Sang Pangeran

Sang Pangeran
235. End


__ADS_3

“Maafkan semua kesalahan saya, Satya!” 


Paulina berhasil menemui Tuan Agung yang sekarang sudah tidak bisa berdiri dan memakai kursi roda. Tuan Agung berkomunikasi hanya dengan mengangguk iya dan menggeleng tidak, mengucapkan beberapa kosa kata tapi cedal. 


Paulina pun banyak mengobrol dengan Satya. 


“Jangan minta maaf padaku, Kak. Minta maaflah pada Kak Aslan!” jawab Satya. 


“Aku tidak berani menemuinya lagi!” jawab Paulina dengan tatapan sendunyam


“Kenapa? Besok kan sidang putusan Tuan Alex, Kak Aslan pasti datang!” jawab Satya. 


“Aku akan menemui Papa hari ini, aku tidak akan datang ke persidangan!” jawab Paulina. 


“Kenapa? Apa kau tidak menyesal?” 


“Kenapa aku harus menyesal, aku percaya padamu, Aku percaya kamu adik yang baik. Aku titip ini padamu. Aku tahu Aslan tidak mau menerimanya jika aku yang memberikan. Aku lihat perusahaan Aslan maju begitu pesat. Asalan akan mau menerimanya jika kamu yang menyerahkanya!” jawab Paulina menyerahkan beberapa dokumen perusahaan.


“Kak Aslan kan bisa berubah, Kak, seperti Kak Paulina yang juga berubah! Tidak pantas jika aku yang menyerahkanya. Ini perkara besar. Kak Paulina saja yang menyerahkan.” jawab Satya berusaha membujuk Paulina agar mau menemui Aslan dan Alena. 


“Aku malu menemui mereka. Aku malu pada anakku sendiri. Aku tidak pantas menjadi ibu. Mungkin yang terbaik, aku harus menghilang dari Alena. Aku tidak mau merusak kebahagiaan Alena dengan ingatan buruk tentangku. Perusahaan Nareswara hak Aslan dan kamu. Aku kembalikan ke kalian. Pengacara akan mengurusnya, maafkan semua kesalah oranf tuaku ya!” ucap Paulina mengakhiri 


Satya pun mengangguk, tidak membantah lagi. Paulina kemudian berpamitan pada Satya dan Tuan Agung mantan mertuanya.


Paulina kemudian pergi menemui ayahnya di penjara mengucapkan. Paulina juga hendak menyampaikan salam perpisahan. Sopir Paulina pun mengantar Paulina menemui ayahnya. 


“Terima semua perbuatan Papah, Pah! Minta ampun selagi papah masih punya kesempatan hidup!” ucap Paulina ke tuan Alex. 


Tuan Alex terlihat kurus, pucat, ranbutnya berantakan dan tatapanya kosong.


Sebenarnya Paulina juga tidak tega melihat keadaan ayahnya. Akan tetapi sebagai anak, Paulina tetap harus menemui ayahnya. 


Paulina seperti berbicara pada patung hidup, Tuan Alex tak mejawab apapun kecuali air mata.


Setelah merasa cukup Paulina pun berpamitan. Walau sebanyak apapun uangnya, Paulina tidaj bisa membantu Tuan Alex. Tuan Alex tetap harus menerima hukuman atas perbuatanya.


Sebelum pergi, Paulina sempat mengenali salah satu sipir penjara untuk mengabarkan keadaan papahnya. 


Tanpa berpamitan pada Alena, malam itu, Paulina pergi meninggalkan negaranya.


Paulina merasa tidak cukup kuat menghadapi kenyataan pahit hidup jika terus tinggal di tempat yang sama.


Paulina ingin melupakan semuanya dan membuka lembar hidup baru. Paulina tidak mau mihat kenangan yang mengingatkan penghianatan Nicholas.


Paulina juga tidak sanggup menghadapi hujatan semua penggemar dan masyarakat atas dirinya dan ayahnya. Lebih dari itu, Paulina ingin menghilang dari kehidupan Alena dan Aslan.


