
“Begini nih kalau punya bos bodoh dan rese, jomblo terus jomblo terus, kapan gue sempet nyari cewek kalau gini, gagag kencan gue sama Meta, untung lo baik Lan” gerutu seorang laki- laki dewasa sambil melepas pakaianya.
Di sebuah apartemen mewah itu, Rendra yang notabenya adalah sekertaris tangan kanan sekaligus sepupu Aslan dari ibunya, tinggal sendiri. Diam- diam Rendra sering mengatai Aslan. Karena perangai Aslan memang buruk.
Waktu istirahat merupakan waktu emas buatnya. Entah sampai kapan Aslan bisa mendapatkan kehidupan yang sedikit lebih damai dan tenang tanpa menganggunya. Aslan selalu merepotkan Rendra dengan masalahnya, baik masalah pribadi atau kantor.
Bahkan dulu yang bersusah payah mencari gadis perawan hanya demi memuaskan Aslan dan membuatnya bisa membedakan perempuan ori dan bekas adalah Rendra.
Saat Aslan penasaran dan mencari Kia yang kabur juga Rendra, mencari rumah agar terbebas dari ibu tiri Aslan juga Rendra dan kini Aslan nemuin Kia lagi, Rendra lagi yang direpotkan. Udah gitu Ide Aslan ngawur dan sembarangan lagi, semakin merepotkan Rendra. Untung Rendra sabar.
Rendra kemudian masuk ke kamar mandi , membersihkan dirinya dan merilekan tubuh dengan berendam air
hangat ditemani aromatherapy.
Meski Rendra harus lembur seminggu. Kali ini Rendra sangat semangat dan berharap usaha Aslan berhasil. Semoga ini hukuman terakhir, setelahnya mereka akan bekerja dengan wajar dan menjalani hidup sebgai manamestinya.
Dalam lubuk hati kecil Rendra, Rendra sangat ingin Aslan hidup dengan benar, emosinya stabil ada yang mengurusi dan semua pekerjaan lancar, tidak marah- marah. Lalu Rendra bisa mulai menata hidupnya. Tapi entahlah.
Dan belum 5 menit Rendra menikmati air hangat, ponsel Rendra berbunyi keras.
“Haishh” Rendra mendesis mencoba cuek terhadap telponya, tapi ternyata telponya tidak berhenti.
“Heran gue, pasti masalah lagi nih?” ucap Rendra kesal melihat layar posnelnya.
Rasanya ingin Rendra buang saja itu telepon. Tapi hiudp Rendra memang ditakdirkan terpaut dengan Aslan, Rendra mengangkat telponya. Dan sekarang juga Rendra disuruh menemuinya. Rendra pun tidak kuasa berkata tidak dan hanya menurut saja.
****
Dengan pikiran kacau dan kalap Aslan turun tangga dena tergesa-gesa. Bu Mina dan yang lain yang mendengar vas pecah sudah paham, kalau baru saja terjadi pertarungan sengit. Pelayan muda memilih masuk ke kmar masing- masing dan membiarkan Mbok Mina yang menghadapinya.
“Kenapa tidak kau cegah calon istriku pergi Bu?” ucap Aslan menanyai Mbok Mina dan memberi kode memnita dibuatkan kopi.
“Maaf, Den, saya tidak berani melawan Nyonya Paul” jawab Mbok Mina.
Mbok Mina sekarang mengerti, dugaanya benar, Kia memang perempuan yang Aslan suka. Hati Mbok Mina sedikit lega, doanya sebentar lag terkabul, akan ada harapan buat Tuan Mudanya bahagia.
Mbok Mina kira selamanya Aslan akan terjebak dalam pernikahan toksik yang terjadi karena kesepakatan bisnis saja. walau bagaimanapun Mbok Mina sayang ke Aslan, dia yang merawat Aslan sepeninggal Ibu kandung Aslan.
