
“Anda yakin dengan keputusan ini Tuan?” tanya Rendra sekali lagi, berharap Aslan mengubah rencananya.
Di pagi buta itu, Rendra menghampiri Aslan ke rumah istri tuanya. Aslan sudah mengemasi barangnya. Dan meminta Rendra mengambil barang titipanya.
“Sangat yakin!” ucap Aslan menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai pimpinan perusahaan. Agar segera dirapatkan para pemegang saham.
“Saya berharap ini yang terbaik” jawab Rendra dengan tatapan sendu.
“Percayalah ini jalan terbaik, ini jalan yang bisa kutempuh agar Nareswara tetap berdiri. Jika aku yang pergi, aku hanya membawa 10 % saham, Satya masih bisa menyelamatkanya. Tapi jika Paul yang pergi, perusahaan ini akan langsung tumbang. Setelah ini mau bagaimana cara Satya membagi dan mensiasati agar terlepas dari Paul. Itu urusan Satya, tugasku hanya menyelamatkan Nareswara” jawab Aslan mantap.
Pagi itu, Aslan sudah tidak memakai kemeja berdasi lagi menjadi presdir, melainkan pakaian casualnya. Aslan memakai kaos oblong, celana pensil yang tentunya dengan brand mahal.
Aslan berpamitan pada Rendra. Apa Rendra akan tetap di Nareswara atau mengikutinya terserah Rendra.
Yang pasti, Aslan untuk sementara waktu hendak pergi ke suatu tempat yang hanya Aslan yang tahu. Setelah berpamitan dengan Rendra, Aslan berniat mendatangi, anaknya lalu menghilang sampai putusan cerainya selesai.
“Baik Bro, sekarang aku bisa memanggilmu Bro Aslan. Kapanpun lo butuh gue. Lo telpon gue! Selamanya lo satu-satunya Tuan gue” ucap Rendra akhirnya berbahasa santai.
“Thanks Bro! Lo tau kan? Sekarang apa yang berharga buat gue? Pangeran dan ibunya! Gue titip Kia, apapun yang terjadi pada Nareswara, jaga Kia sampai gue balik!” jawab Aslan menepuk bahu Rendra.
“Kenapa nggak lo omongin baik- baik sih ke dia? Siapa tahu dia bakal luluh dan terima lo?”
“Dia nggak akan ngomong baik- baik ke gue selama gue belum cerai sama Paul, percuma gue ajak dia ngobrol, gue titip Kia dan Pangeran ya!”
“Hhhh, Yaya! Oke. Beres! Ya udah. Gue cabut” jawab Rendra berpamitan merasa urusanya sudah selesai.
Aslan mengangguk dan membiarkan Rendra pergi meninggalkan dirinya. j
Lalu Aslan masuk menemui asiten rumah tangganya. Lebih khususnya ke Mbok Mina, pelayan setianya sejak sebelum Aslan lahir.
“Ini tabungan hari tua buat Mbok, tidak banyak semoga cukup untuk hidup mbok di kampung” tutur Aslan memberikan uang cash dan kartu atm sebesar 1 M ke pembantu rasa ibunya itu.
Mbok Mina justru menangis tersedu- sedu tidak menjawab ataupun mengambil apa yang Aslan berikan, setelah tau Aslan mau menyerahkan rumah itu ka Paul. Dan Aslan hendak pergi jauh.
“Jangan nangis gitu Mbok, Mbok bisa hidup tenang di kampung Mbok, berbahagialah, dan tetap sehat untukku” ucap Aslan tidak tega melihat Bu Mina menangis.
“Apa mbok boleh menemui ibunya Pangeran” ucap Mbok Mina tiba- tiba.
“Heh?” Aslan terhenyak dengan permintaan Mbok Mina. Kenapa Mbok Mina ingin bertemu Kia.
