
Semua pasangan pengantin baru, kehadiran buah hati adalah dambaan pelengkap kebahagiaan mereka.
Apalagi usia Aslan yang tidak muda lagi. Meskipun Aslan dan Kia disatukan karena hadirnya Ipang dan ditambah ada Alena yang melengkapi, kehadiran anak sah dari pernikahan mereka tetap menjadi keinginan utama.
Menunggu istri memeriksa kehamilan adalah pertama kali juga dalam hidup Aslan, karena saat Kia hamil dulu, Aslan tidak mengetahui apalagi bersama. Ternyata rasanya sungguh mendebarkan.
Masih di depan kamar, seorang bapak berkepala tiga plus itu, mondar mandir- mandir seperti setrikaan. Dada Aslan berdebar melebihi saat menghadapi deal- dealan kontrak kerja atau proyeknya rugi.
Sudah terbayang di otak Aslan, menjadi suami siaga melihat istri tercintanya perutnya membesar mengandung hasil cinta mereka. Aslan akan bisa merasakan ajaibnya gerakan bayi kecilnya di perut istri tercintanya mendengar semua keluh kesah dan susahnya Kia hamil.
Aslan sangat ingin mendengat tangisan dan celotehan darah dagingnya yang dulu saat Pangeran kecil dia lewatkan.
“Cekleek!” pintu kamar mandi terbuka.
Aslan pun berjingkat dan mendekat ke Kia.
“Gimana, Sayang?” tanya Aslan tidak sabar.
Kia tidak menjawab justru menitikkan air mata.
“Kamu menangis bahagia kan? Positif kan?” tanya Aslan menggebu.
Kia menggelengkan kepala “Maaf Bang!” ucap Kia lirih dan menunduk.
Sebagai seorang istri, hal yang menyakitkan adalah ketika dirinya tidak bisa memberikan sesuatu yang diingini suaminya.
“Hhhh!” Aslan menghela nafas kemudian berjalan memeluk Kia.
Meski kecewa, Aslan sadar harapanya yang terlalu tinggi, ternyata menekan mental Kia dan menyakiti Kia. Aslan jadi merasa bersalh dan tidak ingin Kia tertekan atau sedih.
“Ya udah, nggak apa- apa, maafin Abang! Kita coba lagi nanti! Abang juga seneng jadi masih bisa puas!” tutur Aslan memeluk Kia, membercandainya dan membelai punggungnya.
"Ishhh Abang, mungkin nggak jadi- jadi karena Abang juga terlalu semangat! Masa sehari 3 kali. Kia capek jadi nggak jadi- jagmdi" ucap Kia cembertu beralasan.
"Ya kan abang semangat hajar kamu biar jadi!" jawab Aslan membela diri.
"Ih nggak gitu. Abis dari tempat Cyntia kita ke dokter aja deh, biar Abang dengerin kata dokter!" tutur Kia lagi.
"Ya ya!" jawab Aslan.
“Daddy... Ibu...” teriak Alena dari luar kamar mereka. Aslan dan Kia pun segera mengurai pelukanya.
“Yaa...Sayang!” jawab Kia segera menghapus air matanya dan membukakan pintu.
Di depan kamar mereka, gadis kecil dengan dua rambut di kepang dua ke atas tampak cantik menuggu dengan memegang boneka barby.
“Aunty Kikan udah telepon, Bu...Ayo kita berangkat. Alena sudah tidak sabar ketemu Aunty Kikan dan Onty Cyntia. Alena mau tunjukin bonek baru Alena!” tutur Alena dengan centilnya.
Kia pun tersenyum dan mengusap kepala Alena.
“Ayok! Pangeran mana?” tanya Kia melihat sekeliling anak kandungnya malah tidak ada.
“Pangeran sudah ada di mobil, katanya Pangeran tidak mau duduk di belakang mau di depan sama Daddy!” ucap Alena lagi.
“Ohh!” Kia pun mengangguk mengerti, anak tampanya memang selalu punya pemikiran sendiri dan tidak bisa ditebak.
“Ayok berangkat!” ucap Aslan dari belakang setelah selesai merapihkan baji kokonya.
"Lets go!" ucap Alena senang mereka kemudian menyusul Pangeran yang sudah duduk manis di bangku depan mobil mahal ayahnya.
Suami istri dan dua anak itu pun melaju ke ke rumah baru Rendra. Mereka tidak memakai sopir, karena Mbok Mina dan art baru mereka juga diajak.
*****
Di rumah Rendra.
__ADS_1
“Euuugh!” Rendra yang kekenyangan minum susu hamil bersendawa.