“Di sini siapa Tuanmu?” tanya Aslan dingin.
“Den Aslan” jawab Mbok Mina
“Kenapa kau membiarkan Paul dan tidak mendengarkan kataku? Aku kan menyuruhmu membuatkan makanan dan minuman untuknya agar dia tidak pergi” omel Aslan kesal.
“Maaf Den”
“Apa Paul menyakitinya? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Paul pulang malam, biasanya kan dia pulang pagi” tanya Aslan. Aslan tidak tahu kalau kontrak sineteron Paul sudah berakhir, jadi dia tidak syuting sampai pagi lagi.
“Mereka sempat beradu mulut Tuan, tapi Nyonya Kia sangat pemberani dan santun” jawab Mbok Mina.
“Apa Mbok Mina tau dia kemana dan siapa yang menjempunya?” tanya Aslan.
“Mbok nggak liat Den”
“Oke, antar kopi ke ruang kerjaku!” ucap Aslan memberi perintah.
"Baik Den"
Aslan kemudian masuk ke ruang kerjanya, dan memeriksa cctv. Terlihat mobil pajero putih menjemput Kia. Aslan
kemudian mencatat plat nomor mobil itu dan menelpon Rendra.
Sekitar 15 menit Rendra sampai di tempat Aslan dan masuk ke ruang kerjanya.
“Pasti ada masalah ini?” batin Rendra menebak.
Dan benar saja di kursi kebesaranya Aslan duduk dengan muka mode menyebalkan tapi tetep ganteng
memegang kertas.
“Cari pemilik plat nomor ini!” ucap Aslan langsung memberikan kertas itu tanpa bosa basi dan tanpa
menuggu Rendra duduk.
__ADS_1
Rendra menerima kertas itu dan melirik ke Aslan. Kemudian duduk.
“Ada apa dengan pemilik mobil ini Boa?” tanya Rendra.
“Gue bilang cari, ya udah cari nggak usah banyak tanya” bentak Aslan emosi.
“Hmmm” Rendra hanya berdehem dan menelan ludahnya,dimarahi Aslan adalah makanan sehari-hari.
Kalau saja bukan karena janjinya pada ibu Aslan dan hutang budinya, rasanya Rendra ingin menoyor Aslan saja dan meninggalkanya.
Rendra kemudian mengambil ponselnya entah bagaimana mencarinya, setelah beberapa saat langsung ketemu.
“Nyony Kia pergi ya Bos?” tanya Rendra tersenyum malah ingin meledek Aslan.
“Sialan lo, senyam senyum, lo ngetawain gue?” tanya Aslan tersinggung.
“Pemilik mobil ini, teman kuliah Nyonya Kia, yang seharusnya melayani Tuan waktu itu. Dia bernama Cyntia” ucap Rendra langsung ingat inisial Cyntia. Saat mencari tau keberadaan Kia, Rendra pernah bertemu Cyntia.
“Oh, caria alamatnya!” ucap Aslan lagi dingin.
Rendra tidak menjawab ataupun mencari alamatnya Cyntia. Rendra justru melempar kertas itu, kemudian duduk bersedekap menatap Aslan. Seprti hendak menghakimi, sorotmata Rendra sangat tajam, tidak seperti bawahan.
“Kenapa lo liat gue gitu? Lo nantangin gue?” tanya Aslan frustasi.
Rendra melihat tangan Aslan terluka, Rendra juga melihat mobil Paul dan juga sepatu Paul di rak. Rendra yang sudah hafal saudara rasa bosnya itu paham. Rendra hanya tersenyum mengasihani nasib Aslan.
Dari luar, orang mengira hidup Aslan sempurna, kaya tampan terkenal dan mapan, tapi sebenarnya Aslan sangat kacau dan menyedihkan,bahkan sejak kecil.
“Kau serius mau nikahin Kia?” tanya Rendra mulai berbahasa santai, saat hanya berdua dan saling curhat mereka akan memposisikan diri sebagai saudara.
