
*****
"Paul udah nggak sabar Mom, Aslan sekarang sudah banyak berubah" tutur seorang perempuan cantik berdiri di depan kaca jenguk rumah sakit elit bersama dengan mertuanya.
"Sabar sayang, kita tunggu laki- laki tua itu meninggal, baru kamu bebas menentukan apa yang ingin kamu lakukan"
"Kenapa nggak kita bunuh aja dia sekalian sih Mom?" tutur Paul berharap mertua laki-lakinya segera meninggal.
"Bagaimana caranya? Kau tidak lihat setiap sudut ada cctv yang Aslan pasang" jawab mertua perempuanya.
"Hhhhh" Paul hanya menghela nafas kesal.
"Kau sabarlah, toh dalam pernikahan kalian, bukan kamu yang dirugikan tapi si Aslan sombong itu" jawab perempuan tua itu lagi.
"Iya Mom. Tapi apa mom tau? Ada anak kecil yang tiba-tiba datang, dia mirip dengan Aslan sewaktu kecil Mom, Paul takut"
"Kenapa harus takut, kan hanya mirip?"
"Kalau benar anak Aslan gimana Mom?"
"Tidak mungkin, Aslan bukan anak yang suka bermain wanita. Dia hanya jatuh cinta sekali. Yaitu ke kamu" tutur mertua Paul.
"Semoga saja begitu" jawab Paul lirih.
Karena kenyataanya sejak rahasia Paul terungkap Aslan sudah berubah, dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Dan hanya Aslan yang tahu rahasia itu. Bahkan jika ibu mertuanya itu tau. Entah apa Paul masih akan diajak bekerja sama.
"Ya sudah ayo kita pulang, biar perawat yang merawatnya" ajak mertua Paul.
"Mom, tapi kalau benar itu anak Aslan bagaimana?"
"Mama akan singkirkan dia" jawab Mertua Paul.
Lalu kedua perempuan cantik dengan balutan baju seharga puluhan juta itu berlenggang pergi. Mereka kemudian berpisah naik ke mobil masing-masing.
***
Setelah acara makan-makan selesai. Teman dan keluarga Aslan berpamitan. Memberikan doa terbaik dan kado ke Aslan.
Sebenarnya yang mempunyai ide mengajak berkumpul juga teman-temanya. Aslan hanya tinggal mengiyakan.
Aslan sendiri tidak suka seremonial. Jiwanya Aslan begitu dingin. Taunya hanya kerja.
"Sabar ya Nyonya Kia. Kalian harus berjuang" ucap Nyonya Asha tiba -tiba saat berpamitan sambil menepuk bahu Kia.
Kia hanya tersenyum bingung. Sebenarnya Kia bersyukur, sahabat Aslan itu berlaku ramah dan baik terhadapnya.
Tapi, apa katanya? Berjuang? Berjuang apa? Kia benar-benar pusing dan tidak mengerti dengan kenyataan yang dia lalui hari itu. Kia bahkan bertemu Aslan baru berapa hari. Ada apa ini?
"Ipang, temani Daffa ya. Bermainlah dengan bahagia, kalau dia nakal, tonjok saja dia" ujar Manda mensejajarkan tubuhnya dengan Ipang, dan menyapa Ipang.
Kia jadi tambah bingung mendengar Manda. Orang tua macam apa adik Aslan itu. Kenapa orang kaya masih membiarkan anaknya ikut sekolah di karantina. Bukanya jenguk tapi titip pesan ke anak kecil. Tidak bisa dipercaya.
"Iya Tante. Daffa jadi sahabat Ipang, kata ayah, kita kan saudara" jawab Ipang polos.
"Good job Boy" jawab Satya memberi tos.
"Makasih ya Kak!" sapa Manda dan Satya ramah ke Aslan dan Kia.
Kia kemudian hanya mengangguk saja. Kia kan orang asing, tapi kenapa semua memperlakukan Kia seperti Nyonya.
"We wait you Kak" ucap Manda lagi ke Kia.
Kia hanya menelan salivanya semakin bingung.
"Gila, bener-bener gila. Menungguku? Menunggu untuk apa?" batin Kia.
Selanjutnya Rendra. Rendra masih sama dinginya dengan Aslan. Menepuk Aslan dan mengucapkan selamat ulang tahun seperlunya.
Lalu Rendra melewati Kia dengan tatapan dinginya. Tidak menyapa tapi tidak cuek. Hanya matanya yang bergerak.
Setelah kawanya pergi kini hanya tinggal mereka bertiga. Aslan, Kia dan Ipang.
"Terima kasih atas makan siang hari ini Tuan Aslan" ucap Kia ke Aslan bosa basi.
