
Setelah beristighfar, Kia menjernihkan pikiran agar waras lagi. Kia harus kebal telinga dan hati agar tetap hidup dan seterong.
Kia memulai memilah kangkungnya. Dengan tanganya yang rikat, Kia memotong daun-daun kangkung itu. Mencucinya bersih dan siap dimasak.
Sayuran hijau memang menjadi menu wajib untuk Kia. Entah apa jenisnya, Kia rutin menyediakan makan untuk Ipang dengan tanganya. Kia juga membiasakan Ipang makan makanan sehat.
Ipang sendiri masuk ke kamar, kembali menghubungi ayahnya. Menagih janji katanya mau menjemputnya. Tanpa sepengetahuan Kia.
"Kapan ayah menjemputku?" tanya Ipang di telepon saat ayahnya melakukan video call.
"Hari ini My Boy" jawab Aslan
"Benarkah? Ayah sekarang dimana?"
"Ayah sudah berada di kotamu, tunggu ya!"
"Ya Ayah" jawab Ipang lalu menutup, teleponya.
****
Hotel Kota Y
Tirai hotel kamar hotel dibuka. Semburat cahaya yang menyilaukan menembus kamar luas nan dingin karena AC. Pria bertubuh kekar yang tadi masih bermalas-malasan di bawah selimut kini sudah berdiri di tepi jendela.
Masih dengan pakaian tidurnya, Aslan berdiri memandang gunung yang menjulang tinggi. Hotel tempat Aslan menginap memang menghadap ke hamparan pegunungan yang Indah.
Aslan melirik ke kasur tempatnya bersistirahat semalam. Kemudian tersenyum, hanya membayangkanya saja terasa begitu hangat dan menyenangkan.
Meski nyatanya kasur di belakang Aslan itu kosong dengan selimut berantakan. Tapi yang Aslan lihat, ada Kia dengan rambut panjang sedikit berombak dan pakaian tidurnya tersenyum manis padanya. Lalu di tengahnya ada Ipang yang memeluknya.
Meski sekarang Kia berhijab, tapi ingatan Aslan saat Kia membuka hijabnya terpampang nyata. Bahkan Aslan lebih mengingat Kia yang dulu, dari yang sekarang.
Setiap inci tubuh Kia juga Aslan masih Ingat. Aslan begitu terbuai oleh keindahan Kia di masa itu. Meski saat Aslan mencarinya Kia menghilang.
"Ahhh hsssh" Aslan mengerjapkan matanya ternyata hanya halusinasi Aslan.
"Ck. Sial. Kenapa dia menolakku? Apa dia benar- benar punya pacar. Siapa Radit itu?" gumam Aslan mengacak- acak rambutnya.
Hanya dengan membayangkan Kia, karena suhu ruang yang dingin, senjata Aslan yang tersimpan rapih di kamarnya terbangun.
Sudah 7 tahun tidak dia asah meski di sampingnya ada Paul. Entah kenapa senjata Aslan itu menjadi tumpul meski Paul begitu seksi. Yang ada Aslan merasa tersakiti dan jijik melihatnya.
Meski Askan bukan orang yang alim, Aslan juga pernah berkonsultasi dengan sahabatnya, menikah denga perempuan yang sedang hamil ternyata tidak sah menurut agamanya.
Aslan bukan tidak mau menceraikanya, tapi Paul yang tidak mau dan Paul mengancam Aslan dengan orang tua Aslan. Dan Paul sendiri menerima statusnya meski pernikahanya tidak berjalan semestinya.
Setelah mendapat telepon dari Ipang, Aslan bersemangat. Aslan kemudian masuk ke kamar mandi. Benar saja, senjata Aslan bersinar gagah.
"Sabar, pentol, ayo kita berjuang buat dapetin rumahmu, aku akan nikahin dia, kamu bisa hidup dengan bahagia" batin Aslan di kamar mandi menghibur pentolnya yang malang.
