Sang Pangeran

Sang Pangeran
167. Pelajaran untuk Tikus Kecil


__ADS_3

Masih di meja makan rumah Ipang, penganten baru yang masih berasa pacaran ala dewasa itu saling tatap. Kia menatap suaminya menunggu jawaban. Aslan menatap Kia dengan penuh sayang dan ragu.


Aslan seperti ingin menyembunyikan dari istrinya, agar Kia tidak ikut pusing. Kia tetaplah Kia dengan kekepoan yang tinggi. Bukankah suami istri tidak boleh ada yang disembunyikan, setelah menghela nafasnya panjang Aslan memilih cerita ke Kia. 


“Isinya beberapa dokumen perusahaan Ayah Abang, berkas kepemilikan, pembagian saham, bukti percakapan Alex dan Papa, beberapa foto bukti kepemilikan racun yang Alex beli dan bukti beberapa foto yang tidak pantas dilihat.” tutur Aslan menunduk saat mengucapkan kalimat terkhir. 


“Foto yang tidak pantas dilihat gimana maksudnya, Bang?” tanya Kia. 


“Papa tertarik dan obsesi sama Ibu Abang. Papa, Ibu Abang dan Ayah Abang itu dulu terlibat cinta segitiga, bahkan Papa menguntit Ibu Abang, mengambil foto- fotonya di setiap kegiatanya, sampai ke hal yang paling intim!” tutur Aslan pelan.


Aslan sendiri tidak menyangka Tuan Agung di masalalu mengerikan.


“Astaghfirulloh kok bisa? Bukanya Tuan Agung kata Umma udah punya pacar?” tanya Kia merasa aneh.


“Umma kan di Ibukota hanya sebentar setelah pernikahan Ibu dan Ayah Abang, Sayang. Umma tidak tahu cerita sebelumnya. Saksi dari semuanya adalah Ayahmu. Pak Tiko dan si Tua Bangka Alex itu!” tutur Aslan memberitahu.


“Hoh!” jawab Kia terbengong.


“Foto- foto itu, foto tidak senonok mendiang Ayah dan Ibu Abang yang diambil Papa!"


"Sampai segitunya? Sempat gitu?"


"Namanya obsesi! Alex mengancam Papa akan memberitahu ke Ayah Abang tentang rahasia Papa yang diam- diam terobsesi pada Ibu Abang. Sebenarnya Papa tidak ingin bunuh ayah Abang, tapi karena diancam, Papa bantu Alex untuk bunuh ayah Abang. Alex juga mengiming- iming Papa untuk menikah Ibu Abang, selain itu juga ada pembagian perusahaan!" tutur Aslan lagi.


"Licik banget ya si Alex itu!"


"Sayangnya Ayah Abang sudah membuat wasiat di pengacara tentang pewaris perusahaan ke tangan Abang, Papa ataupun Alex tidak bisa berkutik. Jadi Papa dan Alex buat kesepakatan!” 


“Kesepakatan tentang perjodohan Abang dan Paul?” sahut Kia menebak.


“Itu salah satunya, dari banyak kesepakayan lain. Intinya Papa dan Alex berhasil mengelabuhi Ibu Abang, menikah denganya, menjadi wali Abang, dan memimpin perusahaan!"


"Ck. Jahat banget sih Bang mereka!"


"Pak Sentot adalah suruhan Pak Alex, dia yang mencuri foto- foto mendiang Ibu Abang dari ponsel Papa. Dia juga yang ambil rekaman cctv mall, sehingga kematian Ayah Abang tidak bisa terlihat! Pak Sentot juga yang tahu semua file perusahaan Ayah Abang dan perbuatan jahat, Papa dan Alex” 


“Astaghfirulloh! Apa itu artinya Pak Dhe juga salah?” tanya Kia.


