Sang Pangeran

Sang Pangeran
224. Kalau Cinta bilang saja


__ADS_3

Kata orang kasih dan cinta abadi apapun bentuknya adalah cinta dan kasih dari orang tua pada anaknya. Bahkan terabadikan dalam sebuah lagu tersemat kata ;


Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang massa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. 


Seperti apapun cara mengungkapkanya semua ibu mempunyai cintanya sendiri. 


Di sebuah mobil mewah di seberang jalan depan sebuah sekolah, seorang perempuan yang sorot matanya sayu dan penuh penyesalan, bahkan kulit glowingnya mulai memudar, membuka kaca mobilnya. 


“Maafkan Mommy, Sayang... Mommy sudah banyak menyakitimu. Mommy harap dengan begini kamu bisa lupakan mommy dan bahagia bersama ibu barumu,” 


Paulina menggerakan jari telunjuknya ditekuk menyeka bulir air matanya yang menetes merusak sedikit make upnya. 


Di seberang sana tampak, dua anak kecil, laki- laki dan perempuan yang begitu ceria dan menggemaskan mencium tangan perempuan berusia senja yang mengenakan kain kaftan dan hijab teduhnya. 


Dua anak kecil itu dulu bermusuhan, saling dorong dan bahkan saling mencakar. Mereka bersaing dalam segala hal, tapi sudah beberapa minggu terakhir mereka kompak seperti saudara. Padahal di antara keduanya tak ada setets darahpun yang berkaitan. 


Pangeran dan Alena tampak sangat santun dan ceria berpamitan pada Umma. Umma juga begitu telaten, dengan tangan keriputnya membetulkan tas punggung Alena yang menceng. Setelah itu membelai lembut kepala Pangeran dan Alena dibumbuhi untaian kata yang mengandung pesan dan banyak doa. 


Terlihat penuh kasih dan menentramkan. Meski bukan nenek kandung, Umma begitu menyayangi dua bocah itu selayaknya darah dagingnya sendiri. 


“Mommy percaya, kamu akan jauh lebih bahagia dan hidup dengan baik bersama mereka, Sayang, maafkan Mommy. Mommy bukan ibu yang baik!” batin Paulina lagi masih terus memandangi putri cantiknya. 


Setelah Alena dan Pangeran berlari menyambut guru yang bertugas berjaga pagi di depan gerbang dan rambut Alena yang dicepol ke atas rapih menghilang, Paulina menutup jendela mobilnya. 


“Jalan Pak!” tutur Paulina pada sopirnya. 


“Baik, Nyonya!”jawab sopir Paulina. 


Sudah 2 minggu ini Paulina melakukan rutinitas itu. Datang ke sekolah Alena setiap pagi. Memastikan Alena dalam keadaan baik- baik saja. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Kia dan keluarganya memperlakukan Alena dengan sangat baik. 


Alena juga terlihat sangat bahagia, pipi gembulnya yang sempat menghilang kini sudah datang lagi. 


“Selanjutnya kemana Nyonya?” tanya supir Paulina lagi. 


“Ke rumah sakit!” jawab Paulina. 


“Baik Nyonya!” jawab Supir Paulina. 


Semenjak kehamilan keduanya, Paulina fokus ke perusahaan hasil pembagian gonogini dari pernikahanya dengan Aslan. Perceraianya dengan Aslan dan terbongkarnya skandal perselingkuhan Paulina dengan Nicholas membuatnya turun pamor dan tak laku lagi di dunia ke artisan. 


Nicholas sendiri memilih mempertahankan rumah tangganya dan memutuskan hubungan dengan Paulina. Karena 1 bulan belakangan diketahui dokter Maghdalena juga mengandung anak kedua. 


Meninggalnya Nyonya Jessy dan perginya Alena memberikan tamparan keras bagi Paulina. Paulina memilih jalan menjadi single parent dari pada harus menjadi pelakor dan hidup dengan benalu seperti Nicholas. 


Paulina sadar, dirinya sudah banyak membuat kerusakan dan menyakiti banyak orang. Jika Paulina menikah dengan Nicholas maka Paulina bukan hanya menyakiti anaknya, akan tetapi juga dua anak Nicholas. 

__ADS_1


Sudah 1 bulan ini juga Paulina selalu memeriksakan kandunganya seorang diri. 


“Silahkan Nyonya!” tutur sopir membukakan pintu Paulina. 


“Terima kasih, Pak” jawab Paulina.


Sebagai orang beruang, meski skandal buruk telah menjadi stempel di punggungnya, tetap saja pekerja profesional masih menghormati Paulia sebagai klien. Paulina sudah membuat janji dengan dokter kandunganya sejak beberapa hari sebelumnya. Kini dia pun mendapat antrian pertama. 


“Dua hari ini saya keluar darah, Dok!” tutur Paulina menyampaikan keluhanya. 


“Hari ini masih?” tanya dokter lagi. 


“Masih!” jawab Paulina. 


“Silahkan berbaring, Nyonya, biar saya periksa!” jawab Dokter. 


Paulina kemudian naik ke bed gyn tempat pemeriksaan. Dokter pun melakukan serangkaian pemeriksaan dengan berbagai alat. Setelah selesai, asisten dokter membantu Paulina merapihkan bajunya dan mempersilahkan Paulina duduk kembali. 


