
“Ampun Umma, ampuun!”
Meski baru sadar, Umma langsung bangun dan duduk dengan menggenggam tanganya sangat kesal ke keponakan rasa anaknya itu.
Umma langsung menjewer dengan sekuat tenaga kuping Rendra.
Umma mau menjambak rambut Renda dan membenturkan kepala Rendra ke tembok, tapi Umma tidak kuat. Rambut Rendra pendek dan badan Rendra tinggi besar sementara Umma kecil.
Akhirnya bantal di bed tempannya istirahat dia pukulkan ke Rendra sekuat tenaga.
Tidak puas dengan bantal, Umma berganti dengan sandal yang ada di situ juga dipukulkan ke Rendra. Bahkan kalau tidak dicegah Aslan, tiang infus yang tergeletak hendak Umma pukulkan.
“Sudah Umma, sudah,malu ini rumah sakit!” lerai Aslan memegangi Umma menahan agar tidak kebablasan.
Aslan takut orang- orang mendengar keributan di ruang Umma dirawat. Apalagi tahu mereka keluarga Tuan Surya.
Sementara Kia ikut gemas melihatnya. Rendra meringkuk kemudian menghindar dan menunduk, acak- acakan. Untung Aslan tidak jadi ikut memukulinya.
“Hoh... hoh...!” Umma duduk menghela nafasnya kasat.
“Astaghfirullohal’adziim, Astaghfirullohal'adziim!" Umma beristighfar sambil memegangi dadanya yang sesak.
"Gusti, gusti, ampuni aku,,, kenapa anak- anak Umma punya belut, licin amat, nggak pada dijaga, masuk ke lubang orang pada sembrono!” ucap Umma kesal ke Aslan dan Rendra.
“Maaf Umma, Rendra nggak sengaja, Rendra nggak sadar!” ucap Rendra meminta maaf.
“Masih nglawan orang tua! Jawab aja sukanya. Alasan! Tetap aja salah. Alkohol itu haram. Harammm!!!” jawab Umma marah lagi dan mengambil sendal yang tergeletak hendak dipukulkan lagi.
“Umma udah Umma!” tahan Aslan memegang sandal Umma, agar tidak marah lagi.
Umma sudah kehilangan urat malunya. Umma kemudian mengibaskan tangan Aslan marah.
“Kamu juga, jadi kakak, kasih contoh yang tidak benar. Kalian berdua sama saja! Sudah Umma bilang, Zina itu dosa besar. Zina itu hina. Hina! Kalian tahu? Kalian itu hina!” ucap Umma marah.
Mendengar itu, Kia ikut tersindir dan menunduk.
“Kalian harus bertaubat, mengerti! Kiamat sepertinya udah dekat. Jangan sampai anak- anak kalian meniru kaya gini. Kakek nenek kalian itu orang baik- baik. Orang tua kalian juga orang baik- baik. Umma merasa gagal didik kalian berdua. Kok bisa kalian begini?” omel Umma sangat gemas.
"Malu Umaa, Maluu!!" lanjut Umma lagi masih ngomel.
Baik Aslan atau Rendra sama- sama besar tanpa orang tua. Umma memang merawatnya tapi tidak full, karena Aslan banyak diasuh Mbok Mina begitu juga Rendra diasuh maidnya yang sudah meninggal.
“Maaf, Umma. Aslan udah taubat kok. Aslan akan didik anak- anak Aslan tidak seperti Aslan! Sudah jangan diungkit- ugkit terus Umma!” ucap Aslan menyela.
“Hhhh hah!” Umma menghela nafasnya melirik ke Kia yang terus menunduk malu dan merasa bersalah. Walau bagaimanapun Kia sekarang, kalau diingat Kia lebih hina dari Cyntia meski semua itu sudah masalalu dan Kia sudah bertaubat.
“Nikahi Nak Cyntia secepatnya! Bagaimanapun caranya sebelum perutnya membesar!” ucap Umma kemudian.
“Baik, Umma!” jawab Rendra patuh dan berdiri tegak, “Tapi!” celetuk Rendra kemudian melirik ke Kia.
“Tidak ada tapi- tapian! Harus! Secepatnya!” bentak Umma lagi.
“Rendra sangat ingin menikahinya Umma, tapi Cyntia tidak mau menikah dengan Rendra!” jawab Rendra curhat ke emaknya.
“Kia akan bicara dengan Cyntia. Kia pastikan Cyntia mau!” jawab Kia menyela.
“Dengar itu Nak Kia!” ucap Umma lagi.
