
Mendengar penuturan ibunya Ipang langsung mengusap air matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Apa ayah akan tinggal bersama kita juga?" tanya Ipang spontan.
Kia pun menjadi gugup, mulutnya tercekat, bingung dan tidak bisa berfikir panjang. Karena Ipang sedang menangis entah karena apa Kia belum tahu. Kia pun mengangguk.
"Benarkah?" tanya Ipang lagi dengan bersemangat.
"Iya!" jawab Kia lagi asal mengangguk.
"Ipang akan katakan pada Kak Alena" ceplos Ipang tiba-tiba membuat Kia membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa maksudmu Nak? Kenapa harus katakan pada Alena?" tanya Kia curiga.
"Sekarang sudah tidak ada Daffa Bu. Alena selalu jahat pada Ipang. Kalau Ipang lawan Alena akan menangis dan menuduh Ipang yang nakal. Padahal Ipang tidak melakukan apapun. Tapi Bu Guru dan Pak Guru akan bilang, kalau anak laki-laki tidak boleh nakal sama perempuan. Yang nakal kan Alena Bu. Bukan Ipang" cerita Ipang sedih.
"Begitukah?" tanya Kia simpati dan tanganya mengepal. "Dasar indung dan telurnya sama saja!" batin Kia.
Kia kemudian kembali memeluk anaknya. Memberikan kekuatan melalui dekapan hangatnya.
"Dengar Ibu Nak. Sebagai laki-laki kamu memang tidak boleh berbuat kasar terhadap perempuan. Tapi bukan berarti kamu boleh membiarkan orang lain berbuat jahat padamu. Lawan dia dengan cara yang baik. Kalau dia masih begitu dan kamu lelah menghadapinya jauhi saja dia, mengerti?"
"Iya Bu!"
"Ibu belum jawab pertanyaan Ipang tadi malam?"
"Pertanyaan apa Sayang?"
"Apa Ipang anak ha*am?"
"Kamu dengar dari siapa?"
"Katanya Ipang anak perempuan ja*ang, Ipang anak ha*am"
"Ipang! Siapa yang bilang begitu?"
"Ibunya Alena, Bu!" jawab Ipang jujur.
__ADS_1
"Mbuaah, hisssh" seketika Kia kaget dan mendesis gemas. Benar-benar ya perempuan tidak tahu malu.
"Katakan Bu!"
"Ipang anak ibu dengar kan ibu mu Nak. Di dunia ini, semua anak dilahirkan dalam keadaan suci. Termasuk Ipang. Tidak ada kata-kata anak ha*am. Tapi memang, beberapa orang tua melakukan kesalahan. Ayah dan ibu minta maaf, karena ayah dan ibu berpisah, sehingga Ipang jauh dari ayah selama ini? Ipang mau kan maafin ayah dan Ibu?" tutur Kia beralasan menjawab pertanyaan Ipang.
"Kenapa ayah dan ibu berpisah? Kesalahan apa yang ayah dan ibu lakukan?" tanya Ipang lagi.
"Ehm" Kia jadi bingung jawab apa? Nggak mungkin kan Kia bilang, kalau ibunya tidur dengan ayahnya tanpa menikah dan diusir dari keluarganya.
"Itu kesalahan orang dewasa Nak, kalau pun ibu jelaskan sekarang Ipang tidak akan mengerti, ibu minta maaf ya!" tutur Kia berusaha jujur tapi tidak mau menjelaskan detai.
Kia yakin kelak Ipang akan mengerti. Kia tetap ingin Ipang belajar tentang kehidupan dan memaafkanya, menjadikan kisah ibu dan dirinya sebagai pelajaran. Tapi Kia juga tidak ingin menyakitinya.
"Setelah ini ibu dan ayah tidak berpisah dan melakukan kesalahan lagi kan?" tanya Ipang lagi.
"Ibu dan ayah akan berusaha Nak. Kamu berdoa ya"
"Ipang selalu berdoa, Ipang punya ayah. Dan kita akan hidup bareng ayah" jawab Ipang tulus.
Mendengar pernyataan Ipang hati Kia semakin tertusuk-tusuk. Ternyata itu yang Ipang ingini selama ini. Kia pun kemudian hanya tersenyum.
"Ibu bawa makanan nih. Nanti dimakan ya!" tutur Kia memberikan bungkusan makanan kesukaan Ipang. Ipang kemudian segera mengambilnya.
