
Hari berganti, matahari mulai naik yang menandakan mulai siang dan kita para penghuni bumi harus segera memulai aktivitas. Karena memang terdidik disiplin dari bayi, Ipang pun sudah bangun dari subuh. Sholat sendiri dan mandi sendiri.
Ipang bahagia sekali karena semalam ayahnya sudah menghubungi Ipang lagi. Dan ayahnyaakan segera kembali.
Tapi ayahnya meminta Ipang agar jangan bilang- bilang ke ibunya. Ayahnya sore nanti akan berangkat dari tempatnya sekarang. Yang kemungkinan besok ayahnya akan tiba di negaranya. Mengingat lama perjalanan dari Santorini ke Ipang 19 jam.
Selama 2 bulan ini Aslan memang mengunjungi beberapa negara. Mulai dari negara sakura, negara kincir angin, dan sekarang yang terakhir dia berada di Santorini.
Jika orang tidak tahu, dia terkesan benar- benar liburan. Sebenarnya dia reuni dan berbisnis. Mengunjungi teman- temanya, meminta bantuan, menyusun kesepakatan kerja sama dan bersiap memulai hidup baru tanpa embel- embel orang tua dan warisan.
Ipang pun sangat bersemangat. Dia kemudian keluar kamar dengan berdendang. Ipang berjalan menuju ke kelas tempat dia latihan.
Hari ini ada latian menari bersama para penari latar. Tentu saja Ipang akan ketemu dan bersama dengan Alena, karena hanya tinggal dia kawan sekaligus rivalnya.
Semenjak Daffa gugur, rasanya sangat membosankan, selain mentor Ipang tidak ada yang bisa diajak bermain dan ngobrol. Ipang ingin segera berakhir minggu itu. Dan sekarang semangat, satu minggu harus berlalu dengan baik.
Menang atau kalah, yang penting nanti dia akan pulang membawa hadiah, lalu setelahnya kembali tinggal bersama ibunya. Ipang akan bersekolah dan menemui hari indah. Karena ayahnya berjanji akan membuat dirinya mempunyai ibu dan ayah yang tinggal bersama.
Ibunya juga sudah cerita kalau Ipang punya rumah dan mobil baru dari ayahnya. Ipang pun sangat bahagia memikirkanya. Tidak sabar ingin segera pulang.
Saat Ipang membuka pitu, pintu terdorong dan menyenggol air kotor yang bau daro atas, ada yang sengaja meletakanya di dekat pintu.
Ipang pun berhenti dan memperhatikan dengan tenang meski bajunya basah dan bau. Siapa lagi kalau bukan Alena.
Dan benar saja Alena menatap Ipang dengan sinis.
“Kenapa kakak selalu melakukan ini padaku? Apa salahku?” tanya Ipang tenang.
“Stop. You are not my brother! Dengar itu! ” jawab Alena dengan wajah marah.
“Tapi ayah bilang kita saudara. Kamu kakakku,” ucap Ipang.
“He is not your father. Dia daddyku bukan daddymu. Aku bukan kakakmu titik” jawab Alena lagi.
“Kenapa kamu masih tidak terima? Daffa bilang aku mirip ayah saat ayah kecil, itu berarti aku memang anak ayah. Ayah juga selalu bilang aku anaknya. Dan kau, kau tidak mirip dengan ayah malah,” jawab Ipang jujur.
“Kamu bilang aku tidak mirip daddy, apa kamu mau bilang aku bukan anak daddy? Hah!” tanya Alena marah dan tersinggung.
Alena memang tidak mirip dengan Aslan tidak juga mirip dengan Paul, tapi mirip ayahnya yang masih dirahasiakan Paul.
“Aku tidak bilang begitu, aku hanya bilang, aku memang anak ayah. Ibuku sudah bercerita padaku, saat aku ada di dalam perut ibu, dan aku masih sebesar telur bebek, ibuku dan ayahku berpisah. Ibuku membawaku pergi jauh. Jadi kami tidak bersama, tidak sepertimu yang tinggal bersama ayah, tapi aku anak ayah. Dan kita saudara, meski ibu kita berbeda” jelas Ipang lagi.
“Bukan!” jawab Alena tidak terima dan maju mendorong Ipang sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Anak daddy is me, hanya aku, hanya aku! Aku tidak mau punya adik jelek sepertimu! Kamu anak ha*am, kamu tidak punya ayah. Kata mommy ibumu perempuan buruk dan murahan!” ejek Alena berkacak pinggang.
Awalnya Ipang mengalah dan bersikap tenang. Tapi sekarang dia terjatuh. Ipang merasakan sakit di bagian pinggang bawahnya. Bajunya pun kotor.
Dan yang lebih sakit lagi, Alena mengatai ibunya. Ipang pun tidak terima.
Ipang kemudian dengan mata dalam dan birunya, menatap Alena dengan emosi. Tanganya mengepal kemudian Ipang bangun dan balas mendorong Alena.
Brug. Alena terjatuh.
“Kamu keterlaluan,” balas Ipang menjawab Alena.
Alena kemudian bangun lagi. Lalu menyerang Ipang lagi. Alena meraih kepala Ipang dan menjambak rambutnya. Alena memang bertubuh lebih besar dan lebih berisi dari Ipang, jadi dia berani.
Dan Ipang meski bertubuh lebih kecil karena lelaki, tekadnya lebih kuat. Ipang melepaskan tangan Alena denga sekuat tenaga.
Ipang menonjok Alena dan memukul Alena dengan sekenanya. Mereka bertengkar hebat seperti anak kecil. Mereka memang anak kecil.
