
“Dari unit sebelah sepertinya, Shel!” ucap Cyntia mengalihkan perhatian Shela.
Shela menatap Cyntia kemudian menoleh ke lemari Cyntia.
“Oh ya?” tanya Shela dengan tatapan tidak percaya.
Cyntia menelan ludahnya gelapagapan dan terlihat panik.
“Iya bener, aku suka denger gitu, biasa ada bunyi- bunyi gini!” jawab Cyntia lagi berbohong.
“Unit sebelah itu, sebelah sana, bunyinya dari sebelah sini! Sini kan tembok gedung, iya kan?” tanya Shela cerdas.
Lemari Cyntia kan memang mepet tembok tepi gedung. Matilah Cyntia dan tidak bisa berkutik lagi.
“Lo salah denger, bunyinya dari sebelah sana bukan sebelah sini!” jawab Cyntia lagi beralasan dan merayu Shela.
Tapi sepertinya Shela tidak cukup bodoh dan mudah dibohongi. Shela bangun dan berniat membuka lemari.
Jantung Cyntia berdegub semakin kencang. Muka Cyntia memerah, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi kalau Shela sampai tahu bahwa Cyntia dan Rendra udah "itu" bersama.
“Lo mau kemana?” tanya Cyntia mencegah Shela maju.
“Gue mau mastiin!” jawab Shela.
“Mastiin apa? Nggak ada apa- apa!” jawab Cyntia terus berusaha meyakinkan Shela.
Shela tetap Shela, sesuai dengan sifatnya yang bawel. Awalnya Cyntia memilih Shela jadi asisten sekaligus managernya karena merasa cocok dengan sifat Shela yang setipe dengan Cyntia. Sayangnya, sifat Shela yang terlalu merasa dekat dengan Cyntia jadi bumerang.
Shela tidak percaya Cyntia yang sifanya sebelas dua belas dengan dirinya. Jadi Shela tidak mudah dibohongi lagi, karena dia sendiri paham celah- celah orang berbohong dan tau akal bulus orang kaya Cyntia.
“Ya udah, kalau nggak ada apa- apa nggak usah panik gitu dong mukanya! Selow aja!” jawab Shela dengan dengan tatapan cerdiknya.
Cyntia pun hanya bisa menggigit jari dengan jantung yang berdegub kencang dan emosi yang membuncah ingin memarahi kebodohan Rendra. Kenapa juga Rendra harus bersuara?
“Klek!” Shela membuka pintu lemari.
“Mati aku!” batin Cyntia tidak berani menoleh ke Shela ataupun isi lemarinya.
“Whoah!” Shela pun langsung menutup mulutnya dan membulatkan matanya dengan sempurna.
Saking syoknya Shela terhuyung dan jatuh pingsan. Betapa tidak, Shela melihat seseorang yang selama ini terlihat berwibawa, cool dan elegan di kamera, bahkan Shela mengaguminya. Di depan mata Shela pria itu meringkuk dengan celana kolor dan kaos dalam mendekap pakaian resminya, seperti tersangka yang kabur dari kejaran massa.
“Shel....hei lo kenapa?” seru Cyntia langsung berusaha membantu Shela yang pingsan ke lantai. “Shell bangun Shell!” panggil Cyntia panik menepuk pipi Shela, tapi tidak ada respon.
Cyntia pun langsung melirik kesal ke Rendra yang tampak seperti maling tertangkap basah. Rendra, pun hanya bisa nyengir dengan ekspresi datar dan muka pucatnya.
“Haish, dasar bego lu, kenapa lo harus bersuara sih, jadi gini kan? Gimana nih?” umpat Cyntia mengumpat ke Rendra sambil menunjuk Shela yang pingsan.
“Tauk!” jawab Rendra enteng mengedikkan bagu.
Rendra keluar dari lemari, Rendra malah merentangkan tubuhnya yang terasa pegal karena engap dan kaku meringkuk.
“Eh sinting emang lu, ya. Enak aja, tau tau! Bantu dong!” sahut Cyntia dengan emosi di ubun- ubun.
“Bantu apa?” tanya Rendra tanpa merasa bersalah.
“Ya bantu gue buat dia sadar!”
“Dia sebentar lagi sadar kok. Dia syok aja!” jawab Rendra lagi dengan enteng.
“Syok aja gimana? Dia pingsan begini, lo harus tanggung jawab! Urusin dong!" pinta Cyntia lagi panik.
__ADS_1
“Tanggung jawab gimana? Dia kan temen lo, urusan lo lah! Gue mau pulang!” jawab Rendra lagi dengan santai malah memakai celana panjangnya.
“Pulang?” tanya Cyntia melotot.
“Iyalah ngapain gue di sini?” jawab Rendra enteng malah memakai kemejanya. Kini Rendra sudah rapih lagi.
“Bug!” Cyntia langsung menggerakan kakinya menendang lutut belakang Rendra sekuat tenaga.
