Sang Pangeran

Sang Pangeran
77. Peduli Aslan


__ADS_3

“Dirasain Kia... pelan, jangan grasa grusu. Mobil bagus sayang kalau lecet” tutur Cyntia menasehati. 


“Iya...ya” jawab Kia sedang memarkirkan mobilnya di sebuah mall besar di ibukota. 


Hari hari berlalu. Kia bekerja setiap hari diantar jemput Cyntia karena Kia belum mahir menyetir mobil. Dan di setiap waktu mereka pulang kerja dengan telaten Cyntia mengajari Kia menggunakan mobil.


Karena dulu Kia pernah belajar hanya saja tidak terbiasa, meski awalnya kaku Kia cepat belajar. Sekarang pun Cyntia selalu meminta Kia yang di menyetir setiap bepergian. 


Jadwal Cyntia syuting semakin padat. Cyntia akan sibuk jadi, per hari ini Cyntia menegaskan, Kia harus bisa mandiri tanpa Cyntia. Cyntia juga sudah mengambil mobil pribadinya sendiri.


2 bulan berlalu, hubungan Aslan dan Kia terus membaik, tapi masih hanya sebatas partner orang tua untuk Ipang. Aslan mengurungkan niatnya untuk pulang cepat karena sejauh laporan dari Rendra semua terkendali. 


Semenjak kejadian malam itu, Jeje takut karirnya akan jatuh dan menjaga jarak dari Kia. Kia sendiri mulai fokus bekerja tanpa memperdulikan teman- temanya. 


Cyntia berusaha mendekati Paul saat di lokasi syuting. Tapi Cyntia belum bisa menemukan apapun yang berarti. Semua tampak biasa dan baik-baik saja.


Dan sesuai permintaan Kia, hiduplah senatural mungkin dan biarkan berjalan apa adanya. Kia nyaman dengan hidupnya sekarang tanpa beban. 


Kia nyaman sebagai sahabat Aslan, meski tanpa Kia sadari Kia menjadi dekat dan akrab dengannya, walau tanpa bertemu dan tatap muka. Mereka akan melakukan video call saat Kia mengunjungi Ipang. 


Padahal tanpa Kia datang, Aslan sendiri setiap hari komunikasi dengan Ipang. Tapi Ipang yang meminta sesekali waktu mereka bertiga berkomunikasi bersama agar terasa kalau mereka akrab dan utuh. 


Aslan sendiri fokus belajar dan merintis usahanya lagi di negeri sebrang. Aslan berniat kembali ke negaranya dan kembali mengutarakan niat menikahi Kia saat usahanya berjalan. Aslan benar-benar menahan diri.


Untuk perceraianya, karena Aslan tidak datang ke persidangan menjadi molor. Apalagi Paul menolak untuk diceraikan.


Tapi Aslan tidak ambil pusing. Aslan fokus ke rintisan usaha barunya, setelah berhasil berjalan, Aslan akan turun tangan.


Toh secara agama mereka sudah bukan suami istri karena Aslan sudah menjatuhkan talak. 


Siang itu Cyntia libur syuting dan Kia juga pulang lebih awal. Mereka berniat mengunjungi Ipang di karantina karena nanti malam adalah babak penampilan Ipang penentuan masuk Final.


Meski selalu berada di posisi hampir tereliminasi. Ipang berhasil masuk 3 besar. Ipang juga terkenal dan mulai banyak penggemar.  


“Aku pengen bawain masakan kesukaan Ipang Cyn” ucap Kia. 


“Ya udah yuk beli pesen dimana?” jawab Cyntia  mengajak Kia membeli sesuatu ke  restoran. 


“Anakku suka masakan ibunya, bukan beli” tutur Kia. 


“Oh, ya udah emang mau masak apa?” tanya Cyntia. 


“Ayam, Ipang suka sop ayam buatanku, kalau nggak di asam” jawab Kia. 


“Sesederhana itu?” 


“Hooh!” 


“Gampang Mah, sekarang kita makan dulu, terus beli baju buat nanti malam, belanja masakanya pas mau pulang aja” ucap Cyntia. 


“Oke.. tapi beli baju dulu aja ya, makanya aku nggak pengen di mall aku pengen di kafe biasa” 


“Siap Tuan Putri” jawab Cyntia. 


Lalu mereka berjalan kompak mencari pakaian untuk mereka datang ke studio nanti malam. Kia mau berpenampilan sebaik mungkin karena nanti malam Kia akan di shoot dan diwawancara kasih semangat ke Ipang. 

__ADS_1


Kia pun memilih membeli tunik cantik dengan motif bunga- bunga berwarna hijau muda, bawahan rok plisket dan jibab pashmina warna senada.


Setelah membeli tunik mereka membeli makeup. Kia dan Cyntia begitu bahagia melalui harinya. 


Setelah selesai membeli make Up mereka berniat membeli makanan. Di sebuah kafe elit pilihan Cyntia. Kafe itu cenderung tertutup dan letaknya dekat dengan hotel bintang.  


Saat mereka berjalan. Langkah mereka terhenti. Di persimpangan lobby hotel dan kafe mata mereka terpaut pada pemandangan mencengangkan. Terlihat dua orang keluar dari lift hotel berjalan mesra.


“Tunggu!” ucap Cyntia berbisik matanya terus mengawasi seseorang. 


“Itu Paul kan?” tanya Kia berbisik. 


“Ssst ngumpet buru!” tutur Cyntia menyuruh Kia berbalik arah agar seseorang yang berjalan ke arah mereka, tidak melihat mereka. 


Kemudian secepat kilat mereka berdua berbalik arah dan bersembunyi di balik dinding kafe. Lalu orang yang mereka curigai semakin berjalan mendekat ke mereka. Dan orang itu justru mengambil tempat duduk di dekat mereka bersembunyi. 


