Sang Pangeran

Sang Pangeran
147. Kisah dari Umma End


__ADS_3

“Kikan!” panggil Umma 


“Ya Umma!” jawab Kikan 


“Halaman udah disapu belum?” tanya Umma. 


“Hehe!” Kikan nyengir.


Daritadi kan Kikan mantengin laptop, ngebabat habis hasil download an drama kesukaanya. Kikan selepas masak bareng Kia belum pegang pekerjaan rumah lagi. 


“Umma minta tolong sapu halaman dulu ya!” tutur Umma meminta. Sebenarnya Umma hanya ingin Kikan pergi dan tidak mendengar percakapan Aslan dan Kia. 


“Ya Umma!” jawab Kikan mengangguk patuh. 


Kikan keluar, mengambil sapu lidinya. Kikan melakukan apa yang Umma minta, membersihkan dedaunan yang jatuh dan berserakan tertiup angin. 


Aslan kini tidak bisa mencegah Kia lagi. Umma dan Kia siap melanjutkan cerita. 


“Mau ngobrol dimana Umma?” tanya Kia. 


“Ayo ke ruang tamu!” jawab Umma tersenyum mengajak Kia duduk di ruang tamu, di ruang tamu ada kursi yang nyaman pikir Umma. 


“Iya Umma!” jawab Kia semangat 45. 


Aslan hanya ikuti saja mau istrinya. Umma berjalan lebih dulu. Saat Kia hendak menyusul Umma, Aslan menarik tangan Kia, dan membuat KIA jatuh dalam pelukanya. Aslan memeluk Kia dari belakang. 


“Apa sih Bang?” tanya Kia berusaha melepas Aslan. 


“Jangan nangis lagi!” 


“Nggak kok santai!” jawab Kia. 


Mereka pun menyusul Umma duduk di bangku ruang tamu. 


Umma tersenyum menyambut mereka. Umma mempersilahkn duduk. 


“Makasih Umma!” jawab Kia duduk. 


Umma menghelaa nafasnya sambil menatap Kia. 


“Umma juga tidak tahu apa isi Liontin itu dan apa artinya? Tapi saat itu, Ibu kalian sempat pulang ke sini, memakai Liontin itu dan mencarinya!” tutur Umma mengulangi pesanya.

__ADS_1


Kia mengangguk dan kembali mengeluarkan liontin itu dari sakunya. 


“Ini Umma?” 


“Iya! Dan kalian tahu? Itu adalah hadiah dari ayah kalian di hari terakhirnya yang hendak diberikan pada ibumu!” tutur Umma lagi. 


“Hooh!” Kia kembali terbengong. 


“Iya, jadi sesaat sebelum dimandikan, di saku celana ayah kalian ada sekotak perhiasan dan isinya kalung beserta liontin ini.”  tutur Umma dengan wajah berbinar


“Kok bisa sampai jatuh dan masuk ke vas itu Umma?” tanya Kia. 


“Umma juga tidak tahu, tapi saat Ibu kalian hendak menikah dengan Agung, mereka sempat pulang ke rumah ini! Itu adalah kepulangan terakhir ibu kalian!” tutur Umma lagi mulai bercerita. 


“Maksud Umma?” tanya Kia. 


“Umma jawab satu- satu pertanyaanmu ya, tapi setau Umma!” 


“Ya Umma!” 


“Saat ibumu di rumah sakit, semua yang urus tentang upacara pemakaman pengajian, dan mengurus kantor adalah Tuan Agung. Dia sahabat, sekaligus bawahan ayah kalian yang baik!” tutur Umma lagi. 


Aslan yang sudah berselancar di dunia maya terlihat malas mendengarnya, tapi Kia terhenyak dan kaget. 


“Jadi, perusahaan Nareswara itu punya Ayah mertua? Bukan Tuan  Agung yang mendirikan?” tanya Kia to the point.


“Lebih tepatnya bagaimana Umma tidak tahu. Umma kan tidak tinggal di Ibukota, Umma juga masih kecil Kia. Umma tidak cukup mengerti. Umma hanya tahu itu!” jawab Umma apa adanya.


“Ooh gitu?” 


“Ya, karena sedang hamil? Ibumu tidak bisa menggantikan dan mengurus perusahaan seorang diri. Jadi Tuan Agung yang membantu mengurus semuanya!” 


“Oh begitu? Jadi ibu mertua dan Tuan Agung menikah karena itu?” 


“Ya. Semua orang menyarankan begitu, daripada banyak fitnah, karena setiap hari Agung yang datang dan mengurus Ibu kalian, baik kakek nenek bahkan ayah dari Mas Surya yang menyarankan Kak Andini menikah dengan Agung!” jawab Bu Arini


“Ya ya. Kia ngerti. Apa mereka bahagia? Kapan mereka menikah? Berarti semua orang tahu Umma kalau Abang Aslan anak Tuan Surya? Bukan anak Papa Agung?” tanya Kia lagi. 


