Sang Pangeran

Sang Pangeran
168. Aslan Main Cantik.


__ADS_3

Di apartemen mewah yang berharga milyaran, pria tampan yang baru saja melepas ke perjakaanya tanpa sadar, menutup ponselnya.


Rendra mematikan sambungan telponya setelah mendapat laporan pekerjaan dari seseorang.


"Bagus," ucap Rendra ke relasinya.


Sesuai dengan permintaan Aslan, Rendra langsung mencari biodata Jeje, latar belakangnya, karirnya, agensinya dan semua yang berhubungan denganya. 


Nama Aslan masih disegani meski sekarang dia tidak lagi menjadi pemilik Nareswara. Rendra yang selama ini menjadi sejolinya Aslan dalam berbisnis, perkataanya pun masih ampuh. Sekali Rendra meminta sesuatu, maka orang lain akan percaya dan mengabulkanya. 


Tidak butuh waktu lama, cukup satu hari. Rendra berhasil menggagalkan semua kontrak kerja Jeje. Tentunya, Rendra tidak asal berkata dan bertindak tanpa tanggung jawab, dibalik permintaan menggagalkan kontrak kerja Jeje, ada harga yang dibayar pada sang penyelenggara. 


Bagi Aslan, semua pengorbanan tidak akan berat jika itu untuk Kia dan Ipang. Jangankan hanya mengeluarkan uang sejumlah puluhan dan ratusan juta, perusahaan yang bernilai trilyunan saja Aslan tinggalkan demi Kia dan Ipang. 


“Huft... apa lagi ini?” gerutu Rendra mengingat percakapan Cyntia dan Shella tentang Paul.


“Ck!” Rendra berdecak kemudian mengambil kunci mobilnya.


Kini Rendra sudah mandi, berpakaian rapih dan kewibawaanya sebagai tangan kanan Aslan kembali lagi. 


Saat menggenggam kunci mobilnya, bayangan Cyntia datang lagi. Rendra semalam memang salah, memarkirkan mobil di tengah jalan sempit.  Untung sudah di area apartemen dan tidak menabrak orang. Cyntia mau membantu Rendra, memarkirkanya dengan benar, itu adalah berkah. 


Tiba- tiba badan Rendra panas dingin mengingat kehebatan Cyntia. Rendra sampai mengusap tengkuknya mengusir bayangan betapa seksi dan menggodanya janda cantik itu. Meski tidak mau mengaku, meski dalam pengaruh alkohol,  Rendra salah. 


“Haish!” desis Rendra sambil berjalan merutuki dirinya, kenapa otaknya jadi dipenuhi wajah Cyntia padahal Rendra menyuruh Cyntia melupakanya.


Kata pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat Rendra berjalan ke lift, Cyntia dan Shela juga keluar menuju ke tempat sama. Seperti hari- hari sebelumnya, Cyntia tampil sangat cantik dan menawan. 


Padahal Cyntia mengenakan pakaian yang tertutup. Tapi bentuk tubuhnya yang body goal tidak bisa membohongi mata laki- laki. Cyntia seperti mahakarya yang selalu indah dipandang, tidak heran kalau drama yang dia bintangi mendapat banyak penonton dan Cyntia langsung banyak penggemar. 


Cyntia dan Rendra sempat beradu pandang. Shela pun langsung membulatkan bola matanya yang berbinar terang. Shela baru tahu kalau unit apartemen Cyntia dan Rendra bersebelahan. Shela langsung menyenggol lengan Cyntia centil. 


“Ehm!” Cyntia malah langsung berdehem dan memalingkan muka gengsinya.


Rendra juga melakukan hal yang sama, Rendra mempercepat langkahnya mendahului Cyntia dan Shella tanpa menoleh apalagi menyapa. Shela yang melihat adegan itu menelan ludahnya cemberut. Bisa- bisanya dua orang yang semalam melakukan penyatuan surga, siangnya saling menghindar seperti tidak saling kenal. 


“Kok kalian nggak saling sapa sih?” bisik Shela. 


Karena Rendra berjalan cepat mendahului mereka, Cyntia memperlambat jalanya agar tidak satu lift dengan Rendra. Cyntia menunggu Rendra masuk lift dulu, setelah Rendra masuk lift Cyntia menghela nafasnya dan menoleh ke Shela. 


“Lo liat kan? Seberapa brengseknya dia? Udah gue bilang kan? Kita nggak ada hubungan apa- apa! Semalam dia itu mabok, dan gue!” Cyntia menjelaskan ke Shela menggebu, tapi perkataanya terhenti menyadari, dirinya semalam seperti tidak bisa mengendalikan dirinya. 