“Auw!” pekik Renda reflek menekuk kakinya dan tersungkur jatuh.
“Wah parah lu ya!” umpat Rendra ke Cyntia sambil menahan sakit.
“Lo mau kemana? Enak aja kabur! Bantu gue dong angkat Shela ke tempat tidur, bantu gue urusin dia!” ucap Cyntia berkacak pinggang mengomel ke Rendra yang terjatuh.
“Temen lo kaget doang, nanti juga bangun sendiri, gue harus kerja!” jawab Rendra sambil menggaruk rambutnya malas, dan muka datar. Rendra bersikap seakan semua baik- baik saja dan tidak ada yang terjadi, entah apa yang ada di dalam pikiranya.
Berbeda dengan Cyntia. Cyntia mengeratkan rahangnya seakan siap memakan dan menghabisi Rendra lagi. Bisa- bisanya Rendra mau kabur setelah apa yang dia lakukan. Dan yang lebih parah lagi, bisa bisanya Cyntia tidur dengan laki- laki macam ini.
“Haish!” Desis Cyntia maju dan langsung berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu kamar Cyntia. Cyntia memasukan kunci itu ke celah pakaian pembungkus kedua aset mahalnya yang sekarang penuh cap kepemilikan dari Rendra.
Melihat kelakuan Cyntia Rendra pun terbengong dan menelan ludahnya. Rendra baru tau senakal apa Cynntia itu, padahal di luarnya Cyntia terlihat anggun dan cantik.
“Lo nggak akan bisa pergi sebelum lo bantu gue urus temen gue yang pingsan! Ngerti!”ucap Cyntia tegas.
Rendra kemudian menatap Cyntia dengan bersedekap dan mengulum lidahnya. Memandangi wanita yang memuaskanya semalam dengan tatapan kesal.
“Temen lo baik-baik aja, nggak perlu gue urus. Kerjaan gue banyak, gue harus ketemu banyak orang, gue bisa dimarahin Aslan kalau sampai telat!” ucap Rendra memberitahu agendanya.
“Bodo!! Ngerti!” ucap Cyntia dengan penekanan dan mengeja kata bodo dengan keras. Cyntia tidak peduli alasan Rendra.
“Ya Tuhan, kenapa gue harus ketemu nenek sihir kaya lo sih!” gerutu Rendra.
“Ya oke! Gue bantu! Abis ini bebasin gue!”
“Ya nggak bisa dong! Sampai dia sadarlah! Kalau ternyata terjadi sesuatu sama temen gue, gimana? Lo harus tanggung jawab!” jawab Cyntia nyerocos.
“Ck!” Rendra hanya berdecak melirik ke Cyntia malas menjawab.
Rendra melakukan apa yang disuruh Cyntia, membantu mengangkat gadis yang bertubuh berisi itu, ternyata Shela lumayan berat. Lutut Rendra yang sakit jadi tambah sakit sehingga Rendra hampir jatuh lagi dan meletakan Shela kasar.
Shela sebenarnya terbangun karena hal itu, tapi Shela juga licik ingin mengerjai Cyntia dan Rendra. Shela menahan pusing dan kagetnya tetap dengan mata terpejam. Shela ingin mendengar percakapan idola dan partner kerjanya itu.
“Hati- hati dong! Dia manusia bukan barang!” tegur Cyntia, melihat Rendra menjatuhlan Shela kasar.
“Ya lo juga liat dong temen lo segede gini, kaki gue juga masih sakit. Buka pintunya, gue harus pergi!” jawab Rendra ingin segera pergi sambil meregangkan bahu pegalnya.
“Enak aja, nggak ntar dulu!” jawab Cyntia.
“Haishh, segitu cintanya ya lo sama gue!” cibir Rendra masih saja ke Gran.
“What!?” tentu saja mendengarnya, Cyntia jadi kesal lagi.
“Lo nggak puas udah perkosa gue semalem terus lo masih mau nyandra gue?” tanya Rendra lagi semakin membuat Cyntia naik darah.
“Bug!” Reflek Cyntia langsung menimpuk Rendra dengan bantal yang ada di dekatnya, dengan memicingkan matanya dan memonyongkan bibirnya kesal.
“Auh! Bar bar banget sih lo!” cibir Rendra mengambil bantal itu.
“Lo itu kalau ngomong dijaga, siapa juga yang perkosa lo, siapa juga yang sandera lo. Lo yang keenakan, lo yang perkosa gue. Untung aja gue nggak laporin lo. Lo harus tanggung jawab nggak boleh asal kabur, Shela pingsan gara- gara kebodohan Lo! Kalau ternyata dia punya sakit jantung terus nggak sadar- sadar gimana?” omel Cyntia panjanh kali lebar kali tinggi emosi, malah mengacuhkan Shela yang pingsan.
