Sang Pangeran

Sang Pangeran
39. Fortuner


__ADS_3

"Huuft Hah" Aslan menarik nafasnya membuang rasa dheg-dhegan.


Aslan duduk di mobilnya dengan mantap. Dia menarik bibirnya ke dalam. Sesekali melihat layar ponselnya. Melihat mukanya sendiri dari pantulan layar ponsel. Lalu jarinya menyusup menyisir rambutnya dan bersiul siul.


"Ck. Ck" Rendra sendiri hanya berdecak jengah melihat kelakuan bosnya itu.


Sudah tua bahkan kepala tiga masih sisa. Tapi persis seperti ABG baru jatuh cinta.


"Kenapa lo cak cek cak cek. Lo nanti duduk di depan sama sopir, biar nanti anak dan istriku yang duduk di sini" usir Aslan percaya diri berhasil jemput Kia.


"Ya bos gue ke depan" jawab Rendra tersinggung tanganya membuka pintu hendak pindah.


"Gue bilang nanti, sensi amat si Lo"


"Emang yakin berhasil ya Bos?"


"Lo ngehina gue?"


"Ya bukan ngehina Bos, cuma aneh aja. Bayangan saya. Nyonya Kia sekarang lagi marah-marah Bos. Bahkan saya ngeri bayanginya. Apa yang akan Nyonya Kia lakukan, Iiih" ucap Rendra bergidik ngeri.


"Haiissh. Ini cuma gertakan. Dia sudah menamparku dua kali"


"Ya makanya. Bos nggak ngapa-ngapain aja udah ditampar, apalagi ini. Hiiih. Saya nggak ikut aja ya Bos"


"Sialan lo. Gue gampar Lo. Lo berani turun dari mobil gue. Jangan berangkat ke kantor lagi lo" ancam Aslan ke Rendra.


"Gleg"


Rendra menelan salivanya. Daripada dipecat lebih baik mengalah saja, itung itung buat hiburan sajalah. Coba nanti bagaiamana reaksi Kia ketemu Aslan.


"Lo ngeraguin gue?" tanya Aslan lagi.


"Nggak Bos, nggak ragu. Pokoknya saya dukung Bos" jawab Rendra menyenangkan Aslan agar tidak dipecat.


"Halah lo sendiri tadi bilang, lo liat nanti ya. Kalau nanti Kia berhasil gue bawa ke Ibukota lo harus bayar, lo yang dateng ke jadwal meeting gue selama seminggu. Tapi kalau sampai gue gagal. Mobil ini buat Lo" tutur Aslan memberikan perjanjian tidak terima dilecehkan.


"Wooh benarkah Bos?" tanya Rendra kegirangan. Perjanjian Aslan terdengar menguntungkan.


Mobil yang mereka pakai sekarang mobil fortuner incaran Rendra. Sangat bahagia dan beruntung jika Rendra berhasil memilikinya cuma-cuma. Dibanding dengan meeting selama seminggu ya mending mobilnya.


Otomatis Rendra jadi tersenyum dan berdoa Kia tidak mau dijemput Aslan. Jelas saja harapan dan doa Rendra berbeda dengan harapan dan keyakinan Aslan.


"Ya gue benar" jawab Aslan mantap.


Aslan sangat yakin rencananya akan berhasil.


Lalu mereka berdua saling tatap. Rendra tertawa licik tapi nggak enak juga. Kan Rendra juga diancam dikepret Aslan kalau nggak dukung dia.


"Ehm, bukan gitu Bos, ya saya mah tetep berdoa Tuan Aslan bisa bawa Nyonya Kia balik, tapi saya juga mau fortunernya Bos" ucap Rendra plintat plintut.


"Ck. Ngimpi Lo, Lo liat aja nanti, lo harus gantiin gue meeting seminggu" tutur Aslan lagi.


Lalu Rendra memilih nyengir dan diam.


"Nyalain musik Pak" perintah Aslan ke sopir, Aslan yang dulunya bekerja di dunia hiburan memang suka mendengarkan lagu.


