
Di halaman gedung salah satu aset nareswara grup, anak- anak terpilih yang Tuhan anugerahi pita suara ajaib berkumpul.
Malam nanti adalah malam mereka perform pertama yang artinya akan berkurang satu juga pesertanya.
Dengan membawa hati yang berat, Aslan membunyikan klakson meminta penjaga pintu membukakan pagar hotel. Mobil Aslan masuk, memecah konsentrasi anak- anak yang tadinya sedang fokus mengikuti gerakan olahraga dari guru mereka.
Tidak peduli menganggu, atau tidak. Aslan turun dari mobilnya. Jika biasanya keluar sepatu fantofel mengkilat, kini yang keluar sneakers keren menapakan ke tanah.
“Da_dy..!!” teriak Alena girang dan berlari melihat daddy_nya datang.
Semua anak yang lain ikut menatap Aslan tidak terkecuali guru mereka. Kalau boleh jujur guru itu kesal ke Aslan karena membuat gaduh dan kacau acara senam pagi.
Tapi mereka tau siapa Aslan jadi mereka tidak berani menegur dan diam saja. Saat Alena berlarii, Ipang dan Daffa juga menoleh ke Aslan.
Dheg. Aslan menelan salivanya.
Saat itu juga, Aslan seperti merasakan tusukan. Alena yang sudah jelas bukan anak kandungnya berlari dengan rona kehausan kasih sayang menghampirinya.
Tapi di satu sisi, Aslan juga menangkap sorot mata Ipang yang memandang sayu dan penuh rindu juga padanya.
Padahal tujuan Aslan yang pertama adalah Ipang. Tapi, Ipang dan Daffa justru memasang wajah cool, tentu saja itu turunan darinya.
Dan yang menyambutnya Alena. Jika sudah begitu, Aslan jadi bingung hendak memilih siapa. Bagaimana cara menolak Alena, padahal Aslan ingin berpamitan pada Ipang, memberinya banyak janji dan pesan. Bukan pada Alena.
Tapi melihat tatapan Alena, Aslan juga terketuk. Alena tidak salah, dia tidak tahu apapun, justru Aslan kasihan padanya.
Takdir yang menempatkanya terlahir dari ibu yang mengerikan. Menerima didikan salah meski dia tak memintanya dan bisa menolaknya. Mungkin jika takdir membuat Alena lahir dari orang lain, Alena juga aka menjadi anak yang baik.
Meski dengan kegetiran dan rasa kecewa, Aslan tetap menyambut Alena. Aslan merentangkan tanganya. Membiarkan Alena merasakan dekapan hangat seorang ayah. Aslan mengelus rambut Alens lembut saat Alena memeluknya erat.
Kasian sekali Alena, apalagi jika nanti dia tahu, sebentar lagi orang yang dia panggil Daddy itu akan pergi meninggalkanya. Dan akan menjadi ayah untuk orang lain.
Sementara tatapan Aslan tertuju pada Ipang dan Daffa. Ipang juga menyorotkan tatapan rindu. Dan Aslan juga merasakan itu, rindu yang menggerus lubang di hatinya begitu dalam. Yang Aslan sendiri tidak tau bagaiamana bisa menutup lubang rindu itu di hati Ipang.
Aslan sangat tau, bagaimana perasaan Ipang, tumbuh tanpa kasih sayang dan sesosok ayah. Dan itu juga sangat menyakiti Aslan dan membuatnya merasa berhutang.
“Alena Sayang, kau harus tampil baik nanti malam yah!” bisik Aslan lembut dan melepaskan pelukan Alena.
“Iya Daddy, Daddy nanti malam datang kan?” tanya Alena dengan wajah berbinar.
Aslan menelan ludahnya dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
“Maafkan Daddy Alena. Daddy tidak bisa datang. Tapi Daddy akan lihat lewat televisi kok, jadi berikan tampilan terbaikmu ya!”
“Iya Daddy” jawab Alena kembali memeluk Aslan.
“Ya sudah kembali berlatih ya!” tutur Aslan menyuruh Alena berolahraga lagi.
Alena pun kembali ke barisan. Bergabung bersama teman- temanya untuk berolahraga.
Aslan kemudian berjalan mendekati guru mereka. Lalu Aslan berbisik.
“Maafkan saya mengganggu, saya ingin meminta waktu untuk bertemu dengan Pangeran, antarkan dia ke balkon depan kamarnya!” bisik Aslan meminta bantuan, agar Alena tidak cemburu.
“Ya Tuan!” jawab salah satu guru Ipang.
Aslan berjalan ke tempat yang dia katakan. Aslan berjalan menunduk, bayangan masa depan indah bersama Pangeran seperti terus berlari.
Sepertinya sudah dekat di depan matanya. Tapi semakin Aslan ingin menggapainya, semakin Aslan susah mendapatkanya. Semua jelas tergambar tapi sulit untuk dimasuki.
“Waktu itu akan segera, tiba” batin Aslan mantap.
