
“Yok renangnya udah yok!” tutur Kia lembut menemani putranya berenangnya, sudah hampir maghrib tapi suaminya tak kunjung pulang.
“Ya Bu!” jawab Pangeran kemudian berenang ke tepian, lalu bangun dengan tubuhnya yang berair sampai kulitnya hampir membiru.
Kia pun merentangkan handuk menyambut Ipang. Kia melingkarkan handuk itu menyelimuti putranya, merangkul Pangeran dengan segenap kasih sayangnya. Agar tak kedinginan.
“Bilas dulu ya, sebentar lagi maghrib, sholat ngaji sama ibu! Nanti ibu buaton makanan ya!” ucap Kia berbisik.
“Ya, Bu. Tapi Pangeran inginya sholatnya bareng ayah, Bu!” ucap Pangeran polos.
Dheg
Hati Kia tersentil, sampai sekarang sudah mau maghrib Aslan belum pulang. Aslan juga tak menghubunginya. Sebenarnya Kia masalah dengan hal itu, karena dia juga tidak siap dan ingin melarikan diri dari suaminya itu.
Hanya saja lebih dari itu semua, Kia jadi merasa sesak, apa Aslan sungguhan marah, terhadapnya. Pangeran putra kesayanganya juga rindu ayahnya. Masa setelah menikah dan sebelum menikah sama saja makan hanya berdua? Pangeran kan ingin merasakan kehadiran kedua orang tuanya.
“Ya Sayang... nanti ibu coba telepon ayah dulu ya, pulangnya masih lama atau nggak? Mau kita tunggu atau kita tinggalin” jawab Kia.
“Ya Bu!”
Pangeran kemudian membilas tubuhnya ke kamar mandi membilas tubuhnya dan berganti pakaian. Kia juga masuk ke kamarnya memastikan hadas nya benar- benar sudah berhenti, Kia benar- benar sudah suci, sudah siap pakai.
“Huuft... aku telpon nggak yah? Apa semarah itu dia terhadapku? Ah dia saja tidak mengabariku? Itu berarti dia masih merasa benar? Males Ah.”
Kia duduk di ranjangnya memandangi ponselnya masih saja ragu menghubungi suaminya sendiri, padahal sudah berjanji pada anaknya. Kia sampai lama menggerakan jari jemarinya menghubungi Aslan terasa sangat berat, sampai pintu kamar Kia diketok.
“Apa itu dia?” batin Kia malu dan dheg- dhegan mengira yang datang Aslan. terakhir bertemu mereka bersitegang dan marahan.
“Ya siapa?” tanya Kia ternyata Pangeran yang membuka pintu.
“Ibu, gimana? Ayah masih lama nggak pulangnya? Kita sholat duluan atau tunggu ayah? Ipang kan masih kecil Bu, Ipang belum bisa jadi imam ibu!” tanya Ipang menanyakan janji Kia.
Kia pun tersenyum, pikiran panik dan gugupnya datang. “Lebih baik aku sholat sebelum Bang Aslan pulang, kalaua aku sholat bareng dia tahu dong aku udah bersih, hemm.....” batin Kia licik tidak kasian ke suaminya.
“Nggak apa- apa, kita sholat sendiri saja ya. Ayah banyak kerjaan, ayah sholat di kantor. Ayok!” jawab Kia berbohong, ingin bersembunyi dan menyelamatkan dirinya sendiri.
Pangeran yang baik dan patuh pada ibunya hanya mengangguk dan mengikuti Kia. Mereka kemudian mengajak Mbok Mina sholat bersama di mushola keluarga mereka.
****
“Pak!” panggil Aslan sepulang dari rumah Paulina.
__ADS_1
“Ya Tuan!”
“Kalau istri lagi ngambek biar dia sembuh ngambeknya dikasih apa ya?” tanya Aslan curhat ke Pak Tomo, karena Aslan juga tak berpengalaman menghadapi istri yang ngambek.
Aslan yang meningglakan Kia dalam keadaan marahan juga merasa bersalah dan takut ketemu istrinya. Aslan tau Kia sifatnya keras,dan galak. Aslan tidak mau pulang disambut dengan cemberutan dan judesnya Kia lagi. Jadi Aslan ingin memberi surprise, berharap Kia kembali luluh dalam pelukanya.
“Kasih hadiah, Tuan” jawab Pak Tomo.
“Hadiah apa ya Pak? Yang bisa buat perempuan senang?” tanya Aslan lagi.
“Lho, ya perempuan kan beda- beda Tuan, istri Tuan Aslan kan Tuan Aslan yang kenal!”jawab Pak Tomo.
“Hhh...” Aslan pun mendesah kesal, Aslan benar- benar tidak mengerti Kia. Kia dibelikan mobil saja awalnya marah- marah.
