Sang Pangeran

Sang Pangeran
195. Thank You Uncle


__ADS_3

Seperti malam kemarin saat Alena terbangun karena pria yang dia panggil Daddy itu meletakanya dengan kasar. Sebenarnya sebelum Kia bangun, Alena sudah bangun duluan, dia terbangun karena merasakan ada dorongan buang air kecil. Alena membuka matanya dan sedikit tersentak. 


Tubuhnya terasa perih di beberapa tempat, bibirnya terasa lebih besar dan kaku. Alena merasakan genggaman hangat dari seorang perempuan berhijab di sampingnya. 


“Tante Kia!” batin Alena lirih.


 Alena kemudian menoleh ke samping, Alena melihat pria yang selama ini dia tunggu perhatianya, dia tampak mendengkur halus dengan mulut sedikit melongo. 


Alena pun kembali meneteskan air matanya lagi tatkala melihat selang insfus tertempel di tanganya.  Meski sedikit bingung, bagaimana Alena bisa ada di situ, Alena sekarang mengerti kalau dirinya ada di rumah sakit. Bayangan Mommynya marah dan menguncinya datang lagi. Dimana perempuan yang dia panggil Mommy itu?


Saat Adzan berkumandang dan Kia menggerakan tanganya. Alena segera menutup matanya lagi. Alena pura- pura tidur dan menahan hasrat buang air kecilny. 


Alena mendengar semua percakapan Aslan dan Kia. Bagaimana Aslan melarang Kia mengurusnya tapi Kia tetap mencurahkan perhatianya.


Alena menyaksikan dengan segenap hatinya, Daddynya benar- benar membencinya, dan Kia, perempuan yang dulu dia benci, karena kata Mommynya jahat, dia menyayangi Alena tanpa syarat. Entah apa yang diingini Kia, Alena tidak mengerti, yang Alena rasakan setiap tutur kata yang Kia ucapkan, pandangan mata Kia yang teduh, membuat Alena nyaman. 


“Allohu akbar!” 


Alena juga mendengar Aslan mengucapkan takbir, berdiri di atas sajadah di dekat bed Alena berbaring. Sementara Kia tampak dengan lembut merapihkan bekas selimut Aslan. 


Selama 6 tahun lebih usianya, ini pertama kali Alena melihat Daddynya melakukan ritual yang kata orang namanya sholat. Tidak butuh waktu lama Aslan menyelesaikan sholat dan mengucapkan salamnya. Kemudian dia lipat sajadahnya dan menghampiri Kia yang duduk di sofa.


“Kamu  belum sholat Yang?” tanya Aslan sambil memeluk Kia dari samping dan mencium puncak kepalanya dengan hangat. 


“Dikit lagi, Bang! Masih keluar Semoga nanti sore udah bersih!” jawab Kia lembut menyambut pelukan suaminya dengan membalas memegang erat tangan Aslan. 


“Lama banget sih? Kapan jatahnya Abang?” jawab Aslan dengan lirikan nakalnya dan semakin mengeratkan pelukanya. 


“Ish! Kan Abang janji nunggu tanda tangan!” jawab Kia. 


“Eh nggak ya, kemarin kamu bilang nunggu bersih!” jawab Aslan mengelak. 


“Hmm, yaya!”  balas Kia mengangguk toh setiap hari mereka sudah bersama, bercumbu meski tanpa menyatu. 


Tidak sengaja saat Aslan memeluknya Kia melihat air mata Alena keluar dari matanya. Kia pun mengerti kalau Alena tersadar. Kia kemudian membekap mulut suaminya yang meracau dengan suara dan sikap manjanya. 


“Abang, mau kita kasih adek ke Pang... mmm!” ucapan Aslan terhenti karena Kia membekapnya. Aslan pun menggerakan tanganya menolak,sementara Kia langsung menguraikan tangan Aslan dan bangun dari duduknya. 


Aslan yang kesal karena terabaikan hanya diam melihat istrinya berjalan bangun. 

__ADS_1


“Buka matamu, Sayang, Tante tau Alena sudah bangun kan?” tutur  Kia lembut mendekat ke Alena. Kia duduk di samping Alena lagi dan menyeka lembut air mata Alena dengan jemari lentiknya. 


“Hughs!” Alena tak kuasa menahan nafasnya yang tersedak karena menangis. 


“Ini sudah pagi, bangunlah. Alena sudah banyak tidur kan dari kemarin? Apa yang Alena rasakan sekarang? Cerita ke Tante sayang, mana yang sakit, huh?” tanya Kia lagi dengan lembut dan membelai rambut panjang Alena. 


Perlahan, Alena kalah menyenmbunyikan perasaanya, kelopak mata cantik Alena terbuka. Seulas senyum hangat Kia tertangkap dalam pandanganya,tapi Alena diam, termangu tak kuasa berkata. Bibirnya begitu kelu, apapun alasanya, Kia orang asing dalam hidup Alena, kenapa dia ada di sisinya. 


“Kamu butuh apa sayang? Sudah baikan kan? Mana yang masih sakit?” tanya Kia lagi. 


“Alena ingin ke kamar mandi!” ucap Alena dengan suara cantiknya. 


“Oke, tante bantu ya. Ayok coba bangun yuk? Bisa nggak? Masih pusing nggak?” tanya Kia sambil membantu menyingkap selimut Alena dan membantu Alena bangun. 


“Tidak, Tante!” jawab Alena. 


