Sang Pangeran

Sang Pangeran
69. Kelabakan


__ADS_3

Tangan keriput itu terus bergerak, dengan gerakan pelan tapi pasti, disusunya lipatan baju- baju yang berwarna warni. Resleting kokoh pada tas jinjing dengan material kanvas tebal dia rapatkan. 


“Hhhh” perempuan lanjut usia itu menghela nafas pelan. 


Meninggalkan kehidupan yang sudah bertahun- tahun dia jalani tentu saja berat. Dengan misi dan amanah dari majikanya dia mempunyai asa.


Tapi belum tuntas dari tugasnya dia dipaksa menyerah. Itu adalah hal terberat dari seorang abdi. Mbok Mina masih merasa mempunyai hutang pada Ibu Andini. 


Ibu Andini bukan hanya seorang majikan untuk Mbok Mina. Tapi dia seorang penyelamat. Seseorang yang mengeluarkan mbok Mina dari jerat mucikari. Dan sejak saat itu Mbok Mina berjanji, Mbok Mina akan mengabdikan dirinya pada Ibu Andini. 


Sayangnya, ibu Andini harus pergi dari dunia ini. Secara tiba- tiba dan tak ada yang mengira. Meninggalkan dua orang putra yang masih kecil dan tidak tau apa- apa. 


Sejak saat itu, Mbok Mina mengabdikan dirinya pada Aslan dan Satya. Seorang anak malang yang sedari kecil hidupnya sudah terbelenggu oleh semua ambisi dan aturan Tuan Agung. 


Sayang Aslan tak seberuntung Satya yang anak kedua dan lebih bebas. Aslan anak pertama dari kecil sudah dibentuk sesuai mau Tuan Agung.


Dan kini Mbok Mina bertekad akan melunasi hutangnya. Dengan langkah pasti, meski tubuhnya mulai merasa linu di beberapa tempat karena usianya.


Mbok Mina menjinjing tas pakaianya. Mbok Mina ingin menemui seseorang yang menurutnya bisa memenuhi amanat ibu Andini, memberi kebahagian untu Aslan.


Mbok Mina pun berjalan menuju kamar Paul, hendak berpamitan pada Paul. 


Belum sampai di kamar Paul, mereka berdua berpapasan. Perempuan tinggi dan berambut panjang itu tampak berjalan ke arah dapur dengan santainya. 


“Mbok gue pengen makan asinan dong!” ucap Paul dengan enteng. 


Mbok Mina berhenti dan menurunkan tasnya. Mbok Mina kan mau pamitan kenapa disuruh masak


“Maaf Nyonya” jawab Bu Mina pelan.


Seketika Paul menoleh ke tas pakaian yang Mbok Mina turunkan. 


“Mau kemana kamu Mbok?”  tanya Paul ketus. 


“Saya pamit Nyonya. Mulai hari ini saya berhenti bekerja dari rumah ini” tutur Mbok Mina dengan menundukan kepalanya. 


“Hah, berhenti? Kenapa?” tanya Paul dengan mata terbelalak.


“Maaf Nyonya, Tuan Aslan menyampaikan, mulai hari ini saya pensiun” jawab Mbok Mina.


“No! Enak aja! Nggak, nggak ada pensiun! Tetaplah di sini! Kalaupun mau pensiun harus ada penggantimu” jawab Paul tidak mau orang serajin Mbok Mina pergi. 


“Tapi Nyonya!” sanggah Mbok Mina.


“Nggak ada. Nggak! Mbok Mina nggak boleh pergi” sanggah Paul kasar dan menarik tas Mbok Mina. 


“Tapi Nyonya” Mbok Mina berusaha meraih tas nya lagi, tapi Paul membuka tas Mbok Mina dan mengambil dompetnya. 


“Mbok Mina nggak boleh pergi dari sini tanpa seijinku!” ucap Paul tidak terima kemudian membawa naik dompet Mbok Mina. 

