Sang Pangeran

Sang Pangeran
137. Bu Arini


__ADS_3

Pov Aslan dan Kia.


"Kok baru sampai sih Bang? Kikan sampai jenuh nunggunya lho!" tutur perempuan yang menyambut Aslan.


"Jadwal pesawatnya kan memang siang, Cantik!" jawab Aslan ramah mengusap kepala perempuan itu.


"Humm... " perempuan itu malah memanyunkan bibir sok imut, tapi tak senatural Kia.


"Sok cantik banget sih, kenapa juga harus sama panggilanya, Bang!" gumam Kia sangat kesal melihat tingkah perempuan itu.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya sopir menawarkan bantuan ke Kia. Karena Kia tak kunjung turun.


"Nggak Pak. Makasih ya Pak! Suami saya udah bayar kan?" ucap Kia ke sopir sebelum turun.


"Sudah Nyonya! Sama-sama." jawab Sopir. Kia kemudian keluar.


"Umma di rumah? Apa dia sehat?" tanya Aslan ke Kikan.


"Huum. Umma di dalam, dia udah nunggu Bang Aslan dari tadi. Umma juga masak banyak sekali! Ayok buru masuk!" ucap perempuan itu yang bernama Kikan menyeret lenga Aslan.


"Tunggu, bentar ya!" ucap Aslan menghentikan kikan. Aslan menoleh ke Kia dan menyapa Sopir taksi mengucapkan terima kasih.


Di depan sebuah rumah bagus itu, si Kikan memegangi tangan Aslan terus dengan manja. Sampai Kia risih meligatnya. Kia mengepalkan tangan setelah keluar dari mobil. Mulutnya mengatup sempurna dan berdiri di hadapan Aslan dan Kikan.


"Huh? Siapa dia?" tanya Kikan melihat Kia setelah mobil berlalu.


"Dia kejutan yang Abang bilang ke kamu dan Umma!" jawab Aslan lagi.


"Ehm. Maksud Bang Aslan apa?" tanya Kikan cemberut, tidak suka ternyata kejutan Aslan berupa seorang perempuan.


Aslan kemudian berusaha melepaskan tangan Kikan. Dan mengajak Kia mendekat.


"Kemarilah, Sayang!" panggil Aslan Kia.


Kia mengeratkan rahangnya masih ngambek. Kia sangat kesal melihat tangan yang sudah menjelajahi tubuhnya dipegang- pegang perempuan lain yang Kia belum tahu siapa. Kia sangat yakin perempuan itu bukan saudara Aslan.


Meski langkahnya terasa sangat berat Kia mendekat ke Aslan. Masih dengan raut muka kesal Kia berusaha menarik kedua sudut bibirnya tersenyum pada Kikan. Kikan malah menampakan muka jutek ke Kia.


"Kenalkan, dia istriku! Kiara!" ucap Aslan merangkul Kia, mengenalkan Kia ke Kikan.


Sebagai perempuan dewasa meski kesal, Kia mengulurkan tanganya. Kia masih berbaik hati berniat memperkenalkan diri.


"Kiara!" ucap Kia


Tanpa canggung, atau menjaga perasaan, Kikan menampakan muka tidak suka pada Kia. Kikan juga menolak tangan Kia.


"Huh. Kenapa istri kedua Bang Aslan, malah lebih jelek dari istri pertama sih Bang?" jawab Kikan terus terang.


"Mbuah!"


Kia pun dibuat terhenyak dengan perkataan perempuan yang terlihat lebih muda dari Kia itu. Berani-beraninya dia mengatai Kia lebih jelek dari Paul. Siapa sebenarnya perempuan ini, dia sendiri saja tak secantik Kia.


"Hiiish!" Kikan malah mendesis ke Kia.

__ADS_1


Aslan pun tersenyum melihat dua wanita itu.


"Bagi Bang Aslan dia yang paling cantik dari semua perempuan!" jawab Aslan membela Kia, tapi tetap saja Kia kesal karena Aslan membiarkan Kikan nempel- nempel ke Aslan.


"Termasuk aku? Kikan cantik kok!" tanya Kikan.


Aslan tersenyum mengangguk.


"Iya! Kamu kan masih ingusan! Jadi istri Bang Aslan tetap yang paling cantik. "


"Ih Bang Aslan! Kikan sudah dewasa Bang. Kikan cantik, lihatlah Kikan!"


"Yaya, Kikan akan jadi perempuan tercantik buat suamimu nanti! Sudah, ayo masuk!" ajak Aslan tidak ingin memperpanjang kekesalan dua perempuan itu.


Tangan Aslan kemudian menggenggam tangan Kia, mengajak Kia masuk.


"Ayo Sayang masuk!"


Sayangnya Kia berusaha berkelit dan menolak tangan Aslan.


"Kenapa?" tanya Aslan lirih merasa ditolak.


"Kia bisa jalan sendiri!" jawab Kia masih ketus.


Kikan pun mendengar dan melihat adegan itu. Tidak menyiakan kesempatan, Kikan kembali menggandeng tangan Aslan berjalan masuk.