“Bisa dibilang begitu bisa dibilang tidak. Dia tangan kanan Alex. Tapi, Pak sentot masih punya rasa bersalah, dia menyerahkan bukti rekaman cctv itu ke Pak Tiko, ayahmu. Termasuk semua copian pekerjaanya membantu Alex.Dan Pak Tikolah yang memberikanya ke Ibu Abang, yang diletakan ke kartu memory yang ada ini liontin itu. Ibu Abang berniat mau melaporkan Alex, tapi nggak sempat, Ibu lebih dulu....” ucap Aslan terhenti dan tidak mau melanjutkan ceritanya. 


Aslan sedih kalau mengingat kepergian ibunya. Kia bisa menangkap itu, Kia kemudian menggenggam tangan Aslan lembut, memberi kekuatan ke Aslan.


“Ibu meninggal duluan. Ibu meninggal karena dibunuh juga. Ibu meninggal saat Ibu berjuang berusaha mengumpulkan bukti kebejatan Alex! Sayangnya Wina dan Alex mereka yang bekerja sama, membunuh Ibu” lanjut Aslan. 


“Hoh! Wina?” bengong Kia lagi. 


"Setelah Ibu menikah dengan Ayah Abang. Papa memang menjalin hubungan dengan Wina karena Wina mencintai Papa" sambung Aslan


"Jadi Bu Wina dan Alex bekerja sama. Bu Wina ngincar Papa Agung, Alex menyelamatkan diri, gitu?" tanya Kia.


"Iya!"


"Berarti Papa Agung nggak tahu juga?"


“Nggak. Papa hanya orang bodoh yang dibutakan oleh cinta ke ibu Abang, dan diperdaya Alex. Itu sebabnya dia sakit-sakitan selama hidupnya. Ternyata Papa banyak memndam pergulatan di batin dan hidupnya!" jawab Aslan.


"Hoh, kasian juga ya Papa Agung!"


"Tetap saja dia terlibat dalam pembunuhan Papa!"

__ADS_1


"Iya. Dia kena hasutan Si Alex tua itu. Kok bisa sih ada orang sejahat itu?" ucap Kia lagi kesal.


"Sayangnya kematian ibu, hanya Pak Tiko yang tahu buktinya. Pak Tiko yang ingin bantu ibu mengungkap semuanya ke polisi, tapi Pak Tiko tidak punya kekuatan! Pak Tiko memilih pergi dan lari dari perusahaan, menyelamatkan diri!” sambung Aslan lagi dengan nada sedih dan kecewa, kasus ibunya tidak bisa diungkap.


Kia yang mendengarkan jadi ikut terbawa.


“Dan bapak Kia dibunuh juga?” tanya Kia nanar. 


Sekarang gantian Kia yang sedih dan menunduk, bahkan dalam waktu singkat Kia meneteskan air matanya. Aslan berganti memegang tangan Kia dan mengelusnya pelan. Aslan menghadap ke Kia dan mengusap air mata yang membasahi pipi cantik Kia.


"Maafin Abang" ucap Aslan lembut.


“Kebakaran di kantor Abang, kematian orang tua Kikan dan Ayah mertua, semua ulah Alex. Alex mengetahui kedekatan ayahmu dan ibuku, Alex mencurigai Ayahmu, dia kira semua dokumen penting ada di kantor cabang, kemudian  membakarnya. Ibu Abang rupanya sengaja menyembunyikan liontinya di vas, dan untungnya, kedekatan ayahmu dan Pak Sentot tidak diketahui Alex dan Papah, jadi bukti itu masih aman!” 


“Maksudnya?” 


“Selama ini Pak Sentot berpihak pada Alex! Pak sentot jadi kaki tangan Alex sekaligus mata- mata Ibu. Pak Sentot bermain dua kaki, bukti itu dari Pak Sentot, diserahkan ke Papa mertua, tapi Papa mertua menyerahkanya lagi ke Pak Sentot” tutur Aslan lagi.


“Itu sebabnya Pak Sentot memilih menepi di kampung kecil di tengah hutan begitu?” tanya Kia. 