“Habiskan!” ucap Cyntia merajuk menyodorkan sisa susu yang belum habis.
“Udah dong, Yang, ini kan buat kamu dan anak kita kenapa aku yang meminumnya!” ucap Rendra dengan wajah tersiksanya sudah sangat kesal disuruh minum susu Cyntia.
“Ulangi! Jangan panggil aku yang! Aku nggak mau tau, habiskan!” jawab Cyntia galak.
“Glek!” Rendra pun menelan ludahnya. Cyntia memang sangat galak pada Rendra. Mungkin itu balas dendamnua karena Rendra sering menghina Cyntia.
“Iya... Bunda Cyntia!” jawab Rendra mengikuti mau Cyntia.
Cyntia tidak terima kalau dipanggil sayang oleh Rendra. Entah kenpa Cyntia merasa sangat benci pada Rendra dan inginya marah terus.
Sebaliknya Rendra akan merasa pusing dan mual jika tidak berdekatan dengan Cyntia.
Oleh karena itu Rendra akan melakukan apapun yang dimau Cyntia asal Cyntia mengijinkan Rendra di sampingnya dan boleh mengelus perutnya.
Umma sangat telaten membuatkan susu hamil untuk Cyntia, tapi Cyntia tidak suka susu. Alhasil, Rendra yang setiap pagi dan malam minum susu hamil, sampai Rendra tidak sispak lagi, melainkan sedikit gembil dan buncit.
“Pakai baju ini!” ucap Cyntia memberikan kemeja warna pink fanta.
“Yaang!” pekik Rendra kaget melihat warnanya. Mendengar Rendra memanggil Cyntia Yang lagi, Cyntia pun melotot lagi, tidak mau.
“Ehm...” Rendra berdehem takut. “Ibu Cyntia... ini warnanya cerah banget! Aku nggak pantes pakai naju ini!” protes Rendra dengan wajah pucat.
“Pakai nggak!” jawab Cyntia lagi mode galak.
“Yaya, tapi nanti malam aku tidak mau tidur di luar. Aku harus tidur di kamar!” jawab Rendra meminta syarat.
“Hmmmm!” Cytia pun hanya membalasnya berdehem.
Pasangan suami istri baru itu kemudian berdandan couplean. Entah ide darimana, Cyntia sangat ingin memakai dress cod pink fanta dipadu dengan warna putih.
Cyntia menggunakan kaftan warna Fanta, lalu hijab putih yang hanya di selendangkan tanpa peniti. Untuk Cyntia memang sangat pas, tapi untuk Rendra, agak terlihat aneh.
Sementara Rendra akan selalu mabok, jika Cyntia ngambek tidak mau didekati. Rendra hanya akan sembuh kalau mendekat ke Cyntia, tapi dengan syarat, semua makanan Cyntia, Rendra yang habiskan. Rendra juga harus melakukan apapun mau Cyntia.
“Udah siap semua Umma?” tanya Rendra ke Umma dan melirik ke ruang tamu.
“Udah, sana kamu sambut tamu. Kita doa dulu, itu bapak- bapak yang mau baca surah- surahnya udah lengkap kok!” tutur Umma.
Rendra dan Cyntia kemudian keluar, sesuai kebiasaan Umma, untuk mendoakan cucunya yang menginjak usia kehamilan 4 bulan mereka membacakan surah- surah sesuai yang diajarkan oleh pemuka agamanya.
Setelah itu berdoa bersama, lalu membagikan makanan ke tetangga sekitar dan ke anak yatim piatu.
Selain tamu, saudara dan tetangga sekitar, Cyntia juga mengundang teman- temanya yang dekat. Meski tidak syuting lagi, tapi Cyntia masih komunikasi dengan Shelaa dan kawan- kawanya.
Shela pun cekikikan melihat Rendra dan Cyntia kompak memakai dress code warna Fanta, Shela juga menjadi paparazi dan memfoto pasangan itu.
Sehingga penggemar Cyntia masih bisa melihat perkembangan Cyntia meski sudah vakum.
“Silahkan Pak dimulai acaranya!” tutur Rendra pada ketua Rt
Mendengar itu, Cyntia langsung mencubit Rendra sekuat tenaga.
“Aaak!” sampai tanpa sadar Rendra mengaduh dan menjadi pusat perhatian. Lalu Rendra meminta maaf dan menunda acara.
“Kenapa, Sayang?” bisiK Rendra tetap memanggil Cyntia sayang.
Cyntia menyeret Rendra menepi dari keramaian lagi.
“Kia dan Tuan Aslan belum dateng, jangan jadi adik durhaka kamu!” bisik Cyntia meminta agar Rendra mengulur waktu ngajinya.