“Den, sebelum saya meninggal, sebelum saya meninggalkan ibu kota, saya hanya ingin melihat Den Aslan bahagia, itu cita-cita terbesar saya, kenapa saya harus pergi dengan melihat Den Aslan dalam keadaan seperti ini? Kaenapa saya harus selalu melihat Den Aslan kesepian” tutur Mbok Mina sangat tulus dengan deraian air mata.
Sikap Mbok Mina memang benar- benar seperti ibu kandung.
__ADS_1
“Mbok, saya sudah bahagia, saya akan selalu bahagia. Bukankah Mbok liat sendiri? Aku punya anak yang tampan dan sangat pintar. Aku bahagia Mbok, Mbok Mina sudah banyak bekerja keras, sekarang waktunya Mbok Mina istirahat” jawab Aslan menenangkan.
“Bahagia bagaimana? Den Aslan jadi hancur begini, bahkan Nyonya Kia juga pergi, saya masih berhutang pada Nyonya Andini, saya tidak bisa terima uang ini” jawab Mbok Mina lagi.
“Mbok, dengarkan aku, terimalah uang ini. Mbok Mina sudah banyak bekerja keras menjagaku. Ingat satu hal. Aku tidak akan hancur. Aku akan bahagia dan bangkit dengan hebat” jawab Aslan lagi meyakinkan.
“Tapi kenapa Den Aslan menyuruh saya pergi. Kalau memang Den Aslan mau bangkit lagi, ijinkan Mbok tetap melayani Den Aslan” ucap Mbok Mina lagi.
Mbok Mina hanya ingin menyaksikan Aslan bahagia. Mempunyai pendaping baik di sisinya, menjalani kehidupan sebagai mana mestinya.
Aslan tersenyum menundukan kepala sebentar lalu menatap Mbok Mina dengan hormat.
“Saya akan pergi ke suatu tempat untuk membenahi hidup. Bahkan anakku tidak kubawa, apalagi Mbok yang sudah tua begini. Istiahat dan bersenang- senanglah, saya janji, Saya akan kembali dan nemuin Mbok lagi. Saya minta, Mbok Mina, hiduplah dengan sehat dan bahagia, agar saat aku kembali, mbok bisa ikut kami lagi!” tutur Aslan berjanji dan memberitahu.
“Benarkah Den?” tanya Mbok Mina menghapus air matanya mendengar kelak Aslan akan kembali.
“Ya!”jawab Aslan mengangguk.
“Sebelum saya ke kampung, apa boleh saya menemui ibunya Den Pangeran?” tanya Mbok Mina lagi. Entah, Mbok Mina ingin menemui Kia.
Aslan tertegun, kenapa Mboknya ingin menemui Kia. Sebenarnya Aslan sangat senang jika Mbok Mina bisa dekat dengan Kia, tapi apa Kia tidak marah- marah dan risih.
“Ehm.. dia tinggal di tempat yang jauh. Menemuinya akan merepotkan Mbok Mina, dan Mbok tau? Dia galak,” jawab Aslan dengan berbisik saat mengucapkan kata galak.
Aslan kadang juga bersikap lucu dan imut jika bersama Mbok nya ini.
“Kenapa Mbok?” tanya Aslan mengusap tanganya.
“Meskipun dia galak, tapi dia ibunya Den Pangeran, dan Mbok tau, dia perempuan yang akan bikin Den Aslan bahagia!” jawab Mbok Mina membela Kia.
“Aamiin Mbok, tapi saya tidak berbohong, dia galak Mbok, jangan temui dia!” ucap Aslan lagi.
“Itu karena Den Aslan terlalu lama membiarkanya sendiri, hatinya jadinya membatu. Beri Mbok alamat dan nomer teleponya!” ucap Mbok Mina tetap sangat ingin mengenal Kia.
“Hmm baiklah jika itu maumu Mbok, tapi jangan salahkan aku kalau nanti mbok tidak menyukainya!” jawab Aslan memikirkan bagaimana nanti kalau Kia ketus-ketus ke Mbok Mina seperti saat ketus ke dirinya.
