
Pelayan menyajikan makanan dengan cekatan. Dua gelas jus stroberi dan segelas es buah. Kia juga memesan singkong thailand dan roti bakar coklat dengan toping es krim vanila.
“Dimakan dan diminum dulu Mbok” tutur Kia mempersilahkan.
“Aduh saya jadi bingung mau makan dan minum yang mana?” jawab Mbok Mina tidak terbiasa makan di kafe.
“Terserah Mbok Mina, mau es buahnya atau jusnya?” jawab Kia.
Kia memilih minuman bernuansa buah, sengaja untuk menghormati Mbok Mina yang sudah berumur. Jadi memilih menu makanan sehat.
“Yang ini ya Nyonya”
Mbok Mina akhirnya memilih es buah. Kia tersenyum mempersilahkan. Lalu dengan hati- hati setelah berdoa mereka menyantap makanan itu.
“Nyonya Kia mau kan menikah dengan Tuan Aslan?” tanya Mbok Mina lagi di sela- sela makan. Seperti ibu yang melamar anak gadis untuk anak laki- lakinya.
“Ehm” Kia menelan makananya kemudian meminum jusnya.
“Bagaimana dengan perceraian mereka Mbok?” tanya Kia balik masih belum menyatakan, iya dengan jelas.
“Setahu Mbok, Den Aslan sudah menjatuhkan talak ke Nyonya Paul, secara agama mereka sudah bukan suami istri. Kalau pengadilan saya kurang tahu Nyonya”
“Hmmm” Kia kemudian berdehem dan menunduk berfikir.
Kia mau menikah dengan laki-laki yang sudah resmi berpisah. Tapi kalau mendengar cerita Mbok Mina. Kia juga kesal dengan Paul, kasian Aslan dan ingin membuat pelajaran juga ke Paul.
Kia kemudian diam dan ingin mencurahkan perasaanya ke Mbok Mina. Entah kenapa dari suara dan tutur katanya Mbok Mina menangkan dan membuat Kia nyaman.
“Dulu saya bertekad, saya tidak ingin mengenal laki- laki atau menikah Mbok” tutur Kia bercerita.
“Kenapa Nyonya?”
“Mbok Mina jangan panggil saya Nyonya dong. Saya jadi nggak enak” sela Kia.
“Terus Mbok harus panggil apa?”
“Terserah tapi jangan panggil Nyonya, saya juga sama seperti Aslan Mbok, saya nggak punya ibu, simbok mau kan jadi Mbok saya juga?” ucap Kia.
Mbok Mina pun tersenyum mengangguk. “Ya, ya sudah dilanjut ceritanya”
“Waktu itu. Menurut saya semua laki- laki itu sama Mbok. Mereka jahat, mereka hanya memandang perempuan rendah” tutur Kia lagi.
“Bapak Nak Kia kan laki- laki, apa bapak jahat juga?” tanya Mbok Mina mengajak Kia berfikir. Kini Mbok Mina memanggil Kia dengan sebutan Nak.
“Nggak sih Mbok, tapi, saya pernah percaya dan jatuh cinta pada laki- laki. Tapi laki- laki itu mengkhiatani saya, membohongi saya, memfitnah saya , sampai akhirnya saya harus menjual diri saya” tutur Kia lagi mengingat Jeje.
Mbok Mina diam mendengarkan cerita Kia dengan seksama. Selayaknya orang tua yang mendengar anaknya berkeluh kesah. Mbok Mina juga penasaran, apa iya orang yang terlihat sebaik Kia beneran perempuan bayaran. Dan ternyata benar. Kia tidak seratus persen wanita bayaran.
“Dan ketika saya bertemu dengan Aslan, saya semakin benci dengan laki- laki. Dia mempunyai istri, meski itu menolong saya, tapi dia tetap saja menghianati pernikahanya. Dan kakak saya, sebagai laki- laki. Dia juga tidak mempunyai ketegasan, bahkan kakak saya mengusir saya dari rumah. Dia tidak bisa memilih antara adik dan istrinya. Saya merasa semua laki- laki itu jahat Mbok” lanjut Kia lagi entah kenapa Kia merasa nyaman mencurahkan isi hatinya pada Mbok Mina.
Mendengar cerita Kia, Mbok Mina mengelus lengan Kia lembut.
"Sabar Nak" tutur Mbok Mina.
