
Dalam semalam, rudal serangan yang dilakukan Paul langsung bekerja. Pagi itu di televisi di acara- acara gosip semua menyiarkan pernyataan Paul. Sebagai artis terkenal dan mantan istri golongan orang terkaya di negara itu, tentu hidup Paul menjadi tontonan menarik.
Tuan Alex, istri dan putri tercintanya tersenyum puas mendengarkan acara televisi di rumah besar itu.
“Kita tunggu respon Aslan!” ucap Si Laki- laki tua yang jahat itu.
“Bagaimana kalau Aslan serang Paul, Pah?” tanya Paul khawatir.
Hati selalu jujur, segimana tipu daya yang dibuat, hati Paul tidak tenang, karena kenyataan dia yang menghianati Aslan lebih dulu.
“Aslan mungkin bisa membela diri atas istrinya, tapi kalau dia bela istrinya dan sanggah pernyataanmu, itu berarti dia buka aib istrinya di masalalu, bukankan kamu bilang istrinya itu dulu perempuan bayaran?” jawab Tuan Alex.
“Iya sih Pah!” jawab Paul.
“Serangan kedua, ada Alena dan anakmu yang ada di kandunganmu! Kita bisa angkat ini” ucap Tuan Alex lagi.
“Ya Pah!” jawab Paul mengangguk.
“Yang penting sekarang bersikap baiklah di luar, kalau bisa tunjukan kebaikan keluarga kita!” sambung Nyonya Jesy.
“Kita siapkan untuk datang ke acara Alena nanti malam! Pasti akan banyak wartawan!” tutur Tuan Alex lagi.
“Ya Pah!” jawab Paul lagi.
Tuan Alex kemudian kembali tertawa. Lalu mereka menyantap sarapan bersama. Tuan Alex mengira sekarang Kia dan Aslan sudah mengetahu beritanya, Tuan Alex mengira Aslan akan dipojokkan dan kebakaran jenggot.
Tuan Alex puas karena anaknya sekarang menjadi bahan perbincangan dan mengundang simpati banyak orang.
******
Sayangnya orang yang sedang dibicarakan itu saat itu masih bergelung di bawah selimut. Masyarakat memang sedang heboh membicarakan keburukan Aslan, tapi Aslan sama sekali tidak terusik, bahkan tidak tahu dan tidak peduli.
Aslan justru hatinya sangat lega, karena salad agenda bergerilyanya semalam dia berhasil menemukan senjata pamungkasnya. Senjata Aslan jauh lebih hebat dari rudal Paul, ibarat kata, punya Aslan lebih mematikan.
Aslan tidak sempat menyalakan televisi, apalagi menonton acara gosip. Ponselnya saja belum dia buka, padahal alarmnya berbunyi terus.
Agenda penting hari ini adalah bertemu Rendra hendak memberi pelajaran ke tikus pengganggu seperti Jeje, itupun belum dia buka. Hal itu karena si Rendra sendiri juga belum menghubunginya dan belum siap. Sepertinya, Rendra dan Aslan sama- sama akan merubah jadwal agenda hari ini.
Aslan sekarang justru sedang berada di pintu surga. Meski belum masuk ke inti keindahanya, tapi Aslan sudah dibuat mabuk kebayang. Aslan melupakan semua urusan kerjaan dan masalahnya.
“Cup.” Aslan mencium kepala Kia yang selalu beraroma wangi dan membuat candu untuk Aslan.
“Udah nggak marah lagi, sekarang kan?” tanya Kia polos mendongakan kepala melihat wajah yang memberian kecupan hangat di kepalanya.
Kia baru saja menjalankan hukuman dari suaminya. Hukuman karena Kia akrab dan ngobrol dengan sahabat laki- laki Kia. Sepanjang malam dan sepanjang jalan Aslan mendiamkan Kia. Kia sampai mati kutu dibuatnya.
__ADS_1
Untuk bisa mencairkan hati Aslan, bayaranya, Kia harus membuang rasa jijiknya. Entah bagaiamana caranya, Kia harus membuat Aslan merasa senang.
Kia pun terpaksa searching di google dan menonton video bagaimana cara menyenangkan suaminya itu, tanpa harus bersusah payah karena sedang berhalangan dan tanpa membuat tanganya pegal. Entah dosa atau tidak cara yang ditempuh Kia, Kia hanya berniat menyenangkan suaminya. Membuat Aslan berhenti marah.
“Abang nggak suka kamu dekat- dekat dengan laki- laki selain Abang!” jawab Aslan, sambil mengusap bibir Kia yang sudah membuatnya terbang ke pintu surga.
“Bang, Mas Azam itu ada istrinya, dia udah seperti Kakak Kia, janganlah Abang keterlaluan begitu!” ucap Kia untuk yang kesekian kalinya menjelaskan.
“Ehm!” Aslan berdehem dan mengeratkan pelukanya agar tubuh mereka semakin merapat. Kulit mereka kini saling bersentuhan tanpa penghalang.
“Abang nggak peduli. Pokoknya kamu nggak boleh ngobrol atau dekat- dekat dengan laki- laki selain Abang!” ucap Aslan posesif.
“Ishhh, Ipang juga laki- laki!” jawab Kia mendesis.