**** 


“Sepertinya hanya tinggal ini!” ucap Shela menunjukan surat perjanjian iklan terahir Cyntia ke Rendra yang belum dipenuhi. 


“Hoooh!” Rendra mengehela nafasnya lega, tapi Rendra sudah keringetan dan pucat sedari tadi.


Untuk bisa menikahi Cyntia dan menjaga buah hatinya agar tetap sehat. Rendra harus membayar semua ganti rugi pembatalan kontrak kerja Cyntia yang bernilai milyaran. Cyntia akan mundur dari dunia keartisanya untuk beberapa waktu selama hamil.


Tabungan Rendra sebelumnya kan sudah dipakai patungan dengan Aslan membuka usaha baru. Kini Rendra menghabiskan sisanya hanya untuk mengganti rugi. 


Rendra jadi tidak punya tabungan apapun. Meski begitu, semuanya tidak berarri karena Cyntia dan anaknya lebih berharga.

__ADS_1


“Apa kamu bisa tunjukan dimana keberadaan ayah Cyntia?” tanya Rendra ke Shela. 


“Bisa. 3 hari lalu, Cyntia menjenguk ayahnya!”


“Menjenguk?” tanya Rendra sedikit terkejut.


“Iya, beliau sedang sakit keras. Ayah nona Cyntia terkena sakit paru!” jawab Shela memberitahu. 


Rendra pun  mengangguk senang, bukan merutuki keadaan calon mertuanya yang sakit, tapi itu berarti jika seseorang dalam keadaan sakit, tidak akan banyak penolakan dan syarat Rendra bisa meminta ijin dengan mudah.


Setelah menceritakan keadaan detailnya. Shela mengantar Rendra menemui dan mejemput ayah Cyntia.


**** 


Di rumah sakit.


Kia dan Umma pun terus merayu Cyntia agar mau menikah dengan Rendra. 


“Demi anakmu, Nak...” tutur Umma memohon.


“Kamu dulu kan yang selalu bilang ke aku untuk terima Bang Aslan. percayalah Rendra mencintaimu! Anakmu butuh ayah, kamu tidak ingin anakmu mempunyai akta tanpa ayah kan?” tanya Kia membubuhi.


"Melahirkan tanpa sosok ayah bayi sangat menyakitkan Cyntia . Kamu juga membutuhkan Rendra selama kehamilanmu. Belum nanti jika anakmu menghadapi teman- temanya. Apa yang akan kamu jelaskan pada anakmu jika anakmu menangis menanyakan ayahnya. Menikahlah denhan Rendra. Bayimu butuh dia!" tutur Kia panjang.


Cyntia terdiam memikirikan kata Kia.


Setelah lama dirayu akhirnya Cyntia setuju menikah dengan Rendra.


Pagi harinya Cyntia dan Rendra menikah seara tertutup.


Sidang putusan hukuman Tuan Alex pun diputuskan. Tuan Alex dipenjaara seumur hidup, Nyonya Wina dipenjara 20 tahun. 


Setelah sidang selesai, Aslan dan Kia berziarah ke makam orang tua mereka. 


Satya ikut Aslan mengunjungi makam orang tua Kia, dan ayah Aslan.


Sebelum mereka berpisah dan pulang, Satya pun menyampaikan amanah Paulina dan menceritakan kepergian Paulina. 


“Kenapa Kak Paulina tidak menemui Alena dulu?” tanya Kia menyela.


“Paulina akan kembali jika waktunya tiba nanti” jawab Satya.  


Aslan mengangguk tanpa berkomentar. 


“Besok, Satya dan pengacara akan datang ke kantor Kaka, Paulina menyerahkan Nareswara pada Kakak lagi.” ucap Satya lagi. 


Aslan diam dan berfikir. Sebenarnya Aslan membenci semua yang berhubungan dengan nama Nareswara, tapi Aslan mengingat masih punya Alena dan Pangeran.