Mobil melaju kencang, menyusuri jalanan yang terlihat baru selesai digarap. Membelah perbukitan yang samping kanan kirinya hamparan kebun jagung yang indah.


Ternyata tempat persembunyian Kia selama ini berada di pelosok kampung. Pantas saja Aslan tidak menemukanya. Lalu Aslan dan Rendra menyandarkan kepalanya dan memalingkan wajahnya ke luar mobil.


Sejauh mata memandang, terhampar langit yang indah dan tumbuhan hijau bercampur kuning, mereka merasakan keramahan alam. Merasa disapa oleh indahnya kedamaian.


Tanpa disengaja dan diminta, mata Aslan menyempit. Otot-otot nya berdilatasi rileks dan akhirnya tertidur karena nyaman.


"Yayasan Srikandi, desa Melati" sopir membaca plang di gapura komplek RT Kia.


"Sudah sampai Tuan" ucap Sopir memberi tahu.


Aslan dan Rendra membuka matanya melihat sekeliling. Mereka hanya baru sampai di depan Gapura. Di depan mereka tampak perkampungan biasa.


Bedanya, di depan mereka jarak rumah ke rumah jauh. Masih banyak pekarangan kosong dengan pepohonan pisang. Halaman rumah-rumah mereka juga luas-luas meski rumahnya tampak kecil dan sederhana.


"Mana rumahnya Pak?" tanya Rendra bingung.


"Kan alamatnya bunyinya hanya desa Melati Tuan" jawab sopir sama saja bingung.


Di samping kakan jalan tempat mereka berhenti tampak bangunan yang sedikit lebih besar, ada tulisan yayasan Srikandi.


Lalu mereka melihat rumah-rumah sekelilingnya, tampak masih banyak rumah besar tapi dindingnya kayu dan halamanya luas.


Sepertinya itu rumah tua dan kemungkinan bukan itu tempat tinggal Kia.


"Itu mobil polisinya" ucap Rendra menunjuk mobil polisi keluar dari pataran rumah kecil yang asri.


Lalu beberapa ibu penggunjing melewati mobil Aslan. Dari dalam mobil terdengar sangat jelas, mereka menyebut nama Kia.


"Mbok yo nikah aja ya si Kia itu"


"Iya, daripada hidup sendiri begitu. Dia kan kesini karena kabur punya anak nggak punya suami"

__ADS_1


"Si Ipang itu anak haram"


"Cantik-cantik ternyata gitu. Hati-hati lho sama suami kita"


Aslan mengepalkan tanganya hendak membuka mobil, geram ingin memberi pelajaran ke emak- emak.


Kupingnya memerah, seakan kepala Aslan mengeluarkan asap dan gelembung udara, saking panasnya.


"Stop Bos, mereka emak- emak" ucap Rendra memperingati.


"Mereka kurang ajar"


"Ya itu petunjuk Tuhan, biar Bos sadar bagaimana penderitaan Nyonya Kia selama ini" jawab Rendra memberitahu.


"Gue nggak tahan dengernya. Gue harus robek mulut mereka, belum tau siapa Gue?"


"Bos juga harus tau emak- emak jika sudah bersatu akan tiada banding, itu sepertinya Nyonya Kia" ujar Rendra memeberitahu dan menunjuk rumah di ujung jalan.


Mata Aslan kemudian tertuju ke arah yang ditunjuk Rendra.


Rumah kecil gaya minimalis dengan cat warna abu dipadu putih. Di depan rumah itu tampak Kia mengusir dua tamunya, laki-laki dan perempuan. Lalu masuk ke rumah.


Untung ada Fatimah jadi Aslan tidak curiga itu Radit. Kalau tidak ada Fatimah mungkin Aslan sudah turun berlari dan beneran menyerang Radit.


"Oke kita kesana!" perintah Aslan ke sopir melupakan emak- emak penggunjing.


Mobil mereka sampai di depan rumah Kia. Fatimah dan Radit menatap insens dan tatapan penuh tanya.


Dari dalam mobil Aslan merapihkan rambut dan kemejanya, tidak lupa mengenakan kacamata hitam. Rendra masih setia dengan penampilan resminya.