“Simbok menyukai apa yang Den Aslan sukai. Penilaian simbok tidak pernah salah, dia perempuan yang tepat untuk diperjuangkan, kenapa Den Aslan tidak dari dulu membawanya?” ucap Mbok Mina lagi.
“Aku hanya menghamilinya tanpa mencarinya Mbok. Aku menyadari aku salah, dan aku terima kenapa Kia membenciku. Sekarang aku hanya ingin, dia dan anakku hidup dengan baik. Itu yang terpenting! Aku tidak akan mengganggunya lagi. Dia menolakku” tutur Aslan lagi curhat.
Lalu Aslan mengambil kertas dan menuliskan alamat Kia. Mbok Mina diam mendengarkan curhatan Aslan sambil berfirki.
“Simbok menemuinya memang mau bilang apa?” tanya Aslan ke mbok Mina.
__ADS_1
“Mbok hanya ingin menyapanya, mbok sangat ingin meneemuinya. Mbok ingin tau apa benar dia tidak menyukaimu?” jawab Mbok Mina di luar dugaan Aslan.
Jadi Mbok Mina menemui Kia untuk memperjuangkan cinta Aslan.
"Aduh Mbok. Aslan peringatkan sudah, jangan ganggu dia. Nanti si Mbok sakit hati sendiri, dia kasar kalau ngomong Mbok" tutur Aslan mencegah Mbok Mina.
"Tidak! Dia perempuan yang lembut dan baik! Simbok tidak pernah salah"
"Hemmm"
"Simbok akan dukung Den Aslan untuk bisa menikah denganya. Kasian Den Pangeran!" tutur Mbok Mina lagi.
“Terimakasih Mbok! Doakan kelak dia mau menikah denganku ya Mbok. Kalau sekarang aku malu mau menemuinya!” tutur Aslan lagi.
“Iya! Sepanjang waktu Mbok selalu berdoa Den Aslan bahagia! Menemukan perempuan yang tepat”
“Aamiin. Ya sudah, Aslan pergi Mbok!” tutur Aslan pamit tangan mbok Mina untuk diciumnya sebagai tanda meminta restu. Lalu beranjak pergi.
“Tunggu, simbok nggak perlu uang ini, bawalah!” tutur Mbok Mina.
“Kenapa Mbok?”
“Bawalah, tabungan simbok sudah banyak, simbok kan juga hidup sendirian, untuk apa uang sebanyak ini. Mbok butuh Den Aslan bahagia bukan uang ini” tutur Bu Mina menyerahkan kartu atm dan sejumlah uang ke tangan Aslan.
Mbok Mina mengabdi pada Aslan dengan tulus. Bukan bekerja meminta bayaran. Karena Mbok Mina juga sebatang kara. Dan sudah puluhan tahun mengabdi di Nareswara.
Lalu Aslan merangkul Mbok Mina. Mereka berpelukan, sebagai ungkapn perpisahan.
“Hati- hati cah bagus!!” tutur Mbok Mina mengantarkan Tuan Mudanya.
"Ya Mbok. Doa Mbok Mina akan selalu Aslan ingat" jawab Aslan.
Mbok Mina berdiri melihat Aslan sampai punggung Aslan menghilang dari pandanganya. Seperti halnya ibu yang melepas kepergian anaknya.
Aslan kemudian pergi melajukan mobilnya menuju ke tempat karantina, menemui Ipang. Aslan kini pergi sendiri tanpa sopir atau pengawal. Sopir Aslan sendiri sudah Aslan berhentikan dan beri pesangon.
*****
Terimakasih sudah baca.
Semoga suka.
Dan buat yg suka sll tap love, jempol dan ramein koment ya.
__ADS_1
Doain author selalu dikasih ide sama Alloh. Aamiin.