“Bagaimana janin saya Dok?” tanya Paulina. 


“Mohon Maaf Nyonya, saya harus mengatakan ini, sebaiknya kehamilan anda harus diterminasi secepatnya, detak jantungnya sudah tidak ada lagi, bayi anda tidak tertolong. Jika tidak secepatnya akan tidak baik untuk kesehatan anda!” tutur Dokter dengan lembut. 


“Baiklah jika itu yang terbaik!” jawab Paulina dengan sangat tenang menahan sesaknya kehilangan, tapi Paulina sadar semua yang menimpanya membuat Paulina mengerti bahwa ambisi dan amarah justru membuat semua yang kita miliki akan pergi. 


“Silahkan tanda tangani ini, Nyonya, perawat akan mengantar anda ke ruang rawat!” 


“Anda sendiri? Tidak adakah wali atau sauadara?” tanya dokter kemudian dengan ekpresi tidak nyaman. 


“Saya sendiri, nanti sore asisten saya akan kesini! Lakukan yang terbaik untuk saya, Dok!” tutur Paulina. 


Dokter pun mengangguk profesional. 


Setelah melengkapi beberapa prosedur Paulina berjalan menuju ke ruang rawat inapnya untuk melakukan kuretase. Paulina berdiri tegap di belakang jendela rumah sakit elit di kotanya. Paulina menatap tegar ke luar rumah sakit dengan tatapan tanpa arahnya. Paulina sendirian. 


Kini Paulina merasakan apa yang Kia rasakan dulu. Hidup seorang diri terasingkan, dihujat banyak orang. Bedanya Kia merasakan seorang diri menyambut kehadiran bayi tanpa uang tapi masih mempunyai sahabat. Paulina masih berlimpahkan harta, tanpa sahabat akan tetapi masih banyak orang yang melayaninya karena uang. 


“Thok... thok...” terdengar pintu ruang rawat Paulina diketuk. 


“Masuk!” jawab Paulina. 


“Hari ini Tuan Aslan dan Nyonya Kia menghadiri sidang hak asuh yang terakhir Nyonya!” lapor anak buah Paulina. 


“Permudah saja, biarkan Alena diasuh mereka!” jawab Paulina dingin. 


“Silahkan tanda tangani berkas ini Nyony!” jawab pegawai Paulina lagi menyerahkan berkas pernyataan. 

__ADS_1


**** 


Apartemen Rendra. 


Kikan yang hari ini mendapatkan seleksi uji tulis universitas sudah rapih dengan dandanya. 


“Kaaak!” panggil Kikan mengetok kamar Rendra tapi tak ada sahutan. 


Kikan memutar gagang pintu kamar Rendra, ternyata tidak dikunci. Kikan pun dengan sembrono membuka pintu kamar kakak sepupu angkatnya itu. 


Awalnya hanya membuka sedikit dan mengintip. Kikan tak bermaksud lancang hanya ingin memastikan kalau kakanya masih di rumah dan dalam keadaan baik- baik saja. 


“Astaghfirulloh!” pekik Kikan tidak percaya lalu melebrkan pintu kamar Rendra karena kesal. 


Meski hanya anak angkat Umma, karena Kikan ikut Umma sejak kecil, Kikan memang sangat berani dan tidak canggung. 


“Kak Rendra!” pekik Kikan kesal. 


Sudah jam 8 pagi, Rendra masih bergumul di bawah selimut dengan rambut berantakan, Rendra tampak sedang menonton televisi yang terletak di dinding yang sejajar dengan pintu. Kikan jadi belum lihat apa yang Rendra tonton. 


“Ck!” Kikan berkacak pinggang lebih galak dari Umma. 


“Kikan, ketuk pintu dulu kalau mau masuk!” tegur Rendra gelagapan dan terlihat sibuk mencari remot. 


“Kikan udah ketok- ketok dan panggil Kak Rendra dari tadi!” jawab Kikan. 


Melihat Rendra kebingungan mencari remot Kikan jadi penasaran apa yang Rendra tonton. Kikan pun menoleh ke layar televisi. 


“Hoh!” pekik Kikan menutup mulutnya kemudian tertawa terbahak- bahak dengan tatapan mengejeknya ke Rendra. 


Rendra pun menelan ludahnya keki, wajahnya langsung pucat, aibnya selalu saja ketahuan adiknya. 


“Kaak, kalau cinta itu bilang aja, sana! Masa harus Kikan sih yang sampaiin?” ucap Kikan. 


“Berisik lo!” jawab Rendra melempar bantal lalu bangun dari kasurnya membiarkan televisi tetap menyala. 


Ternyata Rendra sedang menonton film yang pemeran utamanya  Cyntia.


“Apa Kikan sampaiin?” teriak Kikan melihat Rendra pergi ke kamar mandi. 


Mendengar itu Rendra kemudian berbalik. 


“Jangan sembarangan kamu mau bilang apa emang?” tanya Rendra


“Kakak cinta kan sama dia?” tanya Kikan kemudian. 

__ADS_1


“Ehm...” Rendra berdehem, “Nggak!” lanjutnya berbohong. 


“Dasar keras kepala. Kalau Kak Rendra cinta sama Kak Cyntia bilang aja Kak, sebelum nyesel. Kak!” tutur Kikan. 


__ADS_2