Sang Pangeran

Sang Pangeran
75. Nggak boleh Jaim


__ADS_3

Entah apa yang dibahas dan dibicarakan dua orang yang sedang puber kedua itu. Kia tertidur dengan posisi melintang memenuhi kasur, tanganya masih memegang ponsel, meski masih cantik Kia tidur dengan mulut sedikit melongo.


Cyntia yang tertidur di depan tv, tengah malam terbangun dan masuk hendak menyusul Kia tidur di dalam. Cyntia kaget melihat posisi tidur Kia.


Apalagi ponsel di tangan Kia tiba-tiba menyala. Rupanya lawan ngobrol Kia di tempat nan jauh di sana masih bersemangat menghubungi Kia dan ingin terus mengobrol dengan Kia lewat wa, tapi Kia sudah keburu terlelap.


"Jam tiga? Hoh, luar biasa" batin Cyntia melihat jam dinding sambil menggelengkan kepala.


"Kia chattingan sama siapa sih?" batin Cyntia lagi.


Karena ponsel Kia menyala-nyala Cyntia jadi gatal buat kepo dan menelisik. Kia biasanya tidur manis, rapih di posisi membujur dan memakai selimut. Hari ini bantal bertebaran, posisinya melintang, sampai Cyntia bingung mau tidur dimana.


"Ehm, Ki... bangun!" panggil Cyntia menoel bahu Kia agar bangun. Tapi Kia tidak bergeming.


"Kia... yang bener dong posisi tidurnya! Gue mau tidur juga nih!" ucap Cyntia menggoyangkan tubuh Kia lebih keras agar Kia menggeser tubuhnya.


"Emmmpt" Kia hanya melenguh, karena saking ngantuknya, malah memalingkan tubuhnya dan semakin lelap.


"Ish" Cyntia mendesis kesal, kenapa tidur Kia berantakan sekali. Karena kesal Cyntia iseng melihat layar ponsel Kia, mengintip siapa yang masih mengirimi Kia pesan di jam dini hari.


"Huh" Cyntia langsung menutup mulutnya tersenyum girang. Lalu menatap Kia yang tertidur dengan tatapan mengejek dan mengkerucutkan bibirnya.


"Dasar lo Ki, dari dulu punya sifat jaim nggak berubah. Pacaran sampai molor gini! Hhh, kenapa nggak nikah aja sih? " umpat Cyntia dalam hati.


Lalu Cyntia dengan terpaksa menata bantalnya, dan membetulkan posisi tidur Kia. Menyelimutinya dengan rapih selayaknya kakak ke adiknya.


"Hhh. Lo ternyata berat ya Ki. Untung Aslan gede semoga dia nanto nggak ngeluh dengan badan lo!" keluh Cyntia karena Kia yang sekarang lebih berisi. Lalu mereka berdua tidur bersama


****


Pagi harinya, matahari bersinar cerah. Secerah wajah Kia yang berseri-seri dan bersemu merah.


Bahkan jika hari-hari sebelumnya saat bangun tidur Kia membuka mata berdoa, bangun dan menuju ke kamar mandi, sekarang berganti. Bangun membuka mata berdoa, Kia langsung mencari ponselnya. Kia pun senyum-senyum sendiri membacanya.


"Ehm, ehm" Cyntia berdehem meledek Kia yang senyum-senyum sendiri.


Kia diam dan melirik ke Cyntia malu ketahuan tersenyum sendiri.


"Kamu batuk?" tanya Kia cemberut.


"Semangat banget liatin ponselnya" sindir Cyntia.


"Nggak kok biasa aja!" jawab Kia wajahnya memerah.


"Masak?" jawab Cyntia lagi tidak berhenti menggoda Kia dan ingin Kia ngaku atas kemajuan hubunganya.


"Apa sih? Nggak jelas! Udah ah. Aku mau cuci muka mau sholat" jawab Kia menghindari Cyntia, lalu menyibakan selimut dan bergegas ke kamar mandi.


"Ck" Cyntia hanya berdecak sendiri melihat kelakuan Kia. Udah punya anak tapi jaimnya melebihi anak SMP.


