
Tuan Alex , Nyonya Jessy dan Paul turun dari mobil dengan percaya diri. Mereka berjalan layaknya bintang, Paul sih memang selebritis.
Seperti perkiraan Tuan Alex, mereka disorot banyak kamera. Penampilan mereka dari ujung kaki sampai ujung kepala menjadi sorotan.
Di dekat pintu masuk terdapat tempat berfoto. Mereka pun berhenti sejenak di situ. Saat mereka hendak menyapa awak media dengan ramahnya, tanpa disangka dan diduga mereka dihampiri sekelompok orang. Terlihat beberapa laki- laki berbadan tinggi tegap berseragam coklat dan membawa senjata. Mereka mendekat ke Tuan Alex.
“Selamat malam Tuan Alex!” sapa salah satu orang dari rombongan itu.
“Selamat malam, bagaimana ada apa ya? Apa yang bisa saya bantu?” tanya Tuan Alex.
Tuan Alex masih bersikap santai dan justru semakin ingin menampakan kebaikanya. Bahkan Tuan Alex mengira mereka segan dan hendak memberi hormat ke dirinya, karena mereka tau Tuan Alex menjadi bakal calon gubernur.
“Maaf, Tuan Alex! Berdasarkan surat tugas dari kantor, anda kami tangkap, silahkan ikut kami ke kantor!” tutur salah seorang dari rombongan itu dengan sangat jelas.
Seketika, para awak media yang sangat jelas melihat, bahkan merekam kejadian itu saling pandang, mereka langsung berkasak kusuk. Mereka juga memperlebar ukuran lensa kamera mereka agar mendapatkan gambar berita sedetail dan seakurat mungkin.
"Kalian tahu, kalian berhadapan dengan siapa? Coba ulangi perkataan kalian!" tanya Tuan Alex dengan angkuhnya.
"Ya. Tuan Alex Yohan Abigail, anda kami tangkap. Kami ditugaskan untuk menangkap Anda!" jawab orang tadi.
“Menangkap? Menangkap apa? Saya tidak ada salah apa- apa? Kalian jangan sembarangan ya. Hati - hati kalian! Dari unit satuan mana kalian bekerja? Saya bisa buat kalian dipecat!” jawab Tuan Alex emosi dan tidak terima.
Tuan Alex malah berani mengancam. Di situ wajah asli Tuan Alex yang sombong mulai terlihat. Padahal dari kemarin aura low profil dan ramah sempat dia bangun dengan apik.
Paul dan Nyonya Jessy juga ikut menegang dan bingung. Kenapa tiba-tiba ada banyak polisi datang.
“Anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana atas nama Tuan Surya Adipala dan peristiwa kebakaran di kantor cabang Nareswara beberapa tahun lalu!” ucap Polisi tegas dan mengeluarkan surat tugas.
Dheg
Paul dan Bu Jesy syok, mereka saling pandang. Bu Jesy langsung engap dan menepuk dadanya. Paul juga melotot bingung. Tuan Surya Adipala, siapa dia?
Tuan Alex langsung keringat dingin dan tercekat mendengar nama Surya Adipala. Tuan Alex menatap ke sekelilingnya, semua kamera awak media persis seperti impianya, terpusat menyorot dirinya dan mukanya. Bahkan sinar lampu kamera begitu terang terkumpul dan terpusat ke dia.
“Siapa Surya Adipala? Saya tidak kenal? Anda salah orang! Saya tidak mau ikut kalian!” bantah Tuan Alex tegas dan menolak dibawa polisi.
“Anda bisa jelaskan ini di kantor Tuan, mohon bekerja samalah dengan baik! Mari ikut kami!” tutur Polisi berusaha bersikap profesional dan hormat.
“Tidak, kalian salah, aku tidak bersalah apa- apa. Pergi kalian!” jawab Tuan Alex malah melawan polisi.
“Maaf Tuan Alex Abigail, jika anda bersikap seperti ini, terpaksa kami akan melakukan dengan paksaan!” jawab Polisi bersiap menangkap Pak Alex dengan paksa.
Pak Alex pun celingukan dan tampak mencari jalan ingin melarikan diri. Sayang seribu sayang, dirinya kini di tengah kerumunan. Jalan padat oleh banyak wartawan. Tuan Alex tidak bisa bergerak, polisi pun langsung membuka borgol dan membawa Tuan Alex dengan paksa.
