Sang Pangeran

Sang Pangeran
153. Bakat terpendam Cyntia. "Rasain lo!"


__ADS_3

“Haiiish!” 


Mendengar perkataan istrinya Aslan mendesis kesal dan mengacak- acak rambutnya gemash. Kia berdiri di belakangnya menunduk. Kalau sedang kesal begitu, Aslan lumayan seram. 


“Kia pinjamin ke rumah Fatimah ya!” tutur Kia berusaha. 


“Nggak usah, nggak akan cocok. Telpon Kikan! Coba suruh periksa di kamar atau di koper?” perintah Aslan ke Kia. 


“Kia nggak punya nomernya!” 


“Pakai handphone Abang!” 


“Sandinya?” 


“Tanggal kita malam itu! Pas kita ketemu di hotel!”


“Woah!” pekik Kia kaget, tapi juga terharu. Terharu karena Aslan sungguh hanya mencintai Kia. Kaget, bisa-bisanya malam yang Kia anggap malam termemalukan malah diingat sebagai sandi ponsel.


“Kamu lupa?” tanya Aslan. 


“Ehm!” Kia berdehem. Tentu saja ingat, malam yang dibenci Kia tapi sekarang jadi malam bersejarah. 


“Ingat! Abis ini ganti lho ya!” jawab Kia. 


“Ya. Ganti tanggal nikah kita aja! Atau terserah kamulah mau ganti apa? Abang ikut aja!” jawab Aslan. 


Kia tidak menjawab. Kia langsung menelpon Kikan, untung Kikan udah pulang dari kebun. Kikan pun menyanggupi mencarikan charger di kamar mereka, tertinggal atau tidak? Nanti akan mengabari Kia. Sambil menunggu Kikan memberi jawaban, Kia iseng memeriksa ponsel Aslan. 


Di luar dugaan Kia, isi galeri ponsel Aslan sangat sedikit, yang paling parah isi galeri foto Aslan adalah foto Kia dan Ipang semua. Bahkan foto Kia 7 tahun lalu yang terlelap berbalut selimut masih ada, rupanya Aslan sempat mengambil gambar Kia sebelum Aslan pergi. 


“Abang!” pekik Kia cemberut. 


“Hmm, apa? Gimana? Tertinggal di Umma kah? Atau di rumah kita?” tanya Aslan menoleh. 


“Kikan belum jawab, ini apa?” tanya Kia cemberut dan menunjukan foto dirinya. 


Aslan tersenyum dan menatap Kia intens. 


“Foto bidadarinya Abang!” 


“Ishhh, hapus!” 


“Jangan!” teriak Aslan berdiri merebut ponsel di tangan Kia. Untung belum jadi dihapus.


“Dosa, nyimpen foto begitu!” tegur Kia


“Kan sekarang kita udah halal! Itu yang bikin Abang setia dan ingat kamu terus. Itu yang buat Abang nggak tertarik sama perempuan lain! Biarin” jawab Aslan beralasan. 


“Jadi 7 tahun ini, Abang nyimpen foto Kia, tapi Abang nggak nyari Kia?” omel Kia kesal.


“Abang nyari kamu Sayang, tanya aja temenmu sama si Rendra, tapi kamunya pergi. Ya udah! Maaf!” jawab Aslan. 


“Ck, apaan! Waktu di kantor pertama ketemu aja Abang nggak kenal sama Kia!” 


“Ya abis kamu beda banget! Ukuran itumu juga jauh. Kok bisa sih?” tanya Aslan malah bertanya nakal. 


“Ya bedalah, kan udah buat mengasihi Ipang!” 


“Oh yaya. Tapi Abang suka yang sekarang kok!” 


“Hiih! Hapus Bang!” 


“Astagah! Ngotot nih pasti nanti! Biarin, Sayang, kan badan sama wajah kamu nggak akan balik kaya dulu. Buat kenang- kenangan! Kamu polos banget tau di sini!” jawab Aslan malah ngeledek Kia lagi.


“Iiih!” Kia manyun lagi, Kia maju hendak merebut ponselnya tapi ponsel Aslan kembali menyala. 


Aslan langsung membukanya sendiri. 


“Hah!” Aslan yang tadi sempat tersenyum murung lagi. 


“Ketinggalan di rumah Umma ya? Mau diambil?” tanya Kia ikut kembali serius. 


“Nggak, abang lupa bawa. Kita harus secepatnya balik ya! Sore ini!” tutur Aslan serius. 


Kia mengangguk setuju. 