Cyntia kemudian menyusul Kia ke kamar mandi cuci muka sikat gigi. Cyntia hanya memandangi Kia saat Kia sholat.


Entah kenapa Cyntia belum tergugah untuk ikut menunaikanya. Tapi diam-diam Cyntia memperhatikan Kia.


"Lu nggak sholat?" tanya Kia menegur Cyntia saat Kia selesai sholat.


"Ya nanti!" jawab Cyntia malas.


"Nanti kapan?" tanya Kia lagi mendesak.


"Berisik!"


"Sholat Cyn, selagi kita punya kesempatan" tutur Kia tidak canggung menasehati temanya. Cyntia diam menggerakan bibirnya berfikir.


"Yaya!" jawab Cyntia lalu bangun dari rebahanya.


"Ingat, k**atian tidak mengenal usia lho!" tutur Kia lagi.


"Yaya. Nih aku mau sholat!" jawab Cyntia akhirnya bangun dan ikut sholat.


Kia pun tersenyum. Sahabatnya yang dulu mantan sugar baby akhirnya mau ambil wudzu dan menggunakan mukenahnya untuk bersua pada Sang Maha Pengampun.


Kia kemudian keluar kamar, dan menjadi sarapan setiap hari, saat membuka pintu dan menoleh ke ruang TV yang dilihat wajah Aslan. Kia kemudian tersenyum sendiri untuk yang kesekian kali.


"Untung ganteng jadi nggak ngebosenin dilihat" batin Kia mengakui Aslan ganteng. Aslan memang ganteng sih.


Kia kemudian ke dapur merebus air dan membuat masakan. Sementara Cyntia kembali naik kelas kasur dan bermalas-malasan. Kebiasaan Cyntia di rumah kan memang sebagai Nyonya. Berbeda dengan Kia yang berperan sebagai single parent.

__ADS_1


Pagi itu Kia sudah mulai masak karena kemarin sudah menyempatkan diri berbelanja. Kia pun membuat sarapan nasi, tumis buncis dan udang, lauknya ikan goreng.


Tidak lupa Kia menyediakan infus water berisi lemon dan daun mint ditambahi madu. Kia menyajikanya dengan gelas cantik. Mencium bau masakan dan menyadari Kia lama di luar Cyntia ikut keluar kamar masih dengan muka bantal.


"Waaah, lo masak semua ini Ki?" tanya Cyntia heran, Cyntia tidak menyangka Kia pandai masak dan serajin ini.


"Hemmm"


"Istri idaman emang lo. Udah buru nikah!"


"Apaan sih?" jawab Kia cemberut.


"Kayaknya enak nih. Gue jadi laper!" ucap Cyntia lagi dengan bola mata berbinar-binar.


"Hemm, Lo nggak boleh makan!" ucap Kia ketus.


"Ish pelit banget!"


"Sapu dulu tuh halaman sama rumah! Baru makan. Nggak gratis ya, gue udah capek lo baru bangun" gerutu Kia tanpa bosa basi ke Cyntia.


"Hemmm, ogah!" jawab Cyntia tidak tahu malu. Karena selama ini Cyntia memang selalu dilayani.


"Ingat lo numpang!" ucap Kia kasar.


"Ingat juga lo hampr jadi gelandangan kalau nggak gue tolongin. Waktu lo di rumah gue, gue juga nggak nyuruh lo ngerjain gituan kok!" jawab Cyntia membela diri. Mereka berdua memang selalu berdebat tapi nggak sakit hatia dan tetap saling sayang.


"Ya gue beda. Kan gue nggak ada pembantu! Lo banyak pembantunya. Pokoknya sekarang buru sapu halaman kalau masih mau di sini!"


"Hemm beneran gue harus nyapu?"


"Iyaah!"


"Jadi pembokat nih gue?" tanya Cyntia sedih.


"Ya ampun! Nyapu doang!" ucap Kia greget


"Gue artis lho Ki!"


"Baru mau, oke! Film lo belum keluar. Lo belum sah jadi artis!"


