Sang Pangeran

Sang Pangeran
96. Nggak Peka.


__ADS_3

Satya, Manda, Rendra dan Aslan mengobrol sebentar, saat semua peserta sudah meninggalkan aula. 


“Apa rencana kakak setelah ini?” tanya Satya ke kakaknya. 


“Liat aja nanti” jawab Aslan asal. 


Meski Aslan sayang dan peduli pada Satya dalam hal pekerjaan Aslan lebih percaya pada Rendra. Aslan pun tidak mau bercerita tentang rencananya pada Satya. 


Mendapatkan jawaban yang tidak sesuai harapan Satya pun tidak bertanya lagi. Dia tidak marah, dia tau sifat kakaknya memang seperti itu, menyebalkan. Dan dia sudah kebal.  


“Satya berharap kakak tetap baik- baik saja, aku hanya khawatir terhadap nasib kakak,” ujar Satya. 


“Gue mau fokus ke percerainku. Setelah akta ceraiku keluar baru aku pikirkan langkahku” jawab Aslan lagi. 


“Baiklah jika itu yang terbaik buat Kakak” jawab Satya. 


Lalu mereka beranjak bangun dan meninggalkan aula. Saat mereka berjalan, Aslan menangkap suara emas dari perempuan yang dia rindukan. Aslan pun berhenti dan mencari sumber suara.


Saat itu juga Aslan mengembangkan senyumnya. Aslan kemudian berhenti, memperhatikan dan mendengarkan pertengkaran dan adu mulut dua perempuan yang mewarnai hidupnya. 


Aslan tersenyum  sangat puas. Tidak diragukan lagi, jika pada Aslan saja Kia begitu galak dan ketus apalagi ke Paul, rupanya Kia berhasil membuat Paul naik pitam dan terbekuk malu dengan perkataanya. 


“Good job Baby!” batin Aslan dalam hati semakin kagum dan bangga dengan Kia.


Terlebih dengan mata telanjang dan dengan telinganya sendiri Aslan mendengar, Kia bilang mereka akan hidup bahagia dengan cinta. Aslan langsung ingin terbang melayang. Sayang sayap Aslan belum terpasang jadi hanya hidung dan dadanya yang mengembang.   


Sementara Rendra, Manda dan Satya di belakang Aslan hanya menonton dan geleng- geleng kepala melihat adegan drama rumah tangga kakaknya itu. Mereka bahagia melihat dan mendengarnya, dan itu cukup buat mereka. Tidak mau ikut campur mereka pergi meninggalkan ketiga orang yang berselisih itu. 


“Jangan sakiti istriku, berani menyentuhnya, kupatahkan tanganmu!” ucap Aslan spontan saat melihat Paul megangkat tanganya. 


Kedua perempuan itu menoleh ke Aslan. Aslan pun mendekat. Dan tentu saja mendekati Kia. Berdiri di sampingnya.


Mendengar Kia mencintainya Aslan tidak mau menyiakan kesempatan. Reflek tangan Aslan merangkul Kia di depan Paul dengan tatapan mengejek. 


Sementara Kia terlihat sangat malu dan salah tingkah. Menyadari tangan Aslan berada di bahunya Kia sedikit menghindar dan menepisnya merasa risih.


“Isshh jangan ambil kesempatan” bisik Kia memegang tangan Aslan hendak menurunkan tapi Aslan malah mengencangkan dan mengeratkan sehingga kesanya Aslan merangkul Kia dan Kia memegangi tanganya.


"Sudah diam saja, Sayang" bisik Aslan tidak tau malu. Kia pun pasrah karena di depan Paul.


Jahat memang mereka mempertontonkan hal itu di depan Paul, ya meskipun Paul menyebalkan. Tapi kalau mengingat statusnya, untuk orang luar yang tidak tahu permasalahanya akan melihat Kia berada di posisi yang salah.


Saat akta cerai belum kelur Aslan dan Kia tega mendeklarasikan cinta mereka di depan Paul. 

__ADS_1


Dan karena mereka di kantor tanpa sengaja karyawan mereka melihatnya. Dari kejauhan dengan mata kepala sendiri, Delvin, Putri dan Siska melihat Aslan merangkul Kia, berhadaapan dengan Paul. Entah apa penilaian mereka ke Kia sekarang.


“Kaliaan... dasar, aku berjanji kalian tidak akan bahagia!” umpat Paul ke Kia dan Aslan.


“Tidak usah banyak mengumpat, urus saja hidupmu. Kenapa Pengadilan mengudur sidang keputusan putusan cerai kita! Apa yang kamu harapkan dariku? Kita sudah bercerai sejak lama, apa kau tidak tahu malu?” tanya Aslan ke Paul mencurahkan rasa bencinya. Kenapa Paul tidak segera menyelesaiakan masalah ikatan palsunya.


Paul terdiam dengan muka pucat. 


“Baik, jika itu maumu, secepatnya aku kabulkan!” jawab Paul. 


“Bagus!” jawab Aslan. 


“Hhh” Paul hanya bisa menghela nafasnya dan pergi.