"Maaf Tuan. Anda kami tangkap!" ucap Polisi
"Tidak, jangan kurang ajar kalian. Lepaskan saya. Inu kesalahan, kalian salah! Lepas!" Tuan Alex terus membela diri, sayangnya borgol sudah melingkat di kedua tangan Tuan Alex. Polisi pun memaksa Tuan Alex berjalan ke mobil.
Melihat hal itu Paulina dan Nyonya Jessy tidak terima.
“Pak, apa- apaan ini? Kenapa bawa Papa saya!” seru Paulina.
__ADS_1
“Suami saya tidak pernah bermasalah, kalian salah tangkap, ini fitnah! Lepaskan suami saya!” seru Nyonya Jesy ikut membela.
“Maaf Nyonya, untuk lebih jelasnya silahkan ikut kami ke kantor!” jawab salah seorang Polisi sopan mereka memaksa Tuan Alex berjalan masuk ke mobil polisi.
Bu Jessy pun panik tidak karuan. Tidak peduli Alena, Nyonya Jessy meminta Paul untuk ikut ke kantor polisi dan memanggil pengacara. Paul pun melupakan Alena dan segera mengurus pembelaan akan bapaknya.
Sebenarnya begitu laporan Aslan diterima Polisi langsung memproses dan mengolah bukti- bukti. Bukti yang terkumpul pun memenuhi syarat untuk menjatuhkan seseorang sebagai tersangka.
Setelah selesai mengolah barang bukti, Polisi langsung mengeksekusi datang ke rumah Paulina Abigail, sang putri. Sayangnya sore tadi rumah itu sepi, mereka pergi berbelanja.
Polisi berkoordinasi dengan Pak Awan anak buah Aslan. Anak buah Aslan pun memberitahu, bisa dipastikan pukul 19.00 malam Tuan Alex akan ada di studio ITV, terpaksa Polisi harus meringkus Tuan Alex di keramaian itu.
Seketika itu juga, para pemburu berita mendapatkan jalan untuk mendatangkan pundi- pundi rupiah dengan tajuk berita yang akan laris manis. Tuan Alex Yohan Abigail, calon Gubernur yang diusung oleh partai ..., Ayah dari Paulina Abigail dan Kakek dari Alena Nareswara ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan.
Pemburu berita bahkan meninggalkan studio ITV karena berita pemenang Bintang Kecil dan penangkapan Tuan Alex ternyata lebih menarik tentang penangkapan Tuan Alex. Secepat kilat berita itupun tersebar dan mencuat di media elektronik.
****
Di Dalam Gedung.
Waktu terus berlalu hingga memasuki ke waktu yang ditunggu. Salam pembuka acara diawali dengan penampilan dari seluruh bintang kecil yang sudah pulang dan yang belum. Mereka tampil kompak dan apik.
Setelah itu diisi oleh bintang tamu dari luar negeri. Para penonton pun dibuat sangat puas, mereka saling menjerit dengan gembira.
Akhirnya mereka bisa melihat idolanya tanpa membayar tiket mahal tanpa ke luar negeri. Tidak terkecuali Cyntia dan Shella yang berhasil masuk ke dalam Stadion dan duduk di depan bersama Fatimah dan Mbok Mina.
Semua penonton menyalakan ponselnya dan membuka tombol kamera. Mereka berlomba mengabadikan moment meriah itu.
Setelah bernyayi Solo, mereka kembali tampil duet dengan senior. Setelah bersama dengan senior, Ipang dan Alena duet bersama berdua. Juri dan mentor memang kreatif membuat tantangan menguji kemampuan mereka. Baik Ipang atau Alena berhasil menunjukan kemampuanya, keduanya sama-sama bagus.
Malam itu pun panggung studio ITV menjadi panggung perhelatan musik yang sangat memukai. Baik bintang tamu, Ipang Alena ataupun senior menyanyi begitu apik dan menyihir para penonton untuk hanyut ke dalam setiap bait lagu yang mereka bawakan. Dentuman musik dari berbagai alat pun membuat penonton masuk ke dalam alunan nada yang berpadu.
Sayangnya, selama tampil dan Alena mengedarkan pandanganya, Alena tak menemukan keluarganya.
“Mommy kenapa tidak ada?” batin Alena berjalan menunduk setelah dia selesai tampil.
Kia yang memilih mengintip dari celah pintu belakang panggung menangkap tatapan sendu Alena. Kia pun mencari suaminya, Kia tahu Alena butuh Aslan dan Mommynga.
