Sang Pangeran

Sang Pangeran
60. Mundur dulu


__ADS_3

“Kakak serius?” tanya Satya dengan muka terperangah.


“Serius” jawab Aslan mantap tanpa kesedihan dan keraguan.


Bahkan wajahnya semakin tampan ketika dia menunjukan kemantapan berfikirnya. 


Seusai Aslan sholat dzuhur, dan seusai Satya melakukan kegiatan reading bersama para  artis, mereka bertemu di kafe galaxy untuk makan siang dan saling curhat.


Kakak adik itu memang saling menyayangi dan kompak. Hanya saja watak dan perangai mereka berbeda. Jalan dan hobi mereka juga beda


“Kaak, nggak ada jalan lain?” tanya Satya dengan tatapan frustasi. 


“Nggak ada jalan lain Satya! Ini jalan terbaik” jawab Aslan tenang. 


Lalu mereka saling diam. Satya menelan ludahnya dengan penuh kegetiran. Membayangkan kehancuran perusahaan keluarganya jika ditinggalkan pemimpinya. Satya sendiri tidak pandai berbisnis.


Bagaimana bisa Satya mempertahankan perusahaan yang mau bangkrut. Sementara Satya tidak bisa apa-apa. Apa iya mereka akan merelakan perusahaan mereka pada Paul.


“Seperti yang kakak minta, Satya jadikan Kak Paul sebagai antagonis” ucap Satya lapor mengira kakak ipar yang Aslan maksud adalah Paul.


Satya jengkel terhadap arah pikiran Aslan. Satya sendiri tidak habis pikir, jika mau bercerai kenapa Aslan malah menyuruh Satya memberi pekerjaan ke Paul.


“Paul? Ngapain urusin dia?” tanya Aslan malah kesal ke Satya. 


“Lhaah kan Kakak yang bilang, kakak nitip Kak Paul” jawab Satya tidak terima disalahkan juga.


“Haish bukan dia yang aku maksud” jawab Aslan mendesis kesal.


“Terus? Emang kakak Ipar siapa?” tanya Satya bingung.


“Ck” Aslan berdecak dengan tampang nyebelinya.


“Hmmm” Satya berdehem  kemudian ingat Kia.


“Apa perempuan itu? Ibunya Pangeran?” tanya Satya dengan tatapan menelisik ke Aslan. 


“Ehm, ehm” Aslan berdehem dengan ekspresi mukanya yang salah tingkah seperti abg yang ketahuan berkencan. 


“Bekh.., nggak nyangka Satya, Kak! Jadi secinta itu kakak? Kakak boleh jatuh cinta tapi jangan bodoh Kak” tanya Satya lagi.


“Pangeran prioritasku sekarang!” jawab Aslan singkat. 


“Jadi kakak mau ninggalin perusahaan demi perempuan itu?” tanya Satya lagi. 


“Dia ibu dari anakku, namanya Kiara Arsyila, panggil dia Kak Kia” ucap Aslan percaya diri, dan memberitahu adiknya kalau Kia harus dihormati sebagai kakaknya. 


Padahal Aslan sendiri dalam hati masih patah hati, apa bisa dapetin Kia. Tapi bukan Aslan namanya kalau tidak percaya diri dan penuh semangat. Apalagi di hadapan orang lain, Aslan sangat menjunjung tinggi harga diri. 


“Yaya, jadi kakak mau ninggalin perusahaan dan serahin ke Kak Paul karena Nyonya Kia?” tanya Satya lagi. 


“Ayah yang membuatku harus pergi meninggalkan perusahaan bukan aku. Ayah yang membuat perjanjian itu! Justru aku yang bodoh karena selama ini aku diam saja dan selalu menuruti kata Ayah. Ini tidak ada hubunganya dengan Kia. Dia tidak tahu apa-apa!” jawab Aslan tidak mau menyalahkan Kia. 


“Kan kakak sendiri dulu yang bersedia menikah dengan kak Paul dan terima perjanjian itu” jawab Satya masih tidak mau jika dirinya harus menggantikan Aslan. 


“Itu karena kakak belum tahu siapa Paul, dia terlalu pandai menyimpan bangkainya. Kakak tidak mau  hidup kakak terus terikat denganya! Aku bukan boneka” jawab Aslan.

__ADS_1


“Hemm apa kakak tidak bisa memaafkannya dan hidup berdampingan dengannya, meski tanpa cinta?” tanya Satya lagi masih merayu.


