Sang Pangeran

Sang Pangeran
205. Dijemput besok.


__ADS_3

"Abang belikan ini buat Kia yah?" tanya Kia setelah di meja makan dengan wajah manis dan cantiknya.


Aslan yang bahagia sudah dikasih jatah apem untuk si adik kecilnya, tersenyum lebar.


"Abang nggak tahu makanan kesukaan istri Abang, jadi abang belikan itu. Katanya lagi hits tuh makanan yang ini!" jawab Aslan menunjuk spagethi brulle nya.


"Kia suka apa aja sih Bang, makasih ya!" ucap Kia tersenyum.


"Pangeran suka coklat kan? Yang ini Abang beli buat dia!"


"Ibunya juga suka Bang!" sahut Kia cengengesan buka makanan itu.


Aslan sangat lega Kia menyukai apa yang dia bawa. Aslan kemudian menggeser kursinya agar mendekat ke Kia,lalu Aslan memeluk Kia dan bersandar di bahunya.


"Jangan marah- marah dan nangis lagi ya!" bisik Aslan. Kia jadi kegelian tapi lama- lama hangat dan nyaman.


"Abang katanya mau ngomong sama Kia, mau ngomong apa?" jawab Kia sambil menoleh ke suaminya yang menempel di bahunya sehingga mereka hampir berciuman.


Karena sudah sedekat itu, Aslan tidak mau nanggung langsung mengecup Kia. Kia pun menerimanya, dirinya mulai terbiasa dengan suaminya yang selalu ingin menempel dan menjadikan dirinya seperti squisy yang bebas Aslan uwel- uwel.


"Suapin Abang, makan di depan tv yuk, biar enak ngobrolnya!" jawab Aslan mengajak Kia pindah tempat.


"Abang belum makan yah?"


"Belum lah. Abang kan pengen makan di rumah bareng anak istri, tapi malah ditinggal tidur!" jawab Aslan menggerutu.


Kia tersenyum dan nyengir merasa bersalah.


"Abis, Abang nggak hubungi Kia, Kia kan jadi suudzon sama Abang! Kia bete, Bang!" jawab Kia manyun mengungkapkan persaanya.


Aslan kemudian memencet hidung Kia mesra.


"Masa mau kaya Pangeran sih, suka ngambek begitu? Udah yuk, ke depan!"


"Abang mau makan apa? Biar Kia ambilkan dulu!" jawab Kia.


"Nasi, abang laper banget!" jawab Aslan.


"Maafin Kia ya Bang!" ucap Kia bangun sambil membelai pipi Aslan.

__ADS_1


"Abang maafin! Abang tunggu di depan ya!" jawab Aslan. Iyalah Aslan maafin kan Aslan udah dapet ya ng dia mau.


Aslan kemudian berjalan ke ruang tamu. Aslan ingin makan dengan bersantai dan mendengar berita malam yang ada di televisi. Kia pun mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


Kia menyusul Aslan dan menyuapi dengan tangannya. Mbok Mina membuat olahan ikan dibumbu pedas, jadi dipadukan dengan nasi hangat dan dimakan dengan tangan sangatlah nikmat.


Aslan yang baru saja mengeluarkan seluruh tenaganya menggempur Kia habis- habisan makan dengan sangat lahap, sampai minta tambah. Setelah makan dan minum mereka bersandar di sofa mendengarkan acara televisi.


"Lemes ya? Sini tiduran di paha abang!" tutur Aslan menepuk pahanya.


Kia mengangguk dan mengikuti suaminya. Mereka bersantai duduk berdua di atas karpet bulu, Aslan bersandar di sofa dan Kia berbaring manja menjadikan paha Aslan sebagai bantalnya.


"Daritadi nggak jadi ngomong? Malah nonton berita bola? Abang mau ngomong apa?" tanya Kia sambil menatap ke atas ke wajah suaminya.


Aslan kemudian menatap Kia dan membelai pipinya lembut.


"Abang mau gugat hak asuh Alena!" tutur Aslan halus.


Kia terbengong dan langsung duduk menghadap Aslan.


"Kia nggak lagi ngimpi kan Bang?" tanya Kia.


"Tapi apa kita nggak salah kalau memisahkan Alena dari ibunya?" tanya Kia tiba- tiba membuat Aslan jadi ngedown, kok Kia nggak berekspresi bahagia. Apa maunya sebenarnya?


"Hemm, kamu pengenya apa sih? Kamu nggak seneng?" tanya Aslan jadi kesal.


"Ya Kia seneng, Abang sayang. Tapi apa pertimbangan Abang tiba- tiba Abang putusin ini?" tanya Kia.


Aslan kemudian bercerita, kalau dirinya sudah mendatangi ayah kandung Alena, tapi Aslan menemukan kenyataan lain yang menyedihkan.


Aslan juga cerita kalau Aslan sudah memeriksa cctv rumah Paulina. Aslan tahu semua kelakuan Paul tidak pantas menjadi ibu untuk Alena.


"Tapi Abang tetap harus temukan Alena dengan ayannya Bang!" tutur Kia.


"Kita buat Alena bertemu ayahnya setelah resepsi kita. Besok siang kita jemput Alena. Kita berangkat ke tempat resepsi sore!" ucap Aslan.


Mendengar cerita Aslan, Kia jadi semakin merasa menjadi istri durhala dan malu. Kia tidak menyangka Aslan sebaik itu. Bahkan tidak Kia sadari, pengesahan pernikahan mereka tinggal menunggu jam berputar satu hari lagi.


Kia pun memeluk suaminya mesra dan erat.

__ADS_1


"Maafin Kia ya Bang, udah suudzon sama Abang! Udah diemi Abang, makasih!" ucap Kia.


Karena sudah diisi makanan dan dipeluk Kia begitu, Burung Aslan yang tadi tidur jadi bangun lagi.


"Makasih doang?" tanya Aslan memancing.


Kia pun peka dan langsung menciumi pipi kanan kiri Aslan, mengira Aslan ingin dicium. "Mwah mwah mwah, udah kan?" tanya Kia centil.


"Centil banget sih?" goda Aslan, si dia yang di bawah mengeras semakin gagah.


"Kan ke suami boleh centil kan?"


"Wajib!"


"Hehe, Udah kan makasihnya?"


"Belum!" jawab Aslan tersenyum.


"Huh? Terus?" tanya Kia heran.


"Abang pengen masukin lagi!" ucap Aslan jujur dan lugas mengutarakan keinginanya.


"Hah?" pekik Kia menelan ludahnya, sekarang kan sudah malam, Kia lelah dan ngantuk, apa tadi masih kurang?


Tidak menunggu Kia Aslan mendekat dan membuka kancing piyama Kia.


"Abang! Jangan!" pekik Kia geli dan menahan kepala Aslan yang langsung menunduk ingin melahap buah ranum Kia.


"Kenapa?" tanya Aslan kesal.


"Jangan di sini! Kalau Mbok Mina atau Pangeran keluar gimna?"


"Ya, udah ke dalam yuk!" jawab Aslan mengangguk kemudian mengangkat dan menggendong Kia lagi.


"Abang serius mau itu lagi?"


"Serius!"


"Emang masih bisa? Kan tadi udah mengecil?"

__ADS_1


"Waah belum tahu kamu!" jawab Aslan tersenyum, membuat Kia terdiam menelan ludahnya.


__ADS_2