“Iya Baby... malam ini aku bermalam di rumahmu” 


“Istrimu nggak curiga kan?” 


“Nggak dong!” 


Sangat jelas terdengar percakapan dua orang manusia berbeda jenis kelamin yang sedang duduk di kursi kafe itu. Paul dan Nicholas, pasangan terlarang yang sama sekali tidak Cyntia kira. 


“Hoh” Kia dan Cyntia sama- sama terbengong. 


Lalu mereka berdua kembali mengintip dan memastikan. Tidak salah lagi, Paul dan Nicholas tampak bergandengan tangan dan saling menggenggam. 


Kia kemudian terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Pikiran Kia kemudian langsung tertuju pada Aslan. Ayah dari anaknya yang sekarang menjadi sahabatnya. Yang sudah berminggu-minggu tidak dia lihat batang hidungnya.


“Aslan dimana kamu? Kasian sekali kamu? Apa yang Aslan rasakan kalau Aslan melihat ini semua?” batin Kia polos. 


“Ok!” jawab Kia mengangguk mengambil ponselnya.


Lalu mereka berdua secara sembunyi- sembunyi mengambil foto Paul dan Nicho. Sayangnya sekarang mereka sudah tidak berpegangan tangan dan hanya saling mengobrol. Tapi setidaknya itu menjadi bukti kalau mereka berkencan. 


“Lewat sini!” bisik Cyntia memnyuruh Kia pergi dari situ.


Tidak ingin membuat keributan dan mengotori mata, mereka kemudian mengurungkan niat makan di kafe itu. 


“Lo kenapa pucat pasi begitu?” tanya Cyntia setelah mereka berhasil keluar dan masuk ke mobil.


“Kasian Aslan!” ceplos Kia spontan. 


“Gue juga nggak nyangka di lokasi syuting mereka sama sekali tidak terlihat dekat tau” sahut Cyntia.


Paul dan Nicho nemang aktor dan aktris yang sangat ulung. Mereka berdua sama-sama lihai berdrama di segala kondisi.


“Bukankah laki- laki itu punya anak dan istri?” tanya Kia tau wajah yang bersama Paul aktor juga.


“Yes! Bahkan istrinya beberapa kali datang ke lokasi syuting bawain makanan dan mereka kenal dengan Paul” jawab Cyntia.


"What?"


"Iya begitulah!"

__ADS_1


“Biadab, astaghfirulloh, pantas!” jawab Kia geram. Ternyata Paul seburuk itu.


“Pantas apa?” 


“Selama ini aku bertanya- tanya, apa kekurangan Paul, kenapa Aslan mencariku, kenapa Manda tidak menyukainya. Buatku Paul sempurna, ku kira Aslan terlalu bodoh menyia-nyiakan istri secantik Paul, tapi ternyata begitu?” tutur Kia menyadari penilaianya salah.


“Hemmm, apa kamu sekarang berubah pikiran?”


“Berubah pikiran? Apa maksudmu?” 


“Pandanganmu tentang Aslan?” 


“Ehm. Aku sebenarnya masih penasaran.Tapi kan emang pandanganku tentangnya berubah Cyntia. Kita sahabat, aku tidak menjauhinya lagi. Dan seperti ini akan baik untuk kami” jawab Kia.


“Hmm yaya”


“Apa aku bilang ya ke Aslan ya tentang ini? Menyakiti hatinya nggak ya?” tanya Kia lagi peduli Aslan.


“Lo peduli sama dia?” 


“Ya pedulilah, walau bagaimanapun dia udah baik kan ke kita, dia juga bapak anak gue” jawab Kia bersemangat. 


“Ehm. Ehm. Cuma karena itu?” 


“Lo apaan sih? Ya emang karena apalagi?”


“Nggak, nggak!”


“Oke, gue akan kasih tau Aslan akan hal ini”


“Menurut gue Aslan udah tau deh!” 


“Dia tau? Apa ini artinya semua yang Aslan katakan benar?” 


“Hhhhh, bisa jadi!” jawab Cyntia.


“Ya Tuhan” Kia kemudian terrdiam teringat semua yang Aslan katakan dulu. Jika Aslan bisa buktikan kalau dia benar, apakah Kia mau menikah denganya demi Ipang?


“Sebenernya Aslan dimana sih?” tanya Cyntia lagi. 


“Gue juga nggak rau dia dimana? Dia nggak pernah kasih tau gue dia dimana? Kalau telpon gue cuma nanyain Ipang, tapi gue nggak pernah liat dia kantor lagi” 


“Lo nggak tanya?” 


“Ya buat apa gue tanya? Hubungan kita sebatas membahagiakan Ipang” 


“Hmmm. Di kantor sama sekali nggak pernah liat?” 


“Dia pemilik perusahaan gue karyawan rendahan, lift kita aja beda, lantai kantor kita beda. Ya wajar dong kita nggak pernah ketemu” 


“Lo nggak kangen?” tanya Cyntia lugas.


“Apaan sih lo?” tanya Kia mendadak pipinya merah.


Padahal sebenarnya Kia bukan hanya tidak kangen. Tapi kangen banget, setiap berangkat kerja, diparkiran Kia selalu mengedarkan pandangan mencari mobil Aslan.

__ADS_1


Saat berjalan masuk dan menuju ke lift Kia selalu menatap lift petinggi. Berharap di saat itu Aslan keluar menyapanya.


Di setiap jam makan dan sholat, Kia sangat ingin bertemu Aslan lagi. Tapi semua itu tidak kunjung tiba. Kia tidak tahu apa-apa. Bahkan kalau sekarang bos mereka ganti Kia tidak tahu.


__ADS_2