Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Hati-hati


__ADS_3

Setelah puas bermain-main, Melisa dan Dion pamit pada Steve. Mereka juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada Steve karena sudah mentraktir mereka tiket masuk dan juga makanan selama di sana.


"Hati-hati ya kalian, kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabarin aku," Steve melambaikan tangannya saat mobil Dion perlahan mulai melaju keluar dari area parkir.


Melisa juga ikut melambaikan tangannya, setelah mulai jauh dan Steve tak lagi terlihat. Melisa baru menutup kaca mobil di sampingnya.


"Sebenarnya siapa dia? Dia bukan saudaramu kan?" Tanya Dion penuh curiga.


"Kok kamu bisa mikir gitu?" Melisa menatap Dion yang sedang fokus mengemudi.


"Gak tau kenapa, aku punya firasat ga enak sama orang itu," jawab Dion.


"Satria juga selalu bilang begitu, kalian kenapa bisa kompak begitu?" Melisa menatap lurus ke depan.


"Emang kamu ga merasa ada yang aneh?" Dion.


"Engga tuh, emang aneh kenapa?" Melisa.


"Ya, menurutku kebaikan dia tuh kaya ada maunya. Kamu ga ngerasa tadi dia ga suka waktu pertama kali liat kamu dateng sama aku?" Dion.


"Menurutku, dia cuma kaget aja," Melisa.


"Gak cuma kaget Mel, dia kayanya lebih suka kalau kamu datang sendirian," Dion.


"Oh ya?" Melisa terlihat berpikir.


"Ya semoga aja ini cuma perasaanku aja, aku harap dia benar-benar orang yang baik," Dion.


Melisa mengangguk, mendengar perkataan Dion yang hampir sama dengan Satria membuat ia merasa harus sedikit waspada terhadap Steve. Bisa saja Steve memang mendekatinya karena punya maksud tidak baik dengannya.


"Sebaiknya kamu berhati-hati Mel, aku tak tau siapa dia sebenarnya. Kau tak perlu juga mengatakan padaku jika memang kau tak mau, tapi aku hanya menyarankan kamu jangan terlalu dekat dengannya," Dion memberi saran.


Melisa mengangguk, sepertinya ia memang harus sedikit menjaga jarak dengan Steve. Jika hanya Satria yang mengatakan ini, mungkin Melisa hanya menganggap Satria hanya cemburu. Namun jika Dion juga ikut mengatakan hal yang sama, itu artinya ia memang harus berhati-hati terhadap Steve.

__ADS_1


Dion telah mengantar Melisa sampai di rumahnya dengan selamat. Melisa turun dan mengucapkan terima kasih pada Dion.


"Sampai ketemu besok di sekolah," Dion melambaikan tangannya ada Melisa. Melisa hanya membalasnya dengan senyuman.


Di tempat lain, Steve sudah sampai di rumah yang sebelumnya ia tempati bersama Natasya. Ia sudah memarkirkan kendaraan di halaman rumah itu. Steve berjalan menuju pintu masuk, ia lalu memasukan kode sandi yang biasa ia tau. Namun setelah ia mencobanya berkali-kali, pintu tetap tak terbuka. Kode yang ia masukan salah. Itu artinya Natasya sudah mengganti kodenya.


Steve mencoba mengintip dari balik jendela, meski tau hanya sia-sia karena di balik jendela ada gorden yang menutupi kaca jendela. Steve tetap mencoba mencari celah untuk mengintip.


Saat sedang asik mengintip, ia dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia kaget sekali melihat Satria yang keluar dari rumah itu.


"Satria?" Mata Steve terbelalak melihat Satria yang keluar dari rumah itu dengan Santainya.


"Om Steve?" Satria tak kalah kaget seperti Steve.


"Kamu lagi apa di sini?" Steve berusaha melihat ke arah dalam rumah saat pintu masih terbuka. Steve melihat banyak sekali perbedaan di dalam rumah itu.


"Aku habis belajar om, om sendiri sedang apa?" Satria menghalangi pandangan Steve yang terus saja melihat ke arah dalam rumah.


"Kamu belajar di rumah ini? Bagaimana bisa?" Steve menatap curiga.