“Aaah biarin lah, dia juga kakak durhaka kok!” jawab Rendra tidak mau menunggu Aslan, yang notabenya saudara tertua.
__ADS_1
“Mana ada Kakak, durhaka? Kamu yang jadi adik durhaka. Kak Satya aja belum ada. Jangan jadi ayah yang nggak bener besok didik anaknya!” omel Cyntia sudah berpikir jauh ke depan.
“Aaah... dia nggak bisa ngaji. Udah tinggalin aja!” jawab Rendra lagi ngeyel.
“Siapa yang nggak bisa ngaji?” celetuk seseorang di belakang mereka.
Rendra dan Cyntia menoleh, terntayat Aslan dan rombongan sudah datang. Aslan datang lewat pintu samping.
Rendra pun jadi pucat karena bakal disemprot Aslan karena sudah menghina.
Sementara Cyntia sangat bahagia Kia datang. Cyntia langsung mengacuhkan Rendra. Mereka langsung cipika cipiki tanda kangen seperti abg yang bertahun- tahun tidak ketemu, padahal tiap minggu bertemu. Kia, Manda dan Cyntia sangat bahagia mereka sekarang jadi kakak adik.
“Sudah bisa dimulai Pak Kyai!” ucap Rendra mempersilahkan pemuka agama memulai acaranya, karena Kakak sepupunya sudah lengkap.
Kia bersama Alena kemudian masuk ke dalam rumah besar Rendra menemui Umma, Kikan, Mbak Narti dan tukang catering untuk ikut menyiapkan segala keperluan bagi- bagi makanan dan makan di hari itu.
Alena langsung lengket bermain dengan Kikan, sementara Ipang dan Daffa duduk di pangkuan Aslan dan Satya ikut mengaji.
Tanpa diduga siapaun, di hadapan putranya, ternyata bacaan Aslan sangat baik dan keras. Sampai Kia dan yang lain di dalam kaget mendengarnya.
“Lhoh, ayahnya Pangeran bisa ngaji ternyata?” tanya Cyntia.
“Aku juga baru tahu!” jawab Kia.
Cyntia kemudian cemberut dan menajamkan pendengaranya mencoba mengenali suara ayah bayinya.
“Umma kok Rendra nggak ada suaranya?” protes Cyntia.
“Iyah, sewaktu kecil, dia selalu bolos kalau disuruh les tpq” jawab Umma menceritakan kenakalan Rendra.
“Iiiish!” desis Cyntia mengepalkan tanganya. Pantas Rendra tidak pernah membacakan doa untuk kehamilanya.
“Pantas dia tidak bacakan surah maryam untukku! Gimana sih?” ucap Cyntia cemberut.
“Udah nggak apa- apa. Kan nanti bisa belajar sambil jalan, kamu baca sendiri aja, Eh ngomong- ngomong, emang udah ketahuan jenis kelaminya?” tanya Kia salah fokus terhadap ucapan Cyntia.
Alena dan Kikan yang sedang bermain boneka langsung terdiam dan langsung nimbrung kegirangan.
“Anak Aunty girl Bu?” tanya Alena senang.
"Waah, emang udah ketahuan Kak? Beneran cewek?" tanya Kikan menimpali.
"Syukurlan kalau beneran cewek.Aku juga ingin anak cewek!" imbuh Manda.
“Astaghfirulloh, Jaangan, jagan perempuan kasian!” celetuk Umma menyela. Umma tidak mau kalau anak yang hamil di luar adalah perempuan,
“Kenapa Umma?” tanya Kikan, Manda Alena dan Cyntia kompak. Mereka kan ingin baby Cyntia cewek, agar grup cerewet di keluarganya lengkap.
Umma pun terdiam takut dan bingung bagaimana menjelaskanya.
Umma takut menyinggung Cyntia dan membuat Alena jadi tahu sebelum waktunya.
Jika anak Cyntia perempuan, Rendra tidak akan bisa menjadi walinya. Meski dirahasiakan, aib Cyntia dan Rendra bisa terbuka suatu saat nanti. bagi Umma aman anak laki- laki saja.
"Memang sudah ketahuan beneran?" tanya Umma dheg- dhegan.
Semua kemudian menoleh ke Cyntia menunggu jawaban.
*****
Sesuai janji aku kasih bonchap dan lanjut
Author itu labil, karena sibuk, dan lelah, kupikir biar nggak beban kutamatin aja.
Sebenarnya masih cinta ma mereka..
__ADS_1
Hehehehe.
Selalu like koment dan Vote ya Kaaak.