“Tapi bagaimana dengan Alena , bagaimana menjelaskanya, Alena juga terlalu kecil dan muda untuk bisa menerima kenyataan pahit di depanya”
Setelah sampai di balkon depan kamar Ipang. Aslan berdiri tersenyum melihat tempat itu. Bayangan Kia datang.
Meski terpaksa tapi Aslan merasa Kia sempat masuk ke dalam dunia rasa yang Aslan ciptakan. Wajah Kia saat itu juga sangat menggemaskan. Ah Kia memang selalu menggemaskan untuk Aslan.
Rasanya Aslan ingin kembali ke waktu itu, terus berada di rasa itu. Ah bukan, bukan kembali masa yang telah lalu. Tapi Aslan ingin menemui masa ke depan mengulangi rasa itu, dan selalu menemui rasa itu. Menikmati sepanjang harinya. Merasakan manisnya cinta. Merasakan kehangatan dari wanita yang dia suka.
“Ayah!” panggil Ipang berlari.
Guru Ipang memenuhi permintaan Aslan. Mengajak Ipang secaraa khusu bertemu denganya.
Aslan kemudian berjongkok, merentangkan tanganya lebar menyediakan dada bidang dan segenap hati dan perasaanya untuk Ipang menghambur di pelukanya.
“Pangeran ayah yang tampan!” panggil Aslan memeluk Ipang kencang dan menciumi kepala Ipang.
Aslan memeluk Ipang sangat erat sampai Ipang merasa sesak dan berusaha melepaskan dirinya.
“Sesak Ayah!” ucap Ipang mengeluh.
Lalu Aslan merenggangkan pelukanya dan Ipang berdiri lepas dari pelukan Aslan.
__ADS_1
“Maafkan ayah Nak!” jawab Aslan dengan senyum hangatnya.
“Kenapa ayah menyuruh Ipang kesini, dan kenapa ayah pagi- pagi kesini? Apa ayah berhasil menyembuhkan marahnya ibu?” tanya Ipang pintar, seakan Ipang tau apa yang ada di otak ayahnya.
Aslan kemudian menatap Ipang dalam dan memeluknya lagi dengan erat, seakan Aslan takut tidak bisa bertemu lagi, atau Aslan takut terpisah lagi. Yang Pasti Aslan ingin memeluk Ipang dalam waktu yang lama.
“Sesak Yah, ayah payah sekali dalam hal memeluk, tubuh Ipang kan kecil, jadi segini saja memeluknya. Kalau ibu besar, jadi boleh kencang. Ibu selalu memeluk Ipang dengan baik dan nyaman. Ayah payah!” ucap Ipang megajari dan mengatai Aslan. Sambil memperagakan tingak kelebaran pelukan.
Aslan tersenyum. “Iya jagoan, entah kapan Aslan bisa memeluk ibu Ipang?” Batin Aslan dalam hati dengan tatapan sayu.
“Pangeran, anak Ayah!” tutur Aslan memegang kedua pipi Pangeran.
“Iya Yah!”
“Ayah minta maaf, mungkin beberapa waktu ke depan ayah tidak akan menemuimu!” ucap Aslan lembut.
“ Kenapa Yah?” tanya Ipang sedih.
“Ayah akan pergi beberapa waktu. Kamu tau, kamu juara buat ayah. Lalukan apa yang kamu suka. Jika menjadi juara itu membuat mu bahagia. Maka jadilah juara. Jika tidak, lakukan apa yang membuatmu bahagi. Jaga ibu untuk ayah ya!” ucap Aslan panjang menasehati.
“Ayah mau pergi?” tanya Ipang sensitif.
“Iya?” jawab Aslan mengangguk.
“Kenapa ayah pergi? Jadi Ipang tidak punya ayah lagi? Bukankah ayah akan menikah dengan ibu? Kapan Ayah nikahi ibu? Kapan Kita bisa tidur bersama dn berlibur bersama Ayah?” tanya Ipang panjang.
“Secepatnya Nak. Tunggu waktu itu tiba ya! Kamu percaya ayah kan?” jawab Aslan dengan lirih.
“Hiks hiks” ipang menagis dan mebuat Aslan semakin hancur. Ipang seperti tau keadaan ayah dan ibunya.
“Aya tidak akan lama, berdoa ya!” ucap Aslan lagi meyakinkan.
“Apa ibu marah terus sama Ayah?” tanya Ipang dengan sesenggukan.
“Tidak Nak, kemarin ayah dan ibu makan bersama”
“Aku mau punya Ayah seperti Daffa. Aku mau hidup bareng Ayah” ucap Ipang polos. Mendengarnya membuat Aslan semakin kacau. Bagaimana cara instan bisa nikahi Kia. Bahkan Aslan kini sudah melepaskan Nareswara demi menuju kesana.
“Iyah. Ayah janji, kita akan bersama , ayah akan kembali, ayah janji akan menikah dengan ibumu. Bersabarlah ya!” tutur Aslan mantap ke anaknya.
“Janji?”
__ADS_1
“Janji!”