“Jangan senang dulu. Aku punya banyak tugas untukmu!” sambung Kia menatap Rendra dengan tatapan mautnya.
Meski Kia lebih muda dari Rendra, Kia lebih berkuasa.
“Siap!” jawab Rendra patuh.
Kini Rendra tidak ubahnya seperti budak yang sedang kena hukuman, kalau tidak patuh dan bilang siap, akan terus dapat hukuman lebih dan disalahkan.
Kia melirik jamnya lalu menatap suaminya.
“Abang... jemput anak- anak, temani Alena menemui ayahnya tanpa Kia!” ucap Kia mulai membagi tugas.
“Nah kamu, kita bareng aja?” jawab Aslan tidak mau berpisah dari Kia.
“Kia masih harus urus adikmu ini, dia belum dapat hukuman, Cyntia juga tidak boleh ditinggal!” jawab Kia.
“Benar kata Kia, cecunguk!” sambung Umma kesal. Umma jadi benci ke kedua ponakanya yang sama- sama nakal.
“Ya Umma.” Jawab Aslan melengos.
Aslan jadi ikut kesal. Kenapa yang salah dan terkena masalah Rendra, Aslan dibawa- bawa, diungkit- ungkit terus masalalunya dan ikut- ikutan dikesali.
“Ya udah, Abang pamit!” ucap Aslan mengecup kening Kia, lalu tetap mencium tangan Umma meski Umma cemberut mode on.
__ADS_1
“Umma mau ke Cyntia, Nak!” ucap Umma meminta ke Kia.
Kia kemudian mengantar Umma ke Cyntia.
“Kamu ikut aku!” ucap Kia mengkode Rendra.
Kia membiarkan Umma dan Cyntia berbicara 4 mata. Sementara Kia menunggu Rendra di depan kamar Cyntia.
“Apa yang harus saya lakukan, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, dan akan melakukan apapun asal Cyntia mau menikah!” ucap Rendra meminta maaf ke Kia sebagai kakak ipar, istri bos dan juru kuncinya Cyntia.
“Pertama, hubungi Shella, batalkan semua kontrak kerja Cyntia yang belum selesai, dan bayar ganti ruginya, seberapapun itu!” ucap Kia tegas.
“Ha...!” pekik Rendra spontan.
“Kamu mau nikah dan anakmu sehat nggak?” benta Kia ke Rendra.
“Mau!” jawab Rendra cepat dan mengangguk.
“Ya itu semua sekatang tanggunganmu. Cyntia depresi, biar dia move on dari pekerjaanya dan biar dia tinggal di rumahku. Jika dia terus bekerja, bahaya untuk kandunganya dan dia akan timbul pikiran menggugurkan kandunganya lagi!” ucap Kia kemudian.
“Siap!” jawab Rendra patuh pada Kia.
“Selain itu, temui bapak kandung Cyntia. Sampaikan niatmu, kalian harus nikah besok pagi juga!” ucap Kia tidak mau dibantah.
Kalau sedang marah ternyata Kia pandai meniru gaya Aslan, memerintah dengan galak dan tidak kenal penolakan.
Rendra menelan ludahnya masih mencerna omongan Kia. Tugasnya sungguh berat, tabungan Rendra kan baru terkuras beberapa hari lalu juga.
Tabungan Rendra cukup banyak terpakai untuk membungkam Kikan. Belum tas mahal. Belum dapat uang lagi sekarang akan keluar banyak lagi.
Kontrak kerja Cyntia pasti banyak, apalagi ganti ruginya. Tabungan Rendra pun siap terkuras dalam satu waktu.
Fiks, dalam satu minggu ke depan, Rendra akan miskin mendadak.
Tapi demi anak dan perempuan yang cantik dan daripada Rendra terus tersiksa Rendra melakukan semua itu.
"Siap laksanakan Bu Kia!" jawab Rendra patuh.
"Ya udah sana pergi, kembalilah bersama Bapak dan Ibu Cyntia. Biar Cyntia aku dan Umma yang urus!" ucap Kia.
Rendra pun mengangguk pergi.
*****
“Ini obatnya Nyonya. Setelah mendapatkan menstruasi kembali, jika anda ingin hamil lagi, anda bisa segera hamil. Akan tetapi sebaiknya tunggu tiga bulan!” tutur dokter Paulina memberikan obat.
“Saya belum ingin mempunyai anak lagi!” jawab Paulina.