"Hemm, Ck"


"Ya oke" jawab Cyntia menyerah dan meraih sapu. Lalu mereka berdua bekerja sama membersihkan rumah. Jadi Kia merasa senang, merasa ada keluarga dan tidak kesepian.


Setelah rumah bersih. Mereka mandi dan sarapan bersama.


"Eh lo nggak makasih sama gue?" tutur Cyntia di sela-sela makan.


"Makasih kenapa? Lo lah yang harus makasih ma gue" ucap Kia.


"Gue semalam udah benerin tidur lo. Natain bantal lo. Sebbel gue. lo chattingan sama siapa sih? Sampai malam gt?" tanya Cyntia pura-pura tidak tahu dan ingin terus mencecar Kia.


"Ehm!" Kia berdehem malu, tidak mau menjawab. Semalam Kia memang chattingan sampai lupa waktu dan ketiduran. Nggak tahu kenapa rasanya asik aja bahas Ipang dengan bapaknya.


Cyntia kemudian terus mengejar dan memojokan Kia agar bercerita. Cyntia mencondongkan mukanya maju dan menatap Kia tajam.


"Jam 3 pagi masih nyala dan berkelap kelip ponsel lo! Asik banget pembahasanya. Bahas apa sih?" tanya Cyntia kepo dan rese maksimal.


"Apaan sih?"


"Lo udah jadian sama Bapaknya Ipang?" cecar Cyntia lagi.


"Ehm. Kepo banget sih lu!" jawab Kia mukanya memerah lalu menghindar dari Cyntia pura-pura mengambil sapu.


"Jadi beneran lo udah jadian?" tanya Cyntia lagi masih mengejar Kia.


"Jadian apaan? Ngarang!"


"Perempuan dan laki-laki dewasa, udah punya anak, chattingan sampai malam bahas apa coba?" ledek Cyntia.


"Iiih, apaan sih?"


"Kiaa. Gue itu udah berpengalaman masalah pacaran. Lo sekarang berjilbab dosa lho chattingan malam-malam sama lawan jenis. Pasti bahas itu ya?" tanya Cyntia dengan mata genitnya. Cyntia kan mantan sugar baby pikiranya kemana-mana.


"Astaghfirulloh! Kok lo mesum sih Cyn, gue nggak gitu?" jawab Kia tidak terima.


"Bukan mesum, gue tanya baik-baik kalian chattingan sampai jam 3 pagi ngapain? Bahas apa? Kalian jadian?"

__ADS_1


"Cyntia. Kita bahas Ipang. Ok! Gue putusin untuk nggak menjauh dan bermusuhan dari dia. Kita sepakat buat jadi sahabat dan sama-sama asuh Ipang" tutur Kia tegas tidak mau dituduh.


"Ah hahahaha, Kia Kia" Cyntia malah ketawa.


"Kok lo ngetawain gue sih? Beneran, gue sama dia berusaha akur, akur! Kita sahabatan sekarang" jawab Kia lagi. Cyntia malah nepuk jidat.


"Umur lo sekarang berapa sih?" tanya Cyntia.


"Emang kenapa?"


"Nggak ada di dunia ini laki-laki dan perempuan apalagi sedewasa kalian. Yang bisa bersahabat tanpa ada rasa? Kalian itu udah pernah tidur bareng, menyatu. Apalagi ada Ipang di antara kalian! Udah sih apa susahnya lo ngaku ke gue. Lo suka kan sama Aslan? Menikahlah kalian!" tutur Cyntia gamblang ke Kia.


"Ehm!" Kia kemudian diam salah tingkah. Benar memang kata Cyntia.


"Gimana reaksi Jeje ketemu lo?" tanya Cyntia lagi menagih hutang semalam dan penasaran. Kia yang menunduk malu langsung mengangkat wajahnya.


"Kok lo jadi tanya dia? Bete gue!" jawab Kia ketus kesal mengingat orang di masa lalunya.


"Apa dia masih ngenalin Lo? Dia bilang apa? Setau gue. Dia putus dari Melly. Dan sampai sekarang masih sendiri" tanya Cyntia mengkhawatirkan Kia.


"Pantas!" lirih Kia dengan tatapan kosong.


"Pantas gimana?"


