
****
“Waah nyebelin juga ya si Rendra itu ngatain lo penguntit!” jawab Shela setelah Cyntia cerita semuanya.
“Makanya lo jangan liat orang dari cashingnya! Dia itu saraf tau nggak. Sok aja foto ciuman si selebgram plastik ini akan gue tunjukin ke dia malam ini. Nangis, nangis darah sekalian! Gedeg banget gue!” ucap Cyntia menggebu- gebu dan menghayati sampai tanganya memperagakan merem*as- rema* sesuatu sampai kepet.
Shella malah salah fokus ke Cyntia yang berekspresi menggebu- gebu. Sehingga Shela bengong dan tidak merespon. Cyntia kemudian menoleh ke Shela.
“Kok lo diam?” tanya Cyntia tersinggung karena Shela malah memoerhatikan Cyntia.
“Lo yakin kesel sama dia?” tanya Shela dengan tatapan anehnya.
“Ya iyalah dudul, dia ngatain gue gila, ngatain gue penguntit, ngatain gue obsesi! Hellow! Ya gue nggak terima lah! Gue masih waras kelles!” jawab Cyntia lagi.
“Yayaya! Asal, semoga rasa kesel lo itu nggak berubah!”
“Berubah gimana?” tanya Cyntia lagi.
“Dia ganteng lho Cyn!” jawab Shella dengan ekspresi polosnya.
“Eeeggghhh!” Cyntia berekspresi sangat muak dan tidak berminat pada Rendra dengan membesarkan kedua lubang hidung dan matanya membulat seperti badut babi.
“Laki – laki di dunia ini banyak ciiint. Semua mantan gue, temen gue juga ganteng. Catet ya. Dia menang tinggi doang!” jawab Cyntia mengejek Rendra.
“Yaya, tinggi sixpack dan maskulin lebih tepatnya!” jawab Shela lagi malah memuji Rendra.
“Shela!” pekik Cyntia kesal.
“He...” jawab Shela nyengir.
“Please ya. Nggak usah baik- baikin dia di depan gue!” tegur Cyntia kesal.
“Ya terus ngapain lo mau ngeliatin tu video dan foto itu? Itu kan urusan mereka” tanya Shela.
“Kok lo nanya? Ya biar dia tau rasa lah. Dia itu pamer ke gue! Ngerti nggak lo? Katanya tuh cewek plastik adalah wanita yang berarti dan berharga, yang dia cintai. Makan tuh cinta! Lo akan tau rasa lo. Setelah tau cewek lo tu perempuan binal lebih parah dari gue!” jawab Cyntia lagi masih tetap menggebu- gebu.
“Lo mau buat si Rendra tau rasa? Atau lo cemburu sih? Lo mau ngasih tau Rendra biar dia tau lo baik atau kasih pelajaran?” tanya Shela lagi dengan polosnya.
“Aiiih, pusing gue ngomong sama lo! Bener-bener ya! Lo masih mau jadi manager gue nggak? Gue cari orang lain deh kalau lo gini terus!” jawab Cyntia lagi kesal dan frustasi, Shela malah salah tangkap.
“Yayaya nggak, kan gue cuma tanya! Baru juga kita kerjasama!” jawab Shella.
Kemudian dari di luar terdengar langkah tim kreatif acara. Cyntia langsung tutup mulut dan mengajak Shella keluar. Karena Cyntia sudah cantik dan berdandan sendiri, Cyntia langsung disuruh ke acara.
Acara malam itu ternyata Ipang tampil sebagai bintang tamu, Alena juga iya. Mereka berdua sekaligus mempromosikan diri mereka berdua dan acara final mereka.
Baik Ipang dan Alena sama- sama bagus, mereka berdua punya ciri khas sendiri, tapi masyarakat lebih suka Ipang yang polos. Ipang bertindak selayaknya anak kecil dan apa adanya. Sementara Alena tampak lebih wah dan tidak sesuai umurnya.
****
Di tempat lain.
Aslan dan Kia sampai di rumahnya.
“Assalamu’alaikum Mbok!” sapa Kia ramah.
“Waalaikum salam! Alhamdulillah udah balik lagi Den?” jawab Mbok Minah bahagia dan buru- buru menyambut majikanya.
“Alhamdulillah Mbok! Lagi pada ngapain sih?” tanya Kia. Sementara Aslan tampak diam dengan muka tanpa ekspresi. Entah karena lelah atau banyak pikiran.
__ADS_1
“Liat Den Pangeran, Non! Den Pangeran lagi tampil bagus banget tuh! ” jawab Mbak Narti kegirangan dan menunjukan putra tampanya Kia.
