Sang Pangeran

Sang Pangeran
180. Ikut Tante


__ADS_3

“Hoaaam,” 


Terbiasa bangun subuh sejak bayi, dan Kia ajari sholat subuh setelah usia 3 tahun, Ipang pun terbangun di kala adzan berkumandang.


Pangeran membuka matanya, sesaat Pangeran kaget dan bingung. Hal yang pertama dia lihat, hiasan bunga anggrek bulan lurus tepat dari pandanganya, yang terletak di atas meja kaca cantik.


Pangeran mengerjapkan matanya lagi, ini kan bukan suasana rumah Tuan Alvin, bukan juga asrama, bukan kamarnya dan juga bukan kamar rumah lamanya. Pangeran kemudian menoleh ke samping.


Seketika itu bibir Pangeran merekahkan senyum. Pangeran pun menyadari rasa berat yang membelenggu tubuhnya adalah kaki ibunya dan tangan ayahnya. Pangeran dalam pelukan Kia, Kia dalam pelukan Aslan dan tangan Aslan yang panjang juga menggapai Pangeran.


 


“Ibu, Ayah!” panggil Pangeran dengan semangat dan bahagia.


“Emmpt” Kia pun menggeliat dan terbangun mendengar panggilan Pangeran. Kia merasa sesak, menyadari dirinya diapit dua laki- laki kembar versi besar dan versi kecil. Mereka mempunyai warna mata dan sifat yang hampir sama. Aslan pun ikut terbangun saat tanganya disibakkan oleh anak dan istrinya.


“Pagi Ibu!” ucap Pangeran dengan riang dan bahagia membalikan posisi tidurnya menghadap ke Kia. Pangeran juga langsung menggerakan tanganya memeluk kia dan menenggelamkan wajahnya ke tubuh ibunya yang penuh dengan kehangatan itu.


“Morning, anak ibu, mmwah mmwah!” jawab Kia tersenyum membalas mendekap Putranya dan menciumi puncak kepala Pangeran. 


“Anak ayah bangun duluan rupanya?” sahut Aslan dari balik tubuh Kia dengan senyum merekah sempurna. 


Hangat, sangat hangat yang dirasakan mereka pagi itu. Bahkan meski tak terlihat, di kamar itu bertebangan bunga- bunga indah dan wangi. Seakan sudah tidak ada hal lain yang ingin mereka raih, dunia mereka bertiga pagi itu hampir sempurna. Bertahun- tahun terpisah dengan hati yang kosong dan kaki yang pincang, kini semua telah terisi. 


Kia dan Aslan dipertemukan saling melengkapi. Bersiap melangkah bersama dalam cinta. Dan hari ini untuk pertama kalinya, mereka bertiga bangun tidur bisa saling memeluk, menatap kehadiran dan keberadaanya masing- masing. Mereka nyata berkumpul. 


Akhirnya mimpi Ipang terkabul. Bisa tidur bersama ayah dan ibunya. Tapi Ipang masih tetap merasa aneh saat melihat ibunya dipeluk begitu erat dan posesif oleh ayahnya. Walau Ipang tau itu ayahnya tetap saja Ipang tidak terbiasa. Bagi Ipang kan, Ibunya hanya miliknya.


“Ipang juga mau dipeluk ayah!” ucap Pangeran manja tidak mau ayahnya memeluk ibunya.


Kia dan Aslan terkekeh. Semalam kan sebenarnya juga Pangeran tidur di tengah. Ayahnya saja yang jahat main geser- geser. Bener kan anaknya protes.


 


“Sini- sini!” jawab Aslan. 


Pangeran langsung bangun melompati Kia dan ndusel memisahkan ayah dan ibunya. Aslan pun segera menangkap bocah kecil miniatur dirinya itu.


 


“Anak ayah hebat banget sih, bangun sendiri, bangun pagi- pagi lagi!” ucap Aslan membawa Pangeran dalam pelukannya. Aslan juga menghujani Pangeran dengan banyak ciuman bermain menggelitik Pangeran.


“Ahahaha, geli ayah, geli!” jawab Pangeran berguling menghindari ayahnya.


Aslan masih terus mengganggunya sehingga anak dan ayah itu terus bercanda dan berlanjut ke mainan adu jotos dan berkelahi bohongan. Kia terdiam dengan tatapan haru dan penuh syukur. Hutang Kia sebagai ibu pembohong yang selama ini membebaninya terbayarkan lunas.


Beban berat yang selama ini dia pikul karena harus menjalankan peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah Pangeran juga sudah pergi.


