Sang Pangeran

Sang Pangeran
119. Liat saja


__ADS_3

Cyntia sampai di halaman sebuah apartemen mewah di kota itu sesuai alamat yang dikirim temanya.


"Ck hujan lagi," gerutu Cyntia mencari payung. Sebenarnya hanya berjalan beberapa meter dari parkiran ke loby. Tapi karena hujan turun dengan deras Cyntia tetap butuh payung.


"Hah. Kemarin kan dipakai di tempat syuting!" batin Cyntia ingat kalau payungnya kemarin dipakai.


Mau tidak mau Cyntia menyeret kopernya menerjang hujan. Meski sebentar ternyata cukup membuat baju Cyntia basah. Sehingga membuat gaun brukat Cyntia semakin press body dan sedikit menerawang. Rambut Cyntia pun sedikit basah. Cyntia tampak sangat seksi.


Tidak peduli menjadi pusat perhatian Cyntia masuk ke loby yang berada di lantai dua. Cyntia menanyakan kunci yang kata teman Cyntia dititipkan ke petugas apartemen.Teman Cyntia pergi tanpa menunggunya, karena jadwal teman Cyntia mepet.


"Lantai dua belas, Nyonya! Ini nomer bloknya" ucap petugas apartemen memberikan kunci dan menunjukan penthouse teman Cyntia.


"Terima kasih!" jawab Cyntia memberikan senyum cantiknya.


Cyntia berjalan tergesa ingin segera ganti pakaian menuju ke lift. Dengan jari lentik yang memperlihatkan kuku indahnya, Cyntia memencet tombol angka 12. Setelah beberapa detik berdiri pintu lift terbuka.


Dheg.


Tepat di hadapan Cyntia seorang laki-laki berkemeja batik berdiri menundukan kepalanya. Cyntia menelan ludahnya menyadari ini bukan mimpi. Lelaki itu pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke Cyntia.


"Kau?" pekik Rendra.


"Pak Rendra!" balas Cyntia tersenyum canggung. Pintu lift hampir tertutup lagi dan Cyntia buru-buru masuk.


Entah kenapa sesosok Rendra yang pernah menolong Cyntia hangat. Sekarang tampak sangat dingin dan menampakan muka kebencian ke Cyntia.


Cyntia menjadi salah tingkah dan canggung. Apalagi tidak ada penumpang lain di litf itu, hanya mereka berdua.


"Dia nggak bisa senyum atau gimana sih? Serem banget mukanya?" batin Cyntia bingung mau mengajak ngobrol atau bagaimana.


Wajah Rendra lebih datar dari Aslan kalau mode diam. Rendra sempat melirik ke tubuh seksi Cyntia, gaun brukat Cyntia dadanya sedikit lebar sehingga sedikit menampakan belahannya, apalagi sekarang basah. Dan itu membuat ekspresi Rendra sedikit berbeda.


"Ehm!" Cyntia berdehem memancing agar ada percakapan.


Tapi Rendra tetap pada posisinya. Diam seribu bahasa dengan tatapan lurus tidak berbelok belok. Cyntia yang pemberani tidak tahan dengan situasi semacam itu. Cyntia kemudian membuka pertanyaan.


"Pak Rendra kok ada di sini?" tanya Cyntia sungguh tidak menyangka. Orang yang bersamanya tadi di acara sekarang ada di lift yang sama.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu? Kenapa kamu di sini?" jawab Rendra dingin.


"Akhirnya dia ngomong juga" batin Cyntia.


"Mulai hari ini saya akan tinggal di salah satu unit apartemen ini!" jawab Cyntia memberi tahu.


Rendra memberikan respon aneh. Rendra tersenyum kecil dengan ekpresi mengejek. Hal itu bisa Cyntia lihat dengan jelas dan membuat Cyntia tersinggung.


"Kenapa Pak Rendra tersenyum begitu?" tanya Cyntia.


"Meski waktu itu aku mengaku jadi pacarmu dan menolongmu, jangan kira aku tertarik padamu! Jangan dekati aku! Dan ganggu hubunganku dengan Meta!" ucap Rendra tiba-tiba membuat Cyntia memperlebar matanya.

