Sang Pangeran

Sang Pangeran
127. Jeje Sinting


__ADS_3

Kia kini sudah terbiasa dan lihai mengendarai mobilnya seperti Young Mom  pada umumnya. Ipang juga semakin bangga punya ibu seperti Kia. Di mata Ipang, ibunya kini sangat hebat, Kia ibu yang cantik, baik, penyayang, dan keren. 


“I love you, Ibuk!” ucap Ipang tiba- tiba. 


Kia tersenyum dan menoleh ke Ipang. 


“Me too, Ibu love Ipang to the moon and back! Now and forever!” jawab Kia lagi dengan mata berbinar. 


“Benarkah?” 


“Yes, dong!” jawab Kia


Saat mereka berdua dulu itu ungkapan dan semboyan cinta untuk mereka berdua. Saat Ipang dan Kia berdua saling bergantung, saling memiliki satu sama lain. Saat di mata Ipang ibu dan ayahnya satu, yaitu Kia. 


“Kalau Ipang sama Ayah, ibu love mana?” tanya Ipang dengan polosnya. 


Kia kemudian menatap getir ke Ipang, rupanya Ipang benar- benar masih memendam cemburu dengan perubahan kebiasaan di hidup Kia dan Ipang.


“Kenapa Ipang tanya begitu?” 


“Nggak apa- apa!” jawab Ipang. 


“Sungguh?” tanya Kia.


“Iya!” 


“Apa Ipang cemburu dan nggak suka Ibu tidur bersama Ayah sekarang?” tanya Kia lembut. 


Ipang kemudian diam. Tadi pagi saat bersama ayahnya, Ipang hanya iya- ia saja, tapi sebenarnya Ipang sungguh masih tidak rela jika harus merubah kebiasaanya menjaga jarak dan berbagi dari ibunya.


Bayangan Ipang, saat ayah dan ibunya menikah, mereka tidur bertiga setiap saat. Ipang berada di tengah ayah dan ibunya, bukan dibatasi hanya boleh masuk saat orang tuanya mengijinkan. Ipang tidak menyangka ayahnya akan langsung menguasai ibunya dengan posesif.


“Ipang nggak mau pisah dari ibu, Ipang juga ngga mau kalau ibu udah nggak sayang Ipang lagi, Ipang nggak mau ibu diminta ayah! Ibu kan punya Ipang, bukan punya ayah, kenapa nggak ayah yang ikut ibu tidur di kamar Ipang, bukan ayah yang ke kamar ibu!” ucap Ipang akhirnya mengungkapkan kesedihan dan kecemburuanya.


Kia tersenyum dan terharu sambil memegang stir mobilnya. Ternyata penjelasan Aslan yang begitu rinci dan pelan masih tidak memuaskan hati Ipang.


Ipang cemburu terhadap ayahnya sendiri. Penjelasan Aslan sudah benar, tapi mungkin terlalu mendadak untuk Ipang. Ipang butuh waktu.


Kia sadar, segala sesuatunya tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi untuk anak seperti Ipang yang selama ini kurang kasih sayang dan hidup sedikit berbeda dengan anak kebanyakan. Terlebih 3 bulan ini Ipang berada di karantina, pasti Ipang sangat merindukan Kia. 


“Maafin ibu ya, karena semalam ibu ninggalin Ipang, ibu dan ayah janji, nanti setelah Ipang selesai dari bintang kecil, ibu dan ayah tidur di kamar Ipang, kita tidur bertiga!” jawab Kia mencoba mengerti mau Ipang. 


“Sungguh Bu?” tanya Ipang bahagia. 


“Huum” jawab Kia mengangguk. 


“Makasih Bu!” 


“Tapi ada syaratnya!” ucap Kia lagi. 


“Apa Bu?” 


“Kalau nanti Ipang sudah sekolah, Ipang harus belajar tidur sendiri! Di sekolah, nanti bu Gurunya bilang, nggak boleh lho, kalau anak sekolah masih bergantung sama ibu dan ayahnya! Gitu!” tutur Kia memberitahu. Sebenarnya intinya sama dengan penjelasan Aslan tapi dengan pendekatan yang berbeda. 


“Berarti, apa yang dikatakan benar?” tanya Ipang lagi mengingat kata ayahnya.


