Sang Pangeran

Sang Pangeran
45. Kecewa


__ADS_3

Tanpa peduli penolakan Kia,  Aslan berlenggang tanpa dosa, dengan satu tangan masuk ke sakunya. Jiwa boss nya yang tidak mengenal bantahan keluar.


Aslan kemudian mempersilahkan Rendra dan Randi makan layaknya tuan Rumah. Padahal dia juga hanya sama-sama tamu. Kia sangat kesal melihat tingkah nya itu.


Mereka semua duduk di meja makan Kia. Meski sudah sok-sokan mempersilahkan Rendra dan Randi makan, Aslan terkejut dengan menu yang Kia hidangkan. Begitu juga Rendra dan Randi.


Mereka semua menelan ludah dengan kecewa.  Terutama Rendra dan Randi. Betapa tidak,  Rendra dan Randi meninggalkan gurameh bakar,  dan di depanya sekarang hanya ada menu mi kuah,  dan itupun mi instan 5 bungkus dengan berbagai rasa yang dimasak bersama dalam porsi besar. Dicampur sayuran tanpa telor. Karena Kia tidak punya telor.


Kia memang belum sempat ke pasar. Hanya membeli sayuran di tukang sayur keliling itu hanya cukup untuk Kia dan Ipang. Mi instan itu adalah kumpulan mie dari tetangga saat mereka ada acara sedekahan. 


"Ehm ehm" Aslan berdehem kecewa dan malu, karena itu menu aneh yang pertama dia lihat. Bahkan saat dia kuliah makanan paling sederhananya adalah kornet kalengan. 


"Ingat pesanku habiskan masakan istriku atau kalian mati di tanganku!" ancam Aslan ke kedua karyawanya. 


Aslan paham tatapan kedua bawahanya, karena dia juga merasa begitu. Yang penting baginya sekarang adalah bisa menikahi Kia.


Lalu mereka bertiga mulai mengambil mi instan ke mangkuk yang tersedia. Menyeruput dan memncicipinya. Untung masih panas, jadi mienya belum melar.


"Sssrrup" Aslan memasukan kuah mi ke dalam mulutnya


Tidak buruk" batinya dalam hati lalu melanjutkan makanya.


Karena dingin dan lapar, apapun menunya ketiga laki-laki itu menyerah dengan keadaan dan makan dengan lahap.


****


Sementara Kia berdiri masih di pintu kamar Ipang dengan tatapan gemasnya melihat Aslan berlaku seenaknya di rumahnya.


"Hiishh" desis Kia mengeratkan giginya, menghentakan kakinya, rasanya ingin mencabik-cabik Aslan.


"Bagaimana ini?" pikir Kia mento, dirinya berputar-putar di kamar Ipang.


"Apa iya, gue harus nurut dan ikutin laki-laki sinting itu? Hah tidak tidak!" batin kia lalu akhirnya duduk di samping Ipang.


"Apa ini bisa buat kamu bahagia Nak? Ibu hanya mengkhawatirkanmu jika terjadi sesuatu" batin Kia melihat Ipang tidur dengan nyenyak.


Kia kemudian mengambil selimut Ipan dan membelai Ipang.


"Ya Tuhan, bahkan selimut ini jadi bau singa gila itu" gumam Kia saat aroma parfum Aslan tertinggal di bantal kasur dan selimut Ipang.


Bahkan secara reflek Kia meraih selimutnya dan mempertajam penciumanya. Sekilas Kia seperti tampak seorang yang merindukan suaminya dan mencium bau keringat dari pakaianya. Padahal Kia hanya memastikan dan merutukinya.


Dan tanpa sepengetahuan Kia. Aslan yang hendak mengajak Kia makan melihatnya.


"Ck. ck, segitunya ya kamu mengidolakanku, sampai bekasku saja kau ciumi, kenapa tidak kau cium aku langsung saja?" ledek Aslan mendekat sambil bedecak dan tersenyum senang.


"Haisssh, si*all" spontan Kia melepaskan selimutnya. Kia semakin terpojok dan tidak berkutik. Dan menggigit bibirnya.


"Siapa juga yang mengidolakanmu dan ingin menciumu. Ya Tuhaan, kau benar benar!"


"Pesawatku sudah menunggu, kenapa lama sekali berkemasnya" ucap Aslan lagi.

__ADS_1


"Aku tidak mau ikut denganmu!" jawab Kia mode ngambek.


"Ya Tuhan membosankan sekali berdebat tiada akhir denganmu. Hujan mulai reda. Jangan mengulur waktu. Cepatlah!" ucap Aslan.


"Kau tidak lihat Ipang sakit dan sekarang harus bepergian jauh. Apa kau tidak kasian? Coba kau pikir apa keputusanmu berangkat sekarang itu tepat?" omel Kia berusaha menunda.


"Haissh"


Aslan hanya mendesis kemudian Aslan maju dan menggendong Ipang yang sedang tidur.


"Kau!" umpat Kia dengan bola mata membulat sempurna. "Jangan culik anakku"


"Kau mau kugendong juga. Jangan iri sama anak sendiri" ucap Aslan lagi sambil tersenyum dan segera masuk ke mobil meninggalkan Kia.