__ADS_1


"Hoh!" Cyntia terbengong dan tidak menyangka Rendra bisa mengeluarkan kata-kata itu.


"Aku? Mendekati bapak? Mengganggu hubungan anda dengan Meta? Hei Pak. Tolong kalau bicara disaring dulu!" jawab Cyntia tidak terima.


"Catat ya. Seleraku bukan janda sepertimu!" ucap Rendra lagi sambil menelan ludah melihat tubuh Cyntia.


Cyntia pun mengkerucutkan bibirnya dan mukanya memerah karena marah.


"Aku hanya kasian padamu. Jadi jangan ke pedeaan. Dan ingat jangan macam-macam dengan pacarku!" lanjut Rendra lagi ke Cyntia secara tidak langsung merendahkan Cyntia dengan menyebut kata janda.


Cyntia mengepalkan tanganya merasa terhina.


"Terima kasih karena Anda waktu itu menolong saya. Tapi satu hal yang perlu Pak Rendra tau. Saya tidak perlu dikasihani. Dan saya tidak ada urusan dengan pacar anda!" jawab Cyntia kesal dan berani.


Rupanya saat Rendra menelpon Meta dan menanyainya kenapa meninggalkan Rendra. Meta mengadukan Cyntia macam-macam. Rendra kemudian menjadi kesal ke Cyntia.


Rendra tidak menjawab Cyntia lagi. Pintu lift terbuka mereka ternyata satu lantai dan bersebelahan. Rendra berlalu tidak memperdulikan Cyntia. Hal itu membuat Cyntia semakin kesal.


"Hey manusia kulkas. Dengar ya! Saya sama sekali tidak ada minat mencampuri urusan anda dengan wanita plastik itu. Sebagai pacarnya seharusnya ajari dia cara ngomong yang benar. Dasar laki-laki payah, siapapun yang mengatai Kia akan berhadapan denganku!" omel Cyntia di belakang Rendra.


Rendra berhenti dari jalanya. Lalu menoleh ke Cyntia dengan tatapan sangat seram. Cyntia menghela nafasnya yang tersengal karena emosi. Ditatap seperti itu membuat nyali Cyntia menciut. Cyntia pun menghindari tatapan Rendra dan segera mencari nomor apartemen.


Cyntia berganti mengacuhkan Rendra.


"Hoh!" cibir Cyntia mengejek Rendra sambil berlenggang dengan pinggul seksinya melewati Rendra.


"Dia menghinaku? Awas aja. Belum tahu siapa aku? Kamu akan menyesal sudah menghinaku, Tuan Rendra!" batin Cyntia geram mengepalkan tanganya setelah duduk di ranjang apartemen barunya.


****


Sebagai seorang ibu meski anak-anaknya berkata masih betah hujan-hujanan di air, Kia memegang kendali dan tetap mengatur waktu anaknya bermain, apalagi bibir Daffa dan Ipang sudah mulai biru.


"Ipang, Daffa, yok udahan yok, udah sore nih!" panggil Kia menyediakan handuk untuk anak dan keponakanya .


"Masih mau main Bu. Bentar lagi Bu!" jawab Ipang merayu.


"No! Kalian udah katakan ini 5 kali. Kalau nggak naik juga, ibu marah nih. Ibu kunci pintunya, kalian di sini terus sampai malam nggak usah ganti nggak usah masuk!" ucap Kia menampakan muka marahnya, tapi semarah-marahnya Kia, Kia tetap menjadi ibu muda yang cantik dan menggemaskan. Apalagi saat di rumah begini tidak memakai hijab, Kia tampak seperti kakak Ipang.


Mendengar ibunya merajuk dan mengancam Ipang menunduk dan mengkode Daffa untuk menyudadi mainya. Mereka berdua kemudian patuh dan tunduk.


"Ya Bu!" jawab Ipang.


"Udah ashar lho. Ibu ijinin kalian main bukan berarti nggak pakai aturan. Kalau kelamaan kalian bisa sakit, sana mandi dulu!" tutur Kia memberikan handuk dan pakaian.