“Kau tau kan? Bahkan sampai sekarang di belakangku Paul masih menjalin hubungan itu, kau pikir aku laki-laki apaan? Sudah bosan aku memelihara ular betina. Aku juga mau punya istri seperti yang kumau” jawab Aslan lagi.


“Aku tidak melarang kakak menikah dengan orang lain. Kakak sendiri juga punya hubungan dengan ibunya Pangeran kan? Ya sudah biarkan berjalan seperti ini tanpa harus bercerai” jawab Satya mengira kalau Kia dan Aslan juga diam- diam menikah. 


“Apa maksudmu? Aku baru menemukanya setelah bertahun- tahun! Mana mungkin semua berjalan baik-baik jika aku tidak bercerai” jawab Aslan


“Maksud kakak? Jadi kakak tidak menikah?” 


“Kamu adiku. Apa iya aku menikah tanpa sepengetahuanmu! Ah sudahlah, kau tidak usah ikut campur urusanku. Tugasmu sekarang, siapkan dirimu untuk menggantikanku. Jaga perusahaan dengan sekuatmu! Dan beri Kia pekerjaan setelah aku pergi, aku titip dia” ucap Aslan panjang tapi tidak dimengerti Satya.


“Kak, kakak itu benar- benar gila ya. Satya nggak mau urus perusahaan apalagi menjelang bangkrut begini. Papah juga belum pulih Kak! Lalu apa rencana Kakak setelah ini? Aku tidak mau. Kakak jangan pergi apapun keadaannya!?”  jawab Satya membantah.


“Gue mau menikmati hidup. Perusahaan sepenuhnya tanggung jawabmu” jawab Aslan ngawur.


Tapi sebenarnya Aslan sudah memikirkanya. 


Aslan hendak merintis usahanya sendiri dengan sisa uang pribadi dan asetnya.


Aslan yakin jika diberi tanggung jawab dan pekerjaan Satya akan bisa bekerja keras dan mempertahankan perusahaan meski harus kehilangan 40% sahamnya. 


“Kak jangan begitulah, bantu aku! Tetaplah di Nareswara, aku yakin kaka bisa bertahan meski kak Paul mengambil sahamnya” ucap Satya dengan wajah memelas. 


“Itu sekaarang menjadi tugasmu!” jawab Aslan.


Aslan tidak peduli rengekan Satya, dan kemudian pergi meninggalkan Satya.


Satya hanya bisa mendesah kesal melihat punggung Kakaknya. Satya sangat bingung, kesal dan tidak mengerti dengan keputusan Aslan.


Aslan justru melenggang seperti tanpa beban. Sambil berjalan, Aslan ingat Kia, dompet, buku tabungan Kia kan masih ada di laci kantornya. 


Aslan kemudian pergi menuju ke kantornya. Hendak mengambil dompet Kia, dan mengemasi barangnya. Setelah putusan cerai, surat perjanjian pra nikah, berkas- berkas saham pasti akan segera diurus.


Dan para pemegang saham lain akan rapat menentukan pimpinan perusahaan. Dan yang pasti Aslan ingin pergi, melepaskan diri dari bayang- bayang ayahnya. Aslan memutuskan untuk bisa berdiri di kaki sendiri.


****


“Kau boleh tentukan nasibmu setelah ini!” ucap Aslan di depan Rendra. 


Mereka berdua kini berada di ruang kerja Aslan.


“Tidak Tuan, aku setia padamu” jawab Rendra.


“Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, sebentar lagi aku bukan siapa- siapa! Kau sepupuku!” jawab Aslan lagi mengetes kesetiaan Rendra.


“Sampai kapanpun, kemanapun, dan dalam keadaan apapun, anda tetap Tuanku” jawab Rendra dengan nada pasti. Aslan memang amanah yang diberikan pada ayah Rendra. Rendra berjanji akan terus bersaudara dan sukses bersama Aslan.


“Ck. Kau pikir aku tidak tahu kau sering merutukiku, kalau aku bos yang bodoh  dan menyebalkan” ejek Aslan ke Rendra dengan tatapan isengnya.


“Tapi aku tetap cinta! Tuan Bro” jawab Rendra malah membercandai Aslan dan mulai memanggil Aslan dengan panggilan anehnya.


Aslan kemudian melempar kertasnya. Sambil berdecak. Mereka kadang akrab tapi juga sering kaku.


“Urus Kia dulu!” ucap Aslan memberi perintah, kemudian melempar dompet Kia.

__ADS_1


“Kenapa tidak tuan saja yang memberikanya?” jawab Rendra berfikir biar mereka semakin dekat.


