
Rendra duduk termangu memandangi tubuh lemah yang tergeletak di depanya itu. Entah kenapa, sejak rahasianya terbongkar dari Kikan, Rendra menyesal sudah menabuh genderang perang ke Cyntia.
Hari- harinya berganti menjadi hari yang dihantui wajah yang sekarang tergolek lemas di depanya. Sayangnya ketika Rendra membulatkan tekad untuk meminta maaf dan mengajak perdamaian, Cyntia menolaknya keras.
Cyntia menyatakan tidak mau berbaikan Rendra. Sejak saat itu, Rendra termakan gengsinya sendiri. Menyesali setiap kata yang pernah dia tuduhkan pada Cyntia.
Di saat itu pula, karir Cyntia semakin melambung dan membuat Rendra semakin terpukau.
Rasa terpukau, penyesalan dan penyadaran Rendra itu pun yang membunuh Rendra dalam rasa yang tidak bisa diungkapkan.
Rendra jadi tak bersemangat melakukan apapun. Entah apa yang menyebabkanya, Rendra tidak tahu. Masalah hati itu juga ternyata berefek, menjalar menjadi peyakit untuk fisiknya juga.
“Kukira kau wanita yang kuat? Ada apa denganmu? Kenapa kau melakukan ini? ternyata kau tetap perempuan bodoh!” gumam Rendra dalam hati mengetahu Cyntia mencoba bunuh diri.
“Aku tidak masalah menjadi teman bertengkarmu, asal kau tetap berani dan cerewet seperti biasanya. Kenapa kamu melakukan ini?” batin Rendra lagi belum tahu kalau Cyntia sedang hamil anaknya.
“Sadarlah dan bangunlah, aku terima aku yang menguntitmu!” batin Rendra lagi penuh harap dan merasa tidak tega melihat Cyntia yang selama ini terlihat tagguh tampak begitu lemah.
Entah ikatan batin, atau karena memang efek obat dan cairan yang diberikan mulai bereaksi. Cyntia menghela nafasnya agak keras, tanganya bergerak dan perlahan matanya terbuka.
“Ehm...!” Rendra senang, tapi dia sadar, kalau Cyntia benci kedia, bukanya menunggu Cyntia bangun, Rendra segera keluar dan memanggil Kia.
“Bu Kia.. Umma, Cyntia sepertinya bangun!” tutur Rendra memberi tahu.
Umma yang terlihat berkomat kamit melafalkan doa, Kia dan Aslan yang tampak duduk bersebelahan mesra langung menoleh girang.
“Benarkah?” tanya Kia segera bangun,.
“Alhamdulillah” ucap Umma.
Aslan yang sifatnya hanya menemani istrinya memilih diam dan membiarkan Kia dan Umma masuk. Aslan dan Rendra memilih di luar.
“Perempuan itu memang unik ya? Tidak bisa ditebak!” ucap Rendra kemudian berniat mengajak Aslan cerita dan ingin curhat.
“Mereka terkadang pura- pura kuat padahal sebenarnya tidak, kita saja sebagai laki- laki yang seringnya tidak peka! Seperti apapun, kita tidak pantas menyakiti perempuan!” lanjut Aslan lagi.
“Apa Bu Kia begitu?” tanya Rendra.
“Tapi ibu Ipang memang kuat sih!” jawab Aslan kemudian.
“Istri sendiri pasti dipuji lah!” jawab Rendra tersenyum.
“Buktinya Kia tidak memilih mengakhiri hidupnya meski aku menyakitinya! Meski dia terlihat lebih lemah dari Cyntia” jawab Aslan lagi,
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Cyntia mengakhiri hidupnya karena hamil, kurang ajar sekali kan laki- laki yang menghamilinya!” ucap Aslan spontan.
“Dheg”
Mendengar perkataan Aslan Rendra sperti tersambar petir.
“Ehm!” Rendra kemudian berdehem meluruskan duduknya, seperti ada aliran panas menelusup membakar otaknya, oleng dan keluar keringat dingin. Rendra tiba- tiba dheg- dhegan.
Saat Rendra memeriksakan diri, diagnosa dokter, Rendra hanya kelelahan dan stress. Tapi saat Rendra ke pantry di kantornya meminta dibuatkan minum panas, dia curhat ke pegawai yang biasa bertugas membersihkan ruanganya.
Kata pegawainya itu, keluhan Rendra sama persis saat istri pegawai itu hamil. Yang nyidam dan sakit adalah dirinya bukan istrinya. Meski belum bertanya Rendra jadi sangat yakin, Cyntia hamil anaknya.
Rendra kemudian mengusap tengkuknya salah tingkah tidak menjawab Aslan.
Aslan menoleh ke Rendra, Aslan seperti yang kia perkiraan, mengira Rendra mencintai Cyntia dalam diam dan patah hati.
“Kata Kikan, kamu naksir Cyntia?” tanya Aslan.
“Ha!” pekik Rendra gelagapan, fokus Rendr sekarang bukan lagi merahasiakanya, tapi anak siapa yang ada di rahim Cyntia.