“Oke! Kia telpon Fatimah dulu ya!” 


“Iya, suruh kirim foto ktp nya, biar Abang pesankan tiket. Naik pesawat aja ya biar cepet!” 

__ADS_1


“Ya!” jawab Kia. 


Sesuai permintaan suaminya, Kia menelpon Fatimah. Kia menyampaikan niatnya mengajak Fatimah ke Ibukota. Kia juga memberitahu rencana pernikahanya dan sekarang harus segera pulang. 


“Selamat ya Ki! Tapi maaf, aku sampai rumah masih 2 jam lagi, gimana kalau kamu kasih alamat rumahmu! Aku berangkat bareng Radit besok pagi!” jawab Fatimah 


“Oke nggak apa- apa!” jawab Kia kemudian menutup teleponya.


“Gimana, Sayang?” 


“Pesawatnya jam berapa?” tanya Kia 


“3 jam lagi!” 


“Fatimah mau nyusul aja, Bang, katanya!” 


“Ya udah nggak apa- apa!” jawab Aslan menunduk.


“Sabar ya, nggak lama kok, begitu sampai rumah kita buka isi memory card ini!” tutur Kia menyemangati Aslan. 


“Kemarilah!” tutur Aslan lembut menepuk pahanya. 


“Huh?” tanya Kia menoleh.


Aslan menjawabnya dengan anggukan dan kedipan matanya. Menginginkan Kia duduk di pangkuannya. 


Kia ragu, tapi Kia tetap patuh. 


“Abang pingin mangku Kia?” tanya Kia. 


“Huum, senengin Abang ya!” 


“Hoh!” pekik Kia lagi gelagapan. “Senengin gimana Bang?” tanya Kia takut.


Yang benar saja? Apa iya suaminya begitu maniak....,


“Udah sini!” jawab Aslan tidak sabar menarik Kia dan membawa Kia duduk di pangkuanya. 


“Kia berat lho!” ucap Kia lagi. 


Aslan tidak menjawab, Aslan langsung memeluk Kia yang ada di pangkuanya itu dengan erat. Rupanya Aslan hanya butuh sandaran. Aslan butuh tumpuan untuk menyiapkan diri menerima kenyaatan apa yang terjadi pada orang tuanya. 


Kia kemudian membelai rambut Aslan lembut. 


“Apa yang buat Abang pusing? Kata Abang semua sudah berlalu, kita tinggal menghadapi hari ini dengan bahagia. Kan ada Kia sama Ipang, Bang!” 


“Apa yang akan Abang katakan pada Satya?” ucap Aslan melepaskan pelukanya. 


“Ya katakan apa adanya, abang bawa buku ibu mertua kan?” tanya Kia enteng. 


“Abang takut kalau kematian Ayah abang dan ibu Abang ada sangkut pautnya sama Papa! Apa Abang tega, sampaikan ini ke Satya dan kasih hukuman ke Papa?” jawab Aslan lagi melontarkan tebakanya.  


“Hish, Abang niih! Belum tentu yang jahat itu Tuan Agung, kita belum tahu, jangan asal nebak! Kalau Tuan Agung jahat, kenapa Ibu mertua mau menikah dengan Tuan Agung? Ibu mertua kan yang simpan kartu ini? Berarti Ibu Mertua tau isinya!” tutur Kia mencoba mengajak Aslan berfikir positif. 


Aslan diam tidak menjawab. 


“Kia lihat, Satya juga orang baik. Tuan Agung juga didik Abang jadi pewaris perusahaan tanpa mengubah kepemilikan, bahkan saham Tuan Agung juga paling sedikit kan?” tanya Kia lagi. 


Aslan menelan ludahnya menatap istrinya dan mengangguk. 


“Kita cari tau satu persatu buktinya, kita doakan Papa sadar agar bisa jelaskan ke kita. Bicarakan pada Satya baik- baik. Everything gonna be okay!” 


“Iyah!” jawab Aslan mengangguk. 


Kia menatap Aslan yang ada di bawahnya tersenyum. 


“Cup” kali ini Kia yang inisiatip mencium kening suaminya.


Ternyata aslan yang orang lain mengira seorang yang galak sombong dan dingin, tidak ubahnya anak kecil yang haus kasih sayang. 


Setelah Kia melepaskan kecupanya, berbalik Aslan meraih tengkuk Kia, menurunkanya sedikit. Aslan kembali melahap bibir Kia yang sudah menjadi candu buatnya.