“Ya. Pak Sentot dan ayahmu yang memendam semua rahasia ini, tapi keberanian Pak Sentot tak seberani ayah mertua! Mereka berdua karyawan yang paling sial karena harus dilanda kebingungan memikul beban ini bertahun-tahun” ucap Aslan lagi.


“Ehm!” Kia tercekat tidak bisa bicara. Kasian sekali ayah dan Pak Sentot. Mereka pasti tertekan selama hidupnya.


“Antar Abang ke makam ayah ya! Abang minta maaf, karena saat itu Abang tidak tahu apapun! Maafin Abang tidak bisa menyelamatkan mereka!” tutur Aslan serius. 


Kia menunduk meneteskan air matanya lagi, kemudian mengeratkan rahangnya dan menatap Aslan. 


“Alex harus dapatkan hukuman setimpal, Bang! Ini pembunuhan berencana dan berantai, dia monster. Dia hancurin hidup banyak orang Bang! Dia bukan manusia!” tutur Kia terisak dan sangat geram ke Alex. 


Kejahatan masalalu Alex saja sudah sangat banyak bagi Aslan dan Kia. Belum tahu juga mereka berdua, kalau Alex saat ini juga masih menambah kejahatanya dengan mefitnah Aslan. 


“Pelajaran apa Bang? Bukanya orang tua Paul di luar Negeri?” tanya Kia.


“Kalau dari percakapan yang Abang dapet di ponsel Papah, dia tiba di rumah Paul dalam waktu dekat. Abang ingin hajar dia dulu, sebelum dia ke penjara!” ucap Aslan gemash. Aslan dan Kia belum tahu kalau Tuan Alex sekarang sudah di rumah Paul.


“Jangan Bang! Serahin aja ke polisi, Abang kita mau nikah lho, ada Ipang juga! Kasih contoh yang baik buat Ipang ya! Biar Tuhan dan Polisi yang hukum dia!” tegur Kia khawatir malah nanti pernikahan mereka terganggu kalau Aslan memukuli orang.


“Abang lama nggak mukul orang, Sayang, tangan Abang rasanya gatal!” ucap Aslan lagi mengungkapkan perasaanya.


“Abang!” pekik Kia. “Apa Abang puas mukul orang tua?” tanya Kia lagi.


Menurut Kia, memenjarakan Tuan Alex seumur hidup cukup setimpal, itu berarti kan Alex akan menghabiskan waktu tua dan sisa umurnya di penjara. 


“Sebelum nemuin Si Tua bangka itu, Abang mau pemanasan dulu sama si tikus kecil!” jawab Aslan lagi.


“Tikus kecil?” tanya Kia mendelik.


“Sudah ayo makan. Abang mau isi tenaga yang banyak!” jawab Aslan mengakhiri cerita dan mengalihkan pembicaraan. Nanti dilarang lagi sama Kia.


“Abang jawab dulu apa maksudnya tikut kecil?” 


“Orang yang berani sakitin istri Abang dan buat istri Abang nangis!” jawab Aslan.


“Siapa Bang?” 


“Udah, ayo makan!” jawab Aslan tidak mau memberitahu rencananya memberi peringatan ke Jeje. 


Kia diam memikirkan klu dari suaminya. 

__ADS_1


“Jeje ya Bang?” tanya Kia. 


“Hemmm, ya!”


“Bang, cukup buat dia mengerti untuk pergi dari Kia, Bang. Abang jangan kotori tangan Abang, udah sih jangan pukul- pukul orang. Kia Cuma mau kasih liat ke dia kalau kita punya buku nikah, dia pasti akan diam kok Bang!” tutur Kia lagi khawatir. Kia tidak suka kekerasan.


Aslan memasukan nasi dan lauknya ke mulutnya. Aslan mengunyah sarapan itu santai sambil melirik istri cantiknya yang tampak polos. Batin Aslan, mana bisa Aslan diam gitu aja, ke orang yang berani gangguin istrinya. 