"Natasya? Meminjamkannya padamu?" Steve menatap tak percaya. Jika memang tempat ini akan digunakan Satria untuk belajar mengapa ia harus pergi? Ia kan bisa berbagi tempat dengan Satria.


Tidak, pertanyaannya bukan itu. Seharusnya Steve bertanya bagaimana bisa Natasya yang katanya tidak suka dengan Satria bisa-bisanya meminjamkan tempat ini untuk Satria, bahkan Natasya tega menyuruhnya keluar dari tempat ini.


Steve bukannya tak punya tempat tinggal lain, namun rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri. Ia sudah sangat betah tinggal di rumah ini, meski Natasya memutuskan hubungan dengannya. Steve tetap tinggal di rumah itu, karena sudah terlanjur nyaman tinggal di sana.


"Om, ada apa kemari?" Pertanyaan Satria membuyarkan lamunan Steve.


"Ah, aku... sepertinya ada barangku yang tertinggal di rumah ini," Steve mencoba memberi alasan.


"Oh begitu, kalau begitu masuklah. Om bisa cari sendiri barang yang di maksud," Satria akhirnya membuka jalan agar Steve bisa masuk ke dalam rumah.


Steve tersenyum, ia pun berjalan melewati Satria yang masih berdiri di depan pintu. Steve melihat banyak sekali perubahan di rumah itu, sekarang rumah itu nampak seperti perpustakaan dengan banyak buku di sana sini. Di bagian dapur juga ia melihat banyak sekali makanan dan minuman yang tersusun rapih.

__ADS_1


Tak seperti dulu saat ia tinggal di rumah itu, tak ada makanan ataupun minuman di sana jika ia tak membelinya. Natasya hanya datang ke rumah itu saat malam hari, dan pergi pagi-pagi sekali. Jadi ia sama sekali tak memperdulikan rumah itu. Jika bukan Steve yang merawatnya, rumah itu mungkin sudah seperti rumah yang terbengkalai.


Namun kini, Steve melihat mulai dari halaman hingga ke dalam rumah semua tampak sangat rapih dan terawat. Rumah itu bahkan terasa sangat nyaman sekarang.


"Kau mengurus tempat ini dengan baik," Steve tersenyum pada Satria yang terus membuntutinya.


Satria hanya tersenyum mendengar perkataan Steve.


Setelah puas mengitari rumah itu, Steve memasuki kamar dimana ia dulu tidur. Kamar itu tak banyak berubah, hanya ada tambahan beberapa buku dan meja rias yang berganti jadi meja belajar.


"Apa kau tidur di rumah ini?" Tanya Steve.


"Tidak om, aku hanya belajar di sini. Setelah selesai aku akan pulang," jawab Satria.


Steve mengangguk. "Kenapa kau tak belajar di rumahmu sendiri?"


"Di tempat tinggalku terlalu bising om, di sini tempatnya jauh lebih nyaman. Jarak antar rumah di sini juga cukup jauh, jadi tidak begitu ramai seperti di rumahku," jawab Satria.


"Natasya memberikan semua fasilitas ini padamu?" Steve.


Satria mengangguk.


"Sejak kapan?" Gumam Steve.


"Ya?" Satria tak paham maksud pertanyaan Steve.


Steve bukannya menjawab ia malah tersenyum sinis pada Satria. Steve lalu membuka lemari tempat ia menyimpan pakaiannya, namun betapa terkejutnya Steve karena baju-baju miliknya sudah tak ada di sana. Berganti dengan pakaian-pakaian yang ia pikir itu pasti milik Satria.


"Ini semua punyamu?" Steve menatap sinis pada Satria.


Satria yang terkejut tentu saja menggelengkan kepalanya, ia bahkan tak pernah membuka pintu lemari itu.


"Lalu kemana semua pakaianku?" Steve berjalan mendekati Satria.

__ADS_1


"Bukankah itu semua punya om?" Satria melihat jajaran pakaian di lemari yang pintunya terbuka. Itu semua terlihat seperti pakaian pria, Satria yakin itu pasti milik Steve.


"Itu bukan punyaku, itu pasti punyamu," Steve menyeringai.


__ADS_2