Setelah selesai mandi Aslan keluar, memakai kemeja mahalnya, menyisir rambutnya dengan rapih dan memakai parfum mahal.
Setelah Aslan ganteng maksimal, dia memanggil Rendra untuk sarapan bersama.
"Seger banget boss" goda Rendra melihat Aslan tampak bersemangat dengan wajah bersinar.
"Gue nggak sabar buat ketemu dia" ungkap Aslan malu- malu seperti ABG puber.
"Halah paling dicuekin dan digalakin lagi Bos" jawab Rendra mengejek..
Bisa ditebak sih memang, Kia masih belum bisa menerima Aslan.
"Haiish" Aslan mendesis mengangkat sendoknya jengkel diejek Rendra.
Rendra memajukan tanganya bersilang. Menghindari sendok yang melayang, meskipun kenyataanya tidak ada yang melayang. Hanya gertakan Aslan saja.
__ADS_1
"Hehehe sory Bos"
"Justru galaknya dia yang membuat gue tertarik dan tertantang"
"Ya bos, tapi kalau tertantang ya harusnya jentle Bos, nggak usah pake acara ke polisi juga" tutur Rendra menasehati untuk yang kesekian kalinya.
"Ah lu nggak ngerti trik sih?" ejek Aslan lagi.
"Tapi emang nggak ada trik lain Bos?"
"Nggak. Sebagai laki-laki matang dan berkarisma. Gue juga harus terlihat jual mahal lah. Kalau gue terlihat ngejar- ngejar dia ya dia makin menjauh, biar dia nanti yang merasa butuh gue" jawab Aslan dengan percaya diri menjelaskan rencananya.
"Lah ya kalau jual mahal kapan dapatnya Bos?"
"Lo diam aja lah. Lo sendiri emang lo udah punya bini?" tanya Aslan mengejak Rendra yang masih jomblo.
"Yaya, yang bininya udah mau dua" jawab Rendra lagi mengejek.
"1. Istriku nanti cuma 1. Paul itu pajangan doang" jawab Aslan yakin Kia akan jadi istrinya.
"Tapi kalau Nyonya Paul masih tetap dipertahanin Nyonya Kia nggak akan mau Bos" tutur Rendra lagi menyadarkan Aslan.
"Apa iya ya? Alasan dia nggak mau sama gue gara- gara itu?" jawab Aslan berfikir baru nyadar. Padahal Kia sering memperingatinya. Tapi karena Aslan tidak cinta Paul Aslan merasa dirinya bebas dan tidak melihat sudut pandang orang lain.
"Aduh Bos, bos, ya iyalah, mana ada perempuan yang mau berbagi terong Bos?" jelas Rendra lagi.
"Tapi kan punya gue cuma buat dia"
"Ya itu kan rahasia Bos, cuma bos yang tahu. emang orang lain tahu, burunya bos udah kemana aja? Nyonya Kia kan nggak tau apa- apa tentang hubungan bos dan Nyonya Paul"
"Ya nanti gue kasih tau. Tapi kenapa dulu dia mau tidur sama gue?"jawab Aslan lagi.
"Ya itu PR buat bos cari tau masalalunya, itu juga jalan buat dapetin hati dia Bos"
"Hemm yaya tumben lo pinter" puji Aslan tersenyum"
"Ck. Tapi kok susah amat sih dapeti dia. Gue mau cepet nikahin dia" gerutu Aslan lagi.
"Nggak ada yang instan Bos. Itu juga kalau Nyonya Kia masih sendiri" jawab Rendra lagi semakin membuat Aslan ciut nyali.
"Maksud lo?" tanya Aslan emosi merasa direndahkan.
"Nggak Bos" jawab Rendra berdecak.
"Kenapa Aslan jadi bodoh sih?" batin Rendra dalam hati.
"Siapapun yang deketin Kia. Akan gue patahin dia" ucap Aslan mengancam dan tidak terima, cuma dia yang boleh deketin Kia.
"Tapi kalau Nyonya Kia yang suka gimana Bos?" ledek Rendra lagi.