“Nggak, dia bentar lagi sadar, kasih minyak kayu putih juga dia sadar!” jawab Rendra santai, tidak mengindahkan omelan Cyntia.
__ADS_1
“Tetep aja, lo harus bantu gue jelasin juga ke dia, dia pasti akan minta penjelasan tentang hubungan kita!” ucap Cyntia lagi.
“Ya itu urusan lo lah, dia teman lo, terserah lo mau jelasin apa. Gue harus ketemu Aslan sekarang juga dan gue banyak kerjaan. Jadi tolong buka pintunya dan biarin gue pergi!” jawab Rendra lagi.
Rendra memang harus mengurus beberapa urusan kerjaan dan perintah Aslan.
“Lo pikir yang punya kerjaan cuma lo? Gue juga. Jadi nggak usah sok sibuk. Tanggung jawab!” bentak. Cyntia lagi.
“Haish!” desis Rendra kesal lalu maju mendekati Cyntia. “Apa kamu memintaku, mengambil kuncinya di situ?” tanya Rendra pelan dan berani sebagai laki- laki normal melirik ke dada Cyntia.
“Ehm!” meskipun Cyntia sok berani, tetap saja dia jadi dheg- dhegan diperlakukan seperti itu.
“Baiklah, kamu boleh pergi, tapi ada satu syarat!” jawab Cyntia kalah.
“Apa?"
"Jangan sampai Kia dan Aslan tau apa yang terjadi semalam!” ucap Cyntia lirih dan menunduk.
Cyntia tau, Kia yang sekarang kan paham agama, pasti Kia akan marah besar dan maksa Cyntia nikah. Kia selalu berpesan pada Cyntia tinggalkan kehidupan kelam dulu, ampunan Alloh itu luas, tapi jangan lakukan kesalahan yang sama.
“Ya! Mana mungkin gue kasih tau mereka, gue juga ogah kali diceramahi Bu Kia dan disuruh nikahin perempuan Bar bar kaya Lo!” jawab Rendra lugas dan jujur secara tidak langsung menghina Cyntia.
Meski sedikit, kata- kata Rendra menyentil persaan Cyntia, tapi Cyntia yang gengsian tidak mau menampakanya. Cyntia juga masih kesal dan ogah punya suami kayak Rendra.
“Oke!” jawab Cyntia mengangguk, mereka bersepakat merahasiakan hubungan mereka.
“Oke, urus temanmu! Biarin gue pergi, dan lupakan apa yang terjadi semalam!” ucap Rendra lagi dengan mudahnya. Padahal Rendra sendiri tidak akan bisa lupa.
Cyntia kemudian patuh dan mengambil kuncinya, lalu Cyntia memberikan kunci kamarnya agar Rendra bisa pergi.
“Ngomong- ngomong dompet dan ponsel gue mana ya?” tanya Rendra merogoh saku celananya mencari kunci apartemenya tidak ada, biasanya kan Rendra sakuin.
“Mana gue tau!” jawab Cyntia.
Di saat yang bersamaan di bawah selimut Cyntia berbunyi nada dering ponsel Rendra. Rendra pun langsung meraih dan mengangkat panggilanya.
“Ya, bereskan!” ucap Rendra singkat. Rupanya itu dari bawahanya, lalu Rendra berniat pergi.
“Tunggu!” cegah Cyntia lagi menghentikan Rendra.
“Apalagi?”
“Mengenai Paul!” jawab Cyntia serius.
“Kenapa?”
“Gue punya bukti perselingkuhan Paul dan Nicholas, gue tau Aslan nggak salah, dan gue juga nggak mau Kia disudutkan! Apa gue boleh speak up di publik?” tanya Cyntia.
Cyntia geram dengan media yang menyudutkan Aslan dan Kia. Cyntia kan juga artis viral yang followersnya banyak, jika Cyntia speak up pasti akan ngaruh.
Rendra diam menghela nafasnya dan menatap Cyntia tajam. Ditatap seperti itu, janting Cyntia jadi berdebar-debar. Jika tidak sedang bertengkar, Rendra memang terlihat tampan.
“Jangan gegabah buat speak up, harus dipikirkan dulu jangan sampai tambah masalah, kita perlu bahas dengan Aslan! Dia bukan orang yang suka bawa masalahnya ke media! Simpan buktimu, kita diskusikan nanti malam, sampai ketemu di ITV!” jawab Rendra serius dan dingin.
“ITV?” tanya Cyntia tidak ngeh.
"Iya!"
"Ngapain di sana?" tanya Cyntia lagi.
“Tante macam apa kamu? Kamu nggak ingat sekarang hari apa?” jawab Rendra dengan bahasa tersirat, maksud Rendra, nanti malam kan acara finalnya Ipang, mereka bisa bertemu dan bahas masalah itu. Di sana juga mereka akan memutuskan setelah Ipang aman.
__ADS_1