
“Dulu Umma masih SMA. Kak Andini memang kakak yang sangat penyayang dan lembut, Kak Andini juga sangat cantik. Baik di sini atau di Ibukota, banyak orang yang menyukainya dan menginginkan Kak Andini menjadi istrinya!”
Umma memulai ceritanya, tatapan mata Umma memandang jauh ke hamparan bukit perkebunan yang luas di depanya. Tapi sesungguhnya batin dan anganya sedang menerawang jauh ke masalalu.
Di temani semilir angin sejuk yang menggoyangkan dedaunan, Kia dan Aslan duduk termangu mendengarkan penuturan Kisah dari Umma.
“Kak Andini berhasil masuk ke universitas nomor satu di Ibukota. Jadi sejak kuliah Kak Andini di Ibukota terpisah dari kami dan kakek nenekmu, Le!” tutur Umma menuju ke Aslan.
Aslan mengangguk tenang. Kia menoleh ke Aslan menatapnya dengan penuh perhatian. Sungguh saat Aslan bermuka tenang dan kalem begitu, pesona Aslan semakin terbuka, tampan dan berkarisma. Semakin lama Kia melihatnya semakin berkembang cinta Kia.
“Umma tidak tahu dan mengenal persis bagaimana kehidupan Kak Andini di Ibukota, hanya saja, belum genap satu minggu Kak Andini wisuda, Kak Andini menyampaikan kabar bahagia. Kak Andini langsung diterima kerja, katanya menjadi sekertaris bos di sebuah perusahaan”
“Ayah Hadi, kakekmu! Dan juga Oma Nunu, sebenarnya agak aneh mendengar kabar itu. Masak mahasiswa baru lulus kuliah langsung jadi sekertaris perusahaan? Apa saking pintarnya Kak Andini atau bagaimana? Bukanya bahagia, kakek nenekmu malah khawatir!” Umma masih melanjutkan cerita dan ditujukan ke Aslan
“Kakek Nenekmu sempat menyuruh Kak Andini pulang dan menanyai keseriusan Kak Andini. Sebenarnya Ayah Hadi ingin, ibumu bekerja di sini saja, melamar di kantor- kantor di kabupaten atau perusahaan sekitar sini. Selama 7 tahun, Kak Andini sekolah sma dan kuliah kan ngekos dan jauh, Kakek Nenek ingin merasakan tinggal bersama ibumu!”
“Tapi rupanya, hati Kak Andini sudah terpaut dengan kehidupan Ibukota. Kak Andini menolak tegas permintaan kakek nenekmu! Kak Andini bersikeras tinggal di Ibukota dan tinggal di sana!” tutur Umma lagi.
“Kakek nenek sempat marah, sempat sakit juga, sempat terjadi perang dingin lumayan lama. Ibu dan kakek nenekmu tidak saling memberi kabar, ada mungkin 6 bulan“.
Umma mengisahkan dengan tatapan sedih mengingat itu.
“Tapi mereka baikan lagi kan Umma?” tanya Kia menyela.
Umma menghela nafasnya mengambil jeda. Umma tersenyum pada Kia dan mengangguk.
“Ya, tentu saja. Kak Andini bukan anak yang durhaka, tapi dia anak yang keras kepala!” tutur Umma sedikit melenceng dari alur ceritanya.
Kia pun melirik ke Aslan dengan tatapan manjanya. Iya, seperti Aslan suaminya, keras kepala. "Pantas" batin Kia ke Aslan.
“Lanjut Umma!” tutur Aslan akhirnya membuka suara.
“Kak Andini pulang ke rumah dengan mobil bagus. Kak Andini sampaikan pada Kakek dan Nenek, dia ingin bantu Kakek dan nenek, sekolah dan kuliahin Umma dan orang tua Rendra. Kak Andini mengatakan kalau gaji Kak Andini yang bekerja sebagai sekertaris sangat besar. Bahkan katanya saat itu, Kak Andini tinggal di apartemen mewah!” tutur Umma berapi-api.
__ADS_1
“Umma, Kakek, Nenek dan orang tua Rendra juga tidak mengerti, sebenarnya gimana kerja sekertaris itu? Seberapa banyak gajinya. Ibumu pun menunjukan beberapa foto kebanggaan dirinya saat bekerja. Kakek dan Nenek kemudian percaya, kakek nenek luluh dan mengijinkan ibumu bekerja di Ibukota asal Ibumu bahagia. Bahkan kami sempat diajak berkunjung ke apartemenya itu!”