"Kalau nggak ada Rendra. Gue mungkin sampai sekarang belum pulang Cyn. Jeje nggak berubah dan justru lebih parah" tutur Kia menceritakan hal buruk yang hampir menimpanya.


"Emang dia ngapain kamu?" tanya Cyntia antusias.


"Dia mau culik gue. Dia bekap gue. Dan mau bawa gue. Untung ada Rendra suruhan Aslan yang ternyata ikutin Gue"


"What?" tanya Cyntia kaget tidak mengira segila itu Jeje.


"Iya. Gue juga nggak nyangka. Jeje masih saja berhati iblis. Dan yang lebih buat gue kaget. Ternyata Aslan nyuruh asistenya buat awasin gue?" ucap Kia lagi cerita.


"Woah. Ck ck ck" Cyntia langsung menanggapi cerita Kia dengan senyum- senyum siap meledek Kia.


"Kenapa?"


"Kurang apa coba Ki? Si Aslan itu. Lo tunggu apa lagi buat terima dia. Liatlah dia udah nyiapin rumah ini buat Lo. Masih suruh orang awasin Lo. Apa yang lo raguin dari dia?" tanya Cyntia banyak ingin menyadarkan Kia.


Kia kemudian menelan salivanya. Kia sendiri memang menyadari kebaikan Aslan. Sejak tau Ipang anaknya, Aslan selalu melakukan sesuatu yang di luar perkiraan Kia.


Merekrutnya kerja, dikasih posisi dan gaji tinggi meski tidak sesuai kualifikasinya. Memberikan rumah, dan masih mengawasi Kia. Kia sadar itu semua adalah perbuatan Aslan.


"Dia suami orang Cyntia. Gue nggak mau jadi pelakor atau simpanan!" ucap Kia lirih melawan perasaanya sendiri.


"Kan dia mau cerai sama istrinya. Kata Lo sendiri kan?"


"Tapi kan itu baru perkiraanku? Dan kalau benar iya karena aku. Aku akan mencegahnya"


"Kok lo gitu? Harusnya kamu seneng kalau mereka bercerai kalian jadi keluarga utuh!"


"Tapi gue jahat kalau gue buat mereka pisah. Kasian Alena!"


"Tapi kan lo nggak tau rumah tangga mereka sesungguhnya. Setau gue Paul itu emang bukan istriku yang baik"


"Hemm, kalau benar mereka akan bercerai, apa sebabnya? Benar bukan karena kedatangan kami?"


"Ya lo tanya lah sama dia. Kalian kan udah chattingan, menurutku emang mereka udah bermasalah" ucap Cyntia.


"Nanti dia ke GRan lagi" jawab Kia lirih masih menyimpan gengsi yang tinggi.


"Aiiih. Kalian ini. Udah berumur juga sukanya jaim-jaiman. Ya udah apa perlu gue yang cari tau?"


"Nggak usah. Udah sih, gue nggak mau tau urusan mereka. Gue akan tetap jaga jarak dan jadi sahabat yang baik denganya!"


"Kia hanya dengan kamu menikah kamu bisa aman dari jangkauan orang-orng macam Jeje Ki, terimalah lamaran Aslan"


"Dia udah setuju kok buat nggak bahas nikah"


"Itu karena kamu nolak dia. Tapi menurutku dia sungguh masih serius ajakin kamu nikah!" tutur Cyntia lagi.


Di saat mereka mengobrol pintu rumah Kia diketuk. Mereka berdua kemudian terdiam. Menoleh ke sumber suara.


"Siapa pagi-pagi ke sini?" tanya Cyntia.


"Entahlah. Kan belum ada yang tahu kita di sini" jawab Kia bangun mau buka pintu.

__ADS_1


"Biar aku aja. Kamu belum pakai jilbabmu kan?" tutur Cyntia mencegah Kia keluar.


Meskipun Cyntia memakai baju seksi tapi Cyntia menghormati dan mendukung Kia yang sekarang menutup auratnya. Jadi Cyntia mengingatkan Kia sekarang masih terbuka dan tidak boleh keluar menemui orang asing dulu.


__ADS_2