Sayang suami yang beberapa menit yang lalu di belakangnya, pamit pergi dan belum juga kembali. Aslan pamit menemui seseorang dan menyuruh Kia menunggu di situ.
“Bang Aslan kemana sih? Kok nggak balik- balik?” batin Kia kesal.
“Paul gimana juga kok nggak dateng? Kasian banget Alena, mereka berdua benar-benar orang tua yang payah,” gerutu Kia lagi.
“Alena, kan butuh Bang Aslan, ih Bang Aslan keterlaluan!”
Meski Kia tau Aslan bukan ayah Alena, tapi bagi Kia, Alena kan di akte anaknya Aslan. Akhirnya Kia tidak tega melihat Alena sendirian. Kia kemudian keluar dari persembunyianya menghampiri Alena.
“Cantik... hei, boleh Tante temani?” tanya Kia ramah mendekati Alena.
Alena diam tidak menjawab. Tapi Kia bandel dan tetap mendekati Alena.
__ADS_1
“Kenapa tante baik padaku?” tanya Alena tiba- tiba.
“Tante baik?” tanya Kia mencoba merayu Alena agar bisa santai dengan Kia.
Alena tidak menjawab dan memalingkan pandanganya dari Kia. Kia tidak menyerah, Kia pun duduk semakin rapat ke Alena.
“Penampilanmu sangat memukau Nak. Tante seneng liatnya, semoga kamu menang ya!” tutur Kia ramah menyemangati.
“Benarkah?” tanya Alena tersipu.
“Huum, sayangnya di penampilan terakhir tadi, kamu terlihat agak sedih, kenapa?” tanya Kia mencoba mengetuk hati Alena agar mau cerita ke Kia.
“Apa tante melihatku bersedih?” tanya Alena lagi.
“Tante itu seorang ibu, tante tau! Kenapa kamu bersedih huh? Ayo cerita, ke Tante!”
“Alena tidak lihat Mommy!” jawab Alena akhirnya mau terbuka dan bercerita ke Kia.
Kia menelan ludahnya karena Kia sendiri belum tahu apa yang terjadi. Setelahnya Kia tersenyum menghibur Alena.
“Mommy Alena kan selebritis juga, mungkin Mommy Alena menjaga agar tidak dikerubungi massa, nanti pasti kesini!” tutur Kia menghibur.
“Benarkah? Tapi Mommy duduk dimana? Kenapa Alena tidak lihat Mommy, kata Mommy, Oma dan Opa juga akan datang!” tutur Alena.
"Kita tunggu saja ya. Tante temani Alena!" tutur Kia.
Mendengar kata Oma dan Opa Kia terdiam. Opa Alena kan orang yang sudah bunuh ayah Kia. Kia juga ingin melihat secara langsung seperti apa orang itu.
Tiba tiba Kia ingat kata Aslan. Kata Aslan secepatnya polisi akan bertindak, kalau tidak malam ini besok pagi. “Jangan- jangan?” batin Kia. “Ah tidak!” Kia membuang prasangkanya.
“Ibu...” seru Ipang membuyarkan lamunan Kia. Sekarang waktunya break jadi semua pengisi acara istirahat.
Kia pun melambaikan tangan menyambut Ipang. Ipang mendekat ke Alena dan Kia.
“Kemari Nak!” tutur Kia.
“Alena jangan sedih ya, tante dan Pangeran temani kamu, nanti Daddy mu juga kesini!” ucap Kia lagi menenangkan Alena
“Ya, Tante!” jawab Alena mengangguk.
Para kru dan bintang tamu lain kemudian menoleh ke Kia. Mereka menganggukan kepala menyapa Kia karena mereka kini bercampur di satu tempat.
Meski canggung Kia membalas sapaan mereka. Beberapa masih bersikap acuh dan menganggap Kia pelakor. Beberapa menghormati hak asasi Kia dan tetap ramah ke Kia.
“Ibunya Pangeran ya?” sapa Jonatan dan Fena yang baru saja duet dengan Ipang dan Alena.
“Iya!” jawab Kia sangat sopan.
Lalu mereka mengobrol sedikit demi sedikit. Lambat laun, kru dan beberapa artis mulai melunturkan pandangan pelakor ke Kia karena ternyata Kia sangatlah santun, lembut dan merendah. Mereka juga melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau sedari tadi Kia menemani Alena.
Tidak terasa jeda iklan berhenti kini waktunya pengumuma juara.
__ADS_1