“Nggak usah patah hati meski cintamu ditolak. Kalau kamu memang cinta dan terima Cyntia apa adanya, sekarang waktunya buktikan. Kita datangi pria yang menghamilinya, pukul dia sepuasmu. Nikahi Cyntia!” ucap Aslan memotivasi.
“Ehm...!” Rendra semakin gelagapan. “Iya!” jawab Rendra.
****
“Gue keluarga lo kan Cyn?” tutur Kia menggenggam tangan sahabatnya dengan mata berkaca- kaca.
Kedua perempuan yang mengalami masalah yang sama itu saling menguatkan satu sama lain. Cyntia yang sudah sadar terisah, wajahnya dibanjiri air mata keputus asaanya.
“Kenapa lo tolong gue sih?” ucap Cyntia pikiranya masih kacau.
‘Lo ngomong apa sih Cyn? Lo masih punya gue... gue ada buat lo, cerita ke gue, ini kan yang lo tunggu? Lo pengen punya anak?” jawab Kia, selama ini Cyntia kan merasa menjadi perempuan cacat karena berumah tangga bertahun- tahun tak kunjung hamil.
“Tapi bukan dengan cara kaya gini, bukan sekarang dan bukan dari orang yang nggak cinta ke gue Ki...”
“Siapa bapaknya?” tanya Kia pada intinya.
Cyntia diam, di oaknya terbayang saat Rendra bercumbu dengan Meta, terbayang pula saat Rendra mencumbunya dan memanggil nama Meta. Lebih dari itu, sebelum Rendra menemui Cyntia untuk meminta maaf, Cyntia masih sempat melihat Rendra yang berbicara dengan Meta di sebuah kafe. Entah apa yang dibicarakan.
Meski sebenarnya Cyntia ada ketertarikan dengan Rendra, karena saat merawat Ipang, Alena dan saat bekerjasama menyogok Kikan mereka kompak. Cyntia jadi terbakar cemburu yang amat sangat, Cyntia pikir Rendra sangat bucin ke Meta, bahkan setelah diselingkuhi, setelah menidurinya dan php ke Cyntia, Rendra masih menemui Meta.
__ADS_1
“Katakan siapa?” tanya Kia lagi.
“Nggak penting, kita melakukanya karena kebodohan. Ini semua karena Jeje!” ucap Cyntia kemudian.
‘Jeje?” tanya Kia kaget.
“Dia jebak aku pas aku datang ke party Steve, dia kasih minuman perangsang. Dan gue ketemu pria mabuk karena patah hati!” jawab Cyntia akhirnya mau cerita.
“Hoooh!” Kia benar- benar terbengong. Bukankan Jeje sudah hilang ditelan bumi, kenapa perbuatanya masih saja berimbas dan menimbulkan masalah. Padahal kata Aslan, sudah dipastikan Jeje tobat.
“Siapa pria itu?” tanya Kia lagi.
“Hikkks hikks!” Cyntia justri tambah menangis. “Gue kira, gue emang mandul, jadi gue nggak minum pil Kb!” racau Cyntia lagi.
“Cyn... dengerin gue!” ucap Kia menggenggam tangan Cyntia.
“Karir gue bakal ancur Kia, gue juga masih punya tanggungan kontrak, tapi gue juga nggak mungkin gugurin kandungan gue? Gue mau mati aja!” racau Cyntia lagi.
“Cyntia dengerin gue!” ucap Kia sekarang melepaskan tangan Cyntia tapi meraih pipi Cyntia dengan kedua tanganya.
“Hidup lo belum berakhir. Anak itu anugerah. Liat gue... bunuh diri ataupun gugurin kandungan bukan solusi”
“Tapi ayah bayiku bukan orang seperti Aslan Kia! Dia mencintai perempuan ain dia tidak mencintaiku!” jawab Cyntia lagi.
“Oke Fiine. Anggap kamu tidak akan bersama laki- laki itu, lo bisa besarin anak lo. uang dan karir bisa lo bangun lagi. popularitas harta semua titipan. Lo nggak harus putus asa karena itu. Lo masih akan tetap bisa hidup dengan baik dengan anak lo. disengaja atau enggak, dia sekarang tumbuh bareng lo, dia ada , dia anak lo. Lo ngerti kan?” tutur Kia dengan penuh penekanan.
Cyntia terdiam.
“Jangan lakukan hal bodoh lagi, besarkan anakmu! Kembalilah ke rumahku, aku akan temani kamu!” tutur Kia lagi.
Cyntia diam menunduk memikirkan perkataan Kia.
“Kamu dengar kataku kan? Kamu setuju kan? Hiduplah degngan baik, dia anakmu, dia berhak tumbuh begitupun kamu!” tutur Kia lgi.
Cyntia masih tetap diam.
“Katakan siapa bapaknya. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, aku hanya ingin tau siapa dia? Katakan!” tutur Kia merayu.
Cyntia mengangkat wajahnya dan menatap Kia parau, setetes air bening kembali turun.
“Aku hanya ingin tahu!” tutur Kia.
“Dia...” jawab Cyntia.
__ADS_1
Kia pun menganggukan kepala menuntut Cyntia melanjutkan perkataanya.
“Rendra!” ucap Cyntia kemudian.