“Ya beda, Sayang, kalau Pangeran anak Abang juga!” jawab Aslan sambil mengacak- acak rambut Kia.
“Hemmm!” jawab Kia cemberut.
“Udah jam berapa sih sekarang?” tanya Aslan.
“Udah jam sembilan!” jawab Kia cemberut.
“Astaga! Abang ada banyak janji hari ini!” ucap Aslan ingat semua agendanya. Aslan baru sadar mereka berdua asik bergumul sampai lupa agendanya.
“Kia kan udah ingetin, Abang! Abang malah narik Kia buat tiduran lagi!” jawab Kia lagi.
“Abang nggak jijik?” tanya Kia.
“Jijik kenapa? Masa sama istri sendiri jijik!”
“Ya kan Kia, masih itu!”
“Kamu aja nggak jijik sama Abang, nggak kok! Yuk!” jawab Aslan tanpa permisi langsung mengangkat tubuh Kia ke kamar mandi.
*****
Di tempat lain, Rendra masuk ke lemari pakaian Cyntia menyembunyikan diri.
“Ehm!” Cyntia merapihkan rambutnya dan dibiarka tergerai agar menutupi lehernya. Cyntia kemudian membuka pintu apartemenya.
“Lama banget sih lo, bukainya, lagi apa sih!” omel Shella langsung menerobos Cyntia masuk ke apartemen Cyntia.
“Sory gue abis dari kamar mandi, ngapain lo pagi- pagi kesini sih! Kan kita bisa ketemu di lokasi!” jawab Cyntia.
“Gue mau minta ditraktir sarapan sama lo!” jawab Shela. Shela nggak masuk ke ruang tamu tapi langsung ke kamar Cyntia.
__ADS_1
Bukanya apa- apa, di apartemen Cyntia, ruangan yang paling lega, nyaman pemandanganya indah dan televisinya juga adanya di kamar. Shela juga sebelumnya mainya di kamar.
Cyntia pun gelagapan jangan sampai ketahuan ada Rendra. Kenapa Shela nggak nunggu di ruang tamu aja, tapi Cyntia juga tidak kuasa mencegah Shela.
“Ini kaos kaki siapa, Cyn? Jorok banget sih lo!”
“Ups!” Cyntia langsung melotot dan segera menarik kaos kaki Rendra yang ketangkap Shela. Kaos kaki sebelah Rendra ketinggalan di bawah bantal.
“Sory!” jawab Cyntia nyengir dan langsung melempar kaos kaki Rendra ke keranjang pakaianya. “Dasar Rendraa, laki-laki syaraf, mesum, nyebelin” batin Cyntia menelan ludahnya.
“Tapi perasaan itu kaos kaki gede banget. Kok gue nggak pernah liat lo pake kaos kaki itu?” tanya Shela tiba- tiba otaknya nyambung.
“Itu kaos kaki lamaku, dulu aku gendut!” jawab Cyntia ngasal.
“Masa?” jawab Shela dengan tatapan curiganya, lalu bangun mau ke keranjang pakaian.
“Lo mau kemana?” tanya Cyntia melihat Shela bangun.
“Gue mau pastiin, itu kayak kaoskaki laki- laki deh!” jawab Shela.
“Astagah, Shela! Lo nggak penting banget bahas kaos kaki, itu emang gede karena udah lama, gue kan kalau tidur pakai kaos kaki. Udah sih. Katanya lo mau sarapan, lo mau sarapan dimana?” tanya Cyntia mencegah Shela penasaran terlalu jauh.
Shela menatap Cyntia dengan penuh telisik, kemudian menghela nafas dan memutar bola matanya. Benar juga sih nggapain bahas kaos kaki. Shela kemudian berpositif thingking mengangguk dan percaya kata Cyntia.
Cyntia pun lega. Untung yang tertinggal kaos kaki, jadi Cyntia bisa beralasan. Coba kalau ****** *****, fiks, Cyntia bakal ketahuan Shela.
“Ya, kali gue minta sarapan beneran, nggak ko! Gue kesini pagi-pagi mau kasih info ke elo!” jawab Shela.
“Info? Info apa?” tanya Cyntia.
“Lo sih, molor mulu! Mana remote tivi Lo?” tanya Shela ngomel. Cyntia tidak membantah dan memberikan remote ke Shela.
Shela menyalakan televisi Cyntia dan kebetualan pas sedang jam acaranya yang meliput Paul. Mereka berdua kemudian diam dan mendengarkan bualan dari Paul.
“Wuaah, gila tuh perempuan sundel!” celetuk Cyntia spontan merasa geram.
Rendra yang bersembunyi di lemari juga ikut mendengarkan, dia juga merespon mengeluarkan suara, ketukan. Rendra reflek memukul sisi lemari karena kesal dengan genggaman tanganya. Rendra sangat sakiy hati saudara sekaligus soulmatenya dihina.
Tentu saja Cynta dan Shela mendengar suara itu.
“Suara apa itu Cyn?” tanya Shela.
“Ehm!” Cyntia langsung gelagapan, mencari ide menjawab pertanyaan Shela. Cyntia mengatur nafasnya menahan kesal ke Rendra kenapa harus bersuara?
Mereka berdua kemudian menoleh ke sumber suara bersama.
__ADS_1
"Oh my God!" batin Cyntia bingung.