
Natasya menatap Satria dengan tatapan yang lembut dan hangat. Ia sampai lupa, sejak kapan ia mulai tertarik dan akhirnya menyerah pada Satria. Mengangkatnya sebagai anak adalah pilihan yang tepat karena ia tak mau berpisah dari Satria.
"Bu, setidaknya katakan pada Melisa bahwa kau sedang sakit saat ini," pinta Satria.
"Tentu saja, aku akan mengatakannya. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya."
"Bu..."
"Dia sangat membenciku, aku yakin berita ini akan membuatnya tertawa dan merasa menang," Natasya tersenyum kecut.
"Melisa tidak seperti itu bu," bantah Satria.
"Ya, dia memang tidak seperti itu. Dia tidak sama denganku," Natasya mengangguk-angguk perlahan.
"Ya sudah, sekarang ibu minum obat ya," pinta Satria.
Natasya menurut, ia meminum banyak sekali jenis obat.
Setelah memastikan Natasya meminum semua obatnya, Satria menyelimuti Natasya.
"Ibu sekarang tidur ya," ucap Satria.
Natasya hanya mengangguk.
Setelah menemani hingga Natasya tertidur pulas, Satria baru meninggalkan kamar Natasya dan kembali ke kamarnya.
Sampai di kamar, ponsel Satria berdering. Dan itu dari Melisa.
"Halo Mel?" Satria segera menjawabnya.
"Satria, kamu lagi apa?"
"Aku, baru mau tidur," jawab Satria.
"Tidur? Bukannya di sana masih sore? Kamu sudah mau tidur?"
"Maaf Mel, aku belum memberi tahu kamu kalau aku sudah pulang."
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Tadi pagi aku sampai, dan seharian ini aku sibuk menemani ibumu mengurus segala sesuatu untuk pesta pernikahannya," jelas Satria.
"Oh begitu, tak apa asal kamu sampai dengan selamat," ucap Melisa.
"Mel, apa kamu besok ada waktu?"
"Waktu untuk?"
"Tengoklah ibumu, aku yakin dia sangat merindukanmu," pinta Satria.
"Kenapa kamu terus-terusan memintaku untuk menemui ibuku? Tidak, dia sudah jadi ibumu."
"Tapi dia masih ibumu Mel!"
__ADS_1
"Iya, aku tau. Baiklah aku akan menyempatkan waktu besok setelah selesai bekerja," ucap Melisa.
Mendengar itu, Satria merasa sedikit lega. Setidaknya ibu dan anak itu harus bicara dari hati ke hati. Satria yakin akan ada banyak hal yang ingin Natasya katakan pada putri kandungnya.
"Mel, aku mau istirahat dulu ya! Badanku rasanya lelah sekali," ucap Satria.
"Baiklah, selamat istirahat Satria!"
Panggilan sudah terputus, Satria merebahkan diri di atas kasur. Ia memang sangat lelah hari ini. Sejak pulang ia sama sekali belum istirahat.
Sementara itu Melisa merasa sedikit kecewa karena Satria tak mengabarinya saat ia pulang.
"Tak apalah, mungkin dia memang sesibuk itu sampai tidak mengabarinya padaku," gumam Melisa.
Sebelum tidur, Melisa mengecek ponselnya. Ia membuka media sosialnya yang belum ada postingan apapun. Di beranda, ia melihat beberapa postingan teman-temannya dan salah satunya adalah postingan dari Dion.
Disitu Dion menulis. 'Bukan karena dia yang sibuk, tapi karena kamu yang bukan prioritas.'
Deg...
Postingan itu tentu saja membuat Melisa tersinggung. Bukan karena Dion yang seolah sedang menyinggungnya, tapi postingan itu tepat seperti apa yang ia rasakan saat ini.
Melisa tau, Dion memang sengaja memosting itu agar Melisa tersinggung dan lebih sering memberi kabar pada Dion. Tapi Melisa tetap tak peduli. Justru yang Melisa rasakan saat ini adalah ia menjadi orang yang tidak diprioritaskan oleh Satria.
"Apa aku memang bukan prioritas?"
Seketika Melisa merasa sangat sedih, mengingat Satria yang pernah berkata akan menghubunginya sebelum pulang. Namun nyatanya saat sudah di rumah Satria belum juga mengabarinya.