Di saat yang bersamaan dengan perginya Paul, mata Kia menangkap ketiga temanya memperhatikan dia, bahkan Siska menyalakan ponsel untuk memotretnya. Spontan Kia langsung menghempaskan tangan Aslan kasar. 


“Jangan sentuh aku begini! Kita jadi bahan tontonan aku tidak nyaman” ucap Kia dengan muka malunya. 


“Ehm” Aslan berdehem dan menatap Kia dengan muka nakalnya. Lalu mendekat ke Kia dan berbisik. 


“Aku tadi denger sesuatu. Ada yang bilang akan hidup saling cinta, kenapa malu” sindir Aslan puas. 


“Ish” desis Kia memanyunkan bibir kesal. Kenapa Aslan nggak mudeng maksudnya.


“Apaan sih?” jawab Kia menghindar. 


“Apa ucapanmu tadi, artinya cintaku diterima? Apa itu artinya kita akan segera menikah?” tanya Aslan memastikan apa yang dia dengar. 


“Ehm... teman- temanku memperhatikan kita. Jaga sikapmu!” jawab Kia menunduk dan memberi kode lagi kalau mereka jadi tontonan dan Kia mengalihkan pembicaraan.


Lalu Aslan menoleh ke Delvin dan rombongan yang terlihat antre absen di depan alat face print. Menyadari di tatap Aslan, Delvin dan rombongan menghentikan pengintaian mereka. Meski mereka kaget dan syok mereka memilih pergi. 


Aslan bukan malu takut atau menghindar. Aslan justru tersenyum dan meraih tangan Kia dan menggenggamnya.


“Nggak masalah, biar saja, biar semua tau kalau kamu miliku” jawab Aslan malah ingin menunjukan ke semua orang kalau Kia wanitanya. 


“Apaan sih, jangan sentuh aku” jawab Kia membuang tangan Aslan dan tidak mau digandeng. 


“Kenapa? Kan kamu tadi kan yang bilang ke Paul, kalau kita akan hidup bahagia, kita saling cinta” jawab Aslan lagi kecewa tanganya ditepis. 


“Ingat kita belum muhrim, jangan pegang-pegang” jawab Kia. 


“Oh, yaya, maaf” jawab Aslan menggut manggut. “Terus kapan dong di jadikan muhrimnya?” ledek Aslan lagi. 

__ADS_1


Kia melirik ke temanya yang tampak mulai berjalan keluar. Tidak ingin lebih banyak orang yang melihat Kia pun ingin pergi. 


“Aku mau pulang” ucap Kia berlenggang dengan muka jaimnya meninggalkan Aslan. 


Aslan langsung mengejar dan mensejajari Kia. 


“Tunggu!” seru Aslan meraih tas pinggang Kia karena kalau memegang tangan Kia, Kia marah. 


“Apalagi?” tanya Kia dengan muka cemberutnya.


“Kamu nggak kangen sama aku?” tanya Aslan nggak penting menatap mata Kia. 


Kia diam menoleh ke Aslan. Mereka saling tatap. Mata Kia menyiratkan, iya, Kia kangen banget, bahkan kalau boleh Kia ingin menghambur ke pelukan Aslan, mengadu atas apa yang terjadi pada Ipaang. 


Tapi Kia tidak mau mengungkapkannya apalagi di kantor. Kia malu, Kia gengsi, padahal rencana Kia, Kia ingin mencurahkan banyak sekali pertanyaan. Tapi semua kata itu menghilang entah kemana. Rasaanya tubuh Kia memanas dan dipenuhi rasa malu dan dheg- dhegan. 


“Aku mau pulang” jawab Kia lagi.


Sebenarnya Kia memberikan jawaban itu sebagai kode. Ayo pergi dari sini dan ke rumah, kita ngobrol di rumah aja. Tapi Kia tidak kuasa mengucapkan kata- kata itu. 


“Apa kau suka dan nyaman dengan rumahnya?” tanya Aslan malah menanyakan rumahnya.


“Ehm” Kia berdehem menarik tasnya dan melihat sekeliling. Kenapa Aslan tidak paham juga, Kia tidak nyaman mengobrol di jalan kantor begini. Bagaimana kalau dilihat banyak orang. 


“Suka” jawab Kia datar. 


“Apa kau tidak ingin ngobrol denganku dulu?” tanya Aslan lagi masih merayu. 


“Aslan ini kantor, ayo kita pulang!” ucap akhirnya merasa gemas ke Aslan tidak mudeng- mudeng kalau Kia tidak nyaman berada di situ. 


“Apa kau sudah makan?” tanya Aslan lagi. 


“Sudah, Mbok Mina buatkan aku bekal” jawab Kia memalingkan pandangan ke Aslan ingin memberitahu, kalau Kia sudah tau semuanya, ada Mbok Mina di rumah. Ayo pulang dan Kia mau memulai semuanya. Tapi tidak kuasa dia ucapkan.


“Mbok Mina?” tanya Aslan malah kaget.


“Iissh, sudah ayo pulang!” jawab Kia akhirnya dan berjalan meninggalkan Aslan.


Kia merasa Aslan tidak peka banyak pertanyaan dan nggak mudengan. Kia jadi kesal sendiri. 


****


Buat semangat author sll koment dan tekan jempol ya Kakak. Terima kasih. Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2