Sang Pangeran

Sang Pangeran
26. Ternyata


__ADS_3

Aslan menghentikan mobilnya. Memarkirkan kendaraan mahalnya ke parkiran khusus yang sepertinya memang sudah menjadi tempatnya parkir.


Sebab, di sekeliling tempat parkir, mobil dan motor penuh. Tapi di tempat itu kosong dan ada tanda no parkir, tapi saat Aslan datang tukang parkir mempersilahkan.


Mata Kia berkelana melihat sekeliling. Tidak pernah dia impikan sebelumnya, bahkan ketika dulu dia masih kuliah.


Sekarang Kia berada di depan restoran milik chef terkenal di negaranya yang wira wiri di TV. Konon satu posri makananya bernilai fantastis. Bisa makan di tempat mewah itu seperti mimpi.


Kia menatap Aslan sesaat. Sebenarnya ada rasa bersyukur dan terkagum di hati Kia. Tidak dipungkiri, Aslan juga sangat tampan. Tapi kemudian Kia sadar.


"Kia dia suami orang, kamu hanya perempuan yang dia sewa satu malam. Sadar Kia, sadar sadar! Dia tukang selingkuh. Kamu bukan pelakor. Ingat Kia" Kia menundukan kepalanya ingin menangis.


Sementara Aslan mengambil ponsel dan dompetnya. Membuka pintu mobil bersiap mengajak anak dan perempuan cantik di sampingnya turun.


"Kita mau makan ya Yah?" tanya Ipang masih di pangkuan Aslan.


"Iya jagoan. Ayah lapar, jagoan ayah lapar juga kan?"


"Iya Yah. Ayah is the best. Tau yang Ipang mau"


"Siip. Ipang turun dulu ya!" ucap Aslan membiarkan Ipang turun dulu agar dia mudah turun. Kemudian Aslan menatap Kia di samping. Kia tampak munduk memikirkan sesuatu.


Hidung mancung Kia tampak sempurna di mata Aslan, saat dilihat dari samping. Lekukan wajahnya seperti mahakarya dari Tuhan yang sangat indah untuk dipandang. Aslan menatapnya lekat, Kia benar-benar cantik dan anggun.


"Ayo turun" ajak Aslan ke Kia.


Kia yang menyembunyikan matanyanya berkaca-kaca diam. Berusaha menahanya agar tidak ketahuan.


"Saya nggak lapar Tuan. Saya menunggu di aini saja" ucap Kia dingin, mengalihkan pandangan dan menggigit bibirnya agar bisa bertahan tidak menangis.


"Apa kata orang jika melihat aku berjalan bersamanya. Aku bukan pelakor, apalagi kalau ketemu istrinya. Aku nggak mau itu terjadi" batin Kia memutuskan.


Aslan menatap Kia intens, perempuan di depanya benar-benar terlihat menarik buatnya. Rasanya Aslan ingin memeluknya dan melahapnya bibirnya.


"Tunggu Kia, secepatnya aku akan menikahimu" batin Aslan.


"Benar kamu kenyang?" tanya Aslan dengan tatapan cintanya.


"Iya" jawab Kia mantap masih tidak berani menatap.


"Memang kau sudah sarapan apa?"


"Rahasia!"


"Haissh. Kau yakin akan menunggu di sini sendirian?"


"Yakin!" jawab Kia penuh gengsi.


"Benar tidak mau ikut makan? Waktu makanku lama lho, kamu akan lama menungguku"


"Silahkan saja. Saya menunggu di sini" jawab Kia bersikeras.


"Kamu nggak liat anakmu sudah turun dan sangat ingin makan? Ibu macam apa kamu?" ejek Aslan akhirnya, satu-satunya cara memancing Kia mau turun.


Melihat Ipang sudah turun Aslan memilih ikut turun. Berdua di dalam mobil dengan Kia membuat Aslan kegerahan dan tersiksa sendiri.


"Jagoan" panggil Aslan ke Ipang.


"Iya, Ayah"


"Ibumu lagi diet ya? Apa lagi puasa?" tanya Aslan agak keras menyindir Kia.


Kia mendengarnya dan tersindir kesal sambil melirik.


"Tidak Ayah. Ibu makan dengan sangat lahap setiap harinya. Bahkan kalau ada makanan tidak habis, ibu akan memakanya. Ibu tidak pernah diet" jawab Ipang polos.