“Bang... jangan berantem ya Bang! Nanti Abang dilaporin polisi lagi, tambah masalah lagi, kasih liat buku nikah kita aja nanti ya Bang! Kia hanya ingin membungkam mulutnya dengan bukti nikah kita aja” tutur Kia masih merayu agar suaminya tidak berkelahi.


“Ini urusan laki- laki, Sayang! Abang pastikan dia tidak akan ganggu kamu lagi!” jawab Aslan.


“Tapi Kia juga nggak mau tangan Abang kotor, dan terluka, apalagi Abang dilaporin ke polisi atas tindak kekerasan! Bang, yah! Jangan!” tutur Kia merayu lagi mencegah Aslan berbuat anarkis. 


“Abang janji, nanti sore Abang pulang dalam keadaan sehat wal afiat, Sayang. Nggak ada yang kotor dan terluka, semua urusan juga beres. Kita jemput Pangeran nanti malam dengan bahagia, Oke!?” 


“Janji!” 


“Iya, ayo selesai kan makanya!” ucap Aslan. 


Kia mengangguk berusaha percaya. Lalu mereka berdua menghabiskan sarapanya. Setelah sarapan, Aslan berpamitan. Sementara Kia di rumah mempersiapkan penjemputan Ipang. Ipang juara atau tidak, bagi Kia yang terpenting Ipang akan pulang dan seterusnya bersama Kia lagi. 


“Cup!”  Aslan memberikan kecupan di kening Kia. “Baik- baik di rumah ya!” tutur Aslan. 


“Iyah, Fatimah katanya udah naik kereta Bang, barusan wa, Kia akan punya temen kok!” ucap Kia. 


“Oke! Abang berangkat ya!” 


“Ya, hati- hati Bang!” tutur Kia. 


****** 


Di apertemen Jeje. 


Jeje membanting semua barang- barang yang ada di mejanya tidak terima. Jeje mengacak- acak rambutnya kasar setelah menerima telepon dari managernya. Teman perempuan Jeje yang baru selesai mandi dibuat kaget. 


“Honey , whats wrong with you? Apa yang kamu lakukan?” tanya Sita teman kencan Jeje yang masih menggunakan handuk kimono syok.


Jeje mengeratkan rahangnya kesal sambil mengumpat.


“Shi*t, anj*ng!” umpat Jeje tanganya mengepal dan memukul meja.


Jeje pagi- pagi sudah harus sarapan pil yang sangat pahit. Jeje juga mendengar kabar yang membengkakan telinga dan membakar jenggotnya.


Padahal semalam Jeje sudah ngamuk- ngamuk ke anak buahnya karena rencana menjebak Cyntia gagal. Jeje mengobati kesalnya dengan meminta Sita tidur denganya, baru sembuh, kini Jeje dibuat sangat kesal lagi. 


“Ada apa?” tanya Sita mendekat.


“Ini pasti disengaja, ada yang berani menghancurkanku! Dia menyerang dan menantangku. Siapa dia?” ucap Jeje lagi sambil memikirkan siapa musuh yang berani menghancurkanya. 


“Hancurin gimana?” tanya Sita.


“Semua kontrak, jadwal show gue, dan promo album gue di cancel! Ini kan parah!” ucap Jeje marah. Meski Jeje perangainya jahat, tapi dalam karir Jeje merasa selalu profesional. Jeje tidak menyangka ada yang bisa membuat pekerjaanya terhenti semua dalam waktu singkat.


“Kok bisa?” tanya Sita kaget. 


“Entah!” ucap Jeje  lagi.


Di saat yang bersamaan, telepon Jeje yang tadi dia lempar ke kasur berdering. Jeje kemudian mengangkatnya, ternyataa dari nomor tak dikenal yang meminta Jeje datang ke suatu tempat. 

__ADS_1


__ADS_2