Sang Pangeran

Sang Pangeran
186. Dapet antek Baru


__ADS_3

“Hai Cyn!” sapa Ben ramah ke Cyntia, seakan tidak ada sesuatu yang terjadi. 


Cyntia yang sudah tau tidak menjawab. Cyntia justru menatap Ben dengan tatapan membunuhnya. Cyntia mengangkat satu kakinya agar bertumpuk dengan kaki yang lain kemudian bersedekap. Persis mafia perempuan yang siap menguliti Ben hidup- hidup. 


Ben kaget melihat Cyntia yang terbiasa anggun cantik dan mengeluarkan aura persahabatan seperti membentuk sebuah magnet sehingga semua orang ingin terus melihatnya, tapi hari ini terlihat sangat keji dan menakutkan jadi salah tingkah. 


Meski laki- laki, namanya orang salah pastilah dia akan merasa takut dan gemetar. Ben pun mengusap tengkuknya canggung. 


“Lo tau kan kenapa gue ngundang lo ke sini?” tanya Cyntia tanpa beramah tamah, langsung menodongg Ben dengan pertanyaan. 


“He... nggak, ada apa ya? Lo mau kasih endorse ke gue? Atau ajak gue kerja kemana?” tanya Ben masih pura- pura nggak tau. 


“Taikk lo!” bentak Cyntia semakin geram melihat laki- laki lemess dan pura- pura seperti Ben. 


Karena Ben memang salah, dibentk Cyntia begitu Ben langsung terdiam. 


“Lo dibayar berapa sama Jeje?” tanya Cyntia tepat pada intinya. 


“Jeje?” tanya Ben gelagapan. 


“Lo kasih obat kan ke minuman gue? Mau lo apa sih? Hah! Lo disuruh Jeje kan?” tanya Cyntia lagi memperjelas. 


“Ehm!” Ben pun langsung celingukan seperti kera yang kena tembakan tapi tak ada yang menolong. 


Cyntia kemudian maju dan melempparkan foto- foto Ben. 


“Tak!” Cyntia melempar lembaran- lembaran foto yang ada wajah Bennya.  Melihat wajahnya ada di foto yang Cyntia lempar Ben langsung tambah gelagapan, menelan ludah tidak pernah menyangka kalau Cyntia bukan perempuan yang bisa diremehkan. Ben langsung melotot dan menggaruk keningnya yang tidak gatal.  


“Kira- kira kalau foto ini gue kasih ke Laura, apa yang akan terjadi ya? Oh ya, jangan ke laura, kasih ke akun gosip aja kali ya lebih seru. Sekarang kagi musimnya apa- apa viral, iya gak sih? Seru nggak sih?” ucap Cyntia cerdas dengan tatapan centil dan liciknya. 


Ben pun menoleh ke Cyntia puct langsung memunguti foto itu, sementara Cyntia mengangkat alisnya meledek Ben. 


“Gimana? Lebih seruan mana? Gue kasih ke Laura tunangan lo? Atau ke media?” tanya Cyntia. 


Ben langsung pucat pasi, karena foto itu adalah foto Ben bersama tante- tante girang. Selain jadi selebgram dan teman manggung Jeje rupanya Ben pernah menjadi simpanan tante- tante girang. Padahal baru- baru ini Ben abis tunangan dengan artis muda yang cantik dan berbakat. 


“Lo dapet darimana foto- foto ini?” tanya Ben. 


“Hahaha!” Cyntia malah tertawa manja dengan gayanya, puas sangat menlihat Ben kelabakan. Lalu Cyntia menghentikan tawanya mendadak dan langsung menampakan muka galaknya. Cyntia kemudian mencondongkan wajahnya ke depan dan mengeluarkan sorot mata membunuhnya. 


“Ngaku! Kasih tau Jeje dimana sekarang!” ucap Cyntia mengancam. 


Ben kalah telaak dan tidak bisa mengelak lagi


“Iya , gue kasih obat perangsang ke minuman lo! Gue minta maaf, ini masalalu gue, suer gue nggak ada hubungan apapun sama Tante Ita lagi, jangan kasih tau Laura!” jawab Ben ketakutan. 

__ADS_1


“Hmmm oke!” jawab Cyntia menang dan mengangguk tapi tetap saja masih kesal. 


“Dimana Jeje sekarang?” 


“Gue nggak tahu!” jawab Ben. 


“Dimana Jeje sekarang atau gue telpon Laura sekarang!” ucap Cyntia menggertak. 


“Suer Cyn! Gue nggak bohon. Udah dua harian sejak pagi itu Jeje pergi, Jeje nggak keliatan batang hidungnya lagi. Gue juga nyari dia, tapi nggak ketemu! Sumpah!” jawab Ben dengan sungguh- sungguh. 


Iya memang Ben benar kan Jeje sekarang ada di rumah sakit khusus kepunyaan teman Aslan. Jeje abis dibuat babak belur sama anak buah Aslan dan sampai sekarang belum sadar, tapi masih hidup. 


Cyntia terus memelototi Ben. Cyntia menelisik raut wajah Ben apa masih ada kebohongan atau tidak. 


“Sue Cyn gue nggak tahu. Iya gue ngaku, gue kasih minuman itu, itupun gue udah terima jadi karenaa yang masukin obatnya juga Jeje, tugas gue anter doang ke Lo. Dan untungnya, lo juga pulang kan malam itu!” jawab Ben lagi. 


“Hhh!” Cyntia mendengus sangat kesal ke Jeje dan Ben. 


“Emang apa mau Jeje kasih obat itu ke gue?” 