"Oh iya? Ck ck, berarti sebenarnya ibumu hoby makan ya?" jawab Aslan melirik Kia di dalam mobil yang masih keliatan karena Aslan belum menutup pintunya.


"Ipang!" gerutu Kia malu, keharuan dan rasa sedihnya hilang.


"Ayolah, nggak usah pura-pura kenyang. Di sini makananya enak kok" ucap Aslan masih merayu Kia.


"Ibu tidak mau makan? Ipang lapar Ibu" ucap Ipang polos mengajak ibunya.


"Kau dengar. Anakmu kelaparan. Apa kau tidak kasian?" tanya Aslan lagi.


Kia diam merasa tersudut.


"Kalau ibu tidak mau makan. Ya sudah Ipang juga tidak mau makan" akhirnya Ipang mengeluarkan jurusnya.


Aslan tersenyum menang. Ipang memang terbaik, dia tahu mau Aslan tanpa Aslan memintanya.


"Apa kau akan membiarkan anakmu kelaparan? Hah?" tanya Aslan ke Kia.


"Iya Bu. Ayo makan. Ibu tidak gendhut kok, Ibu selalu cantik" ucap Ipang lagi.


"Perempuan terlalu kurus tidak baik. Peganganya tidak mantap" ucap Aslan menimbrung memberikan kerlingan mata nakal dan ungkapan kiasan ke Kia.


"Hoh" Kia terbengong kesal dengan ucapan Aslan. "Dasar mesum" batin Kia. Seketika ingatan Kia pada malam dimana Aslan memegang dan memainkan aset berharganya datang.


"Haish" desis Kia kesal mengusir bayangan itu.


"Ayo Bu!" ajak Ipang merengek.

__ADS_1


Akhinya Kia turun dari mobil.


"Horee ibu mau makan" ucap Ipang kegirangan.


Aslan dan Kia tersenyum melihat Ipang bahagia.


"Saya perlu bicara dengan anda" ucap Kia ingin bicara empat mata dengan Aslan dan menyeret tangan Aslan mendekat.


Aslan melihat tangan Kia senang dan dia sengaja merapatkan tubuhnya mendekat ke Kia. Kia jadi salah tingkah lagi.


"Katakan saja. Ipang anak kita kok. Di antara keluarga tidak boleh ada rahasia" jawab Aslan


"Hoh, keluarga? Kau. Gila" umpat Kia kesal menahan bicaranya agar tidak terdengar Ipang yang sedang dituntun Aslan.


"Ipang, tunggu sebentar ya. Ibumu mau bilang sesuatu" tutur Aslan memberitahu Ipang agar tidak hilang berjalan sendirian.


"Iya, Ayah!" jawab Ipang patuh, bahagia melihat ayah dan ibunya berdekatan.


"Apa? Katakan!"


"Bagaimana kalau tiba-tiba istri anda datang dan melihat kita. Atau mungkin saudara, karyawan? Biarkan saya dan Ipang makan sendiri" bisik Kia ke Aslan


"Memang kenapa kalau mereka melihat kita?" jawab Aslan enteng tanpa beban.


"Whoa, hah. Kau tidak takut dikatai selingkuh atau menyakiti hati istri anda? Kita bukan keluargamu" ucap Kia lagi masih dengan suara di rendahkan tapi penuh penekanan.


"Aku akan jadikan kalian keluargaku. Sudahlah ayo masuk! Anak kita sudah menunggu" jawab Aslan enteng lalu menuju ke Ipang.


"Hoh!" Kia terbengong dan berdecak menatap ke langit, berfikir omongan Aslan tidak masuk akal.


"Maksud dia apa? Dia punya istri kan? Dia punya keluarga kan? Apa dia tidak cinta istrinya? Suami macam apa dia? Dia pikir gue mau dimadu?" batin Kia.


"Ayo Bu" panggil Ipang melihat ke Kia.


"He..iya Nak" jawab Kia tersenyum


"Ayah. Gandeng Ibu, seperti mereka" ucap Ipang menunjuk pasangan yang datang bergandengan


Kia melotot tidak nyaman ke Ipang.


"Siap jagoan" jawab Aslan dengan senyum khasnya.


Setelah mendapat ijin dari Ipang Aslan langsung menggandeng Kia tanpa permisi. Mengajaknya masuk.


"Ya Tuhan, apa ini? Kenapa jantungku selalu tidak bisa diajak kompromi begini? Jantung berdetaklah dengan normal" batin Kia memandangi tangan Aslan yang menggenggamnya.


