Sang Pangeran

Sang Pangeran
89. Pulang.


__ADS_3

Kepintaran dan kecerdasan memang penting. Tapi otak yang pintarpun tidak menjamin hidupnya bahagia jika terlalu banyak berfikir tanpa tekad yang kuat. 


Dan Aslan memang bisa dikatakan orang yang bodoh. Selama kurang lebih 32 tahun menjalani hidupnya, dia hanya bekerja dan mengikuti orang lain. Tidak memikirkan kebahagiaan dirinya, dan hanya memikirkan ayahnya. 


Dan kini orang bodoh itu keluar dari zona nyaman. Bertingkah semakin gila mengandalkan dirinya sendiri.


Karena saat kuliah di luar negeri Aslan care dengan teman- temanya, selalu menolong dengan ikhlas. Dan kini Aslan ditolong temanya. 


Aslan berfikir, jika ada kemauan ada jalan. Terdengar gila memang, dengan hanya sisa uang yang tidak seberapa dari tabungan pribadinya. 5 persen dia gunakan untuk membelikan hadiah rumah dan mobil anak dan wanitanya. 20 persen Aslan gunakan untuk investasi di perusahaan temanya sebagai tabungan agar bisa bertahan jika perusahaanya tidak sesuai harapan.


72,5 persen dia maksimalkan dialokasikan untuk membuka usaha, tentunya butuh uang ekstra, mulai dari membangun tempat rekrut pegawai dan lain sebagainya. Dan untuk bertahan hidup dia hanya memegang 2,5 persen dari tabungan awalnya. 


Otomatis Aslan miskin mendadak dibanding hidup sebelumnya yang semau dia. Dan kalau sampai usahanya bangkrut, tamatlah kekayaan Aslan. 


Pagi ini sesuai dengan harapanya, Aslan mendapatkan pinjaman. Lebih tepatnya investasi dari temanya, agar Aslan bisa mendirikan perusahaan.


Dan kini sudah terkumpul uang sesuai estimasi anggaran yang dia butuhkan selama dia membuat proposal selama 2 bulan ini bersama temanya. 70 persen dari uang Aslan sendiri, 20 persen dari Tn. Joseph, 5 persen dari Marcel, dan 5 persen lagi dari Haa joon. 


Buat Aslan, mau untung mau rugi. Bangkrut atau berkembang, yang penting Aslan berusaha. Dan kini dia mantap mau pulang ke kampung halamanya setelah membawa modal. 


“Lo jadi mau pulang besok Bro?” tanya Marcel setelah Aslan mendapatkan tanda tangan dan transferan dari Tn.Joseph. 


“Hari ini, bukan besok!” jawab Aslan mantap ingin segera pulang.


“Udah dapet tiketnya?” tanya Marcel peduli.


“Udah, berangkat ntar malem” jawab Aslan. 


“Oke, hati- hati ya! Kalau lo butuh apa- apa kabari gue” 


“Siap Bro. Kapan lo main ke gubukku? Gua tunggu!” ucap Aslan menepuk bahu Marcel. 


“Setelah undangan nikah lo sampai ke gue,” jawab Marcel tersenyum nakal.


“Janji lo ya dateng!” 


“Janji. Ya udah barang kali lo mau berkemas dan istirahat. Gue kerja dulu” pamit Marcel. 


“Thanks ya!” jawab Aslan. 


“Yo! Lo saudara gue Bro, ini kewajiban gue, nggak perlu terima kasih,” ucap Marcel, karena semua kebutuhan Aslan di negara itu disediakan dan ditanggung Marcel.


Marcel pun melangkahkan kakinya hendap pergi. Tiba- tiba ponsel Marcel berbunyi. Marcel pun tidak jadi melangkahkan kakinya melewati pintu penginapan Aslan. Marcel berhenti mengangkat teleponya dulu. 


“Halo Dad,” sapa Marcel yang menelpon bokapnya. 


“Sekarang?” 


“Yaya, I am ready Dad” 

__ADS_1


“Oke” 


“See you soon Dad, i love you” 


Itulah kata- kata yang Aslan dengar dari mulut Marcel. Entah ada masalah apa Aslan tidak peduli dan tidak ingin tanya.


Tapi rupanya, setelah mematikan telepon, Marcel tersenyum riang dan mengembangkan pipi maskulinya ke Aslan, Marcel juga berbalik arah mendekati Aslan lagi. Aslan jadi heran. 


“Lo kenapa senyum- senyum gitu? Sono lo kerja malah balik!” tanya Aslan. 