“Dan mungkin kuasa Tuhan, aku hamil anak laki- laki. Saat pertama aku mengetahui jenis kelamin anakku, aku sedih mbok, aku tidak terima. Hingga kemudian Kia sadar, mungkin itu amanah agar Kia bisa mendidik anak Kia menjadi laki- laki yang baik”
“Hidupmu sungguh berliku Nak. Mbok tanya, berapa lama kamu bergelut dengan dunia seperti itu?"
__ADS_1
"Saya hanya tidur dengan Aslan, Mbok! Saya hanya sekali tidur dengan laki-laki. Itu juga karena saya harus dapatkan uang dalam waktu yang cepat" tutur Kia menekankan. Memberi tahu Mbok Mina. Kalau Kia bukan perempuan bayaran seperti yang lain.
Mbok Mina kemudian tersenyum lega. penilaianya tidak salah. Lalu Mbok Mina membuka suaranya lagi.
"Satu hal yang harus kamu tahu, dalam hidup semua mempunyai garis dan jalannya sendiri. Tidak semua hal yang terlihat salah itu salah sepenuhnya dan tidak semua hal yang baik itu baik sepenuhnya. Seiring berjalanya waktu kamu akan tahu. Perbuatanmu salah, Nak. Tapi kamu tidak menginginkan salahmu itu kan?"
"Iya Mbok" jawab Kia.
"Niatmu sudah baik. Prioritaskan Den Pangeran itu sudah benar, dan saat kita menyadari kesalahan kita. Jangan ulangi dan perbaiki!” jawab Mbok Mina.
“Iya. Sejak dapatkan uang itu saya tidak berhubungan dengan laki-laki manapun. Bahkan saya pernah berjanji untuk tidak berurusan dengan laki-laki laki lagi. Tapi saya juga nggak nyangka Mbok, kalau saya akan bertemu Aslan lagi. Saya jadi berurusan denganya. Padahal awalnya saya juga tidak mengenalinya” tutur Kia.
“Tapi akhirnya kalian saling menyadari dan mengenal kan? Itu namanya takdir”
“Aku tidak tahu juga, bahkan Aslan mengingat tanda lahirku” tutur Kia lagi.
“Itu karena Den Aslan mengingatmu lebih dari perempuan bayaran Nak. Den Aslan bukan laki- laki yang mudah tidur dengan sembarang perempuan lho. Mbok tahu itu”
“Benarkah? Tapi kenapa dia bersedia membayarku?” tanya Kia.
“Sebaiknya Nak Kia, tanyakan langsung pada Den Aslan. Mbok tau betul, Den Aslan itu seperti apa? Dia paling nggak suka main perempuan. Dia sangat tertutup, bahkan dengan Nyonya Paul yang cantik begitu, Den Aslan tidak tertarik” cerita Mbok Mina.
“Hoh? Maksudnya tidak tertarik?”
“Ini rahasia ya, meski mereka satu atap tapi mereka tidur berbeda kamar” ucap Mbok Mina membuka aib rumah tangga Aslan lagi.
“Benarkah?” tanya Kia terheran-heran. Ada orang menikah tapi tidurnya terpisah.
Mbok Mina hanya mengangguk.
“Selama ini? Selama 7 tahun ini?” tanya Kia lagi masih tidak percaya.
“Ah mungkin mereka bertemu di luar Mbok, mbok paling yang nggak tahu” jawab Kia mengelak. Masa iya sudah menikah tapi berpisah kamar. Apalagi istrinya secantik Paul.
“Saya tidak berbohong. Den Aslan sendiri yang cerita, mereka tidak seperti suami istri Nak”
“Woah, tidak bisa dipercaya!” gumam Kia lagi, tiba- tiba Kia merinding.
Apa iya Aslan tidak bernafsu, padahal malam itu Kia mengingat Aslan sangat berga**ah. Dan saat di asrama Ipang. Aslan juga berhasil mencuri ciumanya. Sampai Kia mengira Aslan maniak se*s.
“Ehm” Kia berdehem, apa itu artinya benar Kia satu- satunya perempuan yang membuat Aslan terkesan? Dada Kia kembali berkembang menerbangkan banyak kupu-kupu.
“Apa itu sebabnya Paul selingkuh?” tanya Kia kemudian.