Otak Kia berfikir untuk melepaskan tanganga. Tapi Aslan justru mengeratkan genggamanya. Kia pun menurut pasrah.


Melihat kedatangan Aslan pelayan mempersilahkan masuk. Sepertinya mereka memang sudah menunggu Aslan. Bahkan pelayan, mengantarkan Aslan ke ruangan khusus yang berada di rooptoop.


Kia menundukan kepala malu seperti tersangka yang menghindari intaian polisi. Padahal orang-orang sibuk sendiri.


Di rooptop ternyata sudah disediakan tempat makan. Dihiasi beberapa tanaman yang menggantung di tiang-tiang khusus. Beberapa orang sudah ada di sana, termasuk orang tua Daffa.


Kia menelan salivanya. Nadinya berdenyut naik 50 persen. Gugup, malu bingung, siapa mereka? Kia harus bilang apa.


"Siapa mereka! Mati aku? Singa gila ini benar-benar tidak tahu malu. Tuhan aku bukan pelakor, ampuni aku" batin Kia langsung melepaskan tangan Aslan dan terpatung.


"Hai Kak" sapa Manda ibu Daffa menatap Aslan menggandeng Ipang dan Kia.


Para tamu lain juga menatap Aslan bertanya-tanya. Termasuk Rendra. Di situ juga ada Mami Asha, juri Ipang.


"Wah wahh. Perkiraanku tidak pernah salah bukan? Jadi dia benar anakmu?" tanya Mami Asha menyambut Ipang.


"Hai Bunda Asha, kau benar, ternyata dia ayahku" sapa Ipang berani.


"Oh iya? Bunda senang mendengarnya. Kemarilah anak pintar" sambut Bunda Asha mengajak Ipang bergabung dengan orang terdekat Aslan.


"Iya, Bunda Asha memang pintar. Bahkan lebih pintar dari ayah dan ibuku" ceplos Ipang.


"Heh???" Aslan dan Kia menoleh ke Ipang malu.


"Apa maksdumu Nak?" tanya Manda Ipar Aslan


"Ayah dan Ibu tidak saling mengenal saat kami bertemu. Bahkan ibuku bilang, ayah orang jahat! Mereka bertengkar Bunda" cerita Ipang lagi.


Kia benar-benar seperti dikuliti seharian ini.


"Ipang apa yang kamu katakan?" tanya Kia segera menghampiri Ipang dan membungkam mulutnya malu.


Nyonya Asha, dan Manda mengerti raut muka malu Kia sehingga mereka memaklumi dan berhenti bertanya.


Kia menatap Aslan.


"Ayo!" ajak Aslan.


"Kita perlu bicara!"


"Oke" jawab Aslan. Lalu mereka berdua menepi dari kawanya.


"Apa yang kau lakukan Tuan? Kenapa mengajak kami ke sini?" tanya Kia berbisik tidak nyaman.


"Mereka keluargaku. Mereka juga akan menjadi partner kerjamu!" jawab Aslan santay.

__ADS_1


"Partner kerja?" tanya Kia semakin tidak mengerti.


"Iya. Apa kau lupa? Kau tau kan mereka siapa?"


"Tidak!"


"Satya dan Manda adiku. Orang tua Daffa, Asha juri tetap untuk sekolah Ipang, bersikap ramahlah"


"Lantas untuk apa saya kesini? Saya tidak ada kepentingan di sini. Anda bilang kita hanya makan kenapa ada mereka?"


"Sudahlah tidak usah berdebat. Ayo makan!" ucap Aslan tidak menjawab Kia.


Lalu mereka bergabung dengan 4 orang yang sudah duduk di meja makan.


"Ehm. Ehm" Kia malu dan canggung sendiri.


Manda dan suaminya menatap intens ke Kia dan kakaknya itu. Pertama kalinya Manda melihat iparnya itu, tersenyum sangat bahagia. Tidak ada ketegangan saat membawa perempuan di sampingnya. Tidak seperti sebelumnya.


Sementara Rendra masih dengan tampang dinginya. Rendra yang pertama kali menyadari siapa Kia. Dia juga dulu yang memesan Kia. Biasa saja melihat Aslan.


Sementara Bunda Asha senyum-senyum sendiri mau meledek Aslan.


"Sepertinya sebentar lagi suasana kantor akan segera berubah. Kalian akan bisa bekerja dengan tenang di kantor" celetuk Asha ke Rendra, Manda dan Satya.


"Why?" tanya Manda.