“Dia tidak akan mau menemuiku. Aku juga tidak akan menemuinya sebelum perceraianku beres” jawab Aslan. 


“Hemmm” Rendra kemudian berdehem dan terpaksa mengambil dompet Kia.


“Aku mau pergi liburan dulu setelah ini” ucap Aslan tiba- tiba membuat Rendra tercengang. 


Aslan benar- benar gila sepertinya. Hidupnya sudah tidak terarah. Bukan memikirkan bagaimana caranya agar perusahaanya agar tetap bertahan, lalu menyelesaikan perceraianya dengan tenang. Malah Aslan mau mundur dari jabatanya dan pergi liburan. Liburan kemana pula?


“Apa maksud anda liburan Tuan Bro?” tanya Rendra mulai ragu akan tetap setia terhadap Bosnya itu atau tidak, sepertinya keputusan yang salah jika mengabdi pada orang segila Aslan. 


“Rahasia! Kepo lu!” jawab Aslan santai.


“Lalu bagaimana dengan urusan perceraian anda, bagaimana dengan sidangnya?” tanya Rendra dengan suara mulai meninggi seakan menekankan. Jangan seenaknya jadi orang Aslan!


“Semua sudah disiapkan dan nanti diurus pengacara! Tinggal beres saja!” jawab Aslan lagi tanpa dosa.


“Ck” Rendra berdecak. Paling nanti dia juga yang akan direpotkan. Kini Rendra dan Satya benar-benar dibuat kesal oleh Aslan.


“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Aslan tersinggung.


“Aku khawatir terhadapmu, Bro, bagaimana kau menjalani hidupmu setelah ini? Bagaimana kau bisa mendapatkan Nyonya Kia jika hidupmu begini?” ejek Rendra akhirnya.


“Hhh” Aslan menghela nafasnya dan menatap Rendra.


Lalu menegakan duduknya. 


“Kalau kau tidak percaya padaku, kau boleh mencari bos yang lain, tapi jika kau percaya padaku, mulai sekarang kumpulkan uang dan asetmu. Lalu laporkan padaku!” ucap Aslan lagi semakin tidak dimengerti Rendra.


Dan sekarang yang setres tidak hanya Aslan tapi Rendra juga iya. 


“Sudahlah sana! Kau berikan dompet itu padanya. Dan beri dia tempat tinggal!” perintah Aslan lagi ke Rendra, melihat Rendra duduk dengan tatapan frustasi.


“Ya!” jawab Rendra, tidak mau lama-lama melihat Aslan yang menyebalkan.


Lalu Rendra dengan malas masih mematuhi perintah bosnya itu membawa dompet Kia dan sebuah kunci rumah. Rendra berjalan menuju ke ruangan Kia. Tapi ternyata Kia sudah pulang. 


Rendra mencarinya keluar tapi tidak ada. 


“Haish kenapa nggak laki nggak perempuan merepotkan semua sih?” gerutu Rendra lagi.


Lalu Rendra berfikir untuk pergi ke rumah Cyntia. Rendra pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Cyntia.


Rendra mengemudikan mobilnya dengan cepat dan fokus sehingga tidak melihat ke halte. Padahal Kia sedang duduk di halte bus depan kantor Aslan.


Kia duduk di halte dengan muka polosnya. Kia seperti orang bodoh berkomat kamit sendiri. 


“Cari kos? Ke rumah Cyntia? Kos? Numpang? Kos? Numpang? Ah bagaimana ini? Apa aku temui Aslan dan minta pertanggung jawabanya. Dia kan yang membawaku kesini dengan paksa!” Kia menghentak-hentakan kakinya sendiri dengan kesal.


“Ssshh tapi dia sangat dingin dan sombong, saat begitu dia juga seram, kenapa dia tega sekali padaku. Apa dia tidak berfikir aku jadi gelandangan tanpa uang? Ahhh dasar singa gila!” Kia berbicara sendiri lalu membentur-benturkan kepalanya ke dindig halte.


Untung halte sepi jadi tidak ada yang mengatainya orang gila.


Dan Aslan yang sedang frsutasi keluar dari perusahaanya, tanpa sopir. Karena ijin Tuhan dia melihat Kia. 

__ADS_1


“Sedang apa dia di situ? Apa Rendra tidak jadi menemuinya?” gumam Aslan melihat Kia lucu. 


Lalu Aslan menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebrangnya Kia. Aslan menelpon Rendra mengkonfirmasi. 


__ADS_2