tapi seketika dia juga membenci dan ingin marah pada Alena mengingat perkataan Nyonya Jessy di rumah sakit tadi pagi. 


Sambil mengelap air mata kesakitanya melawan sisi keibuanya, seketika itu Paul tersenyum dan tertawa. Paul juga ingin melampiaskan keputus asaan hidupnya pada Alena. Paul benar- benar menjadi gila, jiwanya terguncang dan tidak bisa mengendalikan diri mana yang salah dan benar. Bahkan Paul menjadi ibu yang kejam. 


“Brak!” Paul menutup pintu kamarnya dan mengambil sepuntung rokok di atas nakas. 


“Apa urusan anakmu sudah dibereskan?” tanya Nicholas yang menunggu Paul di kamar dengan mengenakan handuk kimononya. 


Nicholas biasa menginap di rumah Paul, jadi sudah menyimpan beberapa pakaian. 

__ADS_1


“Dia anak yang tidak berguna lagi buatku!” ucap Paul dengan tatapam mata kosong dan menghisap rokonya. 


__ADS_2