Sang Pangeran

Sang Pangeran
222. Isi hati Cyntia


__ADS_3

“Innalilli wa inna ilaihi rojiun” 


Semua yang ada di ruangan menunduk ikut berbela sungkawa mendengar mantan mertua Aslan meninggal.


Kia berfikir, keputusan mengajak Alena menemui Paul bulat. Pantas saja, bulan madunya terasa gelisah dan tidak menikmati, bahkan sentuhan suaminya terasa hambar dan biasa aja, ternyata itu semua memang pertanda. 


“Rendra, tolong siapkan karangan bunga dan ungkapan bela sungkawa, setelah ini kita bersiap ke kediaman Paulina!” titah Aslan ke Rendra. 


“Siap bos!” jawab Rendra. 


Rendra kemudian menoleh ke Cyntia dan Kikan, mereka kan pergi bersama, itu artinya kalau Rendra pergi, Kikan dan Cyntia juga ikut pergi dong. 


Sayangnya ditatap Rendra, Cyntia dan Kikan yang tadi terlibat percakapan rahasia malah ngebleng. 


Rendra pun mengkode dengan matanya, “Ayo pulang!” 


“Kikan ikut Kak Kia dan Kak Aslan aja!” ucap Kikan nyeplos merasa malas ikut Rendra. 


“Jangan!” lerai Rendra dan Cyntia berbarengan, lalu mereka berdua saling tatap salah tingkah. 


“Kenapa?” tanya Kia, Aslan dan Kikan ikut heran. 


Rendra dan Cyntia tidak mau kalau sampai Kikan ember. Pokoknya Cyntia dan Rendra harus terus jagain dan tambal mulut Kikan. 


“Kikan kan tadi bareng kita tadi, biar Kikan pulang sama kita juga,” jawab Cyntia gelagapan. 


“Ya... nggak apa- apa kan sama kita juga!” jawab Kia. 


“Kikan.. kan katanya tadi mau mampir ke butik temen kakak? Jadi kan? Baju takziah kamu belum punya juga kan?” timbal Rendra memberi ide. 


Mendengar itu, Kia dan Aslan mengangguk mengerti dan tidak ada prasangka apapun. Sementara Kikan yang cerdas paham arah Rendra dan Cyntia. Di situlah Kikan semakin merasa sepeti raja. 


“Oke kakak, Kikan akan ikuti permainan kalian, tapi suatu saat Kikan akan tetap bongkar rahasia kalian, sekarang mari bersenang- senang Kikan, aku kerjain aja Kak Rendra, lets begin to my party!” batin Kikan dalam hati. 


“Oh ya.. ya.. ya udah Kikan ikut Kak Rendra dan Kak Cyntia aja Kak!” tutur Kikan pamit ke Kia. 


“Hati- hati, kita nyusul setelah Alena bangun!” jawab Aslan. 


Mbok Mina yang sholat terakhiran pun datang menemani Kia. 


Rendra, Cyntia dan Kikan pergi memesan karangan bunga dan membeli baju.


Cyntia merasa terselamatkan ada Kikan jadi tidak berdua dengan Rendra. Kini mereka berdua merasa seperti sejoli yang sedang mengasuh Kikan. Kikan pun tidak menyiakan kesempatan melancarkan aksinya. 


“Mari habiskan uang Kak Rendra, hihihu!” batin Kikan melirik Rendra nakal dan langsung berkeliling mencari baju sepuasnya. Pokoknya Kikan harus buat Rendra kesal dan menyesal mengajak Kikan belanja. 


“Ehm...”


Rendra dan Cyntia yang menunggu Kikan belanja akhirnya duduk di bangku menunggu di depan sebuah butik pakaian. Cyntia sudah banyak baju tidak minat membeli.


“Apa Kikan bisa dipercaya?” tanya Cyntia tiba- tiba. 


“Entahlah!” 

__ADS_1


“Kamu kan kakaknya? Kenapa entahlah?” 


“Ya terus kalau aku kakaknya aku bisa mengendalikanya? Lihatlah dia begitu licik! Dia pasti akan habiskan uangku malam ini!” jawab Rendra melirik Kikan yang terlihat sudah banyak memegangi banyak helai kain yang siap diberikan ke petugas butik. Rendra memang selalu apes di tangan perempuan.


"Pokoknya kamu harus tangani Kikan!"


"Ya!"


"Aku nggak mau Kia dan Tuan Aslan salah paham tentang hubungan kita. Apalagi Umma!"


"Ya... bawel banget sih. Bukanya kamu seneng kalau digosipi punya hubungan dengan pria tampan sepertiku?"


"Ish... amit- amit!"


"Kenapa amit- amit, memang kamu punya pacar?"


“Bisa gila aku sama orang kaya kamu! Aku nggak mau kalau disuruh menikah denganmu, mending aku sendiri daripada sama kamu! Pokoknya jangan sampai mereka tahu!” ucap Cyntia mengatai Rendra.


Cyntia tahu sekali bagaimana, Kia, Umma dan Mbok Mina. Mereka semua menentang hubungan badan di luar pernikahan. 


Sebenarnya kata- kata Cyntia sedikit menyakiti Rendra, tapi Rendra tak mau memperlihatkanya, dan Rendra jadi ingin menyakiti Cyntia lagi.


“Siapa juga yang mau nikahin kamu, gue juga mau istri yang segelan! Bukan janda!” jawab Rendra membalas.


Entah kenapa, medengar klimat itu keluar dari mulut Rendra, Cyntia juga sama ikut nyeri di hatinya. 