Kia juga sudah semakin terbiasa, memberi dan menerima. Menyatukan nafas menjadi satu, berirama dan beriringan, menghadirkan rasa yang memberi mereka kenikmatan. 


Kia kini menyadari, dalam hidup seseorang tidak bisa berjalan sendiri. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan dua kaki. Kia butuh teman agar tidak pincang dalam mengarungi masa depan. Kia butuh pasangan. 


Pasangan yang merupakan belahan jiwanya. Pasangan yang berbagi hidup denganya, dia orang yang akan pertama mendengar apa kata kita sebelum orang lain mendengarnya. Dia adalah orang yang tahu kita sebelum orang lain mengetahui siapa kita. Pasangan yang akan berbagi segalanya. 


****

__ADS_1


Di Kafe dekat dengan hotel berbintang. 


“Senang bertemu dengan ana Ny. Cyntia” tutur Sang Sutradara. 


“Terima Kasih Pak!” 


“Anda sangat cantik!” puji Sang Sutradara lagi. 


“Pas untuk peran ini! Saya yakin akan sukses!” imbuhnya lagi. 


“Aamiin!” jawab Cyntia anggun dan elegan. 


“Kalau begitu, kita akhiri pertemuan kita, besok kita mulai pekerjaan kita!” 


“Siap Pak!” jawab Cyntia lagi. 


“Selamat siang!” 


“Siang Pak!”  


Sutradara dan asistenya itu berdiri hendak pergi. Cyntia ikut berdiri memberi hormat dan memberi salam. Setelah sutradaranya pergi, Cyntia kemudian duduk lagi. 


“Hah... gue kaya ngimpi Shel!” ucap Cyntia ke manager barunya. 


“Mimpi gimana?” 


“Dulu gue Cuma bisa follow IG nya Pak Dewa, liatin setiap projek barunya? Gue dan temen gue selalu berhayal, kalau gue akan jadi pemain teater yang profesional,  beda sih. Tapi gue sekarang main film dong. Dan, Ya ampun sekarang gue ketemu dong sama orangnya. Pak Dewa, dia ajakin gue main di filmnya. Aah aku seneng banget Shella!” ucap Cyntia kegirangan dan memeluk Shela. 


“Ya selamat ya, mimpi lo jadi kenyataan! Lo harus profesional dan berhasil suksesin ini film!” jawab Shela memotivasi. 


“Oke! Of course, I will do it!” jawab Cynti memberikan tanda oke dengan percaya diri. 


“Yeah. I trust you!” jawab Shella lagi. 


“Temen gue juga pasti juga bangga sama gue, gue harus cerita ke dia!” 


“Emang siapa temen lo?” 


“Penulis novel Dalam Kebohonganmu!” 


“Oh, ibunya Pangeran?” 


“Huum!” 


“Sampein ke dia, gue juga ngefans ke dia. Nulis lagi dong. Yang lebih keren!” jawab Shella. 


“Dia sekarang lagi mau fokus menata hidup dan rumah tangganya!” jawab Cyntia lagi. 


“Oh ya? Pangeran punya bapak dong!” 


“Yes!” jawab Cyntia mengangguk. 


“Siapa?” 


“Rahasia!” 


“Ih! Lo mah gitu!” 


“Gue nggak mau jadi akun gosip, udah cabut yuk!” jawab Cyntia mengambil tasnya dan bersiap pergi. 


“Ups!” 


Cyntia segera duduk kembali setelah matanya menangkap seseorang yang dia kenal. 


“Ada apa?” tanya Shella bingung. 


“Ssstt diam!” jawab Cyntia mengambil ponselnya.


Mulut Cyntia kemudian tertarik ke samping kanan dan kiri bahagia. Cyntia tampak tersenyum puas sambil mengarahkan kamera ponselnya ke dua sejoli di sudut ruangan kafe itu. 


Shela kemudian ikut menoleh ke pusat tatapan Cyntia mencari tahu. 


“Rasain Lo. Lo bakal patah hati, sejadi- jadinya kalau liat ini, laki- laki syaraf!” gumam Cyntia menombol tanda stop di perangkat perekam videonya. Cyntia juga memfotonya beberapa kali. Cyntia memeriksa hasil karya, bakat tersembunyinya sebagai artis multitalent yang merangkap menjadi detektif. 


“Kasian deh Lo! Salah siapa ngehina gue!” gumam Cyntia lagi memasukan ponselnya ke tas. 


“Lo ngerekam siapa sih?” tanya Shela. 


“Diam! Ayok cabut!” jawab Cyntia. 

__ADS_1


__ADS_2