Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Keputusan


__ADS_3

Malam ini, Satria mengantar Melisa hingga ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang keduanya tidak terlibat pembicaraan apapun. Keduanya hanya diam, menikmati angin malam yang menerpa tubuh mereka. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Satria menghentikan motornya tepat di depan rumah Melisa. Namun gadis itu tak juga turun dari atas motor. Satria hanya melihat Melisa dari kaca spion, ia tak menegur dan tak mengatakan sepatah katapun.


Melisa yang melihat rumahnya ada di depan mata, hanya memandangi rumah mewah yang sepi akan penghuni. Ia seperti tak punya keinginan untuk turun dari motor Satria.


"Kau belum mau pulang?" Tanya Satria.


Melisa diam tak menjawab.


Akhirnya Satria memutuskan untuk membawa Melisa pergi dari rumahnya. Ia membawa Melisa berkeliling kota. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Setelah beberapa saat mengelilingi kota, Satria kembali membawa Melisa pulang ke rumahnya. Lagi-lagi Melisa hanya terdiam. Melisa yang menyadari ia sudah berada kembali di depan rumah langsung memeluk pinggang Satria dari belakang.


"Satria, kau pilih aku atau ibuku?" Tanya Melisa dengan setengah berbisik.


Satria terdiam sejenak, ia tak langsung menjawab pertanyaan Melisa. Meski begitu, Melisa membiarkan Satria memikirkan jawabannya. Ia memberi waktu untuk Satria berpikir.


"Entahlah Mel. Aku ingin kamu, tapi aku juga butuh ibumu saat ini," jawab Satria. Ia menggenggam tangan Melisa yang melingkar di pinggangnya.


"Kau tak boleh egois, kau harus pilih salah satu!" Melisa memberi penekanan pada Satria.


"Baiklah, tapi maafkan aku Melisa. Pilihanku kali ini bukan sesuai kata hatiku. Jika kau memang memintaku untuk memilih antara kamu atau ibumu, saat ini aku akan memilih ibumu. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku membutuhkannya. Maaf Mel, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus mengangkat derajat keluargaku," jawab Satria.


"Aku tak masalah dengan keluargamu, aku bisa menerimanya," ucap Melisa.

__ADS_1


"Aku tau Mel, kau memang sangat baik bisa menerima aku yang berasal dari keluarga tak mampu ini. Tapi apa cinta saja cukup? Kau mungkin tak mengapa, tapi aku tak bisa Mel. Aku tak mungkin bisa membiarkan orang yang ku sayangi hidup menderita bersamaku. Itulah kenapa sekarang aku harus berjuang keras agar kelak aku bisa membahagiakan orang-orang yang ku sayangi," jelas Satria.


"Tapi kenapa harus ibuku? Kenapa tak kau cari yang lain? Di luar sana pasti masih ada kesempatan untuk kamu bisa sukses Satria," Melisa masih tak bisa terima Satria lebih memilih ibunya.


"Maafkan aku Mel, aku sudah terikat kontrak dengan ibumu. Awalnya ku kira hubungan kalian akan membaik, mengingat ibumu saat ini sudah baik padaku," Satria terdiam. Ia berharap apa yang ia kira akan menjadi kenyataan.


"Kau salah Satria, hubungan aku dan ibuku malah semakin buruk. Kau tau? Ibuku menyukaimu bukan sebagai muridnya, tapi sebagai pria. Ibuku memang berniat menggodamu," Melisa melepaskan pelukannya. Ia turun dari motor yang dikendarai Satria.


Satria masih terdiam, ia tau jalannya saat ini mungkin salah. Tapi ia juga masih berharap, di depan sana ada sesuatu yang baik menantinya.


"Baiklah Satria, karena kamu lebih memilih ibuku. Mulai saat ini kita tak usah saling menyapa jika bertemu, aku harap kau mau membantuku mengurus hatiku agar cepat melupakanmu. Dan semoga pilihanmu itu adalah pilihan yang tepat," Melisa mengulurkan tangannya.


Satria hanya memandangi tangan Melisa yang terulur padanya.


"Ayo salaman, mulai besok kita tak perlu saling bicara lagi. Malam ini, terakhir kalinya kita bicara," air mata Melisa mulai menganak. Namun sebisa mungkin ia menahannya agar tak jatuh di depan Satria.