“Dan lo, menikmatinya dengan bahagia kan?” sahut Shella menebak karena Cyntia terdiam. 


“Ngarang kamu! Enak aja!” jawab Cyntia tidak terima. 


“Dia emang mabok Cyn, tapi kan lo nggak? Kenapa lo bawa dia ke apartemen lo, nggak ke apartemenya? Kenapa lo nggak nolak? Di sini lo yang sadar!” tutur Shella menyerbu Cyntia dengan banyak tuduhan. 


“Kok lo mihak dia, dan nyalahin gue?” ucap Cyntia. 


“Lah, kalau lo nggak ngrasa salah? Lo ditidurin dia, harusnya lo ngejar dia dan minta pertanggung jawabanya, bukan diam aja begini!” ucap Shela lagi memprovokasi Cyntia agar jadian dengan Rendra.


“Udah deh, lo diam aja, lo nggak tahu apa- apa, ini nggak seperti yang lo pikir!” 


“Terus seperti apa?” 


“Gue semalem diambilin minum sama si Ben, abis itu, gue ngerasa kegerahan dan gue nggak bisa kendaliin diri gue!” tutur Cyntia curhat ke Shella setelah  mereka masuk ke lift. 


“What?” tanya Shela mendelik. 


“Suer, rasanya beda banget. Gue emang janda, tapi gue nggak pernah segila kek tadi malam!” ceplos Cyntia lagi. Shela pun kembali melotot. 


“Emang lo segila apa?” tanya Shela polos. 


“Ehm!” Cyntia berdehem malu. Masa iya Cyntia harus jelasin ke Shela segimana liarnya Cyntia. 


“Ben emang semalam nyariin Lo, gue juga denger dia telpon seseorang bilang kalau lo udah pulang! Tapi gue nggak ambil pusing!” celetuk Shela akhirnya. 


“Wuah, kenapa lo nggak bilang? Fiks, gue harus tanya ke Ben, kayaknya gue dikerjain deh!” tutur Cyntia yakin dirinya dikasih obat.


Cyntia mengatupkan bibirnya kesal dan mengepalkan tangan. Cyntia harus temui Ben dan menanyakan ini. 


“Karir lo lagi naik Cyn. Lo harus hati- hati!” tutur Shela menasehati.


“Iyah gue tau!” 


“Tapi bagus dong, lo pulang ketemunya ama si Ganteng!” goda Shela kemudian menoel dan mengerlingkan mata ke Cyntia. 


“Ishh apaan sih Lo!” desis Cyntia menepis tangannya. 

__ADS_1


Mereka berdua bergegas menemui Pak Dewa. Setelah itu Cyntia bertekad melabrak Ben.


“Kalau emang bener ada yang berniat ngejebak gue, nggak akan gue kasih ampun!” gumam Cyntia berjalan ke mobil setelah keluar dari lift. 


****


Berita yang Paul buat rupanya sampai juga ke telinga Manda, Satya, Ani dan Azam sebagai orang terdekat Aslan dan Kia. Tidak luput pula Delvin, Putri dan teman- teman kerja Kia di kantor dulu. 


Delvin dan Putri memilih diam. Delvin dan Putri tahu, Kia tidak pernah menginginkan atau berniat merebut harta Aslan seperti yang dituduhkan Paul. Mereka berdua kan yang tau awal mula Aslan menemukan Kia. Kia bahkan menghindar dari Aslan. 


Sementara pekerja lain dan seisi kantor Nareswara jadi membicarakan Kia. 


“Wah nggak nyangka ya? Si Kia perempuan polos begitu diam- diam hatinya busuk! Pantes kerja seenaknya” 


“Lagian Pak Aslan dipelet apa sih kok mau ninggalin semuanya demi dia, cantik sih emang, tapi apa kurangnya Bu Paul!” 


“Makanya jangan liat orang dari cashingnya! Jilbabnya mah topeng doang, ternyata mantan, pelakor lagi!” 


“Jadi ilang respect gue ke Pangeran! Ternyata dia anak haram!” 


Delvin yang mendengarnya mengepalkan tanganya dan bangun menegur teman- temanya. 


“Eh kalian. Udah selesai belum kerjaan kalian? Ngerumpi aja!” tegur Delvin. 


“Eh , Del, kita tuh nggak ngerumpi ya! Ini tuh nyata, Kia tuh kisah nyata yang buat cambukan buat kita semua. Kita sebagai kaum perempuan nggak mau dong ada perempuan sejenis Kia itu hidup di muka bumi ini. Dia harus dimusnahkan. Lo nggak mikirin gimana nasib dan perasaan Bu Paul?” jawab salah satu teman Delvin. 


