Sang Pangeran

Sang Pangeran
163. Rendra Vs Cyntia


__ADS_3

“Aaaaaaak” 


Begitu membuka mata, Cyntia langsung berteriak, sekencang- kencangnya. Cyntia kira dirinya bermimpi, tapi semua nyata.


Cyntia tersadar dari tidurnya, kakinya ditindih kaki yang besar, panjang, berbulu dan berat. Di dada Cyntia juga ada tangan yang menempel dan menggenggam asetnya. Bahkan Cyntia juga merasa ada angin hangat yang berasal dari dengkuran seseorang. 


“Arrrggh, berisik!” gumam seseorang itu reflek dan mentup kupingnya. Orang itu ikut membuka mata. “Hooh!” orang itu juga memberikan respon terperanjak kaget dan menjauhkan badanya dari Cyntia.


Mereka berdua sama-sama saling pandang dan melotot, dan menelan ludahnya.


“Kau! Hoh!” pekik Cyntia gelagapan membuka selimut dan memeriksa apa yang ada di balik selimut yang menutupi mereka. Tubuhnya dan tubuh pria di sampingnya sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.


Cyntia menggigit bibirnya dan menunduk malu, frustasi dan menyesal. Cyntia menelan ludahnya tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan lelaki yang ada di sampingnya, yang tidak lain adalah Rendra. 


“Sh*t! Apa yang lo lakuin ke gue? Hah!” omel Rendra dengan tatapan sinisnya malah memarahi Cyntia.


“Gue? Ngelakuin apa ke Lo? Hei! Gila lo ya! Gue yang harusnya bertanya apa yang lo lakuin ke gue? Kurang ajar!” jawab Cyntia ngegas. 


Mereka berdua sama- sama polos tanpa sehelai benang pun, seperti bayi, untung mereka memakai selimut jadi jika ada cicak lewat tidak ada yang tertawa. 


“Kenapa gue bisa ada di sini? Lo perkosa gue kan? Lo jebak gue kan? Ya ampun kasian sekali jagoanku! Kamu sudah menodaiku!” tutur Rendra masih sempat menyalahkan Cyntia dan merasa dirinya ternoda. 


Mendengar ucapan Rendra tentu saja Cyntia sangat geram. Cyntia langsung mengeratkan rahangnya dan membuka matanya lebar, melotot ke Rendra. 


“Perkosa? Lo bilang gue merkosa lo? Nodai lo! Anj*ng lo ya! Mana ada cewe merkosa cwok yang ada lo yang udah bantai gue!” ucap Cyntia menuduh Rendra. 


“Bantai. Eh lo jangan ngimpi ya!” jawab Rendra lagi. 


“Haish!” Cyntia kemudian mendesis gemash, meski samar- samar dan dalam pengaruh obat, Cyntia semalam masih sadar. “Lo nggak ngerasa apa lo maksa gue ngelakuin itu sampai tiga kali!” cerocos Cyntia keceplosan. 


Rendra langsung melotot menatap Cyntia. 


“Gue? Berkali- kali?” tanya Rendra menunjuk dirinya merasa benar. 


“Ya siapa lagi. Lo ingat dong gimana kelakuan lo semalam, itumu maksa masuk ke gue, seenak jidatmu, sesukamu, sepuasmu berkali-kali! Enak aja lo ngataiin gue! Dasar grandong!” jawab Cyntia kasar mengomel ke Rendra dengan tatapan kesalnya. 


Rendra  menelan ludahnya terdiam dan mengangkat selimutnya sedikit, masih sempat mengintip barangnya. “Benarkah begitu? Kenapa kamu liar sekali?” batin Rendra.

__ADS_1


Rendra kemudian terdiam setelah tanpa sengaja melihat leher Cyntia dan bagian dada atas Cyntia banyak tanda merah, masih sangat merah dan segar, karena kulit Cyntia putih. Itu semua sebagai bukti kekejaman Rendra tadi malam.


“Ehm!” Cyntia berdehem, mereka berdua sama- sama terdiam berusaha mengingat apa yang terjadi semalam sejelas- jelasnya. 


Mereka sama- sama saling menunduk, berdampingan masih dengan nafas terengah- engah, sama- sama menyesal dan malu. Bahkan mereka masih berbagi selimut. 


Rendra ingat, dia minum, minuman yang sudah lama dia tinggalkan setelah memergoki Meta. Rendra mengemudikan mobilnya setengah sadar dengan kepala pening. Rendra merasa sangat pusing, lalu menghentikan mobilnya di sembarang tempat dan tidur. Rendra memang sempat tertidur beberapa saat di mobil, lalu dibangunkan Cyntia. 


Potongan- potongan kejadian semalam datang. Rendra ingat dia dipapah Cyntia sempoyongan. Bayangan Rendra menghujani Cyntia kecupan dengan gerakan rakus dan membabi buta juga datang.


Bahkan bayangan Rendra tanpa ampun menarik dan merobek pakaian Cyntia sangat nyata terlihat di otak Rendra, kemudian kenikmatan rasa saat dirinya dengan sekuat tenaga memanjakan juniornya samar- samar dia ingat. 


“Ehm!” Rendra ikut berdehem mengusap tengkuknya malu. Rendra kemudian menatap Cyntia. 