“Huum, iya dong, masa ayah sama ibu mau bohongin Ipang, ayah ataupun ibu kita berdua sayang sama Ipang, sayang banget. Nggak ada yang bisa rebut cinta ibu ke Ipang. Ipang tau kan ayah juga sayang sama Ipang?” tanya Kia lagi.


“Iya Bu? Tapi Ipang mau bisa ketemu dan bersama ibu kapan Ipang mau!” jawab Ipang polos.


“Ibu juga ingin begitu Sayang. Tapi kan kita nggak bisa begitu terus, pas nggak ada ayah. Ipang juga ada kalanya main sama temen-temen dan nggak bareng ibu kan? Ipang di karantina juga nggak bareng ibu kan?"


"Iya Bu!"


"Yang minta ibu nikah dan bareng ayah siapa? Yang bilang pengen punya ayah siapa?” tanya Kia lagi.


“Ipang Bu...” 

__ADS_1


“Nah gitu, kalau orang sudah menikah, orang dewasa memang ada waktu yang dibutuhin untuk berdua dulu, tapi ayah dan ibu tetap sayang Ipang kok! Mengerti?”


“Mengerti Bu"


"Bener udah ngerti sekarang? Penjelasan ayah dan ibu cukup kan?” 


“Iya Bu!” 


“Sampai Ipang sekolah, ayah dan ibu janji kok, temenin Ipang terus! Kita tidur bertiga. Oke?” 


“Janji ya Bu!” 


“Janji!” jawab Kia mengangguk.


“Kalau Ipang punya adik, Ibu juga tetap sayang Ipang kan Bu?” celetuk Ipang lagi. 


“Oh iya dong, tentu, sayangnya ibu nggak akan pernah berkurang sampai kapanpun! Malah cinta buat Ipang akan bertambah, kan adik Ipang juga nanti sayang sama Ipang!” jawab Kia menjelaskan. 


“Oh gitu?” 


“Iya... ada atau tidak ada adik, cinta Ibu buat Ipang tetap sama, kalau Ipang nggak mau adik, Ibu juga nggak akan ada adik deh!” ucap Kia di luar dugaan Ipang.


Kia kan mau menerima Aslan juga demi Ipang, Kia tidak mau jika pernikahanya atau kehadiran adiknya membuat Ipang merasa diabaikan. 


“No. Ibu, Ipang mau adik! Ipang mau adik yang manis dan cantik!” jawab Ipang kemudian. 


“Berdoa ya sama Alloh, semoga Alloh kasih adik buat Ipang, sebelum ada adik Ipang harus belajar mandiri seperti kata ayah, oke?” 


“Oke Bu!” 


“Pintar!” jawab Kia satu tanganya mengusap kepala Ipang. 


Karena dalam perjalanan sambil ngobrol mereka berdua merasa perjalanan begitu cepat. Tidak terasa gang masuk ke perumahan elit milik Tuan Alvin terlihat.


Tanpa disengaja dan tanpa Kia tahu, ternyata mobil Kia beriringan dengan mobil Jeje. Sehingga mobil mereka sampai di halaman rumah Tuan Alvin bersamaan. 


Jeje yang baru melihat mobil Kia pun menengok ke mobil Kia penasaran. Ipang dengan polosnya membuka pintu mobil. 


“Hai Pangeran!” sapa Jeje begitu melihat yang keluar dari mobil itu Pangeran. 


“Hai Om Jeje!” jawab Pangeran. 


“Ganteng banget, dianter siapa?” 


“Sama ibu!” jawab Pangeran polos. 


Jeje pun langsung tersenyum menyeringai melihat Kia yang tampak tegag dan sedang mengambil tasnya di jok belakang. 


Kia yang dulu Jeje kenal gadis miskin. Kini terlihat cantik dan keren dengan mobil kecilnya.


“Selamat Pagi ibunya Pangeran!” sapa Jeje sok sopan. 


“Ehm. Pagi!” jawab Kia masam, lalu menutup pintu mobilnya dengan baik. 


“Pangeran kemarin ijin kemana?” tanya Jeje memancing  


“Iya, soalnya, ayah dan ibu Pangeran menikah!” celetuk Pangeran polos. 


“Ipang!” panggil Kia ingin menghentikan Ipang dan Jeje terlalu banyak bicara. “Ayo temui Tuan Alvin yuk!” potong Kia. 


“Iya Bu!” 


“Kelas Pangeran pagi ini bersamaku, Tuan Alvin ada acara di luar kota, pulang nanti siang!” jawab Jeje puas. 