“Dan satu hal,  gue ingetin ke kalian sebagai netijen julid. Kalian itu nggak tahu cerita yang sesungguhnya. Jadi jangan asal ngejudge! Mending kita diam, ikuti berita yang benar dan lihat faktanya! Urus diri  kalian dan pasangan kalian sendiri. Kerjakan pekerjaan kalian yang bener, jam 10 harus kelar! Hati – hati kalau berkomentar, nyesel kalian nanti!” ucap Delvin memperingati.


“Ish dasar sok bijak lo!” jawab teman Delvin. 


“Kalau nggak kelar gue laporin ke Bu Rosa!” ucap Delvin mengancam. 


Mereka kemudian diam dan kembali bekerja. 


****


Manda dan Satya yang masih menunggu Tuan Agung di rumah sakit hanya bisa mengelus dada mengetahui kelakuan mantan kakak iparnya itu. 


“Kak Aslan pasti bisa atasin ini!” tutur Satya menenangkan Manda. 


“Apa kita perlu speak up ke media?” tanya Manda. 


“Ijin Kak Aslan dulu. Kalau Kak Aslan ngrasa bisa atasi sendiri, kita diam aja!” ucap Satya. 


“Keep silent, daripada memanas, kita temui Kak Aslan nanti ya!” 


“Kasian Pangeran tapi!” ucap Manda lagi. 


“Aku sudah koordinasiakan ke pihak bintang kecil. Apapun yang terjadi di luar, grand final akan berjalan sebagai mana mestinya. Baik Ipang atau dirinya tidak boleh dengar ini. Udah diatur, Sayang! Tenang saja!” 


“Oke!” jawab Manda legaa. 


Aslan memang belum cerita ke Satya perihal Tuan Agung dan Tuan Surya. Satya hanya tau Aslan pergi mengurus berkas pernikahan.


Meski Satya anak kandung Tuan Agung, tapi Satya mewarisi sifat Bu Andini. Dia selalu sayang dan baik pada Aslan. Satya juga tidak serakah. 


***** 


Azam, Ani dan Pak Sentot yang baru bertemu Aslan dan Kia, menonton acara gosip pagi pun langsung mengepalkan tanganya kesal. Setelah kepergian Kia dan Aslan, Pak Sentot menceritakan masalalunya ke anaknya. Mereka jadi tahu kalau Paul jahat. 


“Kasian Mas, Mbak Kia!” tutur Ani istri Azam. 


“Kita harus bantu Kia!” ucap Azam. 


“Kita post di story di IG aja ya Mas!” tutur Ani. 


Azam dan Ani kan juga berkarir di internet. Mereka mempunyai kekuatan menyebarkan informasi juga di media. 


“Ya!” jawab Azam mantap. 


Tapi Pak Sentot datang. 


“Jangan gegabah, tunggu dulu bagaimana respon Den Aslan dan Kia!” tutur Pak Sentot menasehati. 


“Pak, tapi Nyonya Paul udah fitnah Kia, Kianya kita. Fitnah Den Aslan juga! Azam tidak tega Pak! Kia kan tidak seperti itu!” ucap Azam menggebu. 


“Kita lihat saja apa dan bagaimana permainan Paul dan keluarganya. Kita keluar di waktu yang tepat!” tutur Pak Sentot menasehati anak dan menantunya. 


Azam dan Ani hanya bisa mengepalkan tanganya gemas sendiri sahabatnya difitnah. Rasanya mereka gatal ingin membongkar kejahatan Paul dan ayahnya. 

__ADS_1


*****


Rendra menuju ke tempat dimana Aslan memberinya alamat. Aslan menyewa rooptoop sebuah hotel yang tingginya 50 lantai. Aslan sewa hanya untuk dirinya dan Jeje.


Aslan ditemani 4 bodygard, pegawai setianya. Di situ disediakan bangku dan meja saling berhadapan. 


“Pagi Bos!” sapa Rendra kembali memanggil Aslan bos dengan ekspresi datarnya. 


“Yakin Lo manggil gue, Bos lagi?” gurau Aslan.


Setelah menikah dengan Kia, Aslan kini jadi ramah dan suka bercanda. 


“Ya, yakinlah!” 


“Duduk!” ucap Aslan mempersilahkan Rendra duduk. Rendra pun duduk. 


“Gimana Si Tikus?” tanya Aslan. 