Paulina pun mengambil obat pasca kuretase janinya yang bermasalah karena Paulina depresi dan tidak menjaga kehamilanya dengan baik. Setelah merasa sehat dan menyelesaikan perawatanya, di dampingi sekertarisnya, Paulina kemudian mendatangi pengacaranya.
“Bagaimana kabar Alena?” tanya Paulina ke asisten yang mengantarnya selama di jalan.
Anak buah Paulina kemudian menyerahkan foto- foto Alena. Alena, Pangeran dan Aslan tampak makan siang bersama pasangan suami istri yang tak lain ayah kandung Alena.
Meski Paulina tak menemui Alena, ternyata Paulina terus memantau perkembangan Alena.
Paulina tersenyum kecut dan kemudian meneteskan air matanya.
Walau bagaimanapun juga, ayah kandung Alena adalah cinta pertama Paulina. Mereka seharusnya menikah dan hidup bahagia jika tak dipisahkan ayahnya,Tuan Alex.
Ayah Paulina malah memisahkan Paulina bahkan menghancurkan karir ayah Alena dan Ayah Alena menikah dengan orang lain. Dia juga jatuh miskin.
Meski begitu, Ayah Alena menemukan pendamping hidupnya yang mencintainya, tidak seperti Paulina yang selalu ditinggalkan. Bahkan kini Paulina sendirian.
Satu- satunya orang yang sebenarnya pernah memberinya cinta yang tulus adalah ayah Alena. Sayang Tuan Alex begitu serakah, merampas cinta Paulina dan juga mengorbankan hidup Aslan dan Paulina.
“Bantu, ayah Alena kembali mendapatkan pekerjaanya Pak!” ucap Paulina kemudian sambil menyeka air matanya.
Meski Paulina tahu ayah Alena sudah beristri dan mempunyai anak, Paulina ingin membantunya agar nanti bisa bekerja dan hidup dengan baik.
“Baik, Nyonya!” jawab asisten Paulina.
Paulina kemudian mendatangi pengacaranya. Paulina hendak menanyakan kasus putusan hukuman untuk orang tuanya.
“Besok sidang putusan terakhirnya.. Nyonya!” ucap Pengacara Paulina.
“Bagaimana dengan Tuan Agung dan Satya?” tanya Paulina.
“Tuan Agung ditetapkan sebagai saksi, dari hasil penyelidikan, pembunuhan murni dilakukan Tuan Alex, Tuan Agung hanya diperalat dan dijadikan kambing hitam oleh Tuan Alex, maaf!” tutur Pengacara Paulina.
Paulina tersenyum kecut, ayahnya memang sejahat itu. Bahkan hidup Paulina juga hancur karena ayahnya.
__ADS_1
Paulina menghela nafasnya sejenak.
“Apa kabar Tuan Agung? Bisakah aku menemuinya?”
“Beliau sudah sadar, saya akan menghubungi Tuan Satya jika anda ingin menemuinya!”
“Antar aku kesana!” ucap Paulina meminta.
“Satu lagi, Nyonya!” ucap Pengacara lagi.
“Apa?”
“Nyonya Wina juga ditangkap!”
“Oh ya? Mamah?”
“Ya, karena ditemukan bukti pembunuhan terhadap Nyonya Andini. Nyonya Wina telah menukar obat asthma Nyonya Andini!” ucap pengacara memberitahu lagi.
Paulina mengangguk, mertua perempuan dan orang tuanya memang jahat.
“Antar aku menemui Satya! Dan keluarganya.” ucap Paulina lagi.
“Baik Nyonya!” jawab Pengacara.
Paulina kemudian di antar sopir diikuti pengcaranya menemui Satya dan keluarganya.
Sebelum sidang putusan hukuman untuk ayahnya, Paulina ingin menemui Tuan Agung, mantan mertuanya selagi masih hidup.
*****
Maaf karena mau tamat jadi aku Upnya sesempetnya . Hehehe.
Makasih yang udah setia sampai detik terakhir ini. Makasih yang udah sayang sama Rendra Cyntia, dan keluarga AsKI.
Terakhir ya Kaak.... ijin promo sebelum nupel ini tamat. Yang nggak berkenan jangan marah boleh diskip aja. Semoga berkenan ya. Mampir
sama2 Ririn, tapi bukan aku.
Ini spill episodenya.
Bab 9
"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.
Devan mengangguk.
"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.
"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.
Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.
"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.
"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.
Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.
"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.
"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.
"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.
"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.
Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"
"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.
"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.
"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."
"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.
"Kalau begitu menikah saja denganku!"
"Aku tidak mau!" tolak Bella.
__ADS_1
"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.