“Seriuslah, dia ibu dari anak gue, gue mau dia jadi miliku” jawab Aslan.
“Tuan Aslan yang terhormat, nyonya Kia itu perempuan baik-baik”
“Ya gue ngerti makanya gue mau di jadi istri gue”
“Cara mendapatkan perempuan baik- baik juga dengan cara yang baik dong Bos” ucap Rendra menasehati Aslan untuk kesekian kalinya.
Aslan diam merasa tertohok dengan omongan Rendra.
Rendra tertawa lagi.
“Dimana- mana perempuan baik- baik nggak akan mau menikah dengan pria beristri. Kecuali istri pertamanya yang memintanya” jawab Rendra simple.
“Lo tau kan gimana gue sama Paul” jawab Aslan merasa sah- sah saja mendekati Kia.
“Ya gue tahu, tapi Nyonya Kia nggak tahu”
“Ya udah besok gue kasih tau, gimana hubunganku sama Paul”
“Ya nggak cukup sampai di situ Bos, mendapatkan perempuan baik- baik juga harus mendapatkan hatinya. Bos buatlah Nyonya Kia terkesan dengan Bos, jangan malah buat Nyonya Kia semakin kesal” ucap Rendra lagi menasehati.
Aslan terdiam, perkataan Rendra sama dengan perkataan Ipang. Jangan buat Kia marah, apapun alasanya. Nah Aslan malah suka liat Kia marah-marah karena menurutnya imut. Aslan juga lemah trhadap urusan perempuan, sewaktu kecil dia hanya didoktrin untuk terus belajar oleh Papanya. Aslan juga dibatasi pergaulanya.
“Oke, tapi gimana caranya?”tanya Aslanmengakui kebodohanya di depan Rendra.
“Ya PR tuanlah. Dan sebelum itu selesaikan urusan dengan Nyonya Paul” jawab Rendra.
“Sialan Lo. Guemantap akan ceraikan Paul secepatnya. Gue besok pagi akan bawa Ipang ke Papa” ucap Aslan lesu mengingat papanya.
“Tuan Muda Pangran masih di sini?”tanya Rendra kaget, Rendra kira Kia pergi bersama Ipang.
“Dia masih di sini”
“Jadi Nyonya Kia pergi tanpa Tuan Muda?” tanya Rendra lagi.
“Iya” jawab Aslan.
Rendra ketawa lagi. mendengarnya
“Kenapa Lo ketawa?” tanya Aslan tersinggung dari tadi seperti diejek terus sama Rendra.
“Itu artinya Nyonya Kia sangat marah padamu Bos, sampai dia nekat pergi tanpa anaknya, gimana mau nikahin kalau buat marah terus” ucap Rendra.
__ADS_1
“Hemmm” Aslan hanya berdehem.
“Menurut saya, kasih ruang untuk Nyonya Kia, tahan ambisimu Bos. Seperti pasir, semakin dingggam maka dia akan pergi, pelan- pelan saja, berdamailah sebagai orang tua yang baik tanpa memaksa”
“Sok tau Lo, Lo aja masih jomblo”
“Ck, serah deh, ngatain gue terus tapi nggak mikir kenapa gue jomblo, mana ada waktu buat kecan, kerja teros"’ jawab Rendra kesal, gimana Rendra mau cari pacar setiap saat waktunya disita dengan mengurusi masalah Aslan.
“Hmm” Aslan berdehem, dia memang bergantung pada Rendra. Aslan kemudian diam, perkataan Rendra ada benarnya. Lalu memikirkan cara menceraikan Paul dengan aman.
“Panggil pengacara untuk datang ke kantor jam 10. Aku akan temui papah dan mengenalkan
Pangeran ke Papah, cuma Papah yang bisa selametin saham itu dari Paul” ucap Aslan serius.