"Gayak banget sih! Ingat ya, kamu juga udah bukan perjaka! Nggak ngaca asal ngatain orang!"


“Siapa yang ngatain, gue kira lo sengaja ngomong ke Kikan biar gue suruh nikahin lo!"


"Hmmmmm!" Rendra hanya berdehem.


Lalu mereka terdiam dengan egonya masing- masing.


Rendra kemudian bangun meninggalkan Cyntia menghampiri Kikan dan berniat mengendalikan Kikan agar tak belanja terlalu banyak. 


Cyntia hanya terdiam menatap punggung Rendra. 


“Kenapa setiap melihatmu aku selalu ingat malam itu, malam dimana kamu terus memanggil nama Meta padahal kamu bersamaku! Ah dasar bodoh!” umpat Cyntia dalam hati.


 Sebenarnya di setiap pertengkaran mereka ada rasa yang menyayat hati Cyntia, tanpa ada yang tahu Sejak Rendra menolong Cyntia, Cyntia terkesan dengan Rendra. Sayang Rendra selalu memperlakukan Cyntia tidak baik,lebih dari itu, yang diketahui Cyntia di dalam hati Rendra ada Meta.


Cyntia kemudian memilih memesan taksi online untuk pergi lebih dulu. 


****


Rumah sakit


Alena bangun. 


Kia langsung merekahkan senyum menyambut Alena. 


“Ibu? Daddy?” pekik Alena lalu berusaha bangun dari tidurnya dan berbaring. 

__ADS_1


“Hai, Sayang! Are you oke?” ucap Kia langsung membantu Alena untuk duduk. 


“Ibu dan Daddy, kapan ke sini? Alena dimana?” 


“Kamu di rumah sakit Sayang. Apa yang kamu rasa sekrang? Apa masih sakit?” tanya Kia lembut


“No!” 


“Ibu rindu sekali dengan Alena, boleh ibu peluk?” tutur Kia merentangkan kedua tangan siap menyediakan dada dan pelukanya memberi rumah bagi Alena.


“Emem! Boleh, Alena juga kangen, Ibu!” jawab Alena sekarang mulai tidak canggung dengan Kia, karena saat mereka jauh, Kia dan Alena tak pernah absen video callan dengan Alena. 


Mereka kemudian berpelukan hangat. Aslan hanya tersenyum menatapnya. 


“Kita ketemu Mommy yuk!” tutur Kia sambil membelai rambut Alena. 


Alena kemudian meregangkan pelukanya menjauh dari Kia. 


“Really? Ibu mengajakku bertemu Mommy? Atau Ibu mau pulangkan Alena bersama Mommy?” tanya Alena sambil melirik Aslan mengira Aslan menyuruh mengusir Alena. 


“No! jawab Kia menggeleng. “Ibu tidak akan pulangkan Alena kemana- mana, Alena akan pulang ke rumah Daddy bersama ibu dan Pangeran, Ibu hanya merasa, mungkin Alena atau Mommy Alena kangen, kita harus menemuinya,” lanjut Alena menggiring agar bisa menyampaiakan pelan- pelan kalau Omma Alena meninggal. 


“Apa Mommy Alena masih akan galak ke Alena? Alena kangen Mommy, tapi bukan Mommy yang sekarang!” jawab Alena menunduk. 


Kia pun membelai kepala Alena. 


“No Alena, Mommymu sebenarnya baik ke Alena, kemarin itu, mungkin Mommy kamu sedang marah. Ibu pikir sekarang Mommymu sudah selsai marah, Kita temui Mommymu ya!” ajak Kia masih belum tega menyampaikan kalau Omanya meninggal. 


“Begitukah?” 


“Yes!” 


“Oke  Ibu! Kita temui Mommy! Alena berdoa semoga Mommy sudah baik dan sayang Alena lagi. Tapi Alena masih ada obat ini? selang ini dilepas dulu!” 


“Kita bawa perawat, dan kamu pakai kursi roda ya!” 


“Kenapa begitu?” 


“Karena kamu masih sakit?” 


“Kalau memang Alena masih sakit, biar Mommy yang suruh ke sini! Kenapa harus Alena yang membawa perawat untuk bertemu Mommy, Bu? Berarti Mommy belum sayang Alena lagi? Alena tidak mau!” tanya berfikir cerdas. 


Kia pun terdiam, mau tidak mau Kia harus sampaikan kenyataanya. Tapi Kia bingung bagaiamana mengatakanya. 


“Kita harus datang ke pemakaman Oma Jessy, Nak! Mommymu sedang bersedih, dia tidak akan jahat lagi padamu. Daddy dan ibu akan temani kamu” ucap Aslan terus terang dan tanpa bosa basi. 


Alena yang pintar membelakan matanya mendengar itu. 


“Oma meninggal?” tanya Alena dengan ekspresi polosnya.


“Ya! Maafin ibu, sabar yah, Alena nggak boleh sedih, doain Oma ya!" tutur Kia membelai rambut Alena.


"No, Ibu. Alena tidak sedih!" jawab Alena di luar dugaan Kia dan Aslan sehingga membuat Kia mendelik.

__ADS_1


"Oma, selalu ingkar janji pada Alena. Oma juga tidak pernah mengunjungi Alena atau jenguk Alena. Oma janjii banyak hal ke Alena tapi nggak ada ditepati!" jawab Alena kemudian.


"Ehm...." Kia dan Aslan jadi diam. Nyonya Jessy memang banyak tinggal di luar negeri. Alena banyak diasuh oleh Mbok Mina.


__ADS_2