“Oh, kok aku nggak tau Ipang tampil! Duh nyesel nih aku nggak liat dari tadi” jawab Kia ikut melihat ke TV. Kia sangat bangga dan terharu melihat putra kecil yang sering membuatnya baper.
Aslan melepas sepatunya dan melirik anaknya sekilas. Tapi Aslan tampak tidak begitu tertarik. Aslan hanya berhenti sebentar tanpa komentar. Bukan tidak suka, tapi pikiran Aslan ada di hal lain.
Kebetulan saat Aslan dan Kia sampai penampilan Ipang sudah setengah perjalanan. Aslan langsung masuk ke kamar Kia, buru- buru.
Kia yang duduk dulu, bergabung bersama Mbok Mina dan Mbak Narti menoleh ke suaminya. Kia tau ada yang nggak beres dengan suaminya. Setelah Ipang selesai, Kia segera menyusul Aslan.
“Kia bebersih dulu ya Mbok!” pamit Kia.
“Mbok buatkan minuman hangat ya Non, sama Mbok siapkan makan malam juga!” jawab Mbok Mina.
“Iya Mbok makasih!” jawab Kia.
Kia menyusul Aslan ke kamar. Aslan langsung mengambil alat kerjanya, mencari charger i_padnya. Aslan tidak sabar ingin membuka memory card itu. Dan sekarang Aslan duduk menghadap ke I-pad.
“Abang!” panggil Kia lembut ke Aslan.
“Hmmm” jawab Aslan fokus memencet tombol power di gadget nya.
Kia mendekat dan mengelus bahu Aslan pelan.
“Mandi dulu dong, Bang! Ganti baju sholat dulu, ya! Biar I_pad nya nambah daya juga!” tutur Kia lembut
Aslan menoleh ke Kia dan mengangguk patuh.
“Siapin baju ganti Abang ya. Abang mandi dulu, ini biarin hidup dulu!” jawab Aslan.
Kia mengangguk. Aslan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Kia kemudian menyiapkan pakaian sholat dan pakaian tidur Aslan.
Aslan mandi kilat dan secukupnya, keluar langsung ganti dan sholat Isya. Sementara Kia gantian mengurus dirinya sendiri. Mandu ganti pembalut, dan ganti baju.
“Kamu duluan aja!” jawab Aslan hatinya sangat dheg- dhegan. Sejak di mobil tadi Aslan sudah menyuruh Kia melepas liontinya tidak sabar tahu isinya.
“Hmm, Kia maunya makan bareng Abang!” jawab Kia bermanja.
“Sayang, Abang harus segera buka ini. Kamu ngerti nggak sih?” jawab Aslan dengan suara meninggi, Aslan terbawa emosi.
Kia langsung diam menelan ludahnya, ternyata Aslan bisa membentaknya. Kia tau Aslan sedikit marah. Sebagai istri yang baik, Kia sabar dan tidak sakit hati. Kia berinisiatif mengambilkan makanan dan minuman ke kamar.
“Kia bawa minuman dan makananya ke sini ya, Bang!” tutur Kia lagi dengan lembut.
“Ya!” jawab Aslan tidak menoleh ke Kia.
Aslan sangat fokus, jantung Aslan berdegub lebih kencang. Itu ternyata memory card sebuah hp lama. Di dalamnya ada banyak foto, dan video, bahkan ada dokumenya juga.
Aslan membukanya satu persatu. Mulai dari foto Bu Andini saat masih muda, bersama teman- teman kuliahnya. Aslan juga melihat foto kakek neneknya dan tante tantenya.
Ternyata Ibu Rendra dan Ibu Aslan sangat mirip, itu sebabnya mereka berdua juga mirip dan sama- sama tampan. Yang mencolok dari Aslan adalah matanya yang menurun dari Tuan Surya. Tuan Surya ternyata blasteran sehingga matanya biru.
Di situ juga banyak foto- foto Ibu Andini dan Tuan Surya. Foto- foto hasil pemeriksaan kehamilan Aslan juga ada. Aslan jadi terharu melihatnya.
Satu Album terakhir yang mencengangkan Aslan adalah foto ayahnya, papanya dan Tuan Alex duduk berasama. Itu foto yang paling baru dari semua foto yang ada di situ.
“Jadi Om Alex tau siapa aku?” gumam Aslan.
Aslan kemudian membuka file dokumen. Isinya adalah beberapa salinan dan scanan surat kuasa dari Tuan Surya, isinya yang menjadi ahli waris perusahaanya adalah anak dan istrinya.