“Bagaimana caranya membuat Tuan besar mau mengubah kesepakatan itu?”
“Gue yakin kedatangan Pangeran akan buat Papa mengerti. Gue juga harus buktikan keburukan Paul dan perempuan tua itu harus berhenti meracuni papaku” ucap Aslan mulai serius merencakan hidupnya.
“Nyonya besar lebih pandai dari Nyonya Paul” jawab Rendra memperingati.
“Gue tau itu” jawab Aslan lalu memijat keningnya berfikir.
“Om Agung pasti akan mengerti jika kita bisa tunjukan bukti, buktinya. Sekarang yang terpenting, kumpulkan bukti kejahatan Nyonya Tua dan Nyonya Paul. Selain itu amankan Den Pangeran dan Nyonya Kia”
“Oke, kirimkan orang buat awasi Kia, atur juga penempatan kerjanya. dia minta tidak kerja di kantor lagi, gue mau dia tetap di dekat gue”
“Kenapa tidak titipkan pada Satya dan Manda”
“Oh iya, ya. Ya cerdas ,kamu” ucap Aslan.
Dari dulu kali, Rendra memang selalu mendapatkan nilai lebih baik dari Asla saat sekolah.
****
“Ini rumah lo Cyn?” tanya Kia mengagumi rumah Cyntia saat mereka masuk ke rumah Cyntia.
“Lebih bagusan rumah bapaknya anak Lo kan?” jawab Cyntia.
“Nggak usah bahas dia!” jawab Kia sewot tidak mau membahas Aslan.
Lalu Cyntia membawa Kia masuk ke kamar tamu yang sudah dibersihkan pembantu Cyntia.
“Lo tidur di sini ya!” ucap Cyntia.
Kia melihat suasana kamar lalu tersenyum bahagia. Kamarnya nyaman dan bersih.
“Makasih ya! Lo tidur dimana? Di sini juga nggak?”
“Sory gue udah punya suami jadi nggak tidur bareng lo kaya dulu” ucap Cyntia.
“He... iya ya, oh ya suami Lo mana?” tanya Kia tersenyum, baru sadar mereka sekarang sudah tua.
“Gue nggak tau” jawab Cyntia sendu.
“Kok nggak tau, Lo kan istrinya” ucap Kia spontan merasa Cyntia aneh.
Cyntia yang sudah lama memendam sakit karena rumah tangganya terdiam, bahkan matanya berkaca-kaca. Cyntia sebenarnya ingin curhat juga, tapi melihat masalah Kia lebih ribet, Cyntia memilih diam.
“Sory, lo ada masalah juga ya sama suami lo?” tanya Kia menyadari ucapanya menyakiti Cyntia.
Airmata Cyntia jatuh, karena saking sesaknya. Kia pun segera memeluknya dan minta maaf.
“Sory gue nggak tau apapun tentang Lo. Cerita ke gue, lo ada masalah apapun, gue siap dengerin” bisik Kia menepuk bahu Cyntia.
“Lo nggak usah sok-sokan gitu, masalh lo aja rumit, Lo juga belum jelasin ke gue” jawab Cyntia melepaskan pelukan.
“Ya udah biar impas kita sama- sama cerita, lo nampung gue di sini nggak apa-apa kan? Masalah nggak buat suami Lo?”
“Rumah ini atas nama gue, ini kado pernikahan gue dari bokap gue. Lo bebas nginep di sini kapan aja” jawab Cyntia.
Lalu Kia memeluk Cyntia lagi.
“Makasih ya. Sekarang Lo duluan yang cerita, dari dulu gue terus yang repotin Lo,gue juga mau gantian yang dengerin Lo” ucap Kia dengan tatapan sayangnya.
__ADS_1
“Besok aja yah, sekarang tidur geh, gue ngantuk” jawab Cyntiia mengalihkan pembicaran. Waktu memang sudah malam.
“Hmmm oke” jawab Kia mengangguk.