Sang Pangeran

Sang Pangeran
111. Tidak tahu Malu


__ADS_3

Setelah saling melepas rindu dan bermaaf- maafan. Danu, Ranty dan Rafly anaknya mengikuti Aslan dan Kia.


Untuk pertama kalinya mereka menaiki mobil Alphard mewah. Kia sendiri bahkan yang mau jadi istri Aslan, belum tahu kalau aset Aslan masih ada beberapa mobil berharga Milyaran di galerynya. 


Aslan duduk di tengah bersama Kia, Kak Danu dan keluarganya di belakang. Tak henti- hentinya Ranti berselfie ria untuk dia pasang di media sosialnya. Sementara Rafli anaknya diurus Danu suaminya. 


Kia merasa sangat tidak nyaman dengan Aslan atas kelakuan iparnya itu. Tapi Aslan bukan orang bodoh, Aslan bahkan sudah menyindir ke arah mengugurkan. Melihat tingkah ipar dari calon istrinya itu, Aslan juga sudah jengah dan mengepalkan tangan. 


Tapi melihat Kia menangis, begitu juga dengan keramahan Danu, Aslan menahanya. Yang penting bagi Aslan sekarang jadikan Kia istri sahnya dulu. Menjadi miliknya seutuhnya baru akan dia bereskan satu- satu. 


“Ya Tuhan, apa komentar Singa Gila ini ke Kak Ranti? Kenapa dia tampak biasa saja, benarkah dia biasa saja? Aku sungguh tidak bisa menebaknya, tapi kenapa sikapnya membuatku semakin cinta sih? Oh andai saja besok pagi adalah pernikahan yang normal, aku akan sangat bahagia” 


Sepanjang jalan Kia menatap calon suaminya itu dengan penuh kekaguman. Aslan pun hanya senyum- senyum dalam hati membayangkan tiba waktunya Kia harus membayar mahal atas semua yang Aslan lakukan. Menemani malam-malamnya yang selama ini menjadi hangat.


Karena sudah malam, perjalanan kembali ke rumah Pangeran lebih cepat dari keberangkatanya. Ranty terbengong melihat rumah mewah yang ditempati Kia kini. Dan yang lebih lagi, saat Mbak Narti keluar menyambut tamu majikanya. 


“Antar Kak Dhanu ke kamar tamu ya Mbak! Udaj dibersihkan kan?” ucap Kia ramah ke Mbak Narti. 


“Baik Non, sudah” 


Lalu Mbak Narti mengajak Danu dan Ranty. 


“Ayo Mbak ikut aku!” ucap Mbak Narti. 


Lalu dengan secepat kilat Ranty langsung meraih Mbak Narti dan menyeretnya. Menyerbunya dengan banyak pertanyaan.


“Kok kamu ada di sini? Kamu kerja sama Kia? Kok kamu nggak kasih tau aku?” 


Mendengar banyak pertanyaan Ranty, Mbak Narti yang sudah hafal sifatnya hanya bisa menghela nafas. 


“Anakmu tidur Mbak, kasian Mas Danu gendong terus, ayo kutunjukan kamar kalian menginap, tanyanya nanti lagi. Jangan macam- macam di sini, suami Kia itu galak lho!” jawab Mbak Narti cerdas. 


Ranty pun hanya menelan ludahnya mendengar ancaman Mbak Narti. Mbak Narti memang cerdas. Lalu mengikuti Mbak Narti masuk ke kamar dan menidurkan anaknya. Setelah sampai kamar, Ranty pun kembali menyeret Mbak Narti. 


“Kamu udah lama kerja sama Kia? Ketemu dimana? Enak banget ya kamu kerja dan tinggal di rumah mewah begini?”

__ADS_1


“Hhhh” Mbah Narti hanya bisa melengos rasanya kesel banget ngeladenin mulut si Ranty ini, bisa- bisanya Danu jatuh cinta sama dia. Mbak Narti pun berusaha menghindar tapi dicegahnya.


“Ishh, jawab dulu jangan main pergi gitu aja!” cegah Ranty menarik tangan Mbak Narti memaksa Mbak Narti bergosip. 


“Aku belum lama, aku masih training di sini, jangan macam- macam dan jangan buat aku dipecat. Aku harus buatkan minum untuk Tuan Aslan. Aku ketemu Kia karena mantan majikanku teman Non Kia!” jawab Mbak Narti lagi dengan cerdas lagi membuat jurus menghindari Ranti. 


“Oh...” jawab Ranty melepaskan Mbak Narti.


“Huh! Dulu aja Kia diusir nyesel kan kamu usir adik sendiri sekarang udah kaya!” batin Mbak Narti sambil berjalan kesal ke Ranty. 