"Waah, tahu bakso dan permen durian. Makasih Bu" ucap Ipang bahagia.
"Huum" jawab Kia mengangguk.
"Ya sudah kelasmu sebentar lagi akan dimulai kan?"
"Iya Bu!"
"Belajar yang rajin. Sholat lima waktu. Ingat kata ibu, semua anak yang dilahirkan di dunia ini itu suci dan fitrah. Dan baik buruknya orang hanya Alloh yang berhak menilai. Ipang jangan dengarkan apa kata orang. Kalau Ipang berbuat baik, hormat sama orang tua, sayang dengan sesama dan tunaikan perintah Alloh. Alloh pasti akan jadikan Ipang ke golongan orang yang sholeh. Mengerti?"
"Iya Bu!"
"Ya sudah, ibu pulang dulu ya. Kalau diijinkan sepulang kerja ibu akan jengukin Ipang terus"
__ADS_1
"Ipang Sayang ibu"
"Ibu juga sayaaang banget sama anak ibu" jawab Kia lalu merangkul Ipang lagi.
Ipang pun membawa bingkisan dari ibunya masuk, ke kamarnya. Kia hanya bisa melihat anaknya kembali ke asrama. Sebentar lagi kelas vokalnya akan dimulai. Kia pun berpamitan dan pergi.
"Gue harus datangi ular betina itu. Keterlaluan sekali dia berani menyerang anak kecil. Dia pikir dia siapa? Dan dia pikir dia lebih baik? Dia bahkan berpacaran dengan laki-laki beristri padahal punya suami, dasar!" batin Kia mencengkeram mobilnya.
****
Di tempat lain. Cyntia pun dengan segera mengemasi barang-barangnya. Setelah berbulan-bulan ini pertama kalinya dia berani masuk dan kembali ke rumahnya. Itu karena pembantunya mengabarinya kalau suami Cyntia pergi ke luar kota.
"Nyonya, benarkah Nyonya akan pergi dari sini?" tanya pembantu Cyntia.
"Aku juga tidak tahu Bi, setelah perceraian dan urusan harta gono gini kami selesai baru akan aku putuskan, pa rumah ini saya jual atau saya tempati" jawab Cyntia.
"Maaf Non. Apa boleh saya sampaikan sesuatu"
"Iya katakan saja!"
"Apa Non masih butuh pembantu. Jika iya, saya ingin ikut Nyonya Cyntia. Saya takut kalau di sini terus Non. Tuan kalau pulang suka marah-marah. Saya ingin berhenti saja, tapi adik saya masih butuh uang untuk sekolah" tutur Bi Narti pembantu Cyntia.
Mendengat penuturan Bi Narti Cyntia diam. Cyntia bisa mengerti apa yang dirasakan asisten rumah tangganya. Bahkan dua asisten rumah tangganya yang lain sudah lebih dulu pergi. Hanya Bu Narti yang bertahan karena butuh pekerjaan.
"Baiklah. Ayo ikut aku!" jawab Cyntia kemudian. Cyntia merasa kasian ke Kia harus bekerja keras selama ini. Toh Cyntia juga sekarang sudah bekerja Cyntia bisa menggaji Bi Narti.
"Benarkah Non?" tanya Bi Narti.
"Iya. Ayo cepat kemasi barangmu. Tapi sementara waktu, kita tinggal di rumah temanku. Jadi kamu nggak apa-apa kan melayani aku dan temanku?" tanya Cyntia.
"Tidak masalah Nyonya. Tidak masalah" jawab asisten rumah tangga Cyntia.
"Oke. Aku tunggu di mobil. Aku takut Mas Niko tiba-tiba pulang. Aku tidak mau bertemu denganya lagi" ucap Cyntia.
"Ya Nyonya" jawab Bu Narti.
Lalu asisten rumah tangga Cyntia segera berkemas. Mereka berdua pun segera pergi dari rumah itu. Semenjak pertengkaran waktu itu, Cyntia hampir disiksa dan dibunuh, Cyntia menjadi trauma bertemu suaminya.
__ADS_1
Suami Cyntia sempat beberapa kali mencari Cyntia ke lokasi syuting. Tapi Cyntia berhasil sembunyi. Untungnya tempat syuting Cyntia berpindah-pindah tempat. Cyntia sampai lapor polisi karena dirinya pernah hampir diculik di jalan.