Mereka berdua pun menerimanya dan lngsung berlari ke kamar mandi luar yang di dekar kolam. Saat Ipang dan Daffa berlari, Kia tidak sengaja menoleh ke arah kamar tempat kakaknya mengingap.


Di dekat jendela kaca yang panjang, berdiri anak balita 3 tahunan, sorot matanya menyiratkan kesedihan. Tubuhnya kecil mungil dan kulitnya tampak keriput, rambutnya tampak kusam.


Kia menghela nafasnya dan memandang iba. Dia keponakanya, cucu dan darah daging orang tua Kia. Kenapa tampak sangat menyedihkan begitu. Kia menelan ludahnya, yang mengandung kepedihan. Seburuk apapun iparnya, keponakan Kia adalah keluarga Kia.

__ADS_1


Kia mencoba menerjemahkan tatapan kosong balita itu, mungkin dia ingin main bersama Ipang dan sepupunya. Kia kemudian berjalan masuk dan menunggu Ipang dan Daffa.


"Mbok...!" panggil Kia mencari Mbok Mina.


"Iya Non!" jawab Mbok Mina buru-buru kekuar kamar masih dengan mukenanya. Ternyata Mbok Mina sedang menunaikan sholat ashar.


"Maaf, Mbok Kia ganggu ya? Kalau belum selesai lanjut dulu aja Mbok!" jawab Kia merasa bersalah.


"Nggak Non. Udah selesai kok. Ada apa?" tanya Mbok Mina


"Makanan sisa acara tadi masih ada?" tanya Ki


"Masih ada gurame crispy dan rendang daging Non!"


"Oh. Kalau ayam yang mentah, bahan sop ada?" tanya Kia lagi.


"Di kulkas kayaknya ada Non, kenapa?"


"Kia mau masakin buat anak-anak. Hujan-hujan makan yang panas dan seger kayaknya enak Mbok!" ujar Kia memikirkan anak dan keponakanya.


"Ada Non, ada!" jawab Mbok Mina.


"Ya udah buatin sop ayam buat anak-anak ya Mbok. Kasih sosis, brokoli sama wortel. Pangeran suka sekali makanan itu!"


"Iya Non!" jawab Mbok Mina mengangguk.


Kia kemudian menghampiri Ipang dan Daffa yang sudah selesai mandi. Kia membereskan handuk dan pakaian mereka dengan telaten. Meski sudah besar, dengan tangan hangat Kia, Kia mengoleskan minyak kayu putih, menyisir rambut dan mengokeskan lotion ke badan Ipang dan Daffa,.


Daffa langsung lengket dan nurut pada Kia meski baru bertemu beberapa kali. Apalagi setelah tau, kalau sekarang Kia resmi menjadi auntynya, Daffa tidak canggung menggelayut manja di tangan Kia. Kia berasa mempunyai anak kembar laki-laki.


Bahkan dari percakapan Daffa dan Ipang saat bermain di kolam, mereka sepakat memanggil Kia dengan panggilan ibu. Sementara memanggil Manda dengan panggilan Mommy.


"Ibu Ipang, Daffa tidur di sini ya nanti!" ucap Daffa meminta ijin ke Kia.


Kia tersenyum mengangguk.


"Ya boleh. Tapi ijin dulu sama Mommy mu ya!" jawab Kia ramah sambil mengelus rambut Daffa.


"Oke Bu!" jawab Daffa.


"Ohya. Adik Rafli masih di sini, kalian ajak dia main ya! Biar ibu siapkan makan sore!" tutur Kia mengajari anak dan keponakanya agar peduli Rafli.


"Oh adik Rafli masih di sini?" tanya Ipang.


"Iya, Sayang, kalian ajak dia main ya. Dia masih di kamar, nunggu mobil teman ayah!" ucap Kia memberitahu.


Daffa dan Ipang mengangguk, mereka segera berlari ke kamar Danu. Sesuai dengan perintah ibunya Ipang dan Daffa mengajak Rafli bermain. Kia memperhatikan dari kejauhan, Rafli tampak girang dan langsung ceria.


Kia tersenyum lega melihatnya. Kia kemudian berjalan ke dapur, bergabung bersama Mbak Narti dan Mbok Mina menyiapkan makan.

__ADS_1


__ADS_2