"Bos kita tidak akan marah-marah lagi. Lihatlah wajahnya terang benderang seperti bulan purnama sekarang" ledek Asha lagi.


Manda, Satya dan Asha menatap ke Aslan dan Kia.


"Haish kalian ini. Cari mati kalian? Berisik!" omel Aslan malu.


Aslan juga tau Kia sangat tidak nyaman berada di situ.


"Maafkan ayahmu ya Ipang. Dia terlambat menemukanmu, mulai sekarang beri hukuman ke ayahmu karena sudah mencampakanmu selama ini" ucap Bunda Asha ke Ipang yang duduk di hadapanya


"Hehehe. Iya Bunda" jawab Ipang.


Kia semakin tidak mengerti, ada apa ini? Kenapa teman-teman Aslan ini baik pada mereka. Bahkan tidak memandang Kia sebagai selingkuhan.


"Hai Nyonya Kia, apa kau masih mengingatku?" sapa Manda ke Kiam


"Iya" jawab Kia ingat Manda kan kemarin berkumpul bersama si hotel tempat karantina.


"Kita sudah dua kali bertemu, ini yang ketiga" tutur Satya menimpali.


"3 kali? Bukanya baru sekali?" tanya Kia bingung.


"Apa Anda tidak ingat? Anda mempresentasikan karya dengan baik. Saya sutradara yang akan menggarap karya Anda, Nyonya Kia" ucap Satya menjelaskan.


"Ooh, yaya" Kia mengangguk.


Setelah diperhatikan, Satya ikut datang di waktu Kia prsentasi bersama Bu Rosa. Hanya saja, saat Satya memakai kaos dengan memakai jas berdasi tampak berbeda.


"Tidak usah formal begitu? Nyonya Kia akan jadi keluarga kita, iya kan Kak?" tutur Manda menyenggol suaminya.


Kia menjadi tersipu malu. Untung saja Kia manusia normal tidak berekor, jika berekor mungkin ekornya sudah keluar saking malunya.


"Dasar Singa gila. Kenapa menempatkanku di posisi memalukan seperti ini. Siapa juga yang mau jadi keluarganya. Kenapa mereka semua tidak ada yang terlihat kaget melihatku. Harusnya kan mereka peduli dengan istri Aslan" batin Kia.


"Sudahlah. Ayo makan. Aku sudah lapar" ucap Aslan meghentikan adek dan temanya membercandai Kia dan Aslan.


Jadi siang itu sebenarnya hari ulang tahun Aslan. Tapi Aslan tidak suka dirayakan. Dia hanya ingin berbagi dengan orang terdekatnya.


Satya adalah satu-satunya saudara yang dia punya. Dan Manda istri Satya yang setia. Asha sahabat Aslan dari kecil, sementara Rendra sekertaris setianya.


Itulah sebabnya Aslan sangat bahagia bangun pagi-pagi mendatangi Ipang. Ditambah Kia datang. Sejak, tau siapa Kia, Aslan sangat bersemangat.


Dan siang ini mereka memang sudah menyiapkan makan siang. Karena Kia datang, Aslan sekalian saja membawa Ipang dan Kia menemui sahabatnya.


Mereka berempat adalah orang yang tahu bagaimana hubungan Aslan dan istrinya. Itu sebabnya mereka biasa saja Aslan membawa perempuan lain. Malah Manda sangat bahagia.


Mereka pun menikmati waktu bersama dengan makan siang dan menyampaiakan doa terbaik untuk Aslan.


"Jadi ayah ulang tahun?" tanya Ipang.


"Yess Boy!" jawab Satya.


"Maafin Ipang ayah Ipang tidak beli kado"


"Nggak apa-apa. Kamu itu kado buat ayahmu" jawab Asha.


"Ya, Bunda Asha benar" jawab Aslan.


Lalu spontan Ipang menciun ayahnya. Sementara Kia hanya menatap canggung.


Mereka bertuju kemudian menikmati makan siang bersama. Menyantap makanan yang sudah disediakan pihak restoran


"Ternyata Singa Gila ini ulang tahun kenapa tidak mengajak anak dan istrinya" batin Kia berfikir sendiri.


Kemudian Kia menyuapi Ipang dengan telaten. Ipang pun menjadi sangat bahagia. Merasa keluarganya sempurna.


"Kau makanlah sendiri, jangan suapi Ipang terus. Biar aku yang suapi Ipang" bisik Aslan perhatian

__ADS_1


"Ciee"


__ADS_2