
Meski terdengar gila, karena keputusan diambil mendadak dan secara sepihak. Tapi Aslan tetap mantap ingin segera menghalalkan Kia. Bagaimanapun jalan dan caranya, yang penting halal dulu.
Sebenarnya Aslan masih punya satu unit apartemen di kota lain, dan juga vila yang indah dan strategis tapi itu juga terletak di provinsi yang berbeda.
Aslan hanya ingin tidak jauh dari Kia dan anaknya. Aslan ingin terus bisa melihatnya memantaunya dan hidup bersama apapun yang akan mereka hadapi.
Aslan juga tidak ingin memberitahu Kia akan semua kepunyaanya itu dulu. Aslan ingin melihat seberapa dalam Kia memberikan hati padanya dan apa Kia mampu bertahan menemaninya, kelak biar Aslan beri kejutan itu sebagai hadiah.
Hari itu hari mulai sore. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh mereka tiba di rumah mewah yang Aslan beli untuk Pangeran dan Kia. Mbok Mina dan Mbak Narti yang sedang menyapu halaman dan biasanya mengenal mobil Kia tampak terbengong melihat mobil Aslan yang mewah itu.
“Itu seperti mobil Den Aslan” gumam Mbok Mina.
“Siapa Mbok?” tanya Mbak Narti.
“Ayahnya Pangeran” bisik Mbok Mina.
“Wah benarkah? Aku ingin lihat” jawab Mbak Narti penasaran dan antusias dengan laki- laki yang membuat Kia diusir kakaknya dulu.
Dan benar saja seorang laki- laki bertubuh atletik, berperawakan tinggi kekar, kulitnya putih bersih dan berwajah tampan. Matanya biru karena kakek Tuan Aslan orang Eropa.
Mbak Narti pun terbengong dan terpesona dengan ketampanan Aslan. Meski sama- sama tampan, tapi di foto dan aslinya jauh berbeda, auranya mengalihkan dunia Mbak Narti. Mbak Narti sampai panas dingin melihat ayah Ipang.
“Beruntungnya si Kia, nggak rugi deh diusir dari keluarganya yang miskin kalau sekarang hidupnya bersama pria tampan dan kaya begini” batin Mbak Narti.
Aslan turun membukakan pintu mobil Kia, lalu mengambil Ipang dari gendongan Kia dan bergantian Aslan yang menggendong. Kia pun turun membawa tasnya.
“Mbok Mina di sini?” sapa Aslan bahagia melihat si Mbok nya.
“Den Aslan, alhamdulillah ya Alloh si mbok akhirnya ketemu Den Aslan lagi” tutur Mbok Mina bahagia dan mendekat ke Aslan.
Tapi karena Aslan menggendong Ipang, mereka tidak berjabat tangan. Aslan berjalan tegap dengan ekspresi datarnya, saat melewati ruang tengah dan melihat fotonya, Aslan tersenyum.
“Sebentar lagi akan jadi kenyataan Sayang” batin Aslan. Sebentar lagi mereka bertiga akan jadi keluarga utuh.
Sementara Kia berjalan di belakang mensejajari Mbok Mina.
“Kamar Pangeran udah dibersihkan kan Mbok?” tanya Kia.
“Sudah Non”
“Okey makasih”
Karena Aslan yang membeli dan menghias rumah itu, tanpa diarahkan dia langsung masuk ke kamar Ipang. Ditidurkanya perlahan, diciumya kening Ipang dan dielus rambutnya dengan lembut.
“Sebentar lagi kita akan tinggal bersama di sini seterusnya Sayang” ucap Aslan pelan.
Kia kemudian menyusul masuk dan duduk di dekatnya. Mereka berdua sama- sama melihat Ipang yang tertidur pulas di kasurnya.
“Saat dia bangun nanti, dia pasti sangat bahagia melihat kamar barunya ini” tutur Aslan ke Kia.
Kia mengangguk tersenyum.
“Udah sore, dia belum mandi dan sholat, kubangunkan saja ya?” ucap Kia.
