
“Mbok Mina!” seru Alena saat bertemu dengan Mbok Mina yang membawa sampah ke luar rumah. Alena sangat bahagia melihat perempuan tua yang selalu setia menemaninya dan menyayanginya melebihi Mommynya sendiri. Alena langsung berlari memeluk Mbok Mina. Mbok Mina pun meletakan sampah di tanganya dan menerima pelukan anak majikanya itu.
“Tangan Mbok kotor, Non!” tutur Mbok Mina.
“Alena miss you Mbok, Really really miss you!” ucap Alena mengungkapkan perasaanya
“Yah! Simbok juga kangen sama Non cantik!” jawab Mbok Mina dengan mata nanar.
Mbok Mina memang orang penting di keluarga Nareswara. Ibarat kata, mbok Mina bisa dibilang juru kunci keluarga Nareswara. Aslan dan Satya juga besar dalam asuhan tangan Mbok Mina, itulah sebabnya meski beda ayah, Satya dan Aslan tampak akur. Alena juga banyak bersama Mbok Mina, meski Alena juga banyak mengikuti Mommy nya.
Mbok Mina hampir menangis merasakan pelukan Alena yang begitu erat. Mbok Mina yakin Alena belum tahu kalau mboknya sudah meninggalkan rumah Alena dan Mommynya. Mbok Mina juga yakin Alena akan sedih jika menyadari Alen nanti akan sendiri di rumah.
Mbok Mina yang tahu pasti bagaimana ketakutanya Alena saat kedua orang yang disebutnya sebagai Daddy dan Mommynya sedang bertengkar bahkan tidak jarang ada barang pecah bertebaran.
“Mbok Mina sekarang tinggal di sini kah?” tanya Alena tiba- tiba melepaskan pelukanya setelah ia puas memeluk Mbok Mina.
Mbok Mina terdiam dengan tatapan sedihnya kemudian menoleh ke Kia yang berdiri di belakang Alena.
“Iya Non!” jawab Mbok Mina,
“Oh, apa itu artinya Mbok udah nggak tinggal di rumah Mommy?” tanya Alena dengan nada sedih dan lirih. Alena anak yang cukup pintar dan cerdas. Meski dia anak kecil dia cukup banyak menelan kenyataan pahit kehidupan rumah tangga yang kacau.
Mbok Mina mengehela nafas menata kata agaar tak menyakiti Alena. Sayangnya belum Mbok Mina menjawab Alena sudah memotongnya.
“Aku tahu, Miss yang jemput Alena semalam itu Miss Alena yang baru!” ucap Alena lebih cerdas dan tidak ingin memaksa Mbok Mina menjawab.
”Kalau Alena rindu Mbok Mina, Alena boleh kesini kapan saja. Nanti tante kasih nomer telepon tante biar Tante jemput. Jadi meski Mbok udah nggak di rumah Mommy Alena, Alena tetap jadi putrinya Mbok, Iya kan Mbok!” sahut Kia dari belakang ikut nimbrung.
“Iya, Non, benar kata Tante Kia!” jawab Mbok Mina.
“Iya, Tante!” jawab Alena patuh.
“Ya sudah, Mbok Mina buang sampah dulu ya! Non Alena main samaa Tante Kia dulu1” tutur Mbok Mina lembut.
“Iya Mbok!” jawab Alena. Kia kemudian tersenyum dan menggandeng Alena ke taman Kia. Di sana ada banyak tanaman koleksi Kia yang dirawat sepenuh hati oleh Kia. Tanaman itu ditata rapi dengan pot- pot dan cantik mengelilingi meja dan kursi yang terbuat dari kayu asli, dengan atap tranparan.
__ADS_1
“Alena suka bunga?” tanya Kia.
“No! Alena hanya suka melihatnya!” jawab Alena. Maskdunya Alena tidak suka merawatnya tapi suka melihatnya.
“Itu namanya suka, sayang. Duduklah di sini, temani Tante siram tanaman dulu ya!” ucap Kia lembut.
“Ya Tante!”
Kia ingin mengajak Alena mengenal tanaman, dengan bermaksud melembutkan hati Alena. Kia tahu mengobati hati anak yang patah karena broken home tidak mudah. Alena pasti akan punya trauma tersendiri. Kia juga tahu, jika Alena salah mendapatkan didikan Alena juga bisa salah jalan.
Alena diam tidak berkata apapun, tatapanya kosong. Kia pun hanya meliriknya sesekali sambil memotong daun- daun tanaman yang kering.
“Alena boleh, tante minta tolong?” tanya Kia ingin mengalihkan Alena agar tidak larut dalam lamunan kosongnya.
“Ya Tante!”