Mereka membuka mobil dan turun. Sepatu mahal Aslan tampak berkilau saat menginjakan kaki di tanah telanjang dan basah di depan rumah Kia.


Sayang parkirnya salah perhitungan. Karena musim hujan, tempat mereka turun sedikit becek dan sepatu Aslan kenal lumpur.


"Iyuuh" Aslan mengeratkan rahangnya dan menggerutu, tapi ya sudahlah demi Kia.


Tidak menyapa dan tidak peduli Fatimah dan Radit, setelah melepas sepatu, Rendra mengetok pintu Kia. Aslan berdiri menunggu pujaan hatinya membukakan pintunya.


Wajah Aslan tampak tegang, begitu juga Rendra. Tapi pikiran mereka beda tujuan. Fokus Rendra pada bayangan dapat mobil fortuner. Fokus Aslan pada wajah cantik Kia yang akan dia bawa ke rumahnya.


"Gleg"


Pintu dibuka, nafas Rendra dan Aslan memburu, wajah Kia akan ramah? Marah? Atau tetap cantik seperti biasanya. Dan di depan mereka wajah yang dinanti muncul.


Berdiri di depan mereka, perempuan cantik dengan kulit sawo matang sehat dan bersih. Dengan body yang segar, tapi bola matanya membulat sempurna, dan mulutnya mengatup kencang penuh kebencian. Perkiraan Rendra tepat.


"Kau!!!" pekik Kia dengan sorot mata membunuh.


Aslan menatapnya sumringah dengan tatapan cinta ingin segera memeluk dan melahapnya.


"Brak" Kia berusaha segera menutup pintunya. Tapi Aslan menahanya


"Tunggu" ucap Aslan


"Dasar Singa Gila, mau apa kalian kesini?" bentak Kia dari dalam rumah berusaha menutup pintu.


"Tunggu, kita harus bicara" ucap Aslan tangan dan lakinya berusaha menahan.


Mereka berdua kemudian rebutan pintu dan terjadi dorong mendorong.


"Aku tidak sudi, pergi!"


"Aku tidak akan pergi"


"Pergi!"


"Ipang!" panggil Aslan.


Aslan hampir berhasil membuat Kia terdorong. Lalu Aslan mengintip dalam rumah sambil melihat Ipang. Merasa dorongan Aslan melemah Kia dengan sekuat tenaga mendorongnya.


"Aauuuww" Aslan berteriak sekencangnya karena tangan dan kakinya terjepit reflek ditariknya keluar kakinya yang dipakai untuk menahan.


Kia yang hampir kalah berhasil menutup pintu.


"Hoooh hoooh" Kia segera mengunci pintunya. Sambil bersandar di pintu Kia bernafas ngos-ngosan dan mengelap keringatnya.


"Ayah?" tanya Ipang menatap ibunya.


"Masuk Ipang! Masuk ke kamar!" perintah Kia galak ke Ipang.


"Itu ayah kan Bu?" tanya Ipang lagi.


"Jangan bilang ayah! Dia bukan ayahmu! Dia itu singa gila!"


"Ipang mau ketemu ayah Bu"


"No!" bentak Kia keras. Lalu menyeret Ipang masuk ke kamar.


Sementara di luar Aslan mengibas-ibaskan kakinya yang kejepit. Aslan mengeluh kesakitan bahkan sampai lecet.

__ADS_1


"Empt" Rendra menahan ketawa melihatnya. Rasa- rasanya dewa keberuntungan akan berpihak ke Rendra.


Fatimah dan Radit menyaksikan mereka dengan tertegun. Siapa mereka?


"Lo ngetawain gue? Bukanya bantu gue! Gue tonjok lo, lo nggak liat gue kesakitan?" umpat Aslan menatap pintu Kia.


"Maaf Bos"


"Siapa kalian?" tanya Radit berdiri.


Rendra dan Aslan hanya menoleh dengan tatapan sombong tidak peduli.


"Kalian sendiri siapa?" tanya Aslan.


Saat mereka saling tatapan. Dari dalam terdengar suara Ipang menangis.