“Ya, orang yang ada di sana saat itu tau. Kak Andini menikah setelah masa iddah selesai. Tentu saja Tuan Agung sangat tahu siapa Aslan. Mereka juga menikah kembali setelah Aslan lahir. Tuan Agung menikahi Kak Andini mengikuti apa mau kakek kalian! Bahkan saat itu, sebenarnya Agung mempunyai kekasih! Demi Kak Andini, Agung mengorbankan cintanya!” 


“Tapi kalau terpaksa apa Tuan Agung tidak menyelingkuhi Ibu mertua selama pernikahanya? Apa Ibu mertua bahagia?” tanya Kia menggebu, seketika pikiran Kia dipenuhi bayangan buruk terhahadap masalalu suaminya. Apalagi Kia sekarang sudah melihat Bu Wina.

__ADS_1


Aslan pun langsung berubah ekspresi. 


“Kalau untuk hal itu, Umma tidak tahu. Umma tidak bisa menjawabnya. Karena saat itu, setelah Kak Andini sehat, Kak Andini sibuk bekerja menggantikan suaminya bersama Agung. Orang tua Mas Surya juga meninggal"


"Umma jadi teracuhkan dan merasa tidak nyaman tinggal di sana. Kakek dan nenek meminta Umma kembali ke sini saja! Jadi Umma tidak tahu kehidupan Kak Andini setelah itu!” tutur Umma sedih.


“Yaah, Umma!” jawab Kia  kecewa. 


“Sudah cukup Umma. Udah kan?!” ceplos Aslan. 


“Belum Abang, masih ada lagi kan Umma?” tanya Kia belum puas. 


Umma tersenyum. 


“Maafkan Umma tidak tahu banyak tentang kalian setelah itu, kami kembali berpisah. Setahu Umma , Kak Andini bahagia, nyatanya ada Satya. Tapi memang setelah menikah dengan Agung, Kak Andini tidak pernah pulang ke sini. Lebih banyak kami yang mengunjunginya"


"Sejak kehamilan Satya, Kak Andini juga fokus mengurus Aslan. Setahu kami, Agung juga sangat menyayangi Aslan, karena Agung mau Aslan membawa namanya, bahkan perusahaan Mas Surya juga langsung diwariskan ke Aslan, bukan begitu Nak?” tanya Umma yang memang sedikit tahu tentang masalah perusahaan. 


Kia dan Aslan yang menyadarai keadaan sekarang saling diam. Mereka hanya tersenyum tidak mau menjelaskan kalau perusahaan itu sudah ada di tangan Paul.


“Bagaiamana Ibu mertua meninggal Umma?” tanya Kia lagi. 


“Kalau itu Umma tidak tahu, seharusnya Aslan dan Mbok Mina yang lebih tau!” jawab Umma jujur.


“Jadi, setelah itu Umma dan Ibu mertua benar- benar tidak saling berkabar lagi?” 


“Bukan tidak saling kabar, karena ibu kalian berubah menjadi pemimpin, dia sangat sibuk, sementara Umma di sini bersama kakek nenek. Umma tidak tahu, Umma tidak mengerti apa yang terjadi. Umma juga masih usia seperti Kikan!” jawab Umma.


“Ya. Kia ngerti Umma!” 


“Selepas Kak Andini pergi, kami susah menemui  Aslan dan Satya. Kami juga tidak cukup berani berkunjung. Agung selalu sibuk bekerja, sementara di rumah, kami tidak cukup akrab dengan istri baru Agung. Maafkan Umma ya!” ucap Umma lagi. 


“Ya Umma, Aslan yang minta maaf, Aslan jarang berkunjung kesini!” jawab Aslan sendu. 


Dalam pengasuhan Bu  Wina, Aslan memang dididik ketat. Tuan Agung sibuk bekerja. Sekolah Aslan bahkan home schooling. Untungnya, karena usia Aslan dan Rendra seumuran, Aslan masih mengingat Rendra dan berkawan dengan Rendra. Rendra juga yang memberitahu Aslan kalau mereka punya bibi di kampung yaitu Umma.


Sepeninggal Ibu Andini, hidup Aslan bersama Mbok Mina, pengasuh rasa ibu itu. Aslan dulu juga tidak mengenal Umma. Diberitahu makam ibunya juga setelah besar, kalaupun ke makam Aslan jarang menginap atau bertemu dengan Umma. 


Aslan menjadi pewaris perusahaan ayahnya, karena sejak Aslan dalam kandungan. Tuan Surya memang sudah memberi kuasa ke pengacaranya, perusahaan itu untuk Aslan. Itu sebabnya Tuan Agung hanya bisa mengurusnya, menjalankanya dan membimbing Aslan untuk memimpin tanpa bisa memiliki seutuhnya. 


 

__ADS_1


__ADS_2