__ADS_1


Mbok Mina yang sudah tua dan hanya sebagai pesuruh tentu saja kalah tenaga. Mbok Mina hanya pasrah. Dan akhirnya Mbok Mina kembali membawa tasnya ke kamarnya. Bekerja lagi bersama dua rekanya. 


Sementara Paul dengan membawa emosi yang membuncah naik ke lantai atas dan menggedor kamar Aslan. Paul mengira seperti biasaya Aslan masih di kamarnya sebelum ke kantor. 


Tanpa Paul kira sebelumnya, tidak seperti biasanya yang selalu terkunci. Hari ini pintu kamar Aslan terbuka. Paul kemudian masuk, itu adalah pertama kalinya, sebagai perempuan yang tercatat sah di KUA sebagai istri, menginjakan kaki di kamar laki- laki yang katanya suaminya. 


Tetiba jantung paul berdetak kencang dan berkeringat. Seandainya pernihakan mereka normal, kamar itu juga menjadi kamar Paul.


Paul juga ingin kembali merasakan kehangatan tubuh Aslan seperti tujuh tahun lalu itu. Meski hanya sekali Paul selalu mengingat dan merindukanya.


Meski Paul menyadari hubungan dirinya dan Aslan tidak baik. Tapi Paul cukup nyaman berlindung dibalik nama Nareswara. Lebih dari sekedar uang tapi kehormatan dan status sosial. 


Paul juga berada di posisi aman saat dirinya menjalin kasih dan cinta terlarang dengan Nicholas, seorang artis yang mempunyai anak dan istri. Tidak ada yang curiga karena Paul berstatus sebagai istri seorang Aslan.


Paul melihat ke sekeliling. Kamar Aslan tampak rapih. Juga  tidak ada suara. Meski ragu- ragu Paul memberanikan memanggil Aslan. 


“Aslan...Aslan” panggil Paul. 


“Aslan gue mau ngomong sama Lo?” ucap Paul lagi. 


Akhirnya Paul melanjutkan langkahnya maju. Dan memberanikan diri masuk, melewati tempat Aslan berganti dan menyimpan pakaian.


Betapa kagetnya Paul, Aslan sudah mengemasi pakaianya. Lemarinya kosong. Paul juga melihat kamar mandi terbuka yang artinya Aslan tidak ada di kamar mandi. 


“Sh*t...” Paul mengepalkan tanganya seakan ada sesuatu yang membekap dirinya membuatnya merasakan sesak dan kecewa. 


“Jadi dia benar berani menceraikanku? Hah??” Paul berbicara sendiri dengan ekspresi orang gila. Ketawa sendiri tetapi ada kegetiran di balik senyumnya itu. 


Sebetulnya dalam lubuk hati Paul yang paling dalam, Paul menyimpan rasa terhadap Aslan. Hanya saja Aslan selalu dingin dan mengacuhkanya.


Sebagai perempuan normal Paul membutuhkan belaian dan kehangatan. Jadi dia melampiaskanya pada Nicholas, sang artis mata keranjang, yang membanggakan kesempurnaan fisiknya mengelabuhi banyak perempuan kesepian. 


Paul bergegas keluar dari kamar mandi. Lalu matanya tertuju pada map di atas meja. Seperti yang dilakukan pada Kia. Aslan pergi meninggalkan sertifikat rumah. Dan memo. 


“Aku berharap kamu bisa bekerja sama dengan baik. Datang lah ke persidangan dan selesaikan drama kita” 


Paul mengeratkan rahangnya dan meremas kertasnya. Paul baru sadar kalau hiasan foto- foto di kamar itu bahkan tidak ada lagi. Berkebalikan di rumah baru Kia, Aslan menaruh foto- foto baru. 


“Perempuan itu? Anak haram itu?”  umpat Paul mengingat Kia.