"Huaaaa huaaaa.... Ayah" Ipang menangis keras karena Kia menyeretnya kasar terbawa emosi.


"Ipaang, iiih, kenapa nangis" Kia bingung sendiri dan berusaha membekap mulut Ipang agar tidak terdengar dari luar.


Ipang memberontak ibunya, mengibaskan tangan Kia dan terus menangis memanggil ayahnya.


"Ayaaaahh, huu huu..." Ipang menepis tangan Kia dan berlari ke pintu.


Mendengar Ipang menangis Aslan gusar dan mengetok pintu keras.


"Jagoan, ayah di luar, buka pintunya untuk ayah. Dont cry Boy" tutur Aslan keras.


Di dalam rumah Kia kebingungan, marah, kesal merasa bersalah dan sakit bercampur jadi satu. Kia baru pertama juga mendengar Ipang menangis keras penuh kebencian terhadapnya.


"No! Jangan buka!" bentak Kia lagi ke Ipang yang berusaha membuka pintu.


"Ibu jahat, ibu jahat, Ipang mau ayah, huu... hu... " Ipang menangis tersedu-sedu berdiri di depan Kia dan mengatainya.


"Ipaaang" pekik Kia dengan suara tercekik. Kia ikut menangis merasakan sakit dikatai anaknya sendiri.


"Ipaang buka pintunya" panggil Aslan lagi mengetuk pintu.


"Ayaah, ibu galak sekalii, Ipang takut" Ipang masih menangis dibalik pintu.


Mendengar Ipang memanggil Aslan ayah, Radit dan Fatimah saling pandang dan mulai mengerti. Ternyata pria kaya itu ayah Ipang.


Sementara Rendra yang mengharap mobil fortuner memilih no koment dan mau jadi penonton saja.


"Kia, buka pintunya atau kudobrak!" ancam Aslan dari luar.


Ipang menatap ibunya penuh harap dan ketakutan. Ipang masih menangis dan tanganya memegang gagang pintu lagi berharap dibukakan pintu oleh ibunya.


"Ibu... bukakan pintuu. Ibu galak ibu jahat" teriak Ipang lagi.


"Ipaang" Kia menangis tidak percaya anaknya mengatainya jahat.


"Ayaah, hu... hu.." Ipang masih terus menangis.


Akhirnya tidak sabar mendengar tangisan Ipang Aslan berniat mendobrak.


"Ipang, menyingkirlah, ayah akan dobrak pintunya" ucap Aslan dari luar


"Brrak"


Aslan mencoba mendorong pintunya dari luar tapi belum berhasil. Kia dan Ipang kaget mendengarnya. Aslan kemudian berancang-ancang lagi.


"Braak" untuk yang kedua kalinya belum berhasil tapi cukup membuat pintu bergetar.


Aslan mengumpulkan tenaga, hendak ancang-ancang lagi. Sementara Kia mengetahui Aslan nekat, memilih menyerah.Di saat bersamaan Kia membuka pintunya. Dan bruk.


Aslan yang berniat mendorongkan tubuhnya mendobrak kebablasan bertubrukan dengan Kia yang membuka pintu.


"Auuw"


Aslan dan Kia jatuh di depan pintu. Tubuh mereka saling bertindih.


"Haiisshh" Rendra mendesis diambang kekalahan karena Aslan berhasil masuk.


Ipang berhenti menangis dan langsung menghampiri ayahnya. Kia dan Aslan saling tatap. Mata mereka saling terpaut menyiratkan kekesalan masing- masing.


"Ayaah" panggil Ipang.


"Kemon Boy" jawab Aslan mengacuhkan Kia yang kesakitan.


Aslan dan Ipang kemudian berpelukan. Kia diam tidak bisa berkata- kata. Dirinya diacuhkan, rasanya sakit sekali Ipang lebih memilih Aslan. Ipang benar-benar membencinya.


****


Kakak maafkan karya author ini.


Ini semua murni khayalan author, maafkan keterbatasan author jika banyak kekurangan. Sejujurnya author belum terlalu percaya diri menulis.


Buat dukungan agar author semangat kasih like koment membangun ya. Makasih. Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2