“Lo beresin barang lo sekarang!” perintah Marcel.


Aslan kebingungan dan merasa temanya aneh. Bahkan dasi dan jas yang baru Aslan gunakan untuk menemui Tuan Joseph belum dia lepas, sudah harus berkemas. Apa maksudnya?"


“Nggak pake lama, 30 menit lagi harus sampai bandara, buruan!” seru Marcel lagi. 


“Lo apaan sih?” tanya Aslan masih tidak mengerti. 


“Ayah gue nyuruh gue urus usahanya ayah yang di Singapore. Gue make pesawat pribadi. Lo bisa ikut gue sekarang! Buru! 30 menit lagi pesawat gue berangkat, perjalaanan ke bandara 15 menit, lo punya waktu 10 menit” terang Marcel menjelaskan. 


“Serius Lo?” tanya Aslan senang.


“Iya serius malah buang- buang waktu, hitungan detik nih” omel Marcel. 


“Ya udah ayok berangkat!” jawab Aslan langsung bersemangat. 


“Lo nggak berkemas? Barang- barang Lo?” 


Aslan pun mengambil satu kopernya saja. Aslan memang tidak membawa banyak barang, barang pentingnya sudah dia kemas dan tidak keluar dari koper.


Beberapa pakaia di lemari dia biarkan tertinggal. Toh Aslan masih punya banyak baju yang dia titipkan di apartemen Rendra. 


“Oke, lets go!” 


Lalu mereka berdua langsung tancap gas ke Bandara. Saat Aslan hendak meminjam pesawat pribadi kepunyaan Nareswara, Aslan dihalangi ibu tirinya. Dan sekarang Aslan mendapat tumpangan dari temanya.


Meski Aslan sudah berniat menerima, mau memesan pesawat dagang biasa rupanya Aslan memang ditakdirkan pergi memakai kendaran privat. 


Meski tujuan Marcel ke Singapore, tapi Singapore sangat dekat dengan negara Aslan. Jadi Aslan bisa tiba di negaranya nanti malam, tidak harus menunggu hari esok. 


Dan Aslan pun meninggalkan kota indah dengan pemandangan laut dan pasirnya yang mempesona. Kini otak Aslan pun sudah sedikit encer untuk menghadapi kenyataan hidup di depanya. 


*****


Di tempat karantina.


“Ibu Kiara, Ibu Paul, terima kasih sudah datang, mari silahkan masuk!” tutur Bu Gita pengasuh Ipang dan Alena. 


“Baik Bu,” jawab Kia ramah dan tersenyum. 

__ADS_1


Sementara Paul hanya diam dengan sikap angkuhnya. Paul merasa Bu Gita adalah bawahanya jadi dia tidak terlalu ramah. 


Mereka pun kembali masuk ke ruangan dimana Alena dan Pangeran duduk menunggu.


“Silahkan duduk Bu!” Bu Gita mempersilahkan Paul dan Kia duduk. 


Sesaat Bu Gita diam. Saat berdua dengan Pangeran tadi, Bu Gita berhasil menanyai Ipang. Apa alasan mereka selalu bertengkar. Ipang pun menceritakan semua masalahnya dengan Alena secara jujur. 


“Jadi kedua perempuan ini memperebutkan Tuan Aslan. Dan anak mereka juga iya, dan Tuan Aslan mengudurkan jabatanya demi Bu Kia, ini berita yang menarik, bahaya kalau ada berita gosip ada yang tau, kasian Pangeran dan Bu Kia, kasian juga Alena”  batin Bu Gita menyimpulkan cerita Ipang. beberapa pegawai mereka tau. Kalau atasan mereka bukan Aslan lagi.


Ipang bilang ke Bu Gita. Kalau Ipang dan Alena bertengkar bukan karena ingin menang dari kontes melainkan karena masalah ayahnya. Ipang mengaku ayah Ipang dan ayah Alena sama. Tapi Alena tidak terima dan tidak mau mengakuinya. Alena menjadi benci dan berbuat nakal ke Ipang. 


Bu Gita kemudian mengangguk mengerti. Sebenarnya pegawai tempat karantina juga sudag banyak menaruh curiga tentang ayah Ipang. Karena Aslan sering berkunjung ke karantina. Meski menyapa Alena, Aslan lebih sering di kamar Pangeran dan Daffa. 


Saat beberapa pegawai bergosip, mereka menerka tentang hubungan Aslan dan Pangeran. Tapi kecurigaan mereka dulu bisa ditepis, mereka menebak karena ada Daffa.