“Hushh ngarang kamu, jangan ganggu putraku. Dia sedang tidur” jawab Aslan tidak terima ada yang mengganggu kenyamanan putra semata wayangnya, karena Ipang terlihat tidur sangat lelap.
“Abang, dia juga anak Kia, kita harus didik anak kita disiplin dan ingat tanggung jawab, nggak baik tidur setelah ashar begini, Kia bangunin ya!” tutur Kia lagi berbeda prinsip dengan Aslan.
“Tidak! Tidak ada yang boleh mengganggunya!” jawab Aslan membantah pernyataan Kia
__ADS_1
“Bang, tapi kita nggak boleh ngebiasain anak tidur jam segini, apalagi ninggalin sholat” ucap Kia lagi.
“Nggak! Titik! Di terlihat kecapekan, lagian dia juga masih kecil kasian”
“Bang... kebiasaan itu terbentuk ya emang dari kecil”
“Nggak, kasian dia jangan diatur- atur,!”
“Lhoh diatur gimana? Abang, sebagai orang tua kita perlu dan wajib Bang, bimbing dan membentuk pribadi anak kita”
Belum genap satu hari kedua manusia yang katanya mau jadi pasangan itu sudah bertengkar dan adu pendapat lagi. Karena mendengar ibu dan bapaknya berdebat Ipang pun bangun. Ipang membuka matanya dan melihat sekeliling, ruangan baru yang baru dia lihat pertama kali.
“Ayah.. ibu...” panggil Ipang lirih melihat ibu dan bapaknya.
Kia tersenyum lebar menyambut Ipang bangun. Berbeda dengan Aslan.
“Tuh kan dia terbangun,” cibir Aslan ke Kia. Tidak mendengarkan Aslan Kia mendekat ke Ipang.
“Anak ibu udah bangun Nak, sini sama Ibu, mandi ya...kamu belum sholat ashar juga” ucap Kia membelai rambut Ipang.
Ipang kemudian mendekat ke Kia, dan duduk melihat ke sekeliling.
“Kita ada dimana Bu?” tanya Ipang.
“Kita ada di kamarmu Jagoan ayah” jawab Aslan.
“Kamar Ipang?” tanya Pangeran
“Iya, kita udah sampai di rumah baru kita, dan ini kamarmu” ucap Aslan lagi.
Ipang mengucek matanya dan melihat sekeliling lagi, ada banyak robot dan mobil- mobilan di lemari kaca di samping ranjangnya. Di sudut kamar juga terpampang piala- piala Ipang.
“Huum, bareng ayah dan ibu,” jawab Aslan lagi mengangguk dan tersenyum.
“Alhamdulillah ya Alloh, doaku dikabulkan!” ucap Ipaang girang lalu memeluk ayahnya. Tapi tiba- tiba Ipang terdiam dan melepaskan pelukan ayahnya.
“Ayah, apa Ipang boleh bertanya?”
“Ya Nak, katakan apa yang ingin kau tanya?”
“Kalau ayah, ibu dan Ipang tinggal disini, bagaimana dengan Alena dan ibunya? Apa mereka tinggal di sini juga? Bukankah kata Ayah dan Daffa Alena itu saudara Ipang? Kalau Alena kakak Ipang, berarti kita satu rumah dong?” tanya Pangeran polos.
Dheg
Aslan dan Kia saling pandang, bagaimana cara menjelaskanya ke Ipang. Apa Ipang akan mudheng dan percaya kalau Alena bukan anak kandung Aslan, dan Aslan sudah berpisah dari ibu Alena, lalu bagaimana Pangeran akan menilai Aslan.
“Sayang... Kak Alena dan ibunya kan punya rumah sendiri yang besar, jadi tidak tinggal di sini” jawab Kia menyelamatkan Aslan.
“Iya benar kata ibumu Nak” imbuh Aslan.
“Oh gitu, tapi kan Alena kakak Ipang Bu” ucap Pangeran lagi.