“Paul memang sudah seperti itu sejak sebelum menikah, itu sebabnya Den Aslan tidak menerimanya, Den Aslan seperti menjasi tameng untuk menutupi kehamilanya, agar Non Alena punya ayah” Mbok Mina kembali membocorkan rahasia Paul.
“Hhh, kenapa kedengaranya kasian sekali si Aslan itu ya, kalau tidak menerima kenapa dia bertahan? Jadi Alena itu juga anak haram? Dasar!” gumam Kia sekarang dia akan punya senjata menyerang balik ke Paul.
“Kan sudah saya jelaskan, Den Aslan mempertahankan ayah dan perusahaanya. Tuan Agung akan sakit jika mereka bercerai”
“Tapi kan Paul begitu Mbok. Kan aneh Papahnya Aslan itu, Aslan juga. Masa udah tau Paul perempuan begitu masih dipertahankan” jawab Kia memggebu, menyiratkan membenci dan menyayangkan pernikahan Paul.
“Itu yang masih menjadi misteri Nak, kenapa Tuan Agung rela mengorbankan anaknya? Ada hutang apa di antara mereka. Padahal perlakuan Tuan Agung ke Den Aslan dan Den Satya berbeda” jawab Mbok Mina lagi.
“Hemmm begitu ya?” jawab Kia mengangguk. Kini Kia semakin terkesan dengan Aslan.
“Sekarang Nak Kia mengerti kan? Meski Den Aslan melakukan kesalahan dia bukan orang jahat, sama seperti Nak Kia”
__ADS_1
“Iya Mbok, saya sekarang mengerti”
“Dia juga bukan orang yang suka mempermainkan perempuan” imbuh Mbok Mina.
“Iya Mbok” jawab Kia tersenyum. Entah kenapa ada kelegaan di hati Kia.
“Mbok saja kaget pas tau Den Aslan punya putra. Mbok kira Den Aslan benar- benar tertutup hatinya. Mbok senang sekali saat tau perempuan yang Den Aslan bawa pulang perempuan cantik dan baik seperti Nak Kia ini” tutur Mbok Mina memuji Kia.
“Ah Mbok, apa sih?” jawab Kia tersipu.
“Dan sekarang, pikirkan den Pangeran Nak, saat Den Pangeran masih mempunyai ayah yang masih sehat, bersedia melindungi kalian. Apa Nak Kia masih tega membiarkan Pangeran terpisah dari ayahnya?” tanya Mbok Mina membuat Kia mempengaruhi Kia.
“He...”
"Kalian butuh laki-laki, Den Pangeran butuh ayah"
"Iya Mbok. Sekarang saya sadar akan hal itu" jawab Kia.
“Pangeran dan Den Aslan terlihat sekali saling melekat, Den Aslan dan Nak Kia sebentar lagi sama- sama sendiri. Menikahlah! Malah tidak baik jika kalian berhubungan tapi tidak menikah”
“He... iya Mbok!”
“Bener ya!”
"Bener apa?"
"Nak Kia mau menikah dengan Den Aslan" tegas Mbok Mina.
Kini wajah Kia langsung memerah tersipu.
“Tapi Mbok jangan bilang dulu ke dia ya” tutur Kia.
“Kenapa?”
“Malu Mbok”
“Aih, kalian ternyata lucu, kalian kan sudah punya anak?”
“Hehehe, ya sudah habiskan makananya, Mbok Mina sebenarnya tujuanya kemana? Biar saya antar” tanya Kia akhirnya mengalihkan pembicaraan.
Kemudian Mbok Mina terdiam.
“Saya sudah lega sudah sampaikan semuanya ke Nak Kia. Saya mau pulang kampung!”
“Lhoh kok pulang kampung? Katanya dompetnya diambil Paul? Emang kampung Mbok Mina dimana?”
“Di provinsi L”
“Lah jauhnya... Mbok Mina ikut saya aja ya!” tutur Kia menawarkan.
“Nanti saya ngrepotin”
“Nggak! He.. sebenarnya saya juga dari koya Y Mbok. Di sini, rumah yang saya tempati itu, rumah Pangeran dari ayahnya bukan rumahku. Aslan dan Pangeran pasti seneng Mbok ikut kami” jawab Kia.
"Benar?"
"Iya"
__ADS_1
Mbok Mina kemudian mengangguk dan mau.