"Hoooh, benar-benar, iiiih"


Kia berdiri terpaku tidak bisa berfikir dengan emosinya sendiri, dia sepeti orang bodoh yang diperdaya Aslan. Kia ingin memberontak. Tapi Ipang membuatnya khawatir.


Hujan memang sudah reda. Mau tidak mau Kia ikut dengan Aslan. Rendra pun menjadi lesu dan menatap kesal ke Kia dan Aslan. Sementara Randi menertawai kesialan Rendra. Mobil Fortuner hanya menjadi mimpinya saja.


"Tidak bisakah menunggu beberapa menit. Aku ingin mengambil bajuku dan berpamitan pada temanku" ucap Kia mengulur waktu.


"Kau mau minta pakaian berapa lemari akan kubelikan. Dari tadi aku sudah memberimu kesempatan. Cepat masuk. Aku hitung 3 mundur. Tidak masuk kau kutinggal"


"Wuaah. Kau mengancamku! Kembalikan Ipang dan secepatnya kalian pergi dari sini!"


"Ck. Kau benar-benar iri sama anakmu sendiri? Kau mau kugendong juga?"


Aslan menghindar dan memggeser tubuhnya agar masuk ke le lebih dalam dari mobil.


"Sinih!" ucap Kia ikut nekat masuk ke mobil.


"Ren kunci" ucap Aslan member perintah ke Rendra.


Dan Rendea mendorong Kia dan pintu mobil.


Kia pun membentur Aslan dan Ipang.


"Auw. Siaall" batin Kia menyadari dirinya terjebak di mobil. Kia mencoba membuka mobil tapi sudah dikunci.


Aslan hanya tersenyum dan membetulkan posisi Ipang yang sedikit menggeliat.


"Rumahku belum dikunci. Lampu-lampu juga belum dinyalakan, begitu piring sisa makan kalian. Biarkan aku mengemasinya dulu" tutur Kia memelankan suaranya berharap Aslan luluh.


"Ren, jalan!" ucap Aslan memberi perintah.


"Aiiih, menyebalkan sekali kamu" ucap Kia tidak tahan akhirnya memukul-mukul lengan Aslan.


Rendra dan Randi hanya fokus memandang ke depan.


"Hentikan, kau bisa membangunkan anak kita" jawab Aslan, dengan senyum smirknya. Padahal sebenarnya Aslan suka melihat tingkah Kia yang begitu.

__ADS_1


"Mau kau bawa kemana aku dan Ipang?" tanya Kia kemudian.


"Yang penting sampai dulu. Kau duduk dan berdoa saja agar perjalanan kita selamat" ucap Aslan tenang.


Tidak ada pilihan Kia diam dan nurut. Kia pergi tanpa membawa bekal apapun. Perhiasan, pakaian dan buku tabungan Kia masih tertinggal di rumahnya. Kia hanya membawa ponsel di sakunya.


Tidak lama mereka sampai di bandara. Ipang pun terbangun dan sangat bahagia. Merasa dirinya seperti anak-anak yang lain. Digending ayahnya dan pergi bersama ibunya.


Di depan mereka sudah terparkir pesawat pribadi Nareswara. Mereka pun masuk ke dalam. Dan tentu saja Aslan sudah membayar Randi untuk mengamankan dan mengurus rumah Kia.


Mereka kemudian masuk ke pesawat dan segera berangkat ke ibukota. Sepanjang perjalanan Ipang selalu menempel pada Kia. Bahkan ke kamar mandipun Ipang mau ditemani Aslan.


Setelah beberapa jam mereka sampai di ibukota. Dan Ipang kembali tertidur tentu saja masih Aslan yang menggendong.


"Biar aku yang gendong" ucap Kia.


"Dia juga anakku, aku ingin membayar waktuku selama ini"


"Oke" jawab Kia .


Lalu mereka berjalan menuju keluar bandara. Anak buah Aslab pun sudah menunggu dengan mobil mewahnya. Rendra berjalan mengekor di belakang mereka.


"Kita mau kemana? Aku turun di sini, serahkan Ipang padaku" ucap Kia lagi.


Tapi Aslan tidak menghiraukan dan tetap masuk ke mobil.


"Kenapa kau selalu bertindak sesukanya" ucap Kia lagi.


"Masuklah ini sudah malam, bukankah kita sepakat harus ke rumah sakit?" ucap Aslan...


Mereka kemudian langsung ke rumah sakit pilihan Aslan, memeriksakan keadaan Ipang dan agar mempunyai stok obat saat Ipang kambuh.


Setelah itu mereka pergi. Saat mereka turun dari mobil Kia kembali terbengong melihat gedung di depanya itu.


******


Terima kasih sudah mau baca.


Happy reading ya.


Untuk teman-teman yang baca karyaku sebelumnya. Mungkin paham.


Aku berusaha belajar alur cepat. Tapi sepertinya kemampuanku unk beberapa hal masih di alur pelan. Semoga temen-temen tetap sabar mengikuti.


Mohon maaf ya.


Semoga tetep dinikmati.


Novel yang kedua ini jg karena event lomba yang temanya udah ditentuin. Beda sama yg novel pertamaku.


Maaf kalau banyak kekurangan. Bantu author tetap percaya diri dan lbh baik ya. Dukung deg kasih like, vote dan komen membangun.

__ADS_1


__ADS_2