“Jeje pengen jebak lo! Jeje pengen hancurin lo, dan buat lo tidur sama temanya! Tapi lo selamet kan? Lo pulang kan? Maafin Gue. Suer gue Cuma disuruh!” ucap Ben lagi. 


Cyntia diam mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya. Iya sih Cyntia lepas dari jerat Jeje, tapi Cyntia masuk ke pelukan Pria syaraf dan gila yang kepedean setengaah mati. 


“Maafin Gue, Cyn! Tolong jangan kaih tau Laura. Gue siap kok jadi di pihak lo dan lakuin apa yang lo mau, tapi please jangan kasih tau Laura tetang masalalu gue. Gue akan ceritain ke Laura sendiri tapi jangan kasih foto itu!” tutur Ben memohon. 


“Ya gue janji!” jawab Ben sungguh- sungguh. 


“Oke. Gue pegang janji Lo. Gue punya banyak tugas ke Lo!” jawab Cyntia 


“Apa itu?” 


“Denger- denger Laura itu saudaraan yah sama Nicolas?” tanya Cyntia. 


“Nicholas?” 


“Iya, temen syuting gue!” 


“Oh iya, Laura sepupuan sama istri Nicholas, apa yang bisa gue lakuin buet lo!” tanya Ben. 


“Nanti gue kabarin Lo! Gue ada urusan! Kasih tau dimana Jeje begitu lo tau kabar dia!” 


“Oke, tapi lo janji ya, jangan eritahu apapun tentang gue ke Laura!” 


“Hemm gimana ya? Tergantung gimana kerja lo ke gue!” jawab Cyntia jual mahal. 

__ADS_1


“Gue akan lakuin apapun Cyn. Asal lo jaga rahasia gue, sampai gue bisa ngomong baik- baik ke Laura!” 


“Oke, oke! Gue mau pulang dulu. Bayar bill minuman gue ya!” ucap Cyntia pamit dan dengan isengnya melimpahkan tagihan jajananya ke Ben. 


Cyntia kemudian berlenggang pergi dengan senyuman  nakalnya. Cyntia mengambil alat perekam dalam tasnya. Cyntia diam- diam merekam Ben. Cyntia mau kalau Rendra masih mengatainya, Cyntia mau tunjukan kalau dia itu juga dalam pengaruh obat, bukan murahan. 


Selain itu, Cyntia juga mau kasih pelajaran ke Jeje kalau kesaksian Ben akan dijadikan bukti buat pidanakan Jeje, tentu saja jika Jeje masih berbuat jahat dan terkumpul bukti yang lain. Cyntia juga bahagia, karena Jeje bisa dijadikan anteknya. 


Semalam ternyata saat Cyntia bersama temanya yang bernama Reza, Cyntia mampir ke bar untuk mencari Ben. Kata Reza, Ben dan Jeje langganan melayani tante- tante girang sebagai pekerjaan sambilan mendapatkan pundi- pundi rupiah. Entahlah apakabar Jeje apa masih bisa bekerja atau tidak setelah dihajar Aslan. 


“Hihi!” Cntia tersenyum puas setelah sampai di mobil. 


“Mati lo Paul! Gue akan kasih tau ke Kia, barangkali Ben bisa berguna buat Kia!” batin Cyntia berbaik hati. 


Cyntia kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah Aslan. Cyntia hendak menjemput Mbak Narti untuk kembali bekerja denganya dan bertemu Kia meminta ijin untuk speak ke media membela Kia. 


**** 


“Oke, karena sudah tidak ada pertanyaan, meeting hari ini cukup!” ucap Rendra menutup zoom meeting di laptopnya. 


“Eeeek!” Rendra kemudian merenggangkan tanganya ke atas setelah berjam- jam menghadap ke laptop. 


Rendra melihat jam tanganya. Aslan pamit hanya mengantar anaak- anaknya, dan menyuruhna menunggu. Rendra patuh saja, karena tubuhnya kaku, Rendra berniat meminta dibuatkan minuman kopi ke Mbok Mina. Kebetulan Rendra sudah akrab dengan Mbok Mina, saat di rumah Aslan yang dulu Rendra kan juga sering berkunjuang. 


Ruang kerja Aslan di lantai dua. Rendra pun turun ke lantai satu setengah berlari. 


Dheg. 


Saat sampai di lantai satu langkah Rendra terhenti. Saat mendengar suara yang tidak asing bagiinya sedang tertawa renyah dengan ART di rumah Aslan. 


“Neng Cyntia mah sukanya gitu, masak Bu Kia suruh beranak banyak terus dikasih ke Neng! Kalau mau punya anak, nikah dulu Neng baru punya anak dari rahim sendiri!” ucap Mbak Narti entah apa pembahasan sebelumnya memperingati Cyntia.


"Hehehe ya kan bisa angkat anak Mbak, Cyntia nanti ngasuh anak Kia aja! Hehe! Udah sana buruan siap- siap, nanti kalau Kia pulang kita tinggal cus!” jawab Cyntia lagi masih ketawa.


Tapi mereka semua kemudian terdiam mendengar langkah seseorang dari lantai dua. Mereka kemudian menoleh kaget. Kan Radit dan Fatimah pamitan jalan- jalan kok ada orang? 


“Ehm!” Rendra pun berdehem sambil berjalan melewati mereka. 


"Den Rendra?"pekik Mbok Mina.


"Hoh… kenapa harus ketemu dia sih?" batin Cyntia dalam hati.


****


Maaf kalau Author alurnya agak banyak, otak author emang nyambungnya gt, tapi Insya Alloh up banyak juga sehari.

__ADS_1


Untuk dopping semangat komentar tetep per episode ya Kaka, hehe Makasih.


__ADS_2