Paul meremas tanganya. Entah apa sebenarnya yang Paul inginkan. Padahal seharusnya Paul bahagia mendapatkan uang dan saham perusahaan. Bahkan dulu dia juga ingin segera pisah, tapi sekarang di saat dia benar- benar mau cerai Paul merasa khawatir dan tidak terima. 


Paul kemudian keluar kamar dan mencari ponselnya dan menghubungi mertuanya. Karena orang tua Paul tinggal di luar negeri, pelindung Paul adalah Bu Wina. Ibu tiri Aslan yang tidak lain adalah tante Paul. 


Tidak ingat pesanan asinan yang dibuat Mbok Mina. Paul segera meninggalkan rumah dan menemui mertuanya. Meski surat panggilan dar pengadilan belum tiba karena hari itu weekend. Paul sudah menebak, kali ini Aslan serius mengajukan permohonan perceraian. 


Sementara Mbok Mina menatap getir dan kesal melihat Paul. Tujuan Mbok Mina mengabdi untuk kebahagiaan Aslan bukan melayani perempuan sundel seperti Paul. 


Setelah beberapa menit Paul sampai ke istana Tuan Agung tempat tinggalnya dulu. Paul segera berlari menuju ke ruang santai dimana Ibu mertuanya biasa mengabiskan waktu sambil menikmati minuman segar. 

__ADS_1


“Pagi Mah!” sapa Paul meraih tangan mertuanya lalu mencium pipi kanan dan kiri mertuanya. 


“Pagi Sayang” jawa Bu Wina kemudian memeprsilahkan Paul duduk. 


“Aslan pergi dari rumah Mah, dia beneran mau menceraikan aku!” adu Paul. 


“Belum waktunya Baby!” jawab Bu Wina menyeringai. 


Sebenarnya Nyonya Wina mencegah agar mereka tidak bercerai dulu karen Bu Wina tidak mau di bawah Paul. Bu Wina juga ingin mendapatkan bagian dari saham itu. 


Jika Tuan Agung meninggal Bu Wina mendapatkan 20 %. Jika Paulbercerai sebelum Tuan Agung meninggal Paul akan menjadi pemegang saham teertinggi. Jadi Bu Wina mempengaruhi Paul. Dan Paul sendiri memang menginginkan status istri, sebagai tameng melindungi diri dan nama baiknya. 


“Mah, dia nekat!” 


“Apa Aslan merelakan saham itu menjadi milikmu?” tanya Bu Wina.


“Ya. Bahkan rumahpun juga” 


“Bodoh sekali dia?” 


“Apa ini buat Mamah senang?” 


“Seharusnya pertanyaan ini punya Mamah, apa kau senang? Kau akan menjadi pemegang saham tertinggi, kau punya semuanya?” tanya Bu Wina mmancing. 


“Tidak! Aku berubah pikiran. Aku tidak mau bercerai, jika  aku jadi janda Mah, bagaimana nasib Alena?” jawab Paul nanar, Paul berubah pikiran karena Paul mulai sadar Nicholas tidak mau meninggalkan kelaurganya, 


“Hhhh, kamu tenang saja, mamah akan bantu kamu!”


“Tenang bagaimana, anak Aslan bersama dengan Alena, Alena pasti akan sangat menderita, jika tahu dadynya memilih anak lain dan meninggalkanya” 


“Apa maksudmu?” 


“Anak laki- laki yang aku ceritakan pada Mama” 


“Ya Mamah sudah bertemu denganya, apa maksudmu dia bersamaa Alena” 


“Jadi Mamah sudah bertemu?” 


“Dia bersama Aslan ke rumah sakit” 


“Ke rumah sakit?”


“Ya..”


“Mah anak itu juga berada di karantina. Mereka bersaing, Paul tidak ingin Alena hidup tanpa ayah, Paul tidak mau bercerai” ucap Paul menjelaskan. 


“Kalau gitu tolak dan undur perceraianmu!” 


 

__ADS_1


__ADS_2