“Beres, lima belas menit lagi dia sampai sini! Ada masalah lain Bos!” jawab Rendra lapor. 


“Apa?” jawab Aslan. 


Rendra menunjukan siaran berita Paul. Rendra kira Aslan akan marah dan emosi, tapi Aslan justru tersenyum dan mengembalikan ponsel Rendra.


Rendra jadi terbengong. Setelah menikah dengan Kia, Aslan benar- benar berubah. Tidak bisa ditebak. 


“Apa yang akan kita lakukan terhadapnya?” tanya Rendra. 


“Biarkan saja mereka berulah sepuasnya sebelum mereka masuk ke liang lahad. Kartu  mereka sudah kupegang!” jawab Aslan santai. 


“Maksudnya?” tanya Rendra bingung.


Rendra sama dengan Satya, belum tahu apapun mengenai Tuan Surya, Tuan Agung, Bu Andini dan Tuan Alex. 


“Ada salam dari Umma!” jawab Aslan malah nyleneh. 


”Kok Umma?” 


“Sudah sana pergi, nanti kamu akan tau, urus pekerjaanmu! Aku ingin bermain dengan tikus kecil itu!” jawab Aslan mengusir Rendra. 


Kantor Aslan yang baru sedang on proses, Aslan menugaskan ke Rendra untuk mengurusnya. 


“Oke, jaga emosi lo, jangan sampai bunuh orang!” ucap Rendra tidak formal lagi. 


“Ya gue ngerti. Gue juga masih mau tinggal bareng istri dan anak gue!” jawab Aslan tidak mau dipenjara. 


Rendra kemudian pergi, tidak lama Rendra pergi Jeje datang. Jeje kelimpungan di antar seorang pegawai hotel, kenapa ke rooptoop.


Aslan pagi itu datang dengan pakaian berdasi dan berkacamata hitam. Dia duduk santai dan mengangkat satu kakinya.


Matahari pagi itu pun bersinar terik sehingga di rooptoop terasa panas. Untungnya Aslan meminta disediakan gazebo. 


Jeje gelagapan melihat Aslan menunggunya. Mengetahui kedatangan Jeje, Aslan membuka kacamatanya dan tersenyum sinis. 


“Tamuku sudah datang rupanya! Silahkan duduk!” ucap Aslan santai tapi tatapanya sangat mematikan. 


Diperlakukan seperti itu, Jeje tidak berkutik dan langsung keluar keringat banyak dan besar-besar. Jeje gemetaran tatkala melihat Aslan dijaga bodygoard berkaos hitam dan berbadan berotot. 


“Duduk! Nggak usah tegang! Saya ingin ngobrol denganmu, saudara Jeje!” ucap Aslan lagi. 


Jeje kemudian mengangguk dan duduk. 


“Kenapa anda memanggil saya kemari, Tuan?” tanya Jeje. 


“Kamu tau siapa aku?” tanya Aslan dingin.


“Ya, anda Tuan Aslan Nareswara!” jawab Jeje. 


“Bagus. Minumlah dulu, kita santai di sini!” ucap Aslan mempersilahkan Jeje meminum minuman yang tersedia. Aslan menyediakan sebotol anggur mahal yang sudah dibuka. 


Aslan ingin bermain cantik. Jeje pun seperti monyet di pertunjukan, sangat patuh dan tidak banyak tingkah. Saat Jeje hendak mengambil minumanya, Kaki Aslan bergerak naik ke meja dengan santainya dan menumpahkan minuman Jeje. Jejepun mulai merasa dijebak dan tambah gemetaran. 


“Ops Sory!” ucap Aslan dengan tatapan mata elangnya. 


“Apa maksud Anda Tuan?” tanya Jeje gemetaran.


“Sepertinya kita perlu berkenalan lagi! Kenalkan saya Aslan, suami Kiara Arsyila dan ayah Pangeran. Kau dengar?” ucap Aslan dengan tatapan sinisnya, lalu tersenyum mengejek menatap Jeje.


Jeje tambah gelagapan, kini Jeje tahu siapa yang membuat karirnya hancur dalam sekejap. Aslan kemudian mengkode anak buahnya. Anak buah Aslan mendekat ke Jeje dan meraih kedua tangan Jeje. 

__ADS_1


“Apa yang akan anda lakukan Tuan?” tanya Jeje ketakutan karena kini kedua tanganya dicekal. 


“Santai saja, istriku melarangku menyentuhmu kok! Aku hanya ingin berterima kasih padamu, karena berkatmu, aku bertemu istriku!” 


__ADS_2