Mendengar ucapan Kia. Aslan hanya mengangguk dingin. Padahal dalam hatinya Aslan bilang. Kenapa harus terima kasih, bahkan jika mau, Aslan bisa memberinya makan siang setiap hari.
"Ayo kita antar Ipang" ucap Aslan kemudian.
"Bisakah anda biarkan kami pergi sendiri?" ucap Kia masih ingin ajak Ipang kabur dan tidam nyaman pergi bersama Aslan.
"Ipang mau sama ayah Ibu?" celetuk Ipang menyela orang tuanya itu.
"Ipang, Dia. Ehm. Maksud ibu, ayahmu harus bekerja. Ipang sama ibu ya" tutur Kia ke Ipang.
__ADS_1
"Nggak, ayah nggak kerja kok" sela Aslan mematahkan pendapat Kia agar tetap bisa pergi bersama.
Kia kemudian mendelik kesal ke Aslan. Tatapan mereka bertemu. Aslan mengisyaratkan kebahagiaan sementara Kia menatap kesal.
"Tuh kan Bu. Ayah tidak bekerja, ayo kita ke hotel, kasian Daffa sendirian lagi" ajak Ipang.
"Siap jagoan, lets go" jawab Aslan semangat.
Tidak ada pilihan lain Kia pasrah dan mengikuti anak dan bosnya itu. Kia seperti buah simalakama. Dia seperti terjerat di ladang ranjau.
Aslan sudah berhasil mengambil hati Ipang. Bahkan Kia dinomor duakan. Bagaimana caranya dia akan kabur kalau begini. Sepanjang di mobil Kia memikirkan langkahnya lagi.
Perjalanan kali ini Aslan disibukan bercerita denga Ipang. Menceritakan tentang robot, karakter film anak-anak sampai permainan di kampung Ipang.
Kia duduk di belakang sendiri. Aslan dan Ipang di depan. Setelah beberapa menit berlalu mereka sampai ke tempat karantina.
Sebenarnya aturanya, anak yang dikarantina tidak boleh diajak keluar atau dijenguk kurang dari satu minggu. Tapi karena Aslan yang datang, semua hanya ikut saja, Aslan kan bosnya.
"Ingat pesen ibu ya. Jangan main ke kolam lagi tanpa ada yang mengawasi" tutur Kia mengantar Ipang masuk.
"Iya Bu!" jawab Ipang lalu Ipang masuk ke Asrama.
Kini ayah dan ibu itu tampak berdiri saling diam di depan pintu. Kia menunggu Aslan pergi, Kia masih ingin mempengaruhi Ipang dan mengajaknya pergi.
Sementara Aslan diam ingin mengantar Kia. Tapi Aslan tau Kia pasti akan gengsi dan menolak. Jadi Aslan sedang mencari cara agar Kia mau diantar.
"Kau, kenapa ngeliatin aku?" tanya Aslan ngawur. Padahal Aslan yang dari tadi ngliatin Kia.
"Hoh, ngeliatin? Siapa yang ngliatin? Pede banget!" jawab Kia tidak terima.
"Terus kenapa nggak pergi?" tanya Aslan.
"Suka-suka sayalah. Anda sendiri kenapa berdiri di situ? Kenapa nggak cepet pergi?" jawab Kia galak.
"Duhh gawat kapan aku bisa bawa Ipang kabur kalau begini?" batin Kia berfikir.
"Ehm, emm, gue" jawab Aslan berfikir dan mengusap tengkuknya.
"Ini kan hotel gue. Bebas lah gue ngapain" jawab Aslan kemudian.
"Ooh yaya. Ini kan hotel anda. Oke. Selamat siang. Tuan Aslan" jawab Kia berlalu melewati Aslan
"Nggak ada pilihan lain, gue harus pura-pura pergi dulu" batin Kia sambil jalan.
Mata Kia langsung melotot ke tangan Aslan dan Kia langsung mengibaskan kasar.
"Tuan Aslan dengar saya ya. Apa yang terjadi tadi, itu karena Ipang. Bukan berarti anda bisa pegang-pegang tangan saya seenaknya!" bentak Kia mengingatkan. Saat di tempat makan tadi Aslan kan menggenggam tangan Kia.
"Iya maaf" jawab Aslan minta maaf.
"Hmm"
"Maukah pulang bersamaku?" tanya Aslan lagi.
"Tidak!" jawab Kia tegas lalu melanjutkan langkahnya.
"Ini orang gimana sih? Apa iya dia suka sama gue. Nggak tau diri banget sih. Udah punya istri juga" batin Kia lagi sambil melirik Aslan.
"Tapi aku ingin bicarara" jawab Aslan mengejar Kia dan menghadang langkah Kia.