"Apa ini? Dasar cabe- cabean! Ihh!" gumam Kia gondok, karena Aslan membiarkan Kikan bergelayut di tanganya. Kia mau menyingkirkan Kikan dari Aslan tapi keburu datang seorang perempuan tua dengan rambut beruban digulung rapih dan bungkus kain ciput.


"Alhamdulillah, sudah datang to Le?" tanya perempuan itu mengembangkan bibirnya sehingga kerutan pipinya terlihat.


"Apa kabarmu dan kabar Rendra?" tanya Perempuan itu yang ternyata bernama Umma Arini, sambil mengelus lengan Aslan.


"Alhamdulillah, Aslan baik seperti yang Umma lihat. Rendra juga baik!" jawab Aslan.


"Apa dia ikut?"


"Nggak Umma dia mengurus pekerjaan Aslan selama Aslan ke sini!" jawab Aslan


Umma Arini terdiam dan menoleh ke Kia yang berdiri termenung di belakang Aslan.


"Siapa genduk Ayu ini?" tanya Umma Arini.


"Dia kejutan Aslan untuk Umma!" jawab Aslan.


Umma Arini kemudian tersenyum menatap Kia yang berdiri mematung.


"Alis dan matamu sangat cantik Nak. Kamu pasti perempuan hebat bisa mengambil hati putraku yang nakal ini!" ucap perempuan itu memuji Kia tiba-tiba.


Kia menjadi tersipu, dan tersenyum mengangguk.


"Ayo. Sayang kenalan sama Ummaku. Dia adik dari ibuku!" ucap Aslan mengajak Kia berkenalan dengan perempuan tua itu.


Kia kemudian mendekat dan mencium tangan Bu Arini. Bu Arini juga menyambut Kia dan mengelus pundak Kia lembut.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik Nak. Terima kasih sudah mau menerima dan menyayangi anakku!" tutur Bu Arini.


Kia mengangguk tersenyum.


"Diakah yang kamu ceritakan selama ini?" tanya Bu Arini lagi ke Aslan.


"Iya!" jawab Aslan.


"Mana anakmu?" tanya Bu Arini lagi di luar dugaan Kia. Kenapa perempuan ini tau Ipang. Mbok Mina nggak pernah cerita ada perempuan lain di hidup Aslan selain Bu Andini, ibu Aslan.


"Dia masih belum bisa Aslan ajak ke sini Umma! Secepatnya Aslan ajak dia kesini. Umma pasti menyukainya. Dia anak yang sangat tampan dan pintar" jawab Aslan.


"Baiklah. Umma tunggu waktu itu tiba!" jawab Umma.


"Ehm. Ehm!" Kikan pun berdehem tidak suka melihat Bu Arini menyambut Kia dengan baik.


Mendengar deheman Kikan, Bu Arini menoleh.


"Kikan, antarkan Abang dan istrinya ke kamarnya! Biar mereka istirahat dulu. Setelah ino sholat Maghrib kita makan bersama ya!" tutur Bu Arini lembut.


"Iya Umma!" jawab Kikan malas.


"Ayo Bang!" ucap Kikan mengajak Aslan ke kamarnya.


"Ayo Sayang!" tutur Aslan mengajak Kia.


Kia mengikuti Aslan dan Kikan. Kini Kia sedikit menetralkan cemburunya, berusaha berbaik sangka, mungkin Kikan adik sepupu Aslan dan Rendra. Tapi entah kenapa Kia tidak rela ada perempuan lain yang bermanja dengan Aslan.


"Ini kamarnya, sudah Kikan bersihkan Bang!" ucap Kikan sampai di sebuah kamar yang letaknya di ujung belakang rumah itu.


"Makasih, ya!" jawab Aslan


"Hemm!" jawab Kikan manyun dan langsung pergi.


"Ayo masuk!" ucap Aslan lagi ke Kia sambil menyeret koper.


Mereka berdua masuk ke kamar itu. Kamar yang luas dengan settingan sederhana dan kuno. Cat temboknya juga berwarna abu-abu, setengahnya masih anyaman kayu. Tidak terlihat murah tapi justru menambah elegan dan asrinya rumah itu. Jendelanya juga bukan jendela kaca, melainkan susunan kayu yang diukir rapih.


Ranjangnya masih berkelambu. Beberapa ornamen yang menghiasi dinding rumah itu terbuat dari bambu bertuliskan kaligrafi. Suasananya menjadi terasa dingin dan menenangkan.


Kia mengedarkan pandanganya berkeliling. Setelah meletakan kopernya Aslan mendekat ke Kia dan memeluknya dari belakang. Dihirupnya aroma kepala Kia lembut.


"Kamu kenapa cemberut terus sih?" bisik Aslan ke Kia.


"Kita sekarang dimana sih Bang? Kikan itu siapa? Ini rumah siapa?" tanya Kia.


****


Makasih yaaa yang udah mau baca.


Maaf alurnya loncat-loncat. Part Rendra nanti muncul lagi. Semoga masih bisa dipahami ya.


Insya Alloh Nanti malam Up lagi kok.

__ADS_1


Buat semangat author selalu pencet tombol like dan tinggalkan koment ya.


Makasih.


__ADS_2