Sang Pangeran

Sang Pangeran
233. Masih ada pelajaran untukmu.


__ADS_3

“Apa itu anakku?” 


Meski awalnya gugup, Rendra yang sudah lebih dari satu minggu merasaan tersiksanya kena syndrom sympatik atau syndrom couvade, sudah banyak minum obat tapi tetap merasakan lidah yang pahit, semua makanan terasa hambar, kini mantap menemui Cyntia.


Perempuan yang selalu datang membayanginya dan menjadi candu untuk Rendra bisa mengatainya dan berdebat denganya. 


Cyntia langsung memalingkan mukanya tidak mau melihat ke Rendra. 


“Aku yakin iya? Dua minggu aku sakit. Temanku mengatakan ada kemungkinan aku mengalami syndrom simpatik" ucap Rendra percaya diri menatap punggung Cyntia dan rambutnya yang berantakan.


"Apa begini caramu menyakitiku? Apa kamu akan merasa menang setelah mengorbankan dirimu sendiri dan membunuhnya?” tanya Rendra kemudian. 


Cyntia masih berbaring miring tidak mau melihat Rendra. 


“Jika benar begitu? Aku tidak pernah menyangka, perempuan yang kukira kuat ternyata begitu lemah! Semurah inikah harga hidupmu sehingga kau memutuskan untuk mengakhirinya begitu saja?” tanya Rendra lagi dengan nada menohok ingin Cyntia meresponya.


Cyntia masih tetap diam 


“Jika benar begitu? Apa kamu pikir aku akan sedih? Tidak, aku akan menertawakanmu, semua orang akan menertawakanmu, karena ternyata kamu bodoh!” sambung Rendra lagi masih ingin terus mengungkapkan ekspresi cintanya. 


Rendra memang tidak pandai berkata manis atau menggombal, itulah caranya berkomunikasi pada Cyntia.


Cyntia yang sedari tadi diam, rupanya tanganya mencengkeram selimut. Mulutnya sangat gatal untuk menjawab.


Sudah cukup lama mereka berdua tidak beradu pendapat atau bertengkar. 


Tapi Cyntia malu.


Perkataan Rendra benar, Cyntia bodoh, bukan menyelesaikan masalah, bunuh diri membuatnya sakit sendiri. Masih untung Cyntia masih hidup, kalau sungguhan meninggal, tidak bisa balik dan masuk neraka, kan Cyntia rugi sendiri. Seharusnya kan taubat dan merawat anaknya dengan baik seperti Kia.


“Aku tidak pernah menjadi perempuan, jadi aku tidak mengerti bagaimana perasaan perempuan ketika hamil. Tapi kata orang, ibu itu menyayangi anaknya lebih dari apapun, bahkan melebihi dirinya sendiri? Entahlah kamu punya perasaan itu atau tidak? Bisa- bisanya kamu melakukan hal yang menyakitimu dan membahayakanya?” Rendra terus berbicara sendiri meski tak ditanggapi.  


“Kau boleh membunuhnya jika memang kau membencinya, tapi tidak bisakah kau memberinya kesempatan dia hidup? Aku yang akan merawatnya! Aku yang akan mengurusnya, aku bisa membawanya pergi darimu jika memang kamu membencinya. Aku akan bayar apapun jika kamu mau membiarkanya hidup di perutmu, termasuk hidupku!” lanjut Rendra lagi bersungguh- sungguh.


Rendra menunggu reaksi Cyntia dan ingin terus mengatainya sepuasnya.


Rendra tahu Cyntia mendengarkanya dengan sangat baik.


Usaha Rendra pun berhasil, kali ini Cyntia tersentil dan meneteskan air mata. 


Rendra dan Cyntia kan sama- sama orang tua jabang bayi di rahim Cyntia. Rendra menunjukan keseriusan dan kebaikanya sebagai ayah, tapi menjatuhkan harga diri Cyntia terpojok menjadi perempuan buruk yang seakan tidak punya hati dan akal yang benar terhadap anaknya sendiri


Cyntia akhirnya berbalik dan menatap Rendra benci.


“Enak saja kamu bilang mau membawanya. Tidak! Aku ibunya, aku yang merawatnya, memang kau bisa apa?” jawab Cyntia akhirnya dengan mata sembab. 


Cyntia tidak berubah, masih tetap menjadi perempuan yang menyimpan gengsi yang tinggi. 

__ADS_1


Sementara Rendra justru tersenyum senang menanggapi Cyntia. Wanita yang membuatnya gila ini akhirnya mau buka suara dan tetap menjadi dirinya seperti sebelumnya.


Rendra juga lega jawaban Cyntia setidaknya mengandung pengakuan penerimaan Cyntia terhadap kehamilanya, yang terpentig itu dulu.


PR Rendra selanjutnya merayu Cyntia agar mau dia nikahi. 


“Oke... terima kasih karena kamu sudah menganggapnya anakmu. Aku titip dia! Aku bisa apa? Katakan saja apa yang kamu ingin? Akan aku melakukannya untukmu!” ucap Rendra tersenyum. 


“Pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu!” jawab Cyntia cemberut masih diliputi emosi.


"Oke!" jawab Rendra.


Rendra pun harus menahan sabar dan mengalah. Meski begitu Rendra senang, dia sungguh akan menjadi ayah dan Cyntia tertolong. Rendra memilih keluar. Rendra yakin, Umma dan Kia akan membantunya merayu Cyntia agar mau menikah. 


*****


Di luar.


“Umma akan punya cucu lagi, Umma!” tutur Kia ke Umma dan Aslan. 


Umma dan Aslan yang mendengarnya langsung mendelik dan berfikir.


“Sayang kamu ngomong apa sih?” tanya Aslan langsung bertanya.


Sementara Umma menelan ludahnya tergagap, masih berusaha mencerna kata Kia. 


“Mimpi Umma akan terwujud, Umma akan tambah satu cucu lagi!” tutur Kia mengulangi. 


“Katakan yang benar, Sayang!” sahut Aslan kesal Kia tidak bicara dengan jelas.


“Rendra, ayah bayi Cyntia!” ucap Kia akhirnya.


“Apa?” pekik Aslan kaget dan Syok.


“Astaghfirulloh, gusti...!” ucap Umma, langsung memegang kepalanya.


Rasanya Umma seperti dilempar ke jurang sampai jatuh dan menukik, kemudian dihantam batu besar. 


“Hoh... hooh...” Umma langsung sesak nafas dan ambruk. 


“Umma!” panggil Aslan dan Kia langsung membantu Umma.


Mereka kemudian memanggil perawat dan membawa Umma agar mendapatkan pertolongan. 


Sambil menunggu Umma ditangani, Aslan pun mondar mandir, komat kamit tidak percaya dan terus meracau. 


“Rendra hamilin Cyntia, Yang?” tanya Aslan.

__ADS_1


“Iya, Bang!”


“Kok bisa?” 


“Ya bisalah, Rendra kan laki- laki tulen, abang aja bisa tuh jadiin Ipang!” 


“Ehm, bukan itu maksud Abang. Kapan mereka bikinya? Kok bisa?” 


“Ya, mana Kia tahu Bang. Tanyalah sama mereka!” 


“Apa jangan- jangan pas di resepsi kita?” 


Aslan lupa rencana mau gebugin si penghamil Cyntia malah berganti penasaran tingkat tinggi, kapan dan dimana proses terbentuknya Rendra junior terjadi. 


“Hush ya nggaklah.  Di hotel Cyntia tidak tidur sendiri. Udah sih Abang nggak usah mikirin kenapa bisa terjadi, sekarang mikir solusinya! Kia pengen kasih pelajaran ke Rendra.” 


“Ya udah nikahin aja mereka!” 


“Masalahnya Cyntia nggak mau, Rendra tuh sakitin Cyntia. Belum juga kabari orang tua Cyntia!” ucap Kia sudah banyak memikirkan hidup Cyntia ke depanya.


“Gampang itu bisa diatur, ada Umma juga!” jawab Aslan merasa itu semua perkara mudah.


“Lah Umma juga sakit? ” 


“Bentar lagi juga bangun! Umma syok aja!” jawab Aslan lagi.


“Hemmmm!” jawab Kia berdehem.


Di saat yang bersamaan, Rendra yang baru selesai berbicara dengan Cyntia berjalan cepat mencari mereka setelah diberitahu perawat. Ibu yang menunggu Cyntia pingsan. 


“Bagaiamana keadaan Umma?” tanya Rendra panik.


Kia langsung memusatkan pandangan kesal ke Rendra. Sementara Aslan berbalik 180 derajat seperti yang dia bilang sebelumnya. Aslan menepuk malah menepuk bahu  Rendra hangat.


“Selamat, Bro. Lo mau jadi bapak, diem- diem lo ya! Hebat Lo” Aslan malah memuji Rendra dan membuat Kia mendelik kesal 


“Abang!” bentak Kia sambil menginjak kakinya. Bisa- bisanya Aslan memuji perbuatan tercela Rendra. 


Aslan pun mengaduh sakit dan Rendra menoleh ke Kia menelan ludahnya malu.


“Kok dikasih selamat sih. Harusnya, Abang kasih dia pelajaran. Adik abang ini yang buat Cyntia mau bunuh diri tau! Kalian ya? Kakak adik sama aja nggak ada yang bener!” tutur Kia mode galaknya. 


Aslan pun menelan ludahnya sendiri dengan nyali menciut. Aslan termakan omonganya sendiri juga kan pengenya Aslan gebugin bapaknya bayi Cyntia. Tapi Aslan tidak mungkin memukul Rendra. 


“Eh kamu! Aku masih punya pelajaran ya buat kamu!” ucap Kia melotot ke Rendra. 


Rendra diam tak berkutik, selain Kia istri Aslan, Kia kan juga sahabat terbaik Cyntia dan harapan Rendra bisa rayu Cyntia.

__ADS_1


Belum Kia mengeluarkan hukumanya ke Rendra, suster memanggil kalau Umma sudah sadar dan memanggil- manggil nama Rendra. 


 


__ADS_2