Merasakan sakit Alena mengeluarkan air mata dan menangis bersuara. Tapi dia tidak tinggal diam dan tetap bangun balas mencakar wajah Ipang sampai berdarah.
Merasakan sakit Ipang balas menghempaskan Alena hingga jatuh. Dan Alena menangis lebih keras. Karena masih pagi mentor mereka belum datang. Tapi ada pengasuh mereka dan petugas kebersihan.
Dan yang menemui mereka berantem adalah petugas kebersihan yang kebetulan seorang perempuan. Perempuan itupun melemparkan sapu dan berlari menolong Alena yang jatuh tersungkur di lantai, menagis dengan keras.
“Den Pangeran Non Alena? Apa yang terjadi?” tanya Mba Lia petugas kebersihan di tempat karantina.
Ipang berdiri dengan nafas memburu. Mulutnya tertutup rapat dan sedikit monyong karena cemberut menahan emosi. Bajunya kotor dan berantakan. Pipi Ipang pun merah ada bekas cakaran.
“Ipang memukul dan mendorongku, hu hu hu” adu Alena ke petugas kebersihan sambil menangis.
“Den Pangeran apa yang kamu lakukan terhadap Non Alena? Kalian tida boleh bertengkar seperti ini, ayo bangun.
"Ikut Mba Lia!” tutur Mba Lia membantu Alena bangun dan memapahnya. Mbak Lia yang tidak kenal mereka menatap Pangeran kesal mengira Pangeran anak nalal.
“Alena yang menyerangku lebih dulu” jawab Ipang membela diri.
“Sudah, sudah. Ayo ikut Mba Lia ke ruangan Bu Gita!” jawab Mbak Lia, memegang tangan Alena dan berusaha meraih tangan Ipang juga.
“Tidak mau!” jawab Alena dan Ipang kompak mereka berdua berusaha melepaskan tangan orang dewasa di depanya itu.
“Hhh... tapi Mbak Lia nggak mau liat Den dan Non bertengkar seperti ini!” ucap Mbak Lia.
Dan di saat Mbak Lia berbicara. Bu Gita pengasuh dan penanggung jawab yang sedang berjalan mereka mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Lalu Bu Gita masuk. Matanya langsung teperangah melihat dua anak karantinya dengan penampilan kacau. Rambut Ipang dan Alena sama- sama berantakan, bajunya juga iya. Di pipi alena tampak lebam merah, di pipi Ipang tampak cakaran. Fiks mereka habis berantem.
“Astaga. Kalian bertengkar lagi?” tanya Gita matanya membulat. Ini sudah yang kesekian kali mereka bertengkar.
Ipang dan Alena kemudian hanya diam dengan tatapan penuh kekesalan semua. Meski sakit mereka tetap masih ingin saling bertengkar.
“10 menit lagi Madam Alexa datang kenapa kalian malah begini? Bagaiana kalian akan berlatih jika begini?” tanya Bu Gita.
“Mereka bertengkar hebat Bu, luka di pipi Den Pangeran harus diobati, pipi Non Alena juga sebaiknya diberi salep” sahut Mbak Lia memberi saran.
“Pangeran, Alena. Dengar Bu Gita ya. Kalian memang bersaing, tapi kalian semua juara. Kalian semua bagus, kalian tidak perlu bertengkar begini. Dan juara atau tidak, itu tergantung penonton. Kalau mau menang, berdoa dan berusaha dengan baik!” tutur Bu Gita menasehati Ipang dan Alena mengira mereka bertengkar karena saingan menyanyi.
“Kalian mengerti?” tanya Bu Gita lagi.
Ipang masih tetap diam cemberut dengan mata cekungnya yang mirip Aslan. Alena juga masih cemberut dan sesenggukan karena menangis.
“Jawab pertanyaan Bu Gita, kalian mengerti?” tanya Bu Gita lagi.
“Ipang mengerti. Ipang juga tidak mau bertengar. Alena yang menyerangku Bu” jawab Ipang akhirnya.
“Ipang memukulku dengan keras Bu” jawab Alena justru mengadu.
“Dia juga mendorongku, mengotori bajuku dan melukaiku, bahkan dia yang lebih dulu Bu” jawab Ipang tidak terima.
Bu Gita dan Mba Lia hanya bisa menghela nafas. Dua anak ini dinasehati malah berantem lagi. Entah bagaimana melerainya.
“Stop. Kalian salah semua. Sekarang kalian harus salaman dan bermaafan. Setelah ini ikut Ibu ke ruang medis. Bu Gita akan obati pipi kalian!” lerai Bu Gita.
“Tidak mau!” jawab Alena dan Ipang kompak.
“Hhh” Bu Gita menghela nafasnya kesal.
“Ya sudah kalau kalian begini terus, biar Bu Gita panggil kedua ibu kalian!” ucap Bu Gita kemudian.
Ipang dan Alena diam.
“Mba Lia bantu Alena ke kamarnya, ganti baju ya Alena. Dan Pangeran ikut Bu Gitu. Biar ibu obati luka Pangeran” tutur Bu Gita membagi tugas.
“Iya Bu Gita” jawab Mbak Lia.
Lalu mereka berempat berpisah. Mbak Lia membantu Alena ke kamarnya. Berganti pakaian dan membersihkan dirinya lagi.
Bu Gita pun membawa Pangeran ke ruang medis. Bu Gita tau selama ini Pangeran anak baik. Tapi kenapa selalu bertengkar dengan Alena. Bu Gita pun kemudian ingin menanyai Pangeran detail dengan 4 mata, kenapa mereka bertengkar.
__ADS_1