"Lo gue tonjok beneran lo, ngomong gitu lagi. Ayo kita ke sana segera"
"Ya ayo Bos, saya ngikut aja, kan dari tadi yang ajak ngobrol Bos"
"Tunggu! Dari kepolisian gimana?" tanya Aslan lagi.
"Laporan udah diterima Bos, mereka antar surat panggilan, katanya pagi ini"
"Bagus, kita kesana setelah polisi tiba"
"Bos itu bener-bener aneh, masa pedekate surat cintanya pake surat panggilan polisi" ucap Rendra lagi mengatai Aslan.
"Diem lo. Berani ngatain gue lagi, gue potong gaji lo"
"Ampun Bos. Kalau Nyonya Kia marah saya nggak ikut campur lho Bos"
__ADS_1
"Nggak, udah lo diem aja"
"Ya"
Mereka berdua kemudian menyantap hidangan breakfeadt dari hotel. Setelah itu mencari alamat rumah Kia.
*****
"Ipang makan yuuk" panggil Kia selesai masak.
Di meja makan sudah tersaji nasj hangat, cah kangkung, ayam goreng susu dan air putih. Menu sederhana tapi nikmatnya luar biasa.
"Iya Bu, bentar" jawab Ipang dari kamar.
"Ibu tunggu ya" ucap Kia lagi duduk di meja makan.
"Ya Bu, Ipang mau mandi dulu Bu" jawab Ipang keluar kamar.
"Oke" jawab Kia.
Lalu Ipang masuk ke kamar mandi melewati Kia. Ipang memang sudah mandiri, membersihkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit, Ipang keluar dengan baju bagus Ipang. Membuat Kia terbelalak. Buat ibu sederhana seperti Kia, baju main dan baju pergi dibuat terpisah agar awet dan tidak boros.
"Ipaang? Ko pake baju bagus Nak?" tanya Kia tidak suka Ipang di dalam rumah memakai baju koleksi yang Kia simpan khusus untuk bepergian.
"Memang kenapa Bu?" tanya Ipang enteng.
"Kalau baju yang bagus nya dipake semua nanti kalau pergi-pergi kita nggak punya baju sayang" tutur Kia menasehati, mengajari Ipang untuk hidup sederhana dan berhati-hati.
"Nggak apa-apa Bu" jawab Ipang tanpa dosa lagi.
"Nggak Sayang, lepas bajunya, ganti pakai baju main" ucap Kia memerintah.
"Nggak Bu!" jawab Ipang menolak lagi
"Ipaang" panggil Kia membentak.
"Ibuu, Ipang mau pake baju ini"
"Ipang kok kamu sekarang jadi nggak nurut sama Ibu sih?" tanya Kia mulai emosi.
"Ipang nurut kok sama ibu" jawab Ipang merasa benar, dalam hati Ipang. Ipang pakai baju bagus memang mau pergi. Ipang mau balik ke Ibukota bareng ayahnya.
"Aye aye" begitu batinya. Tapi Ipang tidak cerita ke Kia.
"Terus kenapa nggak mau lepas?" tanya Kia masih emosi tidak tahu rahasia Ipang dan ayahnya.
"Rahasia!" jawab Ipang nakal.
"Ck. Ipang" Kia berdecak tambah kesal ingin memukul tapi terlalu sayang.
"Ibu bau acem. Ibu belum mandi ya?" ucap Ipang justru membercandai ibunya yang marah.
"Ehm" dikatai bau Kia tersinggung dan mencium kedua keteknya
"Hihihi, bau kan Bu?" tanya Ipan.
"Emang bau banget ya?" tanya Kia malu.
"Bau banget Bu, sana ibu mandi dandan yang cantik ya Bu" ucap Ipang pintar.
"Ish"
"Ipang sudah lapar, cepatlah"
__ADS_1
"Hemm ya!"
Kini Kia tidak jadi marah dan malah dibuat kelu anaknya. Lalu Kiapun mandi kilat demi anaknya agar cepat makan bersama.