“Bawakan tempah sampah itu kesini!” ucap Kia memohon dengan sangat lembut dan tatapan yang dalam memberikan sugesti dan harapan agar Alena mengerti. Karena Kia melakukanya dengan doa dan niat yang baik, entah sihir ataau rahmat dari Tuhan. Alena yang saat bersama Mommynya tidak mau disuruh dan banyak menyuruh menurut.
Alena terdiam dan melihat tempat sampah yang dimaksud Kia. Tempat sampah itu terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk dengaan pot karakter hewan dan dicat putih. Meski itu tempat sampah tidk terlihat jorok, tapi lucu. Alena pun menganggukk mau, Alena turun dari duduknya dan mengambilkan tempat ssampah itu.
Tidak berhenti di situ, Kia terus mengajak Alena bergerak. Sehingga Alena disibukkan dengan aktivitas sesuai arahan Kia. Mulai diajari memotong tangkai yang kering, menyiram tanaman dengan semprotan, dan memberi pupuk. Lambat laun Alena pun merasa asik dan menyukainya.
Tanpa Kia tahu dari kamar lantai dua yang berdindingkan kaca. Tempat dulu Danu dan Ranti menginap, berdiri seorang pria memperhatikan Kia dan Alena di balik tirai memperhatikan Kia.
****
“Ayah Ipang, sangat keren dan tampan!” ucap Pangeran memuji ayahnya, yang membuat Aslan semakin sombong dan percaya diri. Tapi memang tampan.
“Are you ready?” tanya Aslan, mengajak Pangeran keluar, hari ini Pangeran akaan daftar sekolah setelah mengantar Alena ke rumah Paul.
“Ready ayah! Tapi ibu belum mandi ayah!” jawab Pangeran mengingatkan.
“Ayo, kita panggil ibu!” ajak Aslan ke Pangeran, sambil jongkok mengulurkan tanganya menggendong Pangeran.
Kedua manusia kembar versi kecil dan besar itu keluar kamar dengan kompak mencari Kia. Saat berjalan Aslan tanpa sengaja melewati telvisi yang menyala menemani Mbak Narti menyetrika baju. Aslan mendegar berita gosip yang membawa nama dirinya dan istrinya.
__ADS_1
Aslan berhenti mengeratkan rahangnya. Kalau saja tidak ada Pangeran di gendonganya, Aslan ingin melempar gelas ke tivinya itu.
“Matikan tivinya!” bentak Aslan ke Narti, membuat Narti dan Ipang sedikit kaget.
“Baik, Tuan!” jawab Narti. Jika dengan Aslan Narti takut, tidak seperti jika dengan Kia, semua pegawai merasa nyaman.
“Dimana Nyonyamu?” tanya Aslan lagi.
“Di tama Tuan!” jawab Narti menunduk takut.
Aslan dan Pangeran kemudian berjalan ke taman. Entah feeling sebagaai suami atau memang insting. Aslan sedikit kaget saat melihat Alenaa dan Kia kompak menyiangi tanaman. Aslan mendapati seseorang berdiri di lantai dua ujung rumah Kia, jendela ruangan itu menghadap ke taman Kia, karena kolam rumah Kia membentuk setengah lingkaran.
Aslan yanga sebelumnya emosi ingin segera membalas perlakuan Paulina, kini ditambah meradang melihat istrinya lalai. Aslan sangat tidak terima seseorang memandangi Kia dengan leluasa, saat Kia memakai pakaian terbuka. Radit pun langsung menutup tirainya saat mata mereka saling beradu.
Aslan langsung menurunkan Ipang cepat dan menarik tangan Kia kasar.
“Masuk!” ucap Aslan mengeluarkan mata elangnya.
Kia yang tadinaya jongkok kaget karena tanganya ditarik kasar.
“Abang!” pekik Kia.
“Masuk!” bentak Aslan lagi lebih kasar.
“Abang kenapa sih?” tanya Kia tidak menyadari kesalahanya, Kia malah berusaha menepis tangan suaminya. Kia malah mengira Aslan marah karena Kia bersama Alena.
“Masuk denger nggak!” bentak Aslan lagi menyeret Kia masuk.
Alena dan Ipang jadi ikut ketakutan melihat sisi jelek Aslan. Alena sih melihat ini bukan kali pertama, jadi Alena hanya diam, sementara Ipang baru pertama melihat ayahnya kasar. Pangeran malah menangis dan merespon tidak terima ke ayahnya. Mereka tidak ada yang tahu Aslan sedang sangat cemburu.
“Ayah, nakal! Ayah jahat! Jangan kasari ibu Ipang!” teriak Ipang berani.
****
Maaf belum kuedit dan baca lagi.
__ADS_1
Aku edit kalau ada waktu ya.