"Apa sikapnya berubah karena sudah pernah menikmati tubuhku?"
"Selamat pagi nona," sapa Fredy saat Melisa sudah turun ke ruang makan.
"Pagi..." Melisa dengan kantung mata yang besar terlihat tidak bersemangat.
"Nona tidak tidur semalam?"
"Mmm... Banyak hal yang aku pikirkan," jawab Melisa.
"Haruskah aku membuat janji dengan dokter agar nona bisa berkonsultasi dan mendapatkan obat tidur?"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," Melisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nona yakin?"
"Mmm..."
"Kamu kenapa Mel?" Tanya Gunawan saat baru memasuki ruang makan bersama dengan Silvana.
"Aku hanya kurang tidur yah," jawab Melisa.
"Kamu habis telponan sama Dion tadi malam?"
Melisa hanya tersenyum getir, ia tak mau memberi tahu ayahnya bahwa tadi malam ia sedang sangat banyak pikiran.
__ADS_1
"Apa jadwal Melisa hari ini?" Tanya Gunawan pada Fredy.
Fredy menjelaskan secara rinci apa yang harus dikerjakan oleh Melisa hari ini pada Gunawan. Gunawan mendengarkan sambil terus mengangguk-anggukan kepalanya.
"Beri Melisa waktu untuk berkencan dengan Dion," pinta Gunawan.
"Baiklah tuan, nona Melisa bisa berkencan di jam delapan malam nanti," ucap Fredy.
"Baguslah, kamu harus meluangkan waktumu untuk Dion Mel. Kalian harus membicarakan masalah pertunangan lebih lanjut," pinta Gunawan pada Melisa.
"Iya yah," Melisa menjawab singkat.
Setelah sarapan, Melisa akhirnya berangkat ke kantor bersama dengan Fredy. Di tengah jalan, Melisa bertanya pada Fredy.
"Apa ayahku tak mau kembali bekerja? Dia sudah menemukan tante Silvana," gerutu Melisa.
"Apa nona merasa keberatan dengan pekerjaan ini?"
"Tidak, hanya saja jika dikerjakan berdua rasanya pasti jauh lebih ringan," gumam Melisa.
Fredy hanya tersenyum mendengar gumaman Melisa.
"Oh iya, untuk kencan nanti malam antar saja aku ke kantornya Dion. Biar kami memilih sendiri tempat kencan kami," pinta Melisa.
"Baik nona," Fredy mengangguk paham.
Melisa melakukan tugasnya sebagai pengganti Gunawan dengan sangat baik. Ia melakukan semua hal yang sudah dijadwalkan oleh Fredy.
Hingga pukul delapan malam, Melisa akhirnya selesai dengan jadwalnya. Ia bersiap untuk menemui Dion di kantornya.
"Dion sudah tau kan kalau aku akan menemuinya di kantor?" Tanya Melisa.
"Sudah nona," jawab Fredy.
"Baiklah, ayo ke sana!"
Selama ini Melisa memang tak pernah berhubungan langsung dengan Dion. Segala hal mengenai Dion akan Melisa sampaikan pada sekertarisnya sebagai perantara.
Sampai di kantor Dion, tentu saja Dion sudah menunggu Melisa di lobi dengan pakaian yang sangat rapih. Sedangkan Melisa hanya berpakaian ala kadarnya, tak memoles kembali riasannya yang sudah luntur setelah seharian beraktivitas.
Baju yang dikenakannya pun masih sama dengan baju yang ia pakai saat bekerja tadi. Meski begitu, Dion tetap dengan senang hati melihat kedatangan Melisa. Terlebih kencan kali ini karena keinginan Melisa, meskipun masih melalui perantara sang sekertaris.
Setelah Fredy pergi, Dion menggandeng tangan Melisa menuju mobilnya yang sudah siap di depan lobi.
"Kita mau kemana?" Tanya Dion.
"Ke rumah ibuku," jawab Melisa.
"Apa ibumu mengundang kita untuk datang ke sana?"
"Tidak, aku hanya penasaran. Apa yang mau dikatakan oleh wanita itu?"
Dion mengernyitkan dahinya. Ia tak paham maksud Melisa.
__ADS_1
"Seseorang terus saja memintaku untuk menengoknya, ku rasa ada sesuatu yang harus ku ketahui tentang ibuku," ucap Melisa.