"Bicaralah, bukankah anda dari tadi sudah bicara?" jawab Kia.
"Apa kau tidak ingin memberiku kado?" tanya Aslan acak.
"Kado?" tanya Kia menegaskan, menurutnya tidak penting.
"Iya" .
"Ehm" jawab Kia berfikir.
"Saya kan ulang tahun" jawab Aslan
"Untuk apa saya membelikan anda kado ulang tahun?"
"Kau sudah makan siang bersamaku tadi"
"Ya ampun orang ini ternyata sangat pelit" batin Kia.
"Besok akan saya belikan" jawab Kia menemukan jawaban.
"Aku mau sekarang" ucap Aslan lagi mencari alasan agar bisa berlama-lama dengan Kia.
"Ish, aneh ya, ya saya ngga ada kadolah, saya juga nggak tahu anda ulang tahun. Lagian saya nggak minta diajak makan"
__ADS_1
"Sekarang kan sudah tahu. Ayo belilah, kuantar!"
"Maksa banget sih!" jawab Kia kesal.
"Oke baik, maaf, maksudku bukan itu. Aku hanya ingin bersamamu"
"Bersamaku?"
"Masuklah ke mobilku aku hanya ingin. mengantarmu" ucap Aslan akhirnya sudah tidak tahan berbelit mencari alasan dari tadi bercakap-cakap tidak ada habisnya.
"Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih" jawab Kia.
"Tidak bisakah kau menerima kebaikanku?"
"Kebaikan?"
"Aku ingin menebus kesalahanku"
"Kesalahan?"
"Aku tau aku bersalah. Aku sudah menghamilimu, bahkan saat itu, kau masih perawan. Aku tidak ada di saat kau mengandung Ipang. Aku ingin menebusnya, aku ingin jadi ayah yang baik untuknya" tutur Aslan jujur mengungkakan niat baiknya.
Kia diam berfikir sejenak.
"Bukankan sudah saya katakan sejak awal. Kalau anda tidak ingin menyakiti kami, menebus semua itu. Tolong jangan tempatkan kami dalam masalah, tapi lihatlah yang anda lakukan?"
"Masalah?"
"Iya. Kenapa Anda memberitahu ke teman anda, tentang kami? Kenapa Anda tiba-tiba mengaku anda ayah Ipang?"
"Memang apa salahnya?"
"Apa anda tidak berfikir apa kata orang setelah tahu siapa Ipang? Apa anda tidak berfikir bagaiamana pertanyaan Ipang nanti tentang kita?"
"Memang apa yang akan mereka pikirkan? Ipang kan memang anaku, Ipang sudah sewajarnya tau siapa aku"
"Ck. Saya nggak mau semakin banyak orang yang tahu, lalu orang-orang mengatai Ipang anak haram. Anak hasil selingkuhan"
"Ya kan memang kebenaranya begitu. Ups, maaf maksudku" .
"Hah. mKau mengatai anakmu sendiri?"
"Bukan begitu maksudku"
"Kau jelas-jelas mengatakanya Tuan. Kau bilang sendiri. Kau mengatai anak hasil perbuatanmu sendiri dengan sebutan anak haram!"
"Kia dengarkan dulu!" .
"Ck. Benar-benar keterlaluan!"
"Sory. Sory. Maksudku bukan itu"
"Lantas apa?"
"Kia dengarkan aku. Ipang, dia laki-laki Kia. Kita tidak bisa mendidiknya dan membiarkan dia lemah. Dia harus tangguh. Dia harus tumbuh jadi laki-laki yang pemberani, tau dan menerima kenyataan. Kita harus ajarkan dia untuk kuat terhadap cacian" ucap Aslan.
"Kuat, pemberani! Tuan Aslan yang terhormat, dia masih kecil. Ipang masih kecil. Bagaimana kita akan menjelaskanya?"
"Justru itu menikahlah denganku. Ipang sekarang sudah tau siapa aku?"
"Apa maksud anda? Menikah?"
"Menikahlah denganku, kita akan merawat Ipang bersama, Ipang akan bahagia!"
"Plak" spontan. Kia menampar Aslan untuk yang kedua kalinya dengan nafas memburu.
"Kau. Kenapa hoby sekali menamparku?" ucap Aslan memegang pipinya.
"Tidak tahu malu. Kau sudah beristri. Sudah saya katakan saya perempuan baik-baik!" jawab Kia dengan tatapan sengit.
****
Terima kasih sudah mau baca.
Semoga suka...
Mohon doa ya. Author bisa menulis dg baik dan menghibur.
Buat semangat dan evaluasi author.
Tinggalin like koment dan vote ya.
Hehehe. Happy reading.
__ADS_1