Kia kemudian menghela nafasnya merasa kalah. 


“Pangeran, masuklah dulu, sapa kak Reni dan Bang Arip ya!” ucap Jeje. 

__ADS_1


“Ya Om!” jawab Ipang. “Ibu, Ipang latian dulu ya Bu!” pamit Ipang. 


“Iya, belajar yang rajin ya! Ibu pulang!” 


“Ya Bu!” 


“Kiss dulu dong!” ucap Kia menjongkokan tubuhnya, Ipang kemudian mencium pipi kanan kiri ibunya, begitu juga Kia ke Ipang. Jeje pun berdiri menyaksikan kemesraan anak dan ibu itu dengan tatapan penuh artinya. Jeje tidak pergi sampai Ipang masuk. 


“Daah Ibu!” 


“Daah Sayang!” jawab Kia melambaikan tangan. Setelah Ipang masuk Kia langsung menatap Jeje dengan tatapan bencinya. Dan Jeje tersenyum nakal. 


“Kenapa kamu ngeliatin gue begitu!” ucap Kia ketus. 


“Ck. Ck, kamu tidak berubah ya! Tetap seksi saat marah!” jawab Jeje dengan mata genitnya. 


Kia menghela nafasnya kesal. 


“Saya peringatkan kamu ya. Jangan racuni anakku dan jangan ganggu anakku!” ucap Kia mengancam. 


“Haha, aku tidak ingin mengganggu anakmu, aku hanya ingin mengenalnya, aku kira aku bisa jadi ayahnya!” ucap Jeje lagi dengan percaya diri. 


“Jangan ngimpi kamu ya!” jawab Kia lagi. 


“Jadi Tuan Aslan ayah Pangeran?” 


“Kenap memangnya?” 


“Apa Pangeran tau, kalau dulu ibu dan ayahnya bertemu di klub malam, mungkin!” 


“Jaga omongan kamu Jeje, nggak usah sok tau kamu. Kami tidak ada bertemu di klub malam!” bantah Kia sangat kesal.


"Oh ya? Terus dimana?"


"Apa urusanmu! Kamu tidak tahu apapun tentang aku dan suamiku. Jadi diam dan jangan ikut campur!"


"Oh dia udah jadi suamimu! Waah, waah. Kii, Kii. Hebat kamu ya!" ejek Jeje lagi.


"Aku ingatkan kamu. Aku tidak ada waktu berbicara dan mengenalmu. Kita tidak saling mengenal dan jangan usik kehidupanku! Apalagi anakku!" ucap Kia jengkel.


"Setau gue. Tuan Aslan itu suami, Nyonya Paul. Apa itu artinya seorang Kia yang polos selain menjadi perempuan bayaran kini menjelama perempuan berhijab dan diam-diam merebut suami orang?" tutut Jeje malah semakin memancing emosi Kia.


Kia pun semakin geram dan melemparkan tanganya mendarat ke pipi Jeje.


"Ouh sakitnya!" jawab Jeje menyentuh pipinya.


"Kamu tidak tahu apapun. Tutup mulutmu!" ucap Kia lagi.


"Jadi kamu lebih suka pria beristri ketimbang pria lajang sepertiku?" Jeje masih terus  kurang ajar


"Bisa gila gue ngomong sama baj*ngan kaya Lo!" ucap Kia bersiap berbalik.


"Tunggu, Kia. Aku masih simpan loh videomu!" ucap Jeje dengan senyum nakalnya.


Kia pun berhenti dan menoleh.


"Jeje!"


"Kamu tidak mau kan, semua orang tau asal usul Pangeran dan ibunya?" ucap Jeje.


"Apa mau kamu! Kamu berhutang padaku bahkan tidak kutagih. Aku tidak mengusikmu. Sebenarnya manusia macam apa kamu!"


"Aku ingin tidur denganmu! Datanglah ke partemenku kalau kamu mau nama anakmu tetap aman padaku. Bagaimana?"


"Dasar gila sinting, anj*ng bang*at lo Je!" umpat Kia sangat geram


"Ayolah! Berapa sih uang yang dibayarkan Tuan Aslan. Bukankah dulu kamu tergila-gila padaku. Aku mau jadikan kamu istriku satu-satunya lho!"

__ADS_1


Kia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Jeje. Rasanya Kia ingin mendorong Jeje dan menginjak-ijnak ******** Jeje dengan sepatunya.


__ADS_2