“Kan meski saudara tidak harus selalu tinggal satu rumah kaan? Ibu juga dengan kakak Ibu tidak tinggal serumah? Ayah dan Daddy nya Daffa juga tidak tinggal serumah kan? Mereka juga saudara” ucap Kia lagi.
“Oh iya yah” jawab Ipang penasaranya terobati. “Bagus deh kalau gitu, jadi nggak ada yang nakalin Ipang” ucap Pangeran kemudian.
Aslan dan Kia kemudian bernafas lega.
“Ya udah yook, bangun yuk mandi sholat abis itu makan” jawab Kia mengajak Ipang bangun.
__ADS_1
“Apa ayah dan ibu mau mandi juga?” tanya Ipang.
“Iya dong!” jawab Aslan.
Lalu Ipang mengerlingkan matanya dan naik ke Aslan, membisikan sesuatu ke telinga Aslan tapi masih didengar Kia.
“Ayah, kita mandi bareng sama ayah sama ibu kan hihi” ucap Ipang ke Aslan.
Aslan kemudian tersenyum nakal ke Kia, dan Kia menyernyitkan dahinya.
“Kamu bilang apa Nak?” tanya Kia.
“Ibu kita mandi bareng yuk. Aku ayah dan ibu” jawab Ipang polos.
“Ibu? Ayah? Mandi bareng?” tanya Kia heran, bisa gawat ini anaknya mikirnya udah mulai gesrek.
“Iya Bu”
“Siapa yang ajarin kamu begitu?”
“Kalau keluarga kan gitu Bu, kita liburan bareng , tidur bersama dan mandi bersama juga, di kolam renang juga” jawab Ipang polos suka mendengarkan cerita Daffa.
Bagi Ipang mimpi indahnya sebagai keluarga memang begitu. Ipang bisa tidur diapit kedua orang tuanya, setiap hari bermanja dengan ayah ibunya. Makan liburan dan bahkan mandi dan bermain air bersama.
“Tidak Nak, Ibu dan Ayah nggak bisa mandi bareng. Ipang juga sudah besar, jadi mandi sendiri” ucap Kia galak.
“Hmmm, kenapa?” Ipang bersedekap dan mengkerucutkan bibirnya tanda marah.
"Sudah ini sudah sore, jangan banyak bertanya!" jawab Kia lagi masih mode galak.
"Ipang nggak mau mandi!" jawab Ipang ngambek kembali tidur. Malah tidur tengkuran dan menutup kepalanya pakai bantal.
Kia langsung mendelik ke Aslan. “Abang yang ajarin ya?” tanya Kia dengan nada mengancam.
“Nggak kok, aku nggak ngajarin apa- apa, sumpah, Ipang tau sendiri, kalau nggak percaya tanya aja!"
"Kia nggak percaya. Ipang banyak berubah setelah kenal Abang" jawab Kia tidak percaya.
"Astaga. Sungguh Kia, tapi kan nggak ada salahnya kan kalau kita keluarga tidur bareng dan liburan bareng, ya kan?vKalau dipikir perkataan Ipang ada benarnya” jawan Aslan menaikan alisnya meledek Kia.
“Kita belum keluarga, catat! Selama belum ada kartu KK tercetak, kita masih bukan keluarga” ucap Kia tegas.
“Yaya, secepatnya Abang urus! Santai aja” jawab Aslan kalah.
Ipang yang yang sedang ngambek ternyata mendengarkan.
“Apa itu kartu keluarga Yah?” tanya Ipang membuka selimutnya.
“Besok ya kalau udah jadi ayah kasih tau,” jawab Aslan.
“Ipang, sudah jangan banyak tanya, bangun, mandi buruan!” ucap Kia tegas.
“Ipang mau mandi sama ayah” jawab Ipang masih ngambek ke Kia.
Kia melirik ke Aslan dan hanya bisa menghela nafas, setelah datang Aslan, apa- apa semuanya Aslan. Ipang jadi banyak nakal.
“Ya. Mandi yang bersih, jangan mainan ya mandinya! Abis itu sholat Ashar, ibu ke kamar ibu” ucap Kia.
“Ya Bu!” jawab Ipang.
__ADS_1