Dan sekarang Bu Gita sudah mendapatkan jawaban pasti dari Ipang sendiri. Ibu Ipang adalah istri muda atau simpanan Tuan Aslan, bos mereka. Untungnya Bu Gita orang  yang baik dan tidak ember. 


“Saya tidak terima anak saya pipinya bengkak begitu, mana tanggung jawabmu sebagai pengasuh di sini Bu Gita? Saya bisa tuntut kamu dan anak ini, saya tidak mau tau harus ada pertanggung jawaban tas semua ini” celetuk Paul memulai dan justru memarahi pengasuhnya. 


Tentu saja perkataan Paul membuat Bu Gita emosi, begitu Kia, semakin geram dia. 


“Wooh. Nyonya Paul, anda benar- benar keterlaluan ya! Anda tidak lihat, pipi anak saya juga terluka, jelas ini bukti cakaran. Saya juga bisa melaporkan anakmu, kalau memang kamu mau selesaikan dengan cara itu” jawab Kia keras langsung menimpali. 


Ipang dan Alena hanya bisa diam menyaksikan ibu mereka. Ternyata perselisihan ibunya juga tidah jauh heboh dari anak- anaknya. Ipang yang anak baik tentu saja menjadi sedih melihat ibunya harus berbicara tinggi karenanya.


“Maaf Nyonya Paul. Maaf Nyonya Kia. Sebagai pengasuh di sini, saya mengaku saya lalai dan kecolongan. Oleh sebab itu kami mengundang kalian berdua kesini. Bolehkan saya berbicara dulu tanpa dipotong?” tutur Bu Gita sebelum menjelaskan. 


Paul masih duduk dengan sikap angkuhnya. Sementara Kia tersenyum mengangguk dan mempersilahkan. 


“Dunia yang sedang Alena dan Pangeran geluti sangat berpengaruh terhadap image dan penilaian masyarakat. Apalagi mengingat Tuan Aslan bukan orang sembarangan,” tutur Bu Gita.


Saat nama Aslan disebut, baik Kia dan Paul terhenyak. Mereka kaget, sepertinya Bu Gita tau permasalahan Alena dan Pangeran bukan tentang persaingan anak kecil tapi masalah keluarga. Paul dan Kia kemudian tertunduk malu dan menegang. 


“Tolong apapun masalah pribadi kalian selesaikan di luar kontes ini yang tinggal beberapa lagi. Kami mohon bantuan agar kalian bisa memberikan pengertian ke mereka. Sebab, kalau sampai berita ini tercium dari luar tembok karantina, baik terhadap Pangeran atau Alena akan berdampak buruk. Setidaknya sampai ajaang ini selesai, jaga pertengkaran Alena dan Ipang. Jangan sampai berlanjut atau tercium media” lanjut Bu Gita. 


“Dan mengenai luka mereka, sebaiknya diselesaikan dengan kekeluargaan. Mereka anak kecil yang masih butuh banyak pemahaman dan pengertian Bu, tolong jangan bawa ke ranah hukum, bukan hanya masalah pribadi Bu Paul dan Bu Kia yang nanti akan terbuka tapi acara ini dan produser kami juga akan tercemar, apa bisa dimengerti Bu?” tanya Bu Gita.


“Kalau begitu, buat kelas terpisah saja. Saya tidak mau anakku belajar bersama dengan anak seperti dia. Saya nggak mau tahu” jawab Paul langsung menyerobot. Paul merasa Alena benar dan tidak perlu minta maaf. 


Karena malas berdebat Bu Gita pun mengangguk. Dan menyetujui solusi mereka agar tidak terjadi keributan lagi adalah dipisah. Karena sepertinya mediasi tidak akan berjalan. 


Kia dan Paul pun terlihat tidak bisa didamaikan. Apalagi setelah Bu Gita tau alasanya. Ini bukan masalah yang akan selesai dalam waktu dekat, bahkan kalau sampai media tahu bisa jadi trending topik. 


Lalu metode yang digunakan adalah mereka tidur di rumah mentor mereka masih- masing. Tidak di rumah karantina lagi. Dan mereka hanya akan bertemu saat pentas nanti. 


***


Maaf kalau author kurang riset mengenai ceo. Hehe soalnya nggak punya kenalan Ceo beneran. Jadi author ngarang aja kira-kira. Apa yg terjadi pd Aslan jangan dicela ya.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2