Aslan kemudian membuka ponselnya dan searching di internet. Aslan mencari tahu apa yang disukai perempuan untuk mengobati marahnya. Kata internet perempuan suka perhiasan. Aslan kemudian menunda kepulanganya dan memilih mampir ke toko perhiasan membelikan kalung cantik untuk istrinya itu. Kia kan punya liontin Bu Andini Aslan hanya tinggal memberinya pasangan kalung.
Karena Aslan mampir ke toko perhiasan yang letaknya lumayan jauh, jalanan ibukota di jam maghrib juga macet Aslan pun jadi terlambat pulang. Mereka berdua yang sama- sama suusdzondan gengsi karena habis marahan sama- sama tak berani menghubungi ponselnya.
Kia memutuskan untuk mengajak Mbok Mina makan bersama Pangeran.
“Mbok!” panggil Kia.
“Iya, Nyonya!”
“Iya, Ibunya Pangeran, ada apa?”
“Bang Aslan dulu kalau pulang kerja seringnya jam berapa sih?” tanya Kia. Mereka kan menikah belum lama, Aslan aktif bekerja juga baru, jadi Kia belum hafal. Kia lebih memilih bertanya pada Mbok Mina daripada menanyakan ke suaminya, dasar gengsian.
Mbok Mina diam dan mengingat, saat bersama Paulina, rumah bagi Aslan kan neraka. Aslan maniak kerja, Aslan lebih suka kantor daripada rumah.
“Den Aslan kalau sibuk bisa larut malam Non, kadang nggak pulang!” jawab Mbok Mina jujur menceritakan keadaan apa adanya dulu.
“Dengar kan Nak! Jangan tunggu ayah ya!” ucap Kia ke Pangeran mencoba memberitahu kalau ayahnya biasa lembur.
“Ya Bu!” jawab Pangeran mengangguk kecewa dan coba mengerti, padahal sebenarnya Pangeran sudah rindu ayahnya, hari kemarin kan Ipang udah ditinggal ayah ibunya.
“Tapi kan itu dulu, Non! Kalau sekarang mungkin berbeda!” jawab Mbok Mina.
“Sekarang kan Bang Aslan baru merintis lagi Mbok, jadi lebih sibuk!” jawab Kia.
“Oh, ya. Mungkin begitu!” jawab Mbok Mina
__ADS_1
Kia kemudian mengajak Pangeran tidur, meninggalkan Mbok Mina.
“Aku tidur di kamar Pangeran aja kali ya?” batin Kia, masih ingin kabur dari suaminya, bahkan Kia mengajak Pangeran buru- buru tidur di awal waktu biasanya.
“Tidur, Sayang!” bisik Kia.
“Tapi Pangeran belum ngantuk Bu! Pangeran tunggu ayah ya!”
“Ayah pulang malam! Denger kata Ibu, ayo tidur, lusa kan kita pergi ke pulu D! Besok kita akan sibuk!” jawab Kia setengah memaksa, padahal karena Kia yang takut bertemu suaminya, Kia sangat gugup.
“Ummi Fatimah sama Om Radit kemana? Kok belum pulang juga?”
“Mereka berkunjung ke rumah kawanya, sudah ayo tidur!” ajak Kia lagi memakasa Ipang untuk tidur.
Tidak butuh waktu lama, Pangeran tidur dalam belaian Kia. Kia pun menghentikan gerakan tanganya yang memebelai rambut Pangeran. Kia hendak bangun dan mematikan lampu, tapi baru saja Kia menarik selimut Pangeran Kia mendengar suara suaminya.
Kia pun buru- buru kembali berbaring.
****
“Kok sepi Mbok?” tanya Aslan kecewa yang membukakan pintunya Mbok Mina.
“Eh Den, Aslan sudah pulang!”
“Kia dan Pangeran kemana?” tanya Aslan.
“Den Pangeran dan Nyonya Kia di kamar Den Pangeran, merekaa sudah tidur.”
“Tidur?” tanya Aslan mengernyitkan kepala melihat jam tangaya masih jam 7 malam.
“Iya! Tuan!” jawab Mbok Mina.
“Hhhh!” Aslan hanya bisa menghela nafasnya sangat lemas dan kecewa.
Aslan kemudian berjalan masuk dengan langkah beratnya. Baru berapa hari merasakan dilayani istri sudah harus dibeginikan. Aslan ke kamar Kia melepaskan pakaianya sendiri mandi sendiri dan meletakan kotak perhiasanya di atas cerminya.
“Apa kamu masih marah, Sayang? Abang akan rebut hak asuh Alena jika itu bisa buat kamu senang! Jangan marahi Abang lagi, jangan cuekin Abang lagi,” batin Aslan sedih.
Aslan kemudian berjalan ke kamar Pangeran.
Di kamar Pangeran Kia seperti malam yang pernah dia lewati, pura- pura tidur hanya demi terhindar dari harus bercakap- cakap dengan suaminya.
__ADS_1
“Kali ini aku nggak boleh ketahuan, ayo tidur Kia, tidur!” batin Ki memejamkan matanya sendiri berusaha tidur sungguhan, tapi nyatanya jantungnya berdegub kencang.