Banyaknya hari menyakitkan yang dia lalui pun seakan hilang tak berbekas, semua terbayar dengan kebahagiaan yang dia rasakan sekarang. Tuhan sudah mengakhiri semua mimpi buruk Kia dan menggantinya dengan kilauan kebahagiaan.


Seketika itu, Kia jadi ingat Alena. 


“Apa Alena sudah bangun? Dia bingung nggak ya, saat membuka mata ?” batin Kia. 


“Ipang, Ayah. Sudah bercandanya, nanti subuhnya habis lho! Sholat sana!” ucap Kia menghentikan tawa kedua laki- lakinya itu.


Ipang dan Aslan pun menoleh ke Kia dan langsung terdiam. 

__ADS_1


“Ya Bu!” jawab Ipang patuh. “Ayo ayah, kita sholat jamaah!” ajak Ipang.


“Ayah mandi dulu ya!” jawab Aslan mengusap tengkuknya. 


“Kenapa pagi- pagi sekali mandinya, Ayah? Ini kan masih petang?” tanya Pangeran polos.


Aslan gelagapan dan melirik ke Kia meminta bantuan menjawab. Meskipun belum melakukan proses pembuatan adik Ipang, tapi Aslan tetap berhadas.


Pesona dan kemolekan tubuh Kia tidak bisa membendungn has*at Aslan untuk tidak mengeluarkan benihnya yang sudah terkumpul. 


Tapi itu kan wajar, karena bertahun- tahun Aslan hampir seperti pria tidak normal yang tak bisa menuntaskan kebutuhan biologisnya.


Padahal sebenarnya Aslan laki-laki sehat dan normal. Tubuhnya, semua organ dan hormon- hormonya bekerja aktif tapi bertahun- tahun Aslan paksa istirahat. Bahkan selama ini Aslan hanya mengeluarkanya dengan mimpi bertemu Kia meski tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Selama 7 tahun itu pula Aslan hanya dihantui dan dibayangi pertemuan singkatnya dengan Kia.


Tentu saja saat kini mimpi Aslan menjadi nyata, jasmani dan rohani Aslan menuntut haknya. Tidak peduli bagaimana caranya dan Kia sedang dalam keadaan seperti apa, Aslan harus menuntaskanya. Meski tidak melalui jalan seharusnya yang penting bersama Kia yang nyata, itu lebih baik daripada selama 7 tahun hanya dengan mimpi dan keluar sendiri.


“Ayah mandinya sebentar, Nak. Menghadap Alloh kan harus bersih dan wangi, Pangeran juga semalam tidur nggak cuci kaki dulu kan? Masih pakai baju kotor kan? Sebelum sholat mandi bareng ayah ya. Pakai air hangat kok. Mandi pagi kan sehat!” jawab Kia cerdas menjelaskan ke Pangeran dengan alasan yang baik. Kia melihat suaminya gelagapan tidak bisa menjawab. 


Mendengar penjelasan ibunya yang rinci dan bernilai positif, Pangeran yang baik dan pintar menggangguk patuh. 


“Iya Bu!” jawab Pangeran. 


“Tapi, mandinya jangan kelamaan, nanti subuhnya habis!” tutur Kia lagi.


“Iya, Bu. Ibu sholat dan mandi juga kan?” tanya Pangeran. 


“Ibu sedang berhadas, jadi nggak sholat. Ibu mandi setelah kalian ya!” jawab Kia 


“Ya Bu, ayo ayah!” jawab Pangeran.


Mereka berdua kemudian segera masuk ke kamar mandi, Kia pun menyiapkan pakaian untuk anak dan suaminya. Kia meletakanya di atas kasur. 


Kia pikir Aslan cukup mampu merawat Pangeran, karena Pangeran juga sudah mandiri. Kia kemudian meninggalkan kamarnya.


Karena di dalam rumah Kia, Kia juga lupa ada Radit di lantai atas, Kia keluar kamar hanya memakai gaun tidur berenda tanpa lengan yang Aslan belikan. Rambut panjang dan lebatnya dia cepol ke atas dengan penjepit rambut berbentuk kupu- kupu yang sangat cantik dan mengkilap berwarna emas. 


Meski tanpa make up dan bangun tidur, Kia bak mahadewi jika berpenampilan seperti itu. Kulit putih mulus dan mengkilap yang selama ini tertutupi terlihat begitu nyata. Tubuh rampingnya pun terlukis indah. Jika terbuka seperti ini, Kia jauh lebih mempesona dari Paulina. 


“Krek” Kia membuka pintu kamar Alena.


Kia mematikan lampu tidur dan membuka tirai kamarnya dengan lembut. Kia tersenyum melihat Alena terlelap.