Kia kemudian membantu Alena ke kamar mandi, membawakan kanul dan plabot infusnya dengan sangat hati- hati. Alena pun tanpa malu membuang air di hadapan Kia, tidak berhenti di situ, Kia juga membantu Alena memncuci muka dan sikat gigi, mengganti pakaian dan meberikan banyak suapan sarapan untuk Alena. Pagi itu, Kia mengurus Alena dengan sangat baik. 


Alena kini sudah rapih, bersih dan wangi. Tirai ruang vvip rumah sakit swasta di dekat rumah Paul yang menghadap ke taman pun Kia buka. Alena kini berbaring menunggu dokter visit ruangan dengan berbaring manis melihat tontonan kartun di televisi rumah sakit. 


Aslan tidak banyak berkomentar dan membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau. Aslan memilih diam dan membuka I-pad mengerjakan beberapa pekerjaanya. 


“Sayang, ayo kita pulang!” bisik Aslan lembut ke Kia yang sedanng melipat pakaian kotornya. 


“Abang, udah berhasil menghubungi Paul?” tanya Kia lembut. 


“Pak Tomo sopir Abang, akan mengantar pengasuh Alena. Ingat kamu juga punya anak yang harus kamu, urus. Pangeran juga butuh kamu!” ucap Aslan memperingati Kia. 


Kia terdiam tidak bisa membantah, benar kata Aslan. Sekarang kan seharusnya Kia sedang bersama Pangeran dan meleps rindunya. Di rumah Kia juga ada Fatimah kawanya yang sengaja menunggu tanggal pernikahan mereka. 


Kia melirik ke Alena yang terbaring manis sendirian. 


“Kita tunggu Noni sampai sini ya Bang!” bisik Kia merayu dan meminta kompensasi. 


“Nggak! Kamu udah janji sama Abang semalam!” jawab Aslan tegas, mereka sudah membuat kesepakatan, Aslan mengijinkan Kia mengurus Alena sampai waktu yang ditentukan. 


“Oke, Kia pamit dulu ke Alena ya!” jawab Kia patuh. 


Aslan kemudian membenahi barangnya sendiri dan bersiap pulang. Kalau Aslan ayah kandung Alena, di hadapan orang lain mereka tampak tega akan meninggalkan anaknya sendirian, tapi mengingat status Asli mereka Aslan sudah cukup sangat baik mau menyelamatkan dan mengurus Alena. 

__ADS_1


“Ya, Tante!” jawab Alena mengangguk mendengarkan perkataan Kia kalau Mbak Noninya sebentar lagi sampai. 


“Alena bisa telepon kan?” tanya Kia. 


“Bisa Tante” 


“Ini nomer Tante, kalau ada apa- apa telpon Tante ya! Keep silent, don’t tell me your Daddy, okey!” bisik Kia dengan mata centilnya berusaha membuat Alena merasa nyaman. 


“Oke, Aunty!” jawab Alena menerima nomer Kia dan ikut mengerlingkan matanya. 


“Ehm!” Aslan berdehem memberi kode ke Kia segera pulang. Alena dan Kia menoleh ke Aslan. 


“Thank you...” ucap Alena pelan dan keras dengan suara merdu khas anak kecilnya. Alena menatap Aslan dengan tatapan dalamnya penuh pengharapan untuk di dnegar. 


Aslan dan Kia terdiam, mendengar kata indah yang terlontar dari mulut Alena, sederhana tapi begitu menyayat. 


“Ang- kel...” lanjut Alena menyelesaiakan katanya dengan terbata dan terdengar begitu berat, bahkan mata Alena begitu nanar. 


“Ehm!” Aslan berdehem salah tingkah, dan melirik ke Kia. Kia pun langsung tersentak mendengar panggilan Alena ke Aslan. 


“Alena!” lirih Kia ke Alena. 


“Thank you Uncle Aslan and you, Aunty Kia. Thank you very much!” Ucap Alena lagi terdengar begitu dewasa. 


Kia benar- benar tersentak, dan tak kuasa menahan air matanya mendengar perkataan Alena. Alena sudah tau Aslan bukan ayahnya, Alena menerimanya dengan lapang dan dewasa. Secara spontan dan reflek, Kia langsung memeluk Alena, sementara Aslan berdiri membeku. 


Sesungguhnya, hati Aslan juga terkoyak dan bergetar. Kini dia menyadari dirinya sudah menyakiti anak kecil yang tak berdosa. Membohonginya dalam sebuah status sehingga anak itu banyak berharap darinya, tapi Aslan juga yang terus mengabaikan, membiarkan Alena hidup dalam harapan yang menyakitkan. 


“Kenapa kamu memanggil Daddymu, uncle sayang?” tanya Kia sambil mengusap air matanya. 


“Alena, tahu Tante. Alena tidak mirip dengan Angkel Aslan. Angkel Aslan tidak pernah sayang Alena. Daddy Alena bukan dia!” ucap Alena polos semakin membuat Kia meneteskan air matanya. 


“No!” jawab Kia meletakan jari telunjuknya ke bibir Alena. 


“Don’t say anymore, Daddy sayang sama Alena. Daddy ada di sini karena sayang Alena!” ucap Kia mencoba mengobati luka Alena. 


Alena mengangguk dan menoleh ke Aslan. sayangnya Aslan, masih tetap diam dengan wajah kakunya. Kia pun jadi sebal ke Aslan, di saat bersamaan, Noni datang.


Aslan pun segera mengajak Kia pergi. 

__ADS_1


"Kabari Tante jika terjadi sesuatu denganmu lagi ya!" ucap Kia berpamitan.Alena mengangguk melepas Kia pergi.


__ADS_2