Mbak Narti pun menghampiri Mbok Mina yang baru bangun karena ketiduran menidurkan Ipang. Mbok Mina bangun saat Kia dan Aslan masuk melihat keadaan Ipang. 


“Eh Non Kia, Den, maaf saya ikut ketiduran di sini, maaf Non!”  ucap Mbok Mina merasa sungkan. 


“Nggak apa- apa Mbok. Makasih ya Mbok udah temani Ipang, dia rewel nggak? Udah lama tidurnya?” tanya Kia ke Mbok Mina.


“Den Pangeran baru aja tidur, dia nanyain ayah ibunya terus kapan pulang, katanya mau nunggu, tapi tak puk- puk, Alhamdulillah tidur, Mbok jadi ikut tidur,” tutur Mbok Mina bercerita.


“Hehe, nggak apa- apa Mbok,” jawab Kia lagi tersenyum. 


Kia kemudian mendekat ke Ipang, membelai rambut dan pipinya dengan lembut, kemudian mencium keningnya lembut. Ipang tampak sangat tampan dan imut saat tidur. Kia bersyukur anaknya tumbuh sehat dan sempurna.  


“Dia tampan karena ku?” bisik Aslan ke telinga Kia, tau- tau sudah di belakang Kia sangat dekat, bahkan Kia hampir bersandar pada tubuh Aslan. Jelas saja hal itu membuat Kia kaget. 


“Abang ih! Kia kaget!” ucap Kia menjauhkan wajahnya dari Aslan. 


“Besok kita buat adik Pangeran yang versi cantik ya!” bisik Aslan lagi dengan senyum nakalnya dan membuat Kia merinding salah tingkah.


“Ish.. apa sih Bang? Yang bikin itu Tuhan bukan kita!” 


Kia kemudian berdiri dan memilih menghindar dari Aslan. Berdekatan dengan Aslan membuat Kia panas dingin. 


“Mau kemana?” tanya Aslan melihat Kia bangun


“Udah malam Kia mau ke kamar lah, mau tidur Bang! Abang mau minum hangat? Biar Kia ambilkan?”

__ADS_1


"Abang maunya pelukan hangat bukan minuman hangat"


"Ishh. Udah ah Kia mau tidur!"


“Nggak tidur sini?” ledek Aslan.


“Nggak!” jawab Kia ketus sambil berjalan keluar. 


Aslan hanya tersenyum melihat Kia mulai bersungut- sungut lagi, kemudian Aslan beranjak dari duduknya, mengganti bajunya membersihkan dirinya. Dan tidur menemani Ipang. 


Mbak Narti dan Mbok Mina dengan cekatan menyajikan minuman hangat diantar ke kamar Danu. Danu merasa terharu diperlakukan dengan sangat hormat. Berbeda dengan Ranti dia menjadi lupa diri dan berfikir jahat. 


“Aa’ enak banget ya tinggal di kasur empuk begini? Disediain makanan enak lagi” ucap Ranty sambil memakan kue yang disediakan Mbok Mina. 


“Kia pantas Neng dapetin ini semua, dia sudah banyak menderita dan bekerja keras” jawab Danu pelan menasehati istrinya. 


“Heh Kia doang yang pantas?” 


“Lah terus?” 


“Kita juga pantas atuh Aak tinggal disin!” ucap Ranti mulai mempengaruhi suaminya. 


“Ngaca kamu Ran. Kamu siapa, kita siapa? Jangan buat Kia malu pada suaminya karena kelakuanmu!” omel Danu memperingatkan Ranty. 


“Aak, suami Kia itu bos besar, Aak bisa minta pekerjaan padanya. Kamu kan Kakak iparnya harusnya bisa dong kamu dikasih kedudukan yang terhormat dan tinggi!” 


“Ranty, tutup mulutmu! Kamu harusnya malu berkata begitu, kamu tidakingat apa yang sudah kita lakukan pada Kia dulu? Kia mau memaafkan kita saja itu sudah Alhamdulillah” 


“Aa Ranty itu hanya kasih solusi yang benar agar hidup kita bisa lebih baik! Apa iya Kia tega biarkan hidup kakaknya terlunta- lunta sementara dia kaya raya?” 


“Tidak! Kamu saja tidak memikirkan bagaiamna nasibnya saat kau mengusirnya? Jangan ganggu hidup Kia lagi. Sudah malam tidurlah!” 


“Hhhh dasar laki- laki tidak berguna” batin Ranty melihat suaminya menarik selimut untuk tidur.


“Mana kutahu, kalau kia hamil dari laki- laki kaya. Kalau tau ya nggak kuusir. Narti saja bisa kerja di sini, aku harus cari cara agar aku bisa bekerja di sini juga” 

__ADS_1


 


__ADS_2