Meskipun yang mempunyai perusahaan Tuan Surya dan Tuan Alex menghianatinya, tapi dulu perusahaa itu ada atas ide mereka bertiga. Tuan Surya, tuan Alex dan Tuan Agung.


Aslan kemudian menyanggupi mengurus Nareswara lagi. Aslan berfikir kelas akan membagi kekuasaan Perusahaan itu, satu untuk Satya yang nantinya ada Daffa, sisanya Pangeran dan Alena.


Sama dengan pendirinya dulu, Tuan Surya, Tuan Agung dan Tuan Alex.


Untuk perusahaan Aslan yang sekarang dia bangun bersama Rendra, Aslan berharap bisa untuk diwariskan pada adik Ipang dan anak- anak Rendra. 


“Aku tunggu di kantorku!” jawab Aslan ke Satya sambil tersenyum.

__ADS_1


Satya mengangguk setuju.


"Semua karyawan merindukan pimpinan mereka Kak" jawab Satya.


Adik kakak itupun berpamitan. 


"Aku memegang dua perusahaan, aku akan sangat sibuk Sayang!" tutur Aslan di jalan pada Kia..


"Ya pokoknya harus dijadwalkan dan disempatkan!" jawab Kia.


"Iyaah. Abang kan juga ingin punya anak banyak!" jawab Aslan.


***** 


1,5 bulan kemudian. 


Sejak menikah, karena ada Umma. Cyntia tidak jadi tinggal di rumah Kia. Rendra dan Cyntia menjual apartemenya dan membeli rumah di dekat kantor. Umma yang menjaga Cyntia denga baik bersama Kikan. 


Seiring berjalanya waktu, Rendra dan Cyntia juga berdamai. Hari ini Cyntia dan Rendra hendak melakukan selamatan 4 bulanan untuk anaknya. 


Kia dan Aslan pun bersiap mendatangi rumah Rendra bersama anak- anaknya.


“Bagaimana dulu acara 4 bulanan untuk Pangeran? Sayang” tanya Aslan jadi ingat istrinya dulu juga mengalami hamil.


“Boro- boro 4 bulanan Bang... mau periksa aja Kia malu. Kia selalu ditanya, kok periksanya sendirian? Kalau ke pasar juga dicibir orang!” jawab Kia bercerita. Kehamilan Ipang berbeda dengan hamilnya ibu- ibu yang lain.


Aslan pun terdiam menghela nafasnya merasa bersalah. Lalu Aslan mendekat ke Kia yang sedang berdandan. Aslan memeluk dari belakang dan mencium kepala Kia lembut. 


“Maafkan, Abang... maaf. Seharusnya Abang nggak tanya ini. Abang janji. Kalau Tuhan masih kasih kesempatan untuk jadi ayah lagi, Abang akan lakukan yang terbaik untuk anak- anak kita dan kamu!” tutur Aslan lembut.


“Oh iya sekarang tanggal berapa?” pekik Kia tiba- tiba. 


“Kenapa memangnya?” jawab Aslan balik bertanya. 


Kia segera melerai pelukan suaminya dan memeriksa kalender. 


“Kia telat seminggu Bang!” ucap Kia dengan ekspresi gusarnya


“Coba test pek!” ucap Aslan. 


“Oke!” jawab Kia segera kembali ke kamar mandi dan mengambil stok alat periksa kehamilanya.


*****


Terima kasih atas semua dukungan nupel Ipang, ini tadinya event lomba yang alur bab awal udah ditentuin.


Maafkan atas segala kesalahan author yaa.


Oh iya. Pesan Author,


"Berhubungan badan hanya dengan pasangan halal apapun keadaan dan alasanya ya!"


dan yang udah terlanjur.


"Jangan lari dari tanggung jawab, selagi ada kesempatan bertaubat dan memperbaiki. Perbaiki!"


Hehehe.

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2