Melisa hendak melepas jabatan tangannya, namun Satria menggenggam terlalu kuat. Melisa jadi sedikit kesulitan melepaskan tangan Satria.


"Satria..." panggil Melisa lembut.


Namun Satria bukannya melepaskan tangan itu, ia malah menariknya. Hingga Melisa kini berada dalam pelukan Satria.


"Maafkan aku Melisa, jika ini menyakiti hatimu. Andai aku bisa memilih jalan yang lebih baik, namun aku tak bisa. Kamu boleh bilang aku pengecut, karena tak berani mengambil resiko. Namun asal kau tau Mel, tujuanku tetap dirimu. Meski jalan ini yang aku pilih," Satria melepaskan pelukannya.


Air mata Melisa sudah jatuh membasahi pipi, Satria mengusap dengan tangannya.

__ADS_1


"Aku harap kau masih mau menungguku. Seandainya pun tidak..." Satria berhenti sejenak. "Aku tak mengapa, ku harap kau bahagia Mel."


Melisa berjalan menjauh dari Satria, ia sudah tak sanggup lama-lama berdekatan dengan Satria. Karena semakin lama ia bersama, semakin sulit ia melepas Satria.


Melisa sudah masuk ke dalam rumahnya, ia menyandarkan diri di balik pintu masuk rumah. Tubuh Melisa jatuh terkulai lemah, tangis Melisa akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu, merasakan hatinya yang sangat sakit.


Sebenarnya ia tak mau begini, ia ingin Satria tetap bersamanya. Namun Melisa benar-benar tak bisa berbaikan dengan ibunya. Ibunya bahkan menganggapnya adalah saingan untuk merebut hati Satria. Bagaimana bisa ia berbaikan dengan ibu yang menjadikan anaknya sendiri saingan.


Meski begitu, Melisa berharap Satria bisa bahagia dengan pilihannya. Ia menghargai keputusan Satria, meski hatinya sangat hancur. Melisa tak pernah menyangka Satria akan menyakiti hatinya seperti ini.


Di luar, Satria masih memandangi rumah Melisa. Ia terus menatap sedih ke arah pintu masuk rumah Melisa, seakan tau gadis itu tengah menumpahkan semua tangisnya di balik pintu itu.


Cukup lama Satria terdiam di depan rumah Melisa. Hingga perlahan hujan rintik-rintik mulai turun. Air yang membasahi tubuh Satria seolah menyadarkan agar ia harus segera pulang.


Satria sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. Hujan yang turun semakin lama semakin lebat. Satria membiarkan air hujan membasahi tubuhnya, ia bahkan melajukan motornya dengan perlahan.


Sampai di rumah, Satria tau keluarganya sudah terlelap. Wajar saja, saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Satria yang basah kuyup, tak langsung masuk ke dalam. Ia duduk termenung di teras rumah. Cukup lama ia duduk di sana, ia akhirnya masuk ke dalam rumah masih dengan bajunya yang basah karena hujan.


Keesokan harinya, di sekolah. Sesuai perkataan Melisa, ia sama sekali tak menyapa Satria. Meski mereka duduk bersebelahan. Satria juga hanya terdiam di kelas. Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Satria hanya melamun. Ia sama sekali tak bisa fokus belajar.


Bahkan saat jam istirahat, Satria yang biasanya berada di perpustakaan. Kali ini memilih tetap berada di kelas. Ia merebahkan kepalanya di atas meja. Wajahnya pucat, badannya panas. Namun ia berusaha menahannya hingga jam pulang sekolah.


"Satria kau sakit?" Tanya Mia menghampiri kursi Satria. Gadis itu tak melihat keberadaan Satria di perpustakaan, dan saat melihat Satria sedang tertidur di kelas. Mia menghampiri.


"Aku baik-baik saja, kembalilah ke tempatmu. Guru sudah datang," Satria menunjuk guru yang datang dengan kepalanya.

__ADS_1


Jam pelajaran terakhir, Satria dengan susah payah berusaha mengikuti pelajaran dengan baik. Dan ia akhirnya bisa melewati jam pelajaran terakhir.


Sedangkan Melisa, selama jam pelajaran terakhir dia hanya berada di atap sekolah. Padahal rintik hujan kembali jatuh membasahi bumi.


__ADS_2