Kia mendekat hendak membangunkanya. Sayangnya Kia mendapati mata Alena sangat sembab, bahkan di sudut matanya basah.


“Apa kamu menangis, Nak?” batin Kia membelai rambut Alena lembut. Kia yakin Alena habis menangis. “Apa dia mendengar percakapan kami semalam?” batin Kia lagi. 


Alena pun terbangun karena belaian Kia. 


“Morning, Sayang?” tanya Kia ramah mengetahui Alena membuka mata. 


Alena masih diam dan mengumpulkan kesadaraan. 3 bulan ini hidup di karantina memang jauh dari Mommynya. Tapi Alena juga baru kali ini bangun di sambut oleh perempuan yang selama ini Alena lihat sederhana dan di otaknya seperti perempuan jahat, kini terlihat cantik dan ramah penuh hangat. 


“Bagaimana tidurmu semalam, Nak? Nyaman kan?” tanya Kia lagi karena Alena masih terdiam. 


“Apa tante ibunya Ipang?” tanya Alena polos. 


Ini pertama kalinya Alena melihat Kia tanpa hijab, ternyata sangat cantik. Alena sendiri langsung terkesima dan tersihir oleh kecantikan Kia.  Apalagi senyumnya yang begitu teduh dan menghangatkan bagi Alena. Perkataan Kia juga selalu lembut dan mengetuk hati. Alena tidak berani berkata kasar seperti sebelumnya. 

__ADS_1


“Iya, kan kita semalam bareng dan sudah berkenalan. Apa kamu lupa?” tanya Kia ramah.


Alena menggelengkan kepalanya.


“Mommy dimana? Alena sekarang dimana?” tanya Alena lagi. 


“Ehm... “ Kia berdehem.


Kia sendiri belum menghubungi Paul, Kia belum tahu tepatnya dimana Paulina sekarang. 


“Alena berada di kamar Pangeran sekarang. Alena bangun ya! Sholat subuh, mandi, setelah itu sarapan, nanti Daddy antar ke Mommy Alena, oke!” jawab Kia. 


“Jadi ini kamar Pangeran dan bukan rumah Mommy?” tanya Alena lagi. 


“No! Ini rumah Pangeran dan rumah Daddymu!” jawab Kia menjelaskan. 


Alena terdiam melihat sekeliling lalu menunduk lesu. Ternyata kamar Pangeran sangat bagus, anak yang Alena musuhi dan Alena hina anak udik. Ternyata sungguhan anak Daddy Aslan. 


“Hey... ayok bangun! Sholat subuh dulu ya!” tutur Kia ingin mendidik Alena sholat juga. 


“Sholat?” tanya Alena tiba_tiba.


“Iya!” jawab Kia mengangguk.


“Apa itu sholat tante?” tanya Alena lagi dengan polos. 


Dheg 


Kia baru menyadari, Alena kan baru usia 6 tahun, 4 bulan lebih tua dari Pangeran. Alena juga bukan sekolah di TK atau play group berbasis islam, melainkan internasional yang teman- temanya juga beda agama.


Paul dan Aslan sendiri, meski ktp nya Islam, mungkin tidak pernah sholat, apalagi mengajarinya. Kia ingat saat Kia mengajak Aslan sholat pertama kali, Aslan juga terlihat gelagapan. 


“Alena belum diajari sholat?” tanya Kia. 


“Belum, tante!” 


“Apa Alena pernah ngaji?” 


“Tidak!” jawab Alena lagi. 


Kia mengangguk iba, bahkan hampir menangis mengetahui anak cantik pintar tak berdosa ini, bukan hanya tidak mendapat kasih sayang sebagaimana mestinya, tapi juga tidak mendapatkan hak pendidikan dan belajarnya dengan baik. 


“Baiklah kalau begitu, kapan- kapan Tante ajari mau?"


"Mau Tante!"


"Oke, ya sudah, kalau Alena masih ngantuk, tidur lagi nggak apa- apa, nanti Tante bangunin lagi,  tapi kalau Alena mau main, kalau mau, ikut tante siram tanaman boleh, ayo bangun yuk!” ajak Kia ramah memberikan pilihan. 


“Alena ikut, Tante!” jawab Alena di luar dugaan Kia.


*****


Terima kasih sudah baca.


Untuk Bantu Author agar karya ini bersinar dan kasih semangat Author unk crazy Up, selalu komen di tiap episode ya, sesederhana apapun itu.Hehe tinggalin jejak biar otak author encer dan mengalir dengan baik.Heee.


I love you kakak semuaaa.

__ADS_1


__ADS_2