“Sangat bagus memang, tapi tetap saja, kakek dan nenek tidak betah. Apalagi tinggal di gedung tinggi begitu. Tidak ada 3 hari kami pulang. Ibunya Rendra yang tertinggal di sana!”
“Ibu Rendra ikut tinggal bersama ibu mertua Umma?” tanya Kia.
“Iya!” jawab Umma mengangguk.
“Kenapa Umma nggak?”
“Kan Umma waktu itu masih SMA!”
“Oh, kalau Ibunya Rendra udah lulus?” tanya Kia lagi.
“Ya”
“Nyela terus! Lanjut Umma!” celetuk Aslan lagi kakinya menginjak kaki Kia, menegur agar tidak menyela.
Kia memanyunkan bibirnya, tadi pagi Aslan bilang jangan minta diceritain, sekarang nggak mau berhenti diceritain. Dasar Aslan!
“Inginya ibumu sih, ibu Rendra kuliah, tapi ibu Rendra lebih tertarik bekerja. Jadi mulai hari itu, dua anak kakek dan nenek merantau di ibukota. Umma yang tinggal di sini merawat mereka!” tutur Umma lagi.
“Hemmm gitu toh? Umma keren!” sela Kia lagi, menurut Kia Umma keren menglah berbakti pada orang tua.
Aslan pun memicingkan matanya gemas ke Kia, tidak ketinggalan mencubit pinggangnya.
“Ssstt diam! Nyela terus!” bisik Aslan.
Pasangan itu seperti anak kecil yang sedang didongengi ibunya dan sangat antusias. Aslan tidak ingin Kia mengganggu konsentrasinya dan menyela. Kia pun diam dan mereka kembali siap mendengar cerita Umma.
“Hingga di bulan kedua Ibu Rendra kerja di Ibukota, Kak Andini dan Ibu Rendra pulang. Mereka pulang tidak sendirian, mereka pulang dengan mobil mewah dan besar. Umma, kakek nenek sampai takjub melihatnya”
“Pasti mereka pulang bersama ayah mertua ya Umma?” celetuk Kia lagi ngeyel tidak bisa diam.
__ADS_1
Kali ini Aslan tidak menegur Kia tapi Aslan justru mendekat ke Kia, melilitkan tanganya ke perut Kia. Aslan bersandar ke Kia tanpa malu pada Umma. Mungkin itu ungkapan hati Aslan betapa dia rindu ibunya dan sedih mengingat ibunya. Kia pun mengelus kepala Aslan yang menempel di dagunya dengan lembut.
“Iya” jawab Umma mengangguk.
“Mereka juga datang bersama ayah Rendra. Mereka dengan baagia meminta ijin pada kakek dan nenek untuk menikah! Kakek dan nenek sangat bahagia, sayangnya yang meminta nikah duluan orang tua Rendra, bukan kak Andini dan Mas Surya!” ucap Umma kemudian.
“Lah kok gitu?” tanya Kia aktif.
“Orang tua Rendra pegawai biasa. Hubungan mereka berjalan tanpa hambatan. Sementara Mas Surya, dia pewaris tunggal dari perusahaan Surya Pustaka. Dia bos Kak Andini”
“Pasti orng tua, ayah mertua nggak setuju ya?” tanya Kia menebak.
Umma menggelengkan kepala.
“Orang tua Mas Surya tinggal bapaknya. Ibunya sudah meninggal, itu juga sangat menyayangi Kak Andini!”
“Lantas kenapa nggak ibu mertua yang menikah duluan?”
“Karena Mas Surya masih harus selesaikan sekolahnya, ayah Mas Surya juga sedang menjalani pengobatan sakit Kanker di Singapura. Kak Andini juga berjanji pada kakek dan nenek, sebelum menikah, Kak Andini ingin renovasi rumah ini dulu!”
“Waah, Masya Alloh, ibu mertua baik sekali!” tutur Kia tulus.
Di balik jilbab Kia, tepatnya di pundak Kia. Kia merasa ada gerakan yang menekan dan ada sesuatu yang basah. Aslan mengendus, ternyata Aslan menangis dan menyembunyikanya di bahu Kia.
Aslan lucu sekali, berlindung di balik jilbab Kia. Aslan malu menampakan muka yang selama ini selalu menegang sombong kini terisak di hadapan dua perempuan itu.
****
To be contiiiinyiuuuuuu...
Maaf kupotong, menyesuaikan saran jumlah kata per Bab.
Insya Alloh triple Up.
__ADS_1
Minta koment like dan vote ya Kakaak.