__ADS_1
Selanjutnya ada file foto scanan surat kuasa Ny, Andini yang melimpahkan kewenanganya pada Tuan Agung, termasuk Tuan Agung mengubah nama perusahaan dari Surya Pustaka menjadi Nareswara.
Aslan melanjutkan pencarianya. Di situ ada video, yang memperlihatkan bukti, orang yang terakhir bersama Tuan Surya adalah Tuan Alex.
Aslan melajutkan pencarianya lagi. Di temlat yang sama, Tuan Agung berjalan bersama seseorang.Orang itu terlihat seperti pelayan Dia patuh dan mengangguk pada Tuan Agung, lalu Tuan Agung pergi bersama laki- laki itu.
Aslan seperti mengenali laki- laki itu. Dia mirip dengan supir ayahnya. Sopir yang meninggal di kebakaran salah satu kantornya, bersama orang tua Kikan.
Video selanjutnya Tuan Surya tampak mengobrol dengan Tuan Alex. Bahkan mereka berdua masuk ke mobil Tuan Alex agak lama, setelah itu Tuan Alex pergi tanpa Tuan Surya. Tuan Surya tidak kunjung keluar, dan mobil itu terus ada di situ. Mobil itu adalah mobil yang diceritakan Umma.
“Sh*t!” umpat Aslan sangat kesal, wajah Aslan memerah dan Aslan menggebrak meja keras melampiaskan emosinya.
Kia yang baru masuk membawa nampan berisi teh hangat kaget melihat kemarahan Aslan. Sampai nampanya terjatuh.
"Praang!" Teh panas langsung tumpah membasahi tangan Kia dan cangkirnga pecah.
"Auw!" pekik Kia kepanasan.
Aslan kemudian menoleh ke istrinya.
“Maaf Sayang!” ucap Aslan segera memulihkan emosinya. Aslan segera bangun memegang tangan istrinya cemas. Aslan pun segera membantu istriya.
"Maaf aku menyakitimu. Sayang!" ucap Aslan panas.
“Abang kenapa? Kia nggak apa-apa! Kia bisa beresin sendiri kok!” jawab Kia.
“Nggak, Sayang! Maafin, Abang! Kamu takut ya, Abang teriak, biar Abang aja yang beresin ya!” tutur Aslan gugup dan merasa sangat bersalah membuat istri tercinta melihat sisi galaknya.
Dari pada berebut membereskan pekerjaan, Kia memilih mengambil pengki dan sapu. Sementara Aslan mengumpulkan pecahan kaca yang besar.
Akhirnya mereka bekerja bersama. Untung Mbok Mina dan Mbak Narti fokus nonton TV jadi mereka tidak dengar ada peristiwa gelas pecah. Pecahan gelas dan air tumpah selesai dibereskan.
“Abang kenapa? Apa isinya?” tanya Kia lembut sambil meraih tangan Aslan. Kia tahu suaminya sedang di luar kendali.
“Abang harus temui pengacara Abang sekarang juga!” ucap Aslan emosi.
Kia kemudian mendekat, mengelus dada Aslan pelan dan menatap suaminya hangat.
“Abang..." panggil Kia lembut
"Ini sudah malam, Abang baru pulang lho! Makan dulu ya, cerita sama Kia. Oke? Yuk makan dulu yuk!” ajak Kia pelan menenangkan suaminya.
Aslan tidak menjawab dan langsung memeluk Kia erat.
“Orang yang terakhir bersama ayahku adalah papahnya Paul!” ucap Aslan dalam peluknya.
Kia kemudian mengelus punggung Aslan pelan dengan posisi dalam pelukan Aslan.
“Apa itu cukup Bang, untuk jadi bukti kalau dia yang bunuh Ayah mertua?” tanya Kia lagi.
“Tidak ada rekaman yang memperlihatkan dia membunuh ayah. Tapi dia orang terakhir ada di situ. Abang harus konsultasikan ini dengan pengacara! Waktunya juga hampir mendekati dengan ditemukanya ayah meninggal, kemungkinan dia yang bunuh Ayah” tutur Aslan melepaskan pelukanya.
Kia kemudian meraih kedua pipi Aslan lembut, Kia memberikan senyum hangatnya agar menjadi kekuatan Aslan.
“Kita bisa temukan data pendukung lain. Kita cari sama- sama, ok? Kia boleh kan ikut liat videonya?” tanya Kia lembut.
Aslan mengangguk.
“Boleh, Sayang!”
__ADS_1
“Ya udah makan dulu yuk!” ajak Kia.
Aslan setuju dan menggandeng Kia keluar ke meja makan.