“Tetap saja, kamu yang salah! Ini kamarmu kan? Berarti kamu yang membawaku ke sini!” ucap Rendra masih membela diri.


“Wooh? Aku yang salah? Astagah, kau tau, cctv di lift dan depan apartemen kita bisa jadi saksinya, aku bisa melaporkanmu atas tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual, aku menolongmu, memintamu memberikan kunci apartemenmu! Tapi apa yang kamu lakukan?” omel Cyntia lagi mengancam dan sangat tidak terima. Padahal kalau diperiksa juga belum tentu terlihat apa- apa. 


“Lift?” tany Rendra gelagapan. 


“Iya!” jawab Cyntia mantap. 


“Ingat aja sendiri!” jawab Cyntia ketus. 


“Ehm! Berarti semalam kamu sadar? Apa itu artinya kamu juga menikmatinya? Kenapa kamu tidak menolakku?” tanya Rendra lagi masih saja otaknya gesrek. 


“Hoh, astagah, Tuhan tolong jaga otakku! Kamu tahu, musibah terbesarku dalam hidup adalah bertemu dengan laki- laki gila sepertimu! Oke gue emang sadar, tapi coba koreksi diri apa yang kamu lakukan padaku! Aku menyesal sudah menolongmu! Kamu itu, dikasih hati tapi merampok semuanya , tau nggak!” ejek Cyntia membela diri, tapi kemudian Cyntia juga terdiam dengan mata tak berani menatap Rendra. Karena perkataan Rendra ada benarnya juga.


Cyntia memang semalam sadar. Cyntia ingat semuanya, tapi Cyntia juga merasa ada yang aneh seluruh tubuhnya terasa panas. Cyntia ingin menggelinj*ng, tidak disentuh orang saja rasanya tidak karuan. Saat Cyntia berusaha memapah Rendra, bersentuhan denganya seperti membangkitkan rasa yang lama Cyntia rindukan. 


Apalagi saat Rendra seperti kerasukan setan memeluknya dan menciu*mnya dengan rakus, Cyntia seperti pengembara yang kehausan lalu diberi minum.


Cyntia sangat menikmati dan menyambutnya dengan panas. Cyntia masih sangat ingat, rasanya Rendra seperti membawanya ke puncak surga dunia.


Mereka berdua sebenarnya sama- sama sangat bersemangat. Cyntia juga ingat saat dirinya dengan agresifnya melakukan beberapa jurus dan gerakan yang bahkan saat bersama suaminya tidak dia lakukan. 


“Ehm!” Rendra berdehem lagi. 

__ADS_1


Lalu Cyntia mengacukan Rendra dan memalingkan muka dari lawan mainya itu. 


“Ya sudah lupakan malam ini, gue minta maaf!” ucap Rendra kemudian. 


Cyntia manyun dan tidak menjawab. "Enak aja minta maaf, lupakan! Mana bisa!"


Mata Cyntia berkeliling melihat pakaian mereka yang berserakan di lantai. Rasanya malu sekali, bra Cynntia dan CD Rendra bahkan menumpuk jadi satu. Oh my god, batin Cyntia.


Cyntia kemudian menarik selimut, berniat menutupi tubuhnya dan hendak ke kamar mandi menjauhi Rendra. 


“Eits jangan ditarik, enak aja!” pekik Rendra mempertahankan selimutnya juga. 


“Gue mau ke kamar mandi, syaraf!” umpat Cyntia ke Rendra. 


“Ya udah ke kamar mandi ke kamar mandi aja!” jawab Rendra. 


“Hellow, enak aja, gue nggak akan ngebiarin lo liat tubuh indahku lagi!” jawab Cyntia percaya diri. 


“Ya gue juga nggak mau, kalau lo tarik selimut ini lo liat jagoanku!” jawab Rendra lagi. 


“Astagah! Denger ya. Aku nggak minat dan nggak sudi melihatnya!” jawab Cyntia gengsi geram dan mengangkat selimutnya sekuat tenaga. 


“Jangan!” pekik Rendra lagi, mempertahankan selimut.


Mereka berdua kemudian bertengkar berebut selimut. Padahal keduanya sudah sama- sama melihatnya satu sama lain, bukan hanya melihat, mereka berdua sudah saling menyatu dan menikmati satu sama lain. 


“Thok- thok, Ciiint!” di saat yang bersamaan pintu kamar Cyntia di ketok. 


Rendra dan Cyntia sama- sama menghentikan tanganya. Mereka berdua saling pandang. Jantung keduanya sama- sama berdegub lebih kencang. Gawat kalau ada yang memergoki mereka.


“Siapa?” tanya Rendra


Cyntia mengedikan bahunya? Tanda tidak tahu. 


“Gawat, cepat kamu bersembunyi!” ucap Cyntia panik. 


Akhirnya karena sama- sama panik mereka berdua sama- sama melepas selimut, Rendra dan Cyntia sama- sama bangun tanpa tahu malu lagi dengan keaadan mereka.

__ADS_1


Cyntia sibuk memunguti pakaian mereka dan merapihkan, kemudia berpakaian yang benar. Keduanya saling melihat tubuh mereka